Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Makan bersama


__ADS_3

...Kamu adalah bukti...


...Dari cantiknya paras dan hati...


...Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi...


...Tentang keras dan kelamnya hidup ini...


...Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku......


...Kau wanita terhebat bagiku...


...Tolong kamu camkan itu...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Pagi ini Chelsea dan Aiden baru saja tiba di perusahaan. Tak disangka para karyawan menyambut kedatangan pengantin baru dengan sukacita. Chelsea sampai terharu karena kepedulian para pegawai


Zoya juga ikut menyambut mereka. Mereka berhenti didepan Hilman yang juga ada disamping Zoya.


"Selamat ya, maaf kami melakukan penyambutan ini. Ini sesuai keinginan dari para pegawai kalian yang menunggu kehadiran kalian kembali ke perusahaan!" jelas Hilman dan Chelsea juga melayangkan senyuman pada Zoya. Melihat perut Zoya yang mulai membesar.


Setelah penyambutan pengantin baru, Chelsea berniat mengobrol dengan Zoya. Zoya dimintanya ke pantry dan Chelsea membuatkan susu hangat untuk menemani obrolan mereka.


"Diminum bumil!" ucap Chelsea sehingga duduk di kursi dan menaruh tehnya di meja yang ada di hadapan mereka.


"Makasih Chelsea, ada apa?" tanya Zoya kemudian mengambil susu hangat itu dan menyeruputnya.


"Berapa usia kandungan kamu sekarang, udah ada 5 bulan?" tanya Chelsea seraya mengelus perut buncitnya Zoya.


"4 bulan, semoga kamu juga cepat menyusul ya, aamiin!" ucap Zoya seraya memegang perut Chelsea.


"Aamiin, nggak ada apa-apa lho didalam sini hehe.." ujar Chelsea agak terkekeh.


"Aku pegang perut kamu supaya nular hehe.." ucap Zoya.


"Aamin." sahut Chelsea.


Aiden sendiri tengah menyiapkan berkas yang sudah Chelsea urus semalam. Sedangkan Chelsea yang sudah selesai berbincang dengan Zoya beranjak menyusul Aiden ke ruangannya. Meeting dimulai satu jam lagi di ruangan. Chelsea memberikan beberapa design furniture pada pihak pemesan.


Syukurlah perusahaan kembali banjir pesanan sehingga seperangkat dipan *sp*ring bed dan lemari kayu minimalis siap diproduksi. Meeting yang memuaskan itu pun membuat proyek kembali jatuh ke tangan Aiden putra company.

__ADS_1


Setelah saling berjabat tangan tanda kesepakatan sang kolega diantar hingga ke depan ruang meeting. Tiba-tiba Aiden melingkari kedua tangannya di tubuh sang istri dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Chelsea.


"Mas, nggak enak kalo dilihat karyawan mas, nanti aja meluknya!" Chelsea masih canggung di hari pertama mereka kembali bekerja setelah menjadi pasutri.


"Dek, yang suami istri di perusahaan bukan cuma kita, banyak diantara mereka yang akhirnya jadi dengan teman sekantor, mereka malah bermesraan," ujar Aiden lalu melepas pelukannya dan jalan beriringan dengan Chelsea ke ruang kerja mereka. Beberapa karyawan menyapa Aiden dan Chelsea sehingga mereka memberikan senyuman mereka.


Aiden sangat ramah pada bawahannya. Aiden selalu berusaha menghargai jerih payah para karyawan. Karena tanpa kinerja para bawahannya, perusahaannya tak akan maju hingga kini.


"Kenapa kamu nggak memarahi mereka hehe..Mereka kan bermesraan saat bekerja?" tanya Chelsea berkelakar.


"Apa hak aku, yang penting mereka memeluk pasangan mereka, sebagai manusia yang diberi kelebihan seperti aku yang jadi CEO dan kamu yang jadi sekertaris, kita harus mawas diri, ini hanya titipan, jadi jangan serakah karena kalau kita nggak bisa menjaga amanah, hah...ya gitulah sayang, aku bukan kyai jadi aku nggak mau banyak ceramah takut salah," jelas Aiden.


"Andai semua pimpinan seperti suami tampanku ini, yaudah kita lanjutkan pekerjaan kita, ya!" ajak Chelsea seraya menautkan lengannya ke lengan Aiden. Sedangkan Aiden hanya mengangguk.


********


Sementara Keenan dan kedua orangtuanya tengah menikmati makanan yang sengaja Keenan belikan untuk mereka. Setelah melihat menyelesaikan urusan pada para pengemudi Keenan membawakan makanan itu.


Sepertinya Dila agak malas saat kembali dipertemukan dengan mantan kekasih yang sudah merenggut kesuciannya itu.


