Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 70


__ADS_3

Nares pun memejamkan matanya, setelah membaca pesan Zoya.


Ia baru sadar, bahwa ia telah membuat Zoya seorang diri. Karena ia terlalu sibuk dengan putrinya itu.


Ia ingin menghubungi Zoya, namun ia tak enak, lantaran semua orang termasuk dirinya kini tengah berada di ruang keluarga, saling berbincang bersama.


Sementara tuan Abimanyu, dan istrinya nyonya Kayla telah berpamitan ke mansion nya, karena hari memang sudah malam.


Berbeda dengan Vio dan Jeffry, serta ketiga anaknya, mereka memilih menginap di kediaman orang tua Jeffry dan Nares.


Begitupun Nares dan Zahra, beserta putri mereka dan kedua orang tua Zahra, memilih untuk menginap.


"Oh ya Nares, dimana istri kedua mu?" tanya ibu mertuanya.


"Iya sayang dimana Zoya? Mamah tidak melihatnya setelah makan malam bersama?" tanya mamah Anggun pada sang anak.


"Mm ... Zoya, di- dia sudah pulang lebih awal mah," jawab Nares dengan nada pelan.


"Kenapa?" tanya sang mamah lagi.


"Dia bilang, dia merasa tidak enak badan. Jadi sebab itu, dia pulang lebih awal. Zoya juga meminta maaf pada kalian kerena tidak berpamitan secara langsung," jawabnya.


"Apa Zoya pulang sendiri?" tanya pak Putra, karena ia melihat anaknya itu tengah bersama Zahra dan Zahwa, putri Nares.


Dan Nares pun mengangguk. Pak Putra kemudian menghela nafasnya, "kenapa kamu tidak mengantarnya terlebih dahulu, res? Kamu tau kan, ini sudah malam. Bagaimana terjadi sesuatu terhadap Zoya?! Seharusnya kamu sebagai suami harus bertanggung jawab." Pak Putra pun menjelaskan anak bungsunya itu panjang lebar.


"Maaf pah. Nares pun baru tahu, setelah Nares melihat pesan yang dikirim oleh Zoya. Seandainya Nares tahu, Nares pasti mengantarkannya atau meminta pak supir untuk mengantarkan Zoya sampai apartemen," ucapnya seraya menundukkan kepalanya.


Sementara yang lain, mereka hanya diam saja. Begitupun dengan Zahra, sebenarnya ia pun merasa bersalah, karena tidak mengetahui bahwa madunya itu telah lebih dulu pulang ke apartemennya.


"Sudahlah. Maaf pak Jamal, sepertinya saya harus pergi ke kamar terlebih dahulu," ucap pak Putra pada besannya itu.


Sebenarnya ia tak enak hati pada besannya itu, tapi mau bagaimana lagi, putranya sudah membuat ia kecewa karena secara langsung, anaknya itu tidak memikirkan kehadiran istri keduanya, pada saat di acara tadi.


"Tidak apa pak Putra, sepertinya saya juga sudah merasa mengantuk."


"Yasudah, sebaiknya kita semua tidur. Karena hari pun sudah larut malam," ujar mamah Anggun.


Dan mereka semua pun pergi ke kamarnya masing-masing.


°°°


Di apartemen.


Setelah sampai di unit apartemennya, Zoya pun langsung masuk kedalam kamar.


Di sana ia kembali menangis meratapi nasibnya, sampai ia tak menyadari bahwa ia menangis dalam waktu yang cukup lama. Diliriknya jam yang menempel di atas dinding, di sana menunjukkan pukul sebelas malam.


Ia pun menghapus air mata yang mengalir di pipinya, lantaran ada seseorang yang menelepon dirinya, yang tak lain adalah Nares, suaminya.


"Halo." Zoya pun mengangkat panggilan telepon dari Nares.

__ADS_1


°°°


Di sebrang sana kini Nares tengah berada di balkon yang berada di lantai dua.


Kini ia tengah sendiri lantaran seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya, termasuk istrinya, Zahra.


Bukan tanpa alasan Nares belum tidur, karena ia menghubungi istri keduanya itu, sekaligus meminta maaf, karena telah mengabaikannya saat acara tadi.


