
Meski tidak menikmati ombak atau segalanya, namun tidak mengurangi rasa bahagia mereka.
"Apa kamu senang?" tanya Nares pada sang istri, kini mereka tengah duduk di salah satu cafe yang letaknya tidak jauh dari pantai itu, sehingga mereka bisa melihat orang yang sedang bermain air laut dan juga ombak.
"Tentu saja, apalagi sudah lama kita tidak pergi bertiga," jawabnya.
"Maaf ya, mas tidak bisa mengajak kamu ataupun Zahwa untuk jalan-jalan. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus mas kerjakan, ditambah lagi ... "
"Sudah tak apa mas, aku ngerti kok."
"Terima kasih sayang."
"Mas sebaiknya kita pulang yuk?!"
"Loh, tapikan kita masih sebentar disini."
"Tak apa, lagian gak baik buat Zahwa, karena kebanyakan terkena angin laut. Walaupun hanya sebentar, aku senang kok."
"Yasudah kalau begitu, ayo."
Mereka bertiga pun pergi ke parkiran untuk menaiki mobil mereka, setelah berada di dalam mobil, Nares pun menjalankan mobilnya pergi dari pantai itu, dan pergi untuk pulang ke rumah mereka.
°°°
Malam harinya, kini Nares dan Zahra tengah berada di perjalanan menuju kediaman kedua orang tua Nares.
Mereka akan menginap di rumah orang tua Nares terlebih dahulu, sebelum paginya Nares mengantar sang istri ke bandara untuk pergi ke Mesir.
Tak lama mereka pun sampai di kediaman keluarga Syahputra.
Di sana mamah Anggun, pak Putra, dan juga Zoya, sudah tau bahwasanya Zahra akan pergi ke Mesir besok pagi.
Jadinya ia akan menitipkan Zahwa pada keluarga suaminya itu.
Setelah makan malam bersama, kini kedua istri dari seorang pengacara yang tampan itu tengah duduk berdua di kursi yang di halaman belakang, dan juga dekat dengan kolam renang.
Sementara suami mereka, yaitu Nares, kini tengah berada di kamarnya. Dia tengah bermain dengan putrinya itu.
"Ada apa mbak?" tanya Zoya.
"Aku mau bicara berdua denganmu. Begini, kamu tau kan, kalau mbak besok bakal pergi ke Mesir?" jawab Zahra sekaligus bertanya.
"Iya."
"Begini, mbak mau menitipkan Zahwa padamu, mbak harap kamu bisa menyayangi Zahwa layaknya seorang putri kandungmu."
"Mbak bicara apa?! Tentu saja aku akan menjaga Zahwa sama seperti aku menjaga putriku sendiri, selagi mbak berada di Mesir."
__ADS_1
"Terima kasih. Mbak harap, jika mbak tidak ada, kamu juga bisa menjaga, merawat, serta menyayangi Zahwa."
"Mbak bicara apa? Tentu mbak akan kembali dari Mesir setelah satu Minggu, pokonya aku gak mau tau, pokonya mbak harus tetap berada di sisi kami, kita berdua akan bersama. Mbak juga adalah ibu dari anakku, jadi aku harap, mbak tidak boleh berbicara seperti itu lagi," jelas Zoya, entah kenapa ia memiliki firasat yang buruk.
Dan Zahra ia hanya tersenyum manis mendengar penjelasan dari madunya itu.
"Kenapa mbak bicara seperti itu? Seakan-akan mbak, mau ... " Zoya tak sanggup melanjutkan perkataannya, ia harap itu tidak benar.
Sekali lagi, Zahra hanya tersenyum manis ke arah Zoya. "Sudah malam, sebaik nya kita masuk kedalam, tidak baik dengan kandungan mu," ucap Zahra.
Zoya pun berdiri dari duduknya, mereka pun masuk kedalam rumah.
Di dalam kamar, Zoya masih memikirkan perkataan dari istri pertama suaminya itu.
Kenapa Zahra berbicara seperti itu, seakan-akan dia akan pergi untuk selamanya.
