
Setelah hari yang melelahkan tadi, dipukuli ibu kandung sendiri Keenan merasa jengah. Ia memilih ritual mandi untuk membersihkan kemalangan yang menempel pada dirinya. Ia menutup begitu saja pintunya tanpa menguncinya. Setiap mandi ia selalu menyanyi, kiranya baru akan keluar saat single yang dibawakannya selesai.
Sementara Zoya tak merasa perlu mengetuk pintu lagi karena Keenan lupa merapatkannya.
"Keenan, makan malam!" ucap Zoya lantas Keenan menyudahi mandinya dan Zoya terkejut melihat dada bidang terpampang tak jauh dari pandangannya.
"Ahh.." pekik Zoya lantas menutup matanya.
"Kenapa Zoya, aku nggak telanjang. Aku menutup daerah terlarangku dengan handuk." ujar Keenan lantas menghampiri Zoya.
Zoya membuka matanya perlahan dan terkejut saat tiba-tiba wajah Keenan sudah terpampang dihadapannya.
"Ahh!" pekik Zoya yang terkejut lantas menepuk pipi Keenan.
Plak!!
"Auh!" rintih Keenan lantas mengusap pipinya itu.
"Kamu ini bikin kaget aja, maaf aku masuk gitu aja, karena pintu kamu nggak terkunci, ini untuk makan malam kamu!" ujar Zoya.
"Makasih, ya!" ucap Keenan dengan senyuman.
"Eh Keenan, tangan kamu badan kamu kok pada lebam begini, kamu abis dikeroyok apa gimana?" tanya Zoya.
"Ah, enggak. Lagian kamu kepo ah, kita makan bareng aja, yuk! Aku pakai baju dulu, ya!" ucap Keenan.
"Nggak ah, aku udah makan barusan. Aku mau rebahan capek, pulang kerja langsung masak!" ujar Zoya.
"Hebat kamu, Zoya! Makasih ya, aku jadi merepotkan deh!" ucap Keenan.
"Nggak kok, kamu kan. Udah aku anggap seperti kakak aku sendiri, jadi anggap aja ini bentuk perhatian seorang adik pada kakaknya." ujaran Zoya membuat Keenan merubah ekspresinya jadi datar.
"Oh, kakak ya hehe..Oke, makasih adikku yang cantik!" ucap Keenan dengan senyuman.
"Udah, pakailah baju kamu, ada minyak oles nggak, buat oleskan di badan kamu nih, kasian aku jadinya!" ujar Zoya prihatin akan keadaan Keenan.
"Nggak apa-apa nanti juga sembuh hehe.." sanggah Keenan.
"Ck, jangan dibiarin, tau. Kamu makan aja dulu, ya!" ujar Zoya lantas kembali keluar dari rumah atap. Sementara Keenan tersenyum melihat hidangan yang Zoya sajikan untuk makan malamnya.
"Hadeh, baru kerasa sakitnya. Pertemuan pertama kita cukup berkesan, bu. Karena sambutan ibu ini, huft!" Keenan mengambil kaos putih dan celana kolor diatas lutut. Ia memakai kaosnya dan memakai celananya lantas menggantung handuknya. Menyisir rambutnya menyemprot parfum ke pakaiannya dan memakai body lotion.
Tak lama Zoya kembali datang membawa air hangat dan minyak oles. Sementara Keenan baru menyuap nasi beberapa sendok. Zoya merasakan harum khas dari tubuh Keenan menyeruak. Zoya mengendus pelan dan duduk di dekat Keenan.
"Kamu rapih banget, mau kemana?" tanya Zoya lantas meletakan minyak oles dan air hangat di dekatnya.
"Kan aku habis mandi, tentu rapi. Nggak mungkin kan, abis mandi aku guling-guling di tanah haha.." ujar Keenan.
"Nggak lucu!" ucap Zoya lantas Keenan langsung terdiam.
