
"Bukan perhatian sebagai kakak terhadap adiknya, apa bisa?" Katanya lagi.
Mendengar peruturan Zoya membuat Nares mengusap wajahnya kasar.
Dia tak menyangka bahwa Zoya akan berterus terang pada dirinya, bahwa dia cemburu.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Nares, Nares berharap Zoya tidak mengatakan bahwa dia mencintai dirinya, namun sayang Zoya malah menganggukkan kepalanya, itu artinya istri kecilnya itu memang benar mencintai dirinya.
Bukannya Nares tak ingin istri keduanya itu mencintai dirinya, namun ia takut suatu saat nanti akan menyakiti perasaan istrinya itu.
Sejujurnya ia tak ingin menyakiti hati Zoya, ia memberikan perhatian kepada Zoya layaknya seorang kakak saja, hanya itu yang bisa ia berikan.
Jika ia memaksa untuk mencintainya, entahlah. Apakah Nares bisa membagi hatinya untuk orang lain? Sementara hatinya sudah terisi oleh satu nama yaitu Zahra, istri pertamanya.
Jika boleh jujur, Nares memang sudah merasa nyaman berada di dekat Zoya, namun itu hanya rasa nyaman layaknya seorang kakak terhadap adiknya, tak lebih.
"Kakak belum menjawab pertanyaan ku, apa kakak bisa memberikan perhatian kepada ku layaknya seorang suami kepada istrinya?" tanya Zoya lagi.
"Huh. Maaf, untuk itu aku tidak tahu, biasa atau tidaknya. Tapi yang jelas aku akan berusaha," ucapnya dengan pelan.
Setelah mengucapkan itu, Nares kembali membawa Zoya kedalam pelukannya.
Zoya pun kembali menangis.
"Husst, sudahlah jangan menangis lagi," ucap Nares.
"Lebih baik kita makan ya. Keburu dingin makanannya," ujar Nares, setelah menghapus air mata yang mengalir di pipi Zoya, dan Zoya pun menganggukkan kepalanya.
Mereka pun keluar dari kamar mereka, dan melangkah ke dapur untuk makan siang bersama.
°°°
Besok harinya, hari ini Nares akan pulang ke rumahnya.
Sebelum pergi ke persidangan, karena ia harus menemani kliennya itu, ia pulang terlebih dahulu ke rumah kedua orang tuanya.
Ia akan menjemput istri dan anaknya, setelah itu barulah ia kan pergi ke kantornya sebentar dan akan pergi ke persidangan bersama sang asisten Robi.
"Assalamu'alaikum," ucap Nares, ketika sudah berada didalam rumah kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam," jawab mamahnya yang kebetulan baru menuruni anak tangga itu.
"Kamu sudah pulang nak," ucap mamah Anggun ketika anak bungsunya mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Iya mah, dimana Zahra dan putriku?" tanya Nares setelah mencium tangan mamahnya sebagai tanda takzim.
"Mereka masih di kamar, sebentar lagi juga turun," jawab mamah Anggun, dan di anggukan oleh Nares.
"Yasudah kalau begitu Nares ke atas ya mah."
"Iya."
Nares pun pergi ke lantai atas, untuk menemui istri dan anaknya yang masih berada di dalam kamarnya.
Setelah didepan pintu kamarnya, Nares kemudian membuka pintunya.
Disaat ia sudah membuka pintu kamarnya, ia melihat pemandangan yang menyejukkan. Bagaimana tidak, ia melihat wanita yang ia cintai tengah memakaikan baju kepada putrinya.
Sungguh pemandangan itu membuat Nares tersenyum, apalagi melihat penampilan istrinya yang begitu cantik, meski hanya memakai gamis rumahan dan kerudung pasmina.
Namun tak memudarkan kecantikannya, perlahan ia melangkahkan kakinya, karena tak ingin sang istri mendengar suara derap langkah kakinya.
Setelah berada di belakang istrinya, Nares pun langsung memeluk sang istri dari belakang, membuat Zahra terkejut.
