Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 47


__ADS_3

"Lebih baik kita tidur ya! Sepertinya kamu tidak tidur semalaman," ucap Nares, ketika melihat wajah istrinya itu yang terlihat pucat dan juga terdapat kantung hitam di matanya.


Zoya pun mengangguk, kemudian Nares pun menggendong Zoya ala baby koala.


Setelah itu, Nares pun membaringkan tubuh Zoya ke atas ranjang, kemudian ia menyelimuti Zoya sampai batas dadanya.


"Kakak akan tidur disini, kan." Zoya pun memegang tangan Nares yang hendak beranjak itu, dan ia pun menepuk bagian kasur yang ada di sampingnya.


"Iya, kakak akan tidur di sampingmu," ucap Nares, dan Zoya pun melepaskan tangannya.


Setelah tangannya di lepas oleh Zoya, Nares pun membuka jaketnya. Ia pun langsung naik ke atas ranjang, dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Beruntung ia sudah memakai baju tidur, sehingga tidak perlu lagi mengganti pakaiannya.


Mereka berdua pun tidur dengan saling berpelukan.


°°°


Pagi harinya, Nares membawa satu mangkuk berisi bubur ayam dan juga satu gelas, yang diletakkan di atas nampan.


"Sebaiknya kamu sarapan dulu. Aku sudah membawakan satu mangkuk bubur ayam ... Mau aku suapi?" tanya Nares, setelah menaruh nampan berisi makanan itu di atas nakas dan ia duduk di sisi Zoya.


Zoya pun mengangguk, sebagai tanda bahwa ia ingin disuapi oleh suaminya itu.


Dan Nares pun langsung menyuapi Zoya bubur.


"Kakak maafkan aku. Harusnya aku yang mengurusi mu, bukannya kau yang mengurusi ku," ucap Zoya setelah menelan makanan yang ia makan.


"Kau bicara apa, aku kan suamimu. Lagi pula kau sedang sakit," ujar Nares, ia pun kembali menyuapi Zoya.


"Kakak tidak pergi bekerja?" tanya Zoya, setelah suaminya itu selesai menyuapi dirinya.


"Tidak, aku akan menemanimu," jawabnya.


"Tapi lebih baik kakak kerja saja, aku tidak pa-pa kok."


"Tak apa, aku akan menemanimu."


Tak lama bel pintu pun berbunyi. Nares pun membuka pintu, yang ternyata adalah seorang dokter, yang waktu pagi Nares hubungi.


"Selamat pagi," ucap seorang dokter wanita, yang usianya seumuran dengan Nares.


"Pagi, silahkan masuk." Nares pun mempersilahkan dokter itu masuk kedalam apartemennya.


"Zoya perkenalkan ini dokter Sandra. Dokter Sandra yang akan menangani mu," ucap Nares, ketika mereka sudah berada didalam kamar.


"Tapi untuk apa? Aku baik-baik saja kak."


"Fisik mu memang baik, tapi tidak dengan mental mu. Maaf, bukannya aku menghina mu atau apa, hanya saja aku ingin kau pulih seperti sebelumnya. Sama seperti Zoya yang aku kenal," ujar Nares dengan panjang lebar.


"Dokter silahkan periksa istriku." Nares pun menyuruh dokter Sandra untuk memeriksa keadaan Zoya.


"Baik. Maaf, tolong berbaring lah." Dokter itu pun menyuruh Zoya untuk berbaring di ranjangnya.


Sementara dokter Sandra memeriksa keadaan Zoya, Nares lebih memilih keluar dari kamar, karena ia tak mau mengganggu dokter yang sedang memeriksa istri kecilnya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa jam, dokter itu pun selesai memeriksa Zoya. Melihat dokter Sandra keluar dari kamar, Nares pun menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Nares pada dokter itu.


"Istri anda mengalami depresi akibat kejadian yang menimpanya. Tapi anda tidak perlu khawatir, depresi yang diderita oleh istri anda tidak cukup parah. Hanya perlu melakukan perawatan, pasti istri anda akan sembuh. Saran saya, anda harus sering-sering menemaninya," jelas dokter Sandra.


"Baik dok."


"Baik, saya permisi terlebih dahulu. Saya akan memeriksa istri anda Minggu depan," ujar dokter.