"Ini air hangatnya, nanti oleskan di wajah kamu dan badan kamu. Setelah itu, oleskan minyak ini, jangan di biarin takutnya bengkak." ujar Zoya.
"Iya sayang hehe.." sahut Keenan sehingga Zoya menoyor kepala Keenan hingga Keenan hampir tersungkur.
"Zoya, aku kan, lagi kayak gini, kamu mau nambahin lagi!" gumam Keenan lantas beranjak duduk kembali.
"Ops, maaf! Aku sebel aja kamu panggil sayang! Aku nggak suka, tau!" ujar Zoya merasa tak enak.
"Nggak apa-apa, mak lampir! Udah biasa hehe.." gerutu Keenan seraya menghela nafasnya.
"Mak lampir? Huft, yaudah, kamu makan ya! Aku ke bawah lagi!" ujar Zoya namun Keenan meraih tangan Zoya dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Tunggu, Zoya!" ucap Keenan dan Zoya menatap tangan Keenan yang memegang jemarinya. Lalu Zoya melepaskannya dan berlalu pergi dari hadapan Keenan.
Keenan terus memandangnya sendu hingga Zoya tak terlihat lagi. Keenan beranjak menutup pintu rumahnya dan melanjutkan kembali makan malamnya.
Sementara Zoya saat ini berada di kamarnya, belakangan Zoya sering melihat Keenan terluka. Saat itu juga Zoya melihat kepala belakang Keenan yang terluka. Sekarang bahkan wajah dan tubuhnya terlihat lebam membiru.
"Apa tadi dia abis dipukulin, ya! Tapi, kelihatannya dia biasa aja, huft! Semoga aja Tuhan selalu menjaganya, karena dia udah nggak punya orangtua lagi, selama ini juga aku terlalu jahat sama dia," gumam Zoya malah memikirkan keadaan Keenan saat ini.
"Lagian, dia kan ganteng, badan six pack, kenapa dia nggak mencari pacar, kenapa dia nggak jadian aja dengan Chelsea!" ujar Zoya terus bermonolog.
"Hum, Kira-kira pak Aiden lagi apa, ya, sekarang? Ah, pingin cepat-cepat besok, deh. Aiden..Aiden hehe.." ujar Zoya.
**********
Sementara karena acara berjalan lancar kali ini. Hilman dan Nike mengajak Chelsea makan malam di kediaman Aiden. Nike sangat senang karena Chelsea anak yang baik, sedangkan karena mereka sedang bersama malam ini. Nike membahas hubungan mereka.
"Makasih ya, Chelsea karena bersedia makan malam disini, sering-seringlah main kesini!" ujar Nike.
"Iya tante, kalau sempat Chelsea akan berkunjung! Makasih, karena udah diajak merayakan kesuksesan Aiden," ujar Chelsea dengan ramahnya.
"Ngomong-ngomong gimana nih, hubungan kalian Aiden, Chelsea?" tanya Nike.
"Hubungan, kami hanya berteman aja, tante. Iya, kan, Aiden!" ujar Chelsea.
"Iya, ma. Mama ini, tuh! Dengar kan, Chelsea bicara apa." ujar Aiden sedangkan Chelsea tak menyangka Aiden sepakat akan ucapannya.
"Makasih ya, kamu udah memenuhi undangan ini. Aiden, ajaklah Chelsea mengobrol setelah ini, ya!" ujar Hilman menatap Aiden.
"Ah, iya, pa." sahut Aiden dengan senyumannya.
Aiden sendiri merasa biasa saja, justru Zoya lah yang mengganggu pikirannya saat ini. Aiden hanya memberi senyuman tanpa arti pada Chelsea. Setelah selesai menyelesaikan makan malamnya, Aiden dan Chelsea mengobrol di rooftoop sambil menikmati pemandangan ditemani minuman kaleng yang Aiden bawa.
Chelsea menerimanya dan Aiden duduk di sampingnya kini sambil menatap bintang dan bulan di langit.
