
"Isss papah," ucap sang mamah dengan kesal, tapi ia pun mengikuti suaminya pergi ke kamar mereka.
Sementara di kamar tamu, setelah Nares membawa koper milik Zoya, ia pun berpamitan untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Mm ... Aku pergi ke kamar dulu, jika butuh sesuatu katakan saja," ucap Nares, ketika ia sudah menaruh koper Zoya di dalam kamar.
"Iya mas."
"Yasudah aku pergi ya," ujar Nares seraya mengelus rambut coklat milik Zoya, dan Zoya pun hanya mengangguk.
Nares pun keluar dari kamar tamu dan pergi ke kamarnya bersama dengan istri pertamanya.
Sementara Zoya ia langsung merebahkan tubuhnya, seraya melihat ke atas langit-langit kamar, entah apa yang ia pikirkan, yang jelas hal itu membuat Zoya menghela nafasnya.
Ceklek.
Nares pun membuka pintu kamarnya, di sana ia melihat istrinya tengah menidurkan putri mereka.
"Maaf," ucapnya, seraya memeluk istrinya itu dari belakang.
"Untuk apa mas minta maaf," ujar Zahra, seraya membalikkan badannya menghadap ke arah Nares.
"Aku tidak bisa menepati janjiku."
"Janji apa? Janji untuk mengakhiri hubungan mu dengan Zoya? Tapi setahu ku aku tidak pernah bilang kamu harus menceraikan Zoya," ucapnya dengan kesal, entah kenapa ia merasa kesal.
Nares hanya bisa menatap istrinya itu tak percaya, biasanya ia tak pernah berbicara seperti itu.
"Ah, maafkan aku mas," ucap Zahra.
"Tak apa, mas tahu kamu pasti kesal sama mas. Itu hal yang wajar, sekali lagi mas minta maaf," ucapnya seraya membawa Zahra dalam dekapannya.
Zahra pun membalas pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
...***...
Tak terasa waktu cepat berlalu, kini usia kandungan Zoya sudah memasuki usia empat bulan.
Namun karena Zoya mengandung anak kembar, maka perutnya seperti hamil enam bulan.
Pagi ini ia tengah membantu mamah Anggun yang sedang menata makanan di atas meja makan.
Awalnya Zoya ingin membantu mamah mertuanya itu masak, sekaligus belajar agar ia bisa memasak nantinya.
Namun mamah mertuanya itu melarang dia untuk membantunya, Zoya hanya di suruh untuk melihat saja.
Tak lama pak Putra pun sudah berada di sana, dia pun duduk, di ikuti Zoya dan sang mamah.
"Pah, hari ini mamah sama Zoya mau pergi ke mall. Mau shopping, papah gak masalah kan tinggal di rumah sendiri," ucap sang mamah disela-sela makannya.
"Tak masalah, lagi pula ada pelayan dan juga pak satpam."
"Terima kasih suamiku," ujar sang mamah.
__ADS_1
"Hm."
Ya, setelah mengetahui bahwa Zoya sedang mengandung anak kembar, kedua mertuanya itu menjadi overprotektif tentang dirinya.
Zoya tak boleh ini, tak boleh itu, yang harus ia lakukan hanyalah istirahat, dan jika ingin membantu, maka ia hanya diperbolehkan membantu yang ringan-ringan saja.
Bahkan, di usia kehamilan empat bulannya ini ia sudah mengambil cuti kuliah, karena keinginan kedua orang tua Nares dan juga Nares sendiri.
Sebenarnya perlakuan kedua orang tua Nares terhadap kedua istri Nares, itu sama saja.
Dulu, waktu Zahra mengandung pun begitu, kedua mertuanya menjadi orang yang overprotektif.
°°°
Dilain tempat, tepatnya di rumah Nares dan juga Zahra. Kini keduanya pun sedang menikmati sarapan bersama.
"Mas ada yang ingin aku bicarakan," ucap Zahra ketika mereka sudah selesai sarapan.
"Apa?" tanya Nares.