Tidak, Zoya berharap itu tidak terjadi. Ia berharap Zahra yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, selamat sampai tujuan, dan pulang ke tanah air pun dengan selamat.
Tak ingin kandungannya kenapa-kenapa, karena memikirkan sesuatu, Zoya pun memejamkan matanya untuk tidur.
°°°
Pagi harinya, setelah selesai sarapan bersama.
Kini Nares hendak mengantar istri pertamanya itu ke bandara, sementara putri mereka, mereka titip pada kedua orang tua Nares dan juga Zoya.
"Mah, pah. Zahra berangkat," ucapnya, setelah memberikan putrinya itu pada sang mamah, lalu ia menyalim punggung tangan kedua mertuanya itu.
"Iya. Hati-hati sayang, semoga selamat sampai tujuan ya," ujar sang mamah, seraya mencium kening menantu pertamanya itu.
Sementara sang papah ia hanya mengucapkan kata-kata yang seperti mamah Anggun katakkan, seraya mengelus pucuk kepala menantunya itu yang di balut dengan hijab.
"Zoy. Aku titip suami kita, dan juga putri kita. Dan kamu juga harus jaga kandungan kamu," ucapnya pada sang madu, seraya mengelus perut Zoya yang sudah membuncit.
"Iya mbak. Mbak juga hati-hati," ujar Zoya, kemudian ia pun memeluk Zahra.
Sementara Nares dan kedua orang tuanya, hanya bisa tersenyum.
Mereka bersyukur, karena kedua istri dan menantu di keluarga Syahputra itu sangat baik.
Tidak seperti kebanyakan, meski kadang mereka tau, bahwa di hati mereka pun pasti ada rasa sakit dan juga rasa cemburu.
Namun keduanya, memilih untuk diam, daripada menampilkan rasa cemburunya itu.
Setelah berpamitan, Nares dan Zahra pun pergi.
Nares mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama, mereka pun sampai di bandara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
Keduanya keluar dari mobil, dengan Nares yang membawa koper Zahra.
"Kamu hati-hati ya sayang," ucap Nares pada sang istri, setelah mereka berdua sudah berada di dalam bandara.
"Iya mas."
"Jangan lupa, hubungi mas, jika sudah sampai."
"Iya mas."
"Kok hanya iya-iya aja sih."
"Lalu aku harus apa?'
"Ya apa ke. Sayang, kamu yakin gak pergi bareng mas?" tanya Nares.
"Gak mas."
"Huffstt, yasudah. Mas bakal rindu sama kamu," ucap Nares, ia pun membawa istrinya itu dalam pelukannya, sambil mencium pucuk kepala Zahra yang berbalut dengan hijab itu.
Setelah cukup lama mereka saling memeluk, keduanya melerai pelukannya.
Ditatapnya wajah cantik sang istri, kemudian Nares mencium kening Zahra dengan cukup lama, sementara Zahra ia hanya bisa memejamkan matanya.
Setelah lama mencium kening Zahra, Nares pun beralih mengecup singkat bibir kecil Zahra.
"Mas!!" tegur Zahra, karena tiba-tiba, suaminya itu mengecup bibirnya di depan umum.
"Hehehe." Nares pun hanya terkekeh.
Tak lama, terdengar suara dari bagian informasi. Bahwa, keberangkatan menuju Mesir akan landas.
"Yasudah mas, aku berangkat ya," ucap Zahra, seraya menyalim punggung tangan suaminya.
"Iya."
Nares pun sekali lagi memeluk dan mencium kening Zahra, sebelum istrinya itu pergi.
Setelah ia tidak melihat punggung istrinya itu lagi, barulah ia kembali ke tempat ia memakirkan mobilnya.
Sementara Zahra ia sudah naik kedalam pesawat.
°°°
Malam harinya, kini Nares tengah duduk di atas ranjangnya. Menjaga putrinya itu yang sudah bisa tengkurap.
Drret, drret, drret.
__ADS_1
Ponsel Nares pun berdering. Nares pun mengambil ponsel miliknya di atas nakas, ia melihat siapa ...