
Setelah pameran furniture selesai, investor semakin berlomba untuk menanamkan sahamnya di perusahaan Aiden. Tentu itu membuat Hilman semakin bangga pada Aiden, sebagai putra sematawayangnya itu.
Sebelumnya Zoya tak pernah secara langsung melihat papa dari Aiden. Namun, tak sengaja karena ruangan Aiden tampak dari luar karena berlapis kaca barulah Zoya menyadari tentang siapa Hilman yang sebenarnya. Tak disangkanya juga ada Chelsea bersama mereka. Zoya berharap Chelsea itu dirinya, tapi apalah daya. Zoya merasa ia tidaklah sepadan dengan keluarga Aiden. Meski begitu, Zoya akan terus mencintai Aiden sampai kapanpun.
"Selamat ya, nak! Kamu selalu bikin papa bangga!" ucap Hilman seraya memeluk Aiden di ruangannya.
"Iya, pa. Semua ini berkat doa dan dukungan dari mama sama papa." ucap Aiden.
"Kan, papa udah bilang sama kamu, papa nggak akan salah pilih. Kamu emang cocok berada di posisi sekarang ini." ujar Hilman lantas mereka duduk di sofa yang berada di ruangan Aiden.
"Gimana kabar kamu, Chelsea? Kenapa, kamu jarang main kerumah saat ini? Om sama tante rindu sama kamu?" tanya Hilman.
"Maaf, pak Hilman. Karena saya tidak sempat kemana-mana akhir-akhir ini. Jika ada waktu nanti saya akan berkunjung!" ujar Chelsea dengan senyumannya.
"Baiklah, gimana dengan kedekatan kalian. Apa kalian udah menjalin hubungan?" tanya Hilman.
"Belum." Aiden dan Chelsea menjawabnya bersamaan.
"Kalian sampai bareng gitu jawabnya. Hum..yaudah, papa nggak mau ikut campur. Papa keluar dulu ya, Aiden. Ada laporan yang harus papa kerjakan," ujar Hilman.
"Iya pa." sahut Aiden.
"Chelsea!" ucap Hilman lantas Chelsea mengangguk seraya tersenyum.
Setelah Hilman keluar dari ruangan Aiden. Chelsea juga berniat melakukan hal yang sama. Namun, Aiden sempat memanggilnya.
"Chelsea! Bisa kita bicara sebentar?" tanya Aiden.
Mereka kembali bertatapan, Aiden bingung harus memulainya darimana.
"Maaf sebelumnya, belakangan ini kamu terlihat dekat dengan Keenan. Apa kalian sudah menjalin hubungan?" tanya Aiden memastikan.
"Nggak, kok, pak. Kami hanya dekat aja karena Keenan udah aku anggap sebagai temanku, dia sangat baik, ramah, hatinya setampan wajahnya." ucap Chelsea malah sempat terbayang akan keramahan Keenan.
"Ekhm..kamu membayangi dia, ya hehe.." ucap.Aiden membuat wajah Chelsea memerah.
__ADS_1
"Eng-enggak, pak. Apa saya bisa pergi, saya harus melanjutkan pekerjaan saya lagi?" tanya Chelsea.
"Pergilah, semangat ya kerjanya!" ucap Aiden dengan senyuman.
"Terima kasih, pak Aiden." ucap Chelsea lantas melangkah pergi dari hadapan Aiden. Sedangkan Aiden tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Entah kenapa melihat moment kebersamaan Aiden dengan Hilman dan Chelsea tadi buat Zoya murung. Aiden sangat baik padanya. Namun, apa memang baik atau hanya ramah saja. Bahkan mereka belum pernah membicarakan soal cinta. Zoya berniat akan membersihkan ruangan lain sambil bermonolog.
"Ah, Zoya! Kamu ini, bukankah bekerja di tempat yang sama dengan Aiden sudah lebih dari cukup! Kenapa seperti punguk merindukan bulan kayak gini. Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaan aku dengan baik." monolog Zoya lantas ia bergegas pergi melakukan pekerjaan selanjutnya.
***********
Sementara itu, Keenan merasa aneh saat Dila mengarahkan mereka ke sebuah gudang kosong dan sepi. Keenan sempat terdiam namun Dila memaksanya keluar dari taksi.
Mereka masuk ke gudang kosong itu dan Dila mengeluarkan sejumlah uang yang cukup banyak di amplop karena amplopnya begitu tebal.
"Ini, dengan uang ini kamu bisa hidup untuk beberapa bulan ke depan. Terimalah, jangan coba mengganggu hidup saya, mengerti kamu!" ucap Dila membuat Keenan semakin hancur.
"Enggak bu, bukan uang yang aku butuhin. Aku cuma butuh diterima aja, bu. Aku bahagia bisa bertemu ibu kenapa ibu nggak. Apa ibu nggak suka pertemuan kita?" tanya Keenan sendu.