"Aku boleh minta ijin untuk pergi ke Mesir tidak, mas?" tanya Zahra hati-hati.
"Maksud kamu, kamu ingin pergi ke Mesir? Tapi untuk apa sayang?"
"Mm ... Gini, sebenarnya aku diundang oleh salah satu guruku yang berada di sana. Dan jika aku tidak datang, aku merasa tidak enak mas," jawabnya.
"Kapan?" tanya Nares.
"Besok."
"Kenapa tidak bilang dari awal, kalau begitu mas bisa mengantar kamu."
"Maaf mas, itu juga aku dapat undangannya secara mendadak."
"Hm ya sudah. Nanti besok kita pergi bersama, anggap saja kita liburan," ucap Nares.
"Tapi mas kamu kan kerja."
"Tak apa, mas kan bos nya ini."
"Ih mas, mentang-mentang bos nya jadi seenaknya saja."
"Hahaha, sekali-kali sayang."
"Tapi bagaimana dengan Zoya mas, dia juga butuh kamu. Apalagi dia sedang mengandung," ujar Zahra, dan seketika tawa Nares berhenti.
Ais kenapa dia bisa lupa begini, padahal dia baru mau menginjak usia kepala tiga nanti.
"Tapi kamu juga bagaimana," ucap Nares.
"Aku tak masalah. Aku bisa sendiri, tapi aku titip Zahwa ya mas?! Jika aku bawa dia takut repot."
"Iya, tapi kamu serius tidak mau diantar?" tanya Nares lagi.
__ADS_1
"Tidak mas, aku bisa sendiri," jawabnya.
"Hm baiklah. Yasudah bagaimana kalau sekarang kita pergi jalan-jalan bertiga, sebelum kamu berangkat ke Mesir."
"Boleh mas, memangnya kita mau pergi kemana?"
"Kamu maunya kemana?"
"Mm ... Bagaimana kalau ke pantai?" usul Zahra.
"Boleh."
"Yasudah kalau gitu aku siapin barang-barang Zahwa ya mas."
"Iya."
Zahra pun pergi ke lantai atas untuk menyiapkan berang-berang yang akan ia bawa untuk pergi ke pantai.
Karena ini hari weekend, Nares memutuskan untuk pergi ke pantai dengan istri dan anaknya, sebelum Zahra pergi ke Mesir, itupun dalam waktu satu Minggu Zahra akan pergi ke sana.
Sedangkan Nares, ia lebih memilih menemui anaknya yang tadi bersama dengan bi Darmi.
Tak lama mereka pun berangkat ke pantai bersama.
°°°
Di mall, kini Zoya dan mamah mertuanya sedang memilih baju hamil untuk Zoya.
Karena semenjak Zoya hamil, banyak baju Zoya yang sudah tidak muat, jadi sebab itu mamah Anggun mengajak Zoya untuk pergi belanja bersama.
"Apa kamu lelah sayang?" tanya sang mamah saat mereka tengah membayar belanjanya di kasir.
"Tidak mah," jawab Zoya dengan senyum yang mengembang manis di bibirnya.
"Kalau kamu lelah bilang ya."
"Iya mah."
Setelah membayar belanjanya, kedua orang beda generasi itu pun pergi ke salah satu restoran yang berada di mall itu, untuk makan siang.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya sang mamah setelah mereka duduk di salah satu meja yang berada di restoran itu.
"Samakan saja sama mamah," jawabnya.
"Yasudah kalau begitu." Mamah Anggun pun memesan makanan yang berada di daftar menu pada salah satu pelayan.
Tak lama pesanan mereka pun sampai, setelah itu mereka pun makan bersama.
°°°
Disisi lain, Nares dan Zahra sedang menikmati kebersamaan mereka dengan putri mereka di salah satu pantai.
Karena berhubung Zahwa, putri mereka masih berumur enam bulan, mereka hanya bisa menikmati suasana pantai di tepi yang agak jauh dari bibir pantai.
__ADS_1
Meski tidak menikmati ombak atau segalanya, namun tidak mengurangi rasa bahagia ...