"Ibu, ayah, kenapa kalian diam, ayolah mengobrol!" ujar Keenan dan menyusul mereka duduk.


"Kenapa kamu nggak menurunkan dia dijalan aja, malah kamu ajak dia kesini, ibu kan jadi nggak mood lagi sekarang??" sarkas Dila pada Keenan.


"Aku sengaja, kita harus merayakan ini, bu. Ayo dinikmati, ayah, ibu!" Keenan membukanya dan Dila tersenyum karena nasi bento berukuran lucu itu dihidangkan sang anak untuk mereka.


"Kenapa kamu memberi kami ini, emangnya kami anak taman kanak-kanak hehe.." Dila terkekeh seraya memandang Keenan.


"Ini makanan orang dewasa hanya bergaya bento bu, nah ibu mulai tertawa, ayo ayah dimakan!" ajak Keenan yang sejak tadi memperhatikan wajah cantik wanita paruh baya yang sudah melahirkan Keenan ke dunia.


"Ayah, ayo dimakan!" ulang Keenan sekali lagi. Mario hanya mengangguk.


Mario akhirnya bisa memandangi dengan seksama wajah Keenan yang begitu rupawan. Dengan kebaikan hatinya, maka ketampanannya pun semakin terpancar saja. Keenan merasa canggung terus diperhatikan seperti itu.


"Ada apa ayah, apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Keenan seraya mengusap wajahnya.


"Iya, ada. Ada malaikat kecil yang kini sudah tumbuh dewasa." jawaban itu membuat netra Mario mengembun.


"Malaikat kecil, bukannya aku ini hanya anak haram?" tanya Keenan sehingga Dila antusias menoyor kepala sang putra. Keenan langsung merubah raut wajahnya karena Keenan bicara sembarangan.


"Kenapa sih bu, aish!!" Keenan tak mengerti.

__ADS_1


"Kalau kamu asal bicara lagi, ibu sumpal mulut kamu, sama kamu juga, Mario. Kalau kamu berani menghinanya lagi, jangan harap kamu bisa menemui anakku lagi!" sarkas Dila.


"Haha..apa ibu segalak ini saat muda, harusnya ibu cepat tua karena sering marah-marah, tapi kenapa malah awet muda haha.." Keenan terus saja menggoda sang ibu. Dia benar-benar iseng.


"Ibu perawatan di salon, menjaga makan ibu, enak saja cepat tua, anak ibu baru dua, jadi belum tua lah!"


"Sebentar lagi akan jadi nenek tua haha.." cibir Keenan lagi dan disenyumi oleh Mario karena putranya itu ternyata pintar menggoda sang ibu.


"Tapi tetap cantik kok, iya kan nak?" tanya Mario pada Keenan.


"Hum..sip ayah, wajah ayah tampan dan ibu cantik, dan aku bibit unggul menuruni kalian," ujar Keenan seraya melahap makanannya.


"Iya anak nakal!" sahut Dila dengan senyuman.


"Nakal tapi bikin kangen ya hihi.." Keenan masih saha menggoda sang ibu.


"Bikin kesel, pasti Zoya kesel terus melihat wajahmu ya, hum.." ujar Dila seraya mengacak rambut Keenan.


"Bu, aku udah memberikan minyak rambut, nanti rambutku ini layu lagi!" keluh Keenan lalu merapikan rambutnya lagi. Dila menjulurkan lidah, ia sangat suka berbuat usil pada putranya itu.


"Zoya siapa, Keenan?" tanya Mario.


"Zoya istri aku, ayah. Sebentar lagi ayah juga akan punya cucu, Zoya sedang mengandung saat ini." jawab Keenan seraya menggenggam tangan sang ayah. Dila tau betapa sayangnya Keenan pada orangtuanya.


"Oh, syukurlah, semoga persalinannya nanti lancar." ucap Mario.


"Makasih ayah, ayo dimakan lagi, aku akan belikan lagi kalau ayah mau, ini juga berikan untuk Minho, adikku!" ucap Keenan memberikan begitu banyak makanan dalam plastik besar.


"Minho kan?" tanya Dila.


"Minho anakku dengan Yulia, Dila. Sayang Yulia meninggal saat Minho kecil." jawab Mario.


"Semoga Minho bahagia. Jagalah dia dengan baik, hanya kamu yang ia miliki saat ini!" ujar Dila dan diangguki oleh Mario.


"Siapa bilang bu, aku juga kakaknya saat ini." sahut Keenan.


"Iya, adikmu ada dua ya, lelaki semua. Anak nakal semua," sahut Dila dan disenyumi oleh Mario.


"Aku anak baik bu hehe.." sahut Keenan.


"Iya, yaudah habiskan makanannya!" pinta Dila pada ayah dan anak itu.

__ADS_1


********


__ADS_2