"Nggak sama sekali, ibu justru menyesal kamu datang lagi dalam hidup ibu, pergilah dengan uang ini, kalau kamu butuh lagi. Kamu cukup menghubungi ibu, didalam ada kartu nama ibu, tapi jangan pernah menunjukan wajah kamu lagi di hadapan ibu dan keluarga ibu, ibu nggak mau kamu anak haram menggangu ketentraman keluarga ibu, ayah kamu udah menghancurkan masa depan ibu, gara-gara benih sialan yang sekarang ternyata masih hidup, ibu jadi hancur! Jadi sebaiknya kamu juga enyah dari hidup ibu, jangan pernah mengganggu hidup ibu lagi, kalau kamu sayang sama ibu." Jelas Dila lantas melemparkan amplop berisi uang itu ke wajah Keenan dengan kasar.
"Allah maha baik, bu. Aku sangat bahagia karena aku bisa ketemu ibu lagi, alhamdulilah ya Allah!" ucap Keenan parau karena perasaannya campur aduk kini.
"Lepasin ibu Keenan, jangan sentuh ibu!" ucap Dila lantas melepaskan pelukan putranya itu lantas mendaratkan tangannya di pipi Keenan.
Plak..
"Kenapa ibu nampar aku, bu?" tanya Keenan lirih.
"Dasar anak haram! Banyak sekali gaya kamu, sebaiknya terima uang ini. Atau jangan salahin ibu kalau ibu menyakiti kamu lagi!" ucap Dila lagi dan mengambil balok kayu dan berjalan ke arah Keenan sehingga Keenan meneguk Saliva dan mundur sesaat.
"Jangan bu! Apa ibu tega memukul aku, aku anak kandung ibu, aku lahir dari rahim ibu. Berhenti bilang aku anak haram, bu!" pinta Keenan makin lirih.
"Diam!" pekik Dila lantas memukul lengan Keenan berkali-kali dan Keenan hanya menghindar tanpa melawan. Tak lama balok kayu itu membuat Keenan terkapar dan Dila menghujami Keenan dengan tendangan berkali-kali.
__ADS_1
"Dasar anak haram! Harusnya kamu udah mati, kenapa kamu masih hidup. Ibu nggak sudi melihat kamu lagi," ucap Dila terus mengutuki Keenan dan leluasa menghujani tendangan pada putranya itu.
Sementara Keenan hanya diam, tak ada ucapan memohon agar sang ibu menghentikan aksinya. Ia ikhlas dan pasrah, ia menikmati siksaan itu. Ia menganggap itu adalah salah satu kasih sayangnya karena selama ini bahkan ia baru merasakannya. Padahal wajah Keenan sudah babak belur karena wajahnya tak luput dari tendangan sang ibu.
"Kenapa kamu diam aja, bodoh! Dasar bodoh, anak haram!!" ucapan menyakitkan itu terus terlontar dari mulut sang ibu hingga Dila ikut menitihkan airmatanya melihat Keenan dengan ikhlas menerima semua kekesalan sang ibu.
Dila segera membuang kayu yang digunakannya untuk memukul Keenan. Lantas Dila pergi begitu saja meninggalkan Keenan, Keenan menitihkan airmatanya lagi. Kali ini ia membiarkan sang ibu pergi. Ia menyadari tak diinginkan.
"Kalau itu yang bikin ibu bahagia, aku akan menjauhi ibu. Tapi seenggaknya ibu udah memberikan alamat ibu, makasih ya Allah! makasih, udah mempertemukan kami!" ucap Keenan lantas ia kembali bangkit mengambil uang yang Dila tinggalkan dan menyimpannya seraya jalan tertatih ke taksinya.
"Aku akan simpan uang ini, bu. Lain kali akan aku kembalikan," monolog Keenan lantas kembali mengemudikan taksinya untuk tetap mencari penumpang meskipun keadaannya menprihatinkan karena ia juga harus memberi setoran.
***********
Sore ini, Keenan berjalan perlahan menuju ke rumah atap sementara ia berpapasan dengan Zoya. Zoya pun menyapanya seraya menepuk lengan Keenan dengan kencangnya.
"Auh, eh. Kamu Zoya." ucap Keenan.
Melihat pipi Keenan yang memar Zoya segera memegang pipi Keenan dan melihatnya.
"Pipi kamu kenapa Keenan?" tanya Zoya.
"Oh, ini. Nggak apa-apa, kamu baru pulang? Tumben kita barengan hehe..sepertinya kita jodoh Zoya haha.." kelakar Keenan.
"Dih, pede banget kamu." ujar Zoya lantas meninggalkan Keenan begitu saja.
"Eh Zoya, tunggu dong! Kita jalan bareng yuk! biar mesra haha.." seru Keenan dimana ia tetap bisa ceria meskipun hatinya sangatlah sedih karena penolakan sang ibu tadi.
"Malas aku jalan sama kamu, kamu jalannya lama kayak keong!" seru Zoya.
"Keong... keong.. enak aja kamu tuh!" ucap Keenan lantas mengacak-ngacak rambut Zoya dan berlari mendahuluinya.
"Ah, dasar sableng, Keenan!" ucap Zoya lantas Keenan menjulurkan lidah pada Zoya sehingga Zoya melempar Keenan dengan ranting pohon yang dilihatnya.
"Wek, nggak kena haha.." kelakar Keenan.
__ADS_1
"Dasar sopir aneh, haish!!" gumam Zoya namun tak lama ia tersenyum melihat tingkah Keenan yang sekejap mengusir kegundahan hatinya sejak tadi. Sementara Keenan malah sudah meninggalkannya karena Zoya mengatakan jalan macam keong tadi.
***********