"Iya dok."


"Kalau begitu saya permisi." Dokter itu pun pergi dari apartemen Nares.


Setelah peninggalan dokter Sandra, Nares pun masuk kedalam kamar untuk menemui Zoya.


Didalam sana, Nares dapat melihat Zoya yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?" tanya Nares, seraya mengelus rambut coklat Zoya. Dan Zoya pun mengangguk sebagai jawaban.


"Istirahat lah." Nares menyuruh Zoya untuk istirahat, ia baringkan tubuh istri kecilnya itu, lalu menyelimutinya.


"Apa kakak yakin tidak akan pergi bekerja?" tanya Zoya.


"Ti ... "


Belum sempat Nares berucap, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ya. Halo," ucap Nares, ketika sambungan telepon terhubung.


" ... "


" ... "


"Hufs, tapi untuk sekarang ini saya tidak bisa."


" ... "


"Ya, baik. Nanti saya akan ke sana."


" ... "


"Hmm."


Tut. Nares pun mematikan panggilan itu, kemudian Nares kembali menaruh ponselnya di saku celananya.


"Pasti kakak ada pekerjaan, kan?" Tebak Zoya.


"Iya."


"Yasudah, kalau begitu kakak bersiaplah. Kenapa malah diam saja!"


"Ah, tapi siapa yang akan menjaga kamu."


"Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Lagi pula aku sudah meminum obat pemberian dari dokter tadi."

__ADS_1


"Tapi ... "


Ting tong, ting tong, ting tong. Bel apartemen pun berbunyi.


"Siapa?" tanya Nares heran, pasalnya siapa yang bertamu.


Tak mau memikirkan, Nares pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya, menuju pintu utama.


"Siapa ya?" tanya Nares setelah membuka pintu, ia melihat ada dua orang gadis yang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Halo kak. Perkenalkan kami temannya kampusnya Zoya," jawab Ratna, sementara Dila ia hanya diam memperhatikan Nares.


Ya, kedua orang itu adalah Ratna dan Dila. Teman Zoya, mereka mendapatkan kabar bahwa Zoya ijin tidak masuk kuliah selama satu Minggu.


Dan hal itu membuat mereka khawatir terhadap keadaan Zoya, meski mereka tau bahwa Zoya ditemani oleh suaminya itu.


"Oh, yasudah silahkan masuk." Nares pun mempersilahkan Ratna dan Dila masuk kedalam.


Sejujurnya Nares bingung, bagaimana teman istrinya itu tahu alamat apartemen dirinya dan Zoya.


Karena setau dirinya, istri kecilnya itu tidak pernah membawa atau ijin untuk membawa temannya ke apartemennya.


Setiba dikamar, Dila langsung memeluk Zoya.


"Bagaimana keadaan lu?" tanya Ratna.


"Alhamdulillah sudah lebih baik," jawab Zoya.


"Loh kalian kok, bisa tau alamat apartemen ku?" tanya Zoya heran, pasalnya tidak ada yang tau alamat apartemen yang ia tempati.


"Emang lu lupa, kita pernah jemput lu." Dila pun mengingatkan bahwa Zoya pernah menyuruh mereka untuk menjemputnya di apartemen.


"Astaga gua lupa, heheh," ujar Zoya.


"Tapi kan, gua gak pernah kasih tau kalian unit apartemen gua di lantai mana," ujar Zoya lagi.


"Kalau itu, kita tanya ke scurity," ucap Ratna, dan Zoya pun hanya mengangguk.


"Ekhm." Nares pun berdehem, dan tiga orang yang asik mengobrol pun menoleh kearahnya.


"Maaf mengganggu," ucap Nares.


"Tidak kok kak, kakak mau apa?" tanya Zoya.


"Tidak aku hanya ingin mengambil baju saja," jawab Nares.


"Kalau begitu, aku akan mengambilkan pakaian kakak," ujar Zoya, ia hendak turun dari ranjangnya, namun dicegah oleh Nares.


"Tidak perlu, kamu lebih baik tiduran saja. Biar kakak yang mengambilnya sendiri," ucap Nares.


"Baiklah."


***


Selamat membaca 💞

__ADS_1


__ADS_2