"Astagfirullah," ucap Zahra, ia hendak melepaskan tangan yang melingkar di punggungnya. Namun saat mendengar suara yang tak asing ditelinga nya membuat ia mengurungkan niatnya.
"Biarkan seperti ini terlebih dahulu, aku merindukanmu," bisik Nares ditelinga sang istri.
"Barusan," jawab Nares, seraya meletakkan dagunya di bahu sang istri.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga Zahra berucap. "Apa kamu tidak rindu denganku ayah?" tanya Zahra, yang menirukan suara anak kecil.
Dan hal itu membuat Nares melepaskan tangannya yang tengah memeluk pinggang sang istri.
"Ah, maafkan ayahmu ini nak. Ayah tak bisa menahan rindu terhadap ibumu," ucap Nares, seraya duduk di atas ranjang dan mengangkat putrinya itu ke gendongannya.
Nares pun bermain sebentar dengan putri kecilnya itu, setelah puas bermain dan mencium wajah putrinya.
Nares dan Zahra turun kebawah untuk sarapan bersama kedua orang tua Nares.
Mereka pun sudah sampai di ruang makan, di sana ternyata sudah ada mamah Anggun dan juga papah Putra.
"Pagi mah, pah," ucap keduanya, seraya duduk di kursi. Sementara Zahwa, putri mereka kini tengah bersama salah satu pelayan yang ada di rumah keluarga Syahputra itu.
"Pagi," balas kedua orang tua Nares.
"Kapan kamu pulang res? Kenapa papah tidak tahu?" tanya pak Putra.
__ADS_1
"Waktu tadi pah. Maaf, karena Nares tadi langsung ke kamar menemui istri dan anak Nares terlebih dahulu pah," jawab Nares.
"Tak apa, papah hanya bertanya saja. Lagian memang harusnya kamu menemui istri dan anakmu terlebih dahulu," ujar pak Putra, dan Nares pun hanya mengangguk.
Kini keempat orang beda generasi itu pun sarapan bersama.
"Oh ya, sayang. Kamu mau pulang sekarang apa nanti saja, menunggu aku pulang kerja?" tanya Nares, setelah selesai sarapan.
Belum sempat Zahra menjawab, mamah Anggun menyela. "Memangnya kamu mau bekerja lagi? Bukannya kamu baru pulang?" tanya mamah Anggun.
"Iya mah. Nares lupa, kalau pagi ini harus ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah klien nya Nares," jawab Nares.
"Oh begitu," ujar sang mamah.
"Kalau aku pulang sekarang. Memangnya kamu gak akan telat?" tanya Zahra.
"Tak apa, jadi mau pulang sekarang?" Jawab Nares sekaligus bertanya, dan di angguki oleh Zahra.
"Yasudah, kalau begitu mas bantu kamu buat beresin barang-barang kamu dan juga Zahwa," ucap Nares, dan lagi-lagi Zahra hanya mengangguk.
"Mah, pah, kami keatas dulu," ujar Nares kepada orang tuanya.
"Iya," ucap mamah, papah.
Setelah itu Nares dan Zahra pun naik ke atas untuk membereskan barang-barang Zahra dan putrinya, karena mereka akan kembali pulang ke rumah yang mereka tempati.
Di dalam kamar, setelah mereka selesai membereskan barang-barang, mereka pun turun untuk berpamitan kepada kedua orang tua Nares.
"Mah, pah. Nares sama Zahra pamit pulang dulu, makasih sudah mau menjaga Zahra dan Zahwa, selagi Nares pergi," ucap Nares pada kedua orangtuanya.
"Kamu ini kenapa harus berterima kasih segala, ini tuh sudah kewajiban mamah sebagai ibu mertua harus menjaga menantu mamah dan cucu mamah ketika kamu gak ada," ujar sang mamah.
"Benar yang dikatakan mamah mu res," timpal sang ayah.
"Yasudah kalau begitu Nares dan Zahra pamit dulu," ucap Nares seraya menyalim kedua orang tuanya, dan diikuti oleh Zahra ia pun menyalim kedua mertuanya.
***
**Happy reading π
Jangan lupa like, komen, vote, dan gif π
Terimakasih π€π**
__ADS_1