"Kamu, nggak mengundang Zoya juga untuk makan malam bersama, Aiden?" tanya Chelsea.
"Kenapa kamu menanyakan itu, Chelsea?" tanya Aiden.
"Kamu jujur aja, kita kan bersahabat sejak kecil. Maaf, aku agak lancang!" ucap Chelsea memahami pasti Aiden merasa risih akan pertanyaannya.
"Belum, Chelsea. Aku masih bingung sama perasaan aku, dia gadis yang baik dan manis. Aku nyaman berada di dekatnya, saat ini itulah yang aku rasakan," jawaban Aiden membuat Chelsea bergetar.
Kenyamanan yang dulu mereka bina sudah tergantikan oleh sosok Zoya. Lalu, Aiden bertanya kembali tentang kedekatan Chelsea pada Keenan saat ini.
"Kalau kamu sejauh mana hubungan kamu dengan Keenan?" tanya Aiden menanyakan hal yang sama lagi.
"Aku udah katakan sama kamu, Aiden. Kami hanyalah teman, Keenan orang yang ramah, itu kenapa aku mengaguminya. Untuk hubungan, aku bahkan nggak tau. Sejauh ini yang aku rasakan, aku suka berteman dengan dia." jawaban Chelsea membuat Aiden menganggukkan kepalanya perlahan.
"Maaf, Aiden. Udah malam, aku harus pulang! Aku mau berpamitan sama om Hilman dan tante Nike." ujar Chelsea lantas mereka bangkit dari duduk dan menuju ke lantai bawah.
Tak lama Chelsea berpamitan pada Hilman dan Nike. Setelah itu, Aiden juga mengantar Chelsea dengan mobilnya.
**********
Keesokan harinya...
Sejak kejadian kemarin rasanya Keenan tak sudi menerima uang dari Dila. Itu kenapa Keenan berniat untuk mengembalikan uangnya ke alamat yang Dila berikan. Hanya saja moment kedatangan Keenan tidaklah tepat karena Dila baru saja mengantar sang suami hingga ke pagar rumahnya.
Rumah itu bergaya klasik dan luas serta megah. Sekarang Keenan paham kenapa Dila tak menginginkan dirinya. Hanya saja, Keenan ingin mengembalikan uang itu sehingga ia harus tetap bertamu kali itu.
"Permisi, apa benar ini kediaman, ibu Dila?" tanya Keenan pada satpam di rumah itu.
__ADS_1
"Iya, mas. Mas ini siapa, ada perlu apa, ya? beliau ada di dalam." ujar satpam.
"Saya Keenan, anak..eh, maksud saya sopir taksi. Saya mau mengembalikan uang ibu Dila yang tertinggal di taksi." ujar Keenan.
"Oh, kalau begitu mari saya antar ke dalam." ujar satpam tersebut lantas Keenan dibawa hingga menuju ke pintu tersebut.
Sementara satpam memberitahu akan kedatangan Keenan pada Dila. Dila cukup terkejut karena Keenan malah mendatangi kediamannya, Keenan tak jera dengan ancamannya kemarin.
"Permisi, nyonya! Ada Keenan katanya sopir taksi, mau bertemu nyonya!" ujar satpam.
"Apa, Keenan.Ya sudah, suruh dia masuk!" ujar Dila sedangkan satpam kembali menemui Keenan.
Beraninya dia datang kesini, sepertinya minta dihajar lagi anak itu!"
Dila mengutuki Keenan, Ia tengah menunggu yang dianggapnya anak haramnya itu di taman belakang rumahnya. Satpam mengarahkan Keenan menuju ke tempat yang Dila minta.
"Itu nyonya, mas Keenan. Silakan!" ujar Satpam.
"Makasih, pak." ucap Keenan perlahan menghampiri Dila. Keenan pun telah berada di hadapannya kini, Keenan merasa tenang melihat wanita paruh baya yang makin cantik meski sudah menua. Ingin rasanya ia memeluknya lagi seperti kemarin.