Nares pun menghubungi Zoya, dan tak lama, sambungan telepon pun terhubung.


"Halo," ucap Zoya di sebrang.


"Halo Zoya."


"Iya kak, ada apa?" tanya Zoya.


"Zoy apa kau tidak pa-pa?" Bukannya menjawab, Nares justru malah balik bertanya.


"Memangnya ada apa denganku?" tanyanya heran.


"Apa kau habis menangis? Suaramu serak, seperti orang yang habis menangis."


"Ah ... Tentu saja tidak, suaraku serak karena memang habis bangun tidur, kak."


"Begitu. Sepertinya, aku mengganggu kau sedang tidur, ya?!"


"Tidak. Memang tadi aku kebangun bukan gara-gara kakak, tapi kebetulan tadi aku haus, jadi aku bangun. Dan yah, kakak tepat waktu menelpon, jadi aku mengangkatnya," bohongnya, padahal aslinya Zoya tidak bisa tidur karena habis menangis dan memikirkan nasibnya ke depan.


"Tidak sama sekali. Oh ya, ada apa kakak menelepon ku?"


"Mm ... Aku hanya ingin meminta maaf padamu," jawab Nares.


"Minta maaf, kenapa?"


"Karena aku tadi pada saat di rumah kedua orang tuaku, aku ... Membuatmu sendiri, dan tidak menemanimu."


"Tak apa kak."


"Oh ya, apa kamu sudah baikan?"


"Ah ya, aku sudah lebih baik."


Setelah Zoya menjawab pertanyaan dari Nares, tiba-tiba hening, tidak ada yang berbicara lagi, sampai akhirnya Zoya yang berbicara.


"Mm ... Jika tidak ada yang ingin kakak bahas lagi, aku tutup teleponnya, aku mengantuk."


"Ah ya, sekali lagi aku minta maaf."


"Tak apa kak, yasudah kalau begitu selamat malam."


"Malam."

__ADS_1


Tut. Sambungan telepon itu pun terputus oleh Zoya di sebrang.


Setelah itu Nares pun pergi ke kamar dirinya bersama Zahra.


°°°


Di apartemen, setelah memutuskan sambungan telepon, Zoya pun memejamkan matanya agar air matanya tak kembali menetes.


"Huh, aku harus pergi dari kehidupan kak Nares, dan mbak Zahra."


"Maafkan aku kak," ucap Zoya melihat foto Nares yang ada di galeri ponselnya, foto itu pada saat dirinya dan suaminya itu pergi ke Bali.


Tak lama ia pun mencoba untuk tidur.


°°°


Pagi harinya, kini Zoya tengah bersiap-siap untuk pergi ke kampus, hari ini ia akan mengadakan ujian akhir semester nya.


Ini adalah hari terakhir ujian, setelah itu ia pun akan libur semester.


"Pagi bi," ucap Zoya pada bi Siti, yang ternyata baru saja tiba di apartemennya.


"Pagi non, mau sarapan apa? Biar bibi masakin."


"Bibi tidak perlu masak. Zoya akan sarapan di kantin kampus aja bi, soalnya hari ini Zoya ada ujian, jadi Zoya buru-buru."


"Baiklah non, nanti bibi akan masak setelah non pulang. Non tinggal bilang saja ingin di masakin apa," ujar bi Siti.


"Mm ... Sepertinya itu juga tidak perlu, bibi langsung pulang saja, setelah membereskan apartemen, tidak perlu memasak untukku. Kayanya Zoya akan makan siang bersama teman Zoya, bi."


"Baiklah kalau begitu, non. Yasudah, bibi ijin ke dapur."


"Iya bi."


Setelah melihat bi Siti ke dapur, Zoya pun pergi dari sana.


...***...


Satu Minggu kemudian.


Satu Minggu sudah, setelah acara di kediaman keluarga Nares.


Dan satu Minggu pula Nares tidak datang ke apartemennya bersama Zoya, lantaran pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Nares begitu banyak.


Jadi sebab itu Nares tidak memiliki waktu bersama Zoya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama istri pertamanya, ketika pulang bekerja.


***


Selamat membaca 💞


Thanks 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2