"Berani-beraninya kamu kesini lagi, saya udah katakan jauhi saya, apa uang kemarin kurang?" tanya Dila kesal.
"Maaf bu!" belum Keenan selesai bicara Dila sudah memotongnya.
"Jangan panggil saya ibu lagi! Panggil saya dengan sebutan nyonya, saya nggak sudi punya anak haram seperti kamu!" ujar Dila.
"Maaf nyonya, nyonya bahkan nggak meminta saya untuk duduk. Apa saya begitu hina, hanya karena saya anak hasil hubungan terlarang, nyonya?" tanya Keenan sendu.
Mendengar ucapan Keenan yang cukup keras, Pecutan rotan meluncur ke tangan Keenan begitu saja.
"Auh!" rintih Keenan.
"Siapa yang sudi, duduk sama tinggi dengan kamu. Duduklah di bawah, itu tempat kamu, cepat!" titah Dila.
"Jaga bicara kamu, bodoh! Kalau ada yang tau, kamu adalah anakku, kamu akan aku buat menyesal!" ancam Dila dan kembali memberikan pecutan itu di lengan Keenan.
Karena Dila adalah ibu kandungnya, tentu ia menuruti keinginan sang ibu.
"Saya cuma mau kembalikan ini, nyonya! Saya nggak bisa menerimanya." ujar Keenan lantas duduk bersimpuh di lantai.
"Tapi jangan pukul saya lagi, nyonya!" pinta Keenan meratapi dirinya.
"Boleh aja, asal kamu janji jangan pernah mencoba mengganggu saya lagi!" ujar Dila namun ia tak menjawabnya. Sehingga Dila kembali memberikan pecutan itu di lengan Keenan.
"Tapi, bu!" Keenan masih bersikeras juga sehingga bukan mulut Dila lagi yang bicara namun rotan. Satu pecutan kembali lolos mengenai lengannya sehingga memberikan luka goresan.
"Auh.." rintih Keenan lagi menahannya.
"Berharap jadi anakku aja kamu udah tersiksa apalagi sampai harus mengakuinya. Jangan harap aku akan memberikan kebahagiaan sama kamu, aku udah bahagia hidup dengan suami dan anak lelakiku, mereka nggak ada saat ini. Jadi, pergilah saat ini!" ujar Dila.
"Iya, ini saya kembalikan uang nyonya! Saya nggak akan ganggu nyonya lagi, tapi kalau nyonya butuh saya. Jangan sungkan menghubungi saya, nyonya!" pesan Keenan pada sang ibu.
"Saya permisi, nyonya!" ucap Keenan lantas pergi dari hadapan Dila.
"Hey, kenapa kamu kembalikan uang ini, dasar sombong, kamu..Keenan!" namun panggilan sang ibu tak dihiraukannya.
Keenan segera melangkah keluar dan memberikan senyuman pada satpam lantas masuk ke taksinya dan melajukan taksinya keluar meninggalkan kediaman Dila. Lagi Keenan malah semakin terluka karena perlakuan sang ibu. Siapa juga yang ingin jadi anak haram, kalau boleh memilih ia ingin terlahir dari keluarga sederhana dan penuh kasih sayang. Tapi, ia ikhlas menerima nasibnya.
"Ketemu lagi, bukannya dipeluk. Malah kena rotan, tapi aku bersyukur ibu hidup bahagia saat ini, panjangkan umurnya Tuhan, meskipun dia nggak menginginkan aku, sesekali aku harus melihat keadaannya disini, auh..ibu ini. Indahnya disayang ibu, meski kena pukul rotan kasih sayangnya! Aku cari minyak oles aja untuk meringankan lukanya, perih ini huft!" ujar Keenan dimana ia malah bahagia meski tak diinginkan dan tetap menyayangi sang ibu.
Karena ia merasa kembali hidup setelah mengetahui kalau ibunya masih ada. Lantas ia kembali melajukan taksinya karena ia mendapat penumpang lagi kali ini.
__ADS_1