
Setelah lelah main sepeda dan mendapatkan apa yang dicari, sepasang sejoli itu kembali pulang. Keenan masih duduk di kursi bambu seraya menunggu Zoya yang mengajaknya main kembang api. Keenan mengaitkan seluruh kawat kembang api membentuk lingkaran dan menyulutnya satu persatu.
Sehingga keluarlah percikan kembang api yang membuat Zoya begitu bahagia. Ia tertawa riang menikmati percikan api itu. Sejenak ia tiba-tiba memeluk tubuh Keenan dari samping dengan eratnya.
"Selamat tahun baru sayang hehe.." ucap Zoya.
"Udah kelewat sayang!" ucap Keenan.
"Biarin, tahun baru, status baru, ya!" ujar Zoya kemudian bersandar di pelukan Keenan. Keenan hanya tersenyum seraya mengelus rambut yang terurai panjang.
"Iya," sahut Keenan singkat kemudian mengecup kening Zoya sekilas.
"Maaf soal tadi aku mengurung kamu!" ucap Zoya lantas menarik diri dari dada bidang sang suami.
"Udah nggak usah dibahas lagi, aku tau itu demi aku. Tadi ada yang luka nggak, kan kita jatuh?" tanya Keenan melihat siku Zoya dan bagian tubuh lainnya.
"Nggak," jawab Zoya namun pandangan matanya tak beranjak dari wajah Keenan. Keenan yang salah tingkah dipandangi dengan tatapan kekaguman hanya tersenyum.
"Mulai lagi mandangin aku kayak gitu." Keenan menyimpulkan senyuman. Lalu menghela nafas, Zoya melingkari tangannya ke pinggul Keenan makin erat.
"Ayo sayang!" ajak Zoya.
"Ngapain?" tanya Keenan seraya menautkan kedua alisnya.
"Main!" sahut Zoya sementara wajahnya begitu dekat menggoda dan membuat Keenan berdebar.
"Sebentar lagi magrib, ngajak main terus sejak tadi?" tanya Keenan lalu beranjak dari kursi dengan merangkul Zoya yang masih bergelayut dalam pelukannya itu dan tak pelak melepasnya.
"Tapi aku kepingin!" rengek Zoya yang tak sabar itu.
Keenan menutup pintu dan Zoya sepertinya tengah kangen dengan Keenan. Keenan menghela nafas, dan melihat jam di ponselnya.
"Abis isya ya sayang, ayo kita main sepuasnya, kan nanggung kalau sekarang mandi lagi dong hehe.." sanggah Keenan dimana mereka tengah saling merebahkan diri di ranjang. Zoya merengut dan menciumi dada bidang sang suami yang terbalut kaos putih yang tipis.
"Sayang!" Keenan merasa terangsang. Tangan kekarnya itu menjadi sandaran kepalanya yang tak beranjak terus mengendus leher jenjang sang suami. Keenan berusaha menahan karena sebentar lagi magrib akan tiba. Tapi sepertinya Zoya sudah tak bisa menahannya.
"Sayang aku mohon, itu bedugnya udah bunyi! Tinggal allahuakbar sayang!" Keenan berusaha menundanya.
Zoya yang sudah tak mood lagi lantas menarik diri dan beranjak dari ranjang menuju ke pintu keluar.
"Sayang kamu mau kemana?" Keenan jadi tak enak hati.
"Kebawah sebentar, cari angin segar!" sahut Zoya lantas menutup pintu dengan sedikit keras. Keenan sempat meringis karena sepertinya Zoya ngambek karena Keenan menolaknya.
__ADS_1
"Tapi udah magrib sayang!" ujaran Keenan tak ditanggapi Zoya. Ia sangat bete merasa malu karena sudah seperti ulat keket eh, malah ditolak. Padahal Keenan ingin menundanya sejenak dan Zoya bisa melampiaskan segalanya setelah isya namun Zoya sudah terlanjur malas.
Keenan tertegun di ranjangnya sembari memeluk guling. Namun tak lama Zoya datang membawa dua gelas susu hangat. Keenan hanya melirik sedikit dan Zoya mengajak sang suami untuk solat magrib berjamaah.
********
Sementara Keenan dan Zoya masih menunda, Aiden dan Chelsea sudah menggebu. Aiden sengaja memesan cincin yang berharga fantastis karena Chelsea ingin acara private wedding. Aiden memilih memperbanyak maharnya saja.
Aiden memberikan foto cincin yang disitu tertera nama keduanya. Berlian bernilai fantastis. Chelsea tersenyum senang melihatnya. Mereka tengah berbincang di kediaman Chelsea, dan kini sang ayah Fadli, sudah datang lagi karena putri satu-satunya akan segera dipinang oleh calon menantu yang dikenal baik olehnya.
"Kenapa beli cincin semahal ini sayang?" tanya Chelsea.
"Iya nak Aiden, Chelsea juga maunya sederhana kan acaranya?" tanya Fadli.
"Iya pa, maaf tapi aku akan tetap menggelar acara private wedding, tapi tetap aja akan ada beberapa saudara jauh yang datang!" ujar Aiden.
"Terserah nak Aiden saja, papa merestui kalian. Maaf Chelsea, papa baru sempat pulang lagi, papa udah pensiun dan mengikuti saran kamu untuk kembali tinggal disini." ujar Fadli.
"Lebih baik anda disini pa, karena Chelsea akan lebih bahagia kalau papa bisa terus berada di sampingnya. Pasti almarhumah juga menginginkan hal itu!" pinta Aiden berharap Fadli sang calon mertua tak kemana-mana lagi.
"Makasih ya pa, Chelsea seneng banget kita bisa dekat lagi. Aku dan Aiden memutuskan untuk tinggal sama papa setelah menikah, rumah ini terlalu besar kalau papa hanya menempatinya seorang diri!" ulas Chelsea sehingga Fadli memeluk anak gadisnya yang sebentar lagi akan berstatus menjadi istri Aiden.
"Apa nggak apa-apa nak Aiden?" Fadli merasa tak enak hati.
"Bukan Chelsea yang memintanya tapi saya, pa. Jadi papa nggak usah khawatir, papa setuju kan kami tinggal disini setelah nikah?" tanya Aiden memastikan.
"Aamiin pa!" sahut Chelsea dan Aiden bersamaan sehingga mereka tertawa.
"Eh, kok bareng sih hehe.." ujar Chelsea.
"Karena kalian berjodoh, ya hehe.." sambung Fadli terkekeh.
"Aamiin, jodoh dunia akhirat ya, sayang!" sahut Aiden.
"Aamiin sayang!" ucap Chelsea,
"Diminum tehnya papa, sayang!" ucap Chelsea.
"Iya!" Sehingga mereka menikmati teh hangat setelah membicarakan tentang masa depan yang sudah ada di depan mata.
*******
Setelah melaksanakan shalat isya, Keenan nampak menonton televisi. Terlihat Zoya masih termenung, lalu Keenan memeluk tubuh yang terbaring membelakanginya.
__ADS_1
"Kok munggungin aku sih, nggak boleh tau!" ucap Keenan dengan lembutnya.
Lalu karena mendapat teguran dari sang suami, Zoya tidur menghadap ke wajah Keenan saat ini. Segera Keenan matikan tv dan melayangkan kecupan menggigit dan memainkan lidahnya. Zoya tak menyangka, apa Keenan sudah merencanakan ini. Sesekali netranya terpejam dan membola saat Keenan meneruskan pagutan kecil di leher jenjangnya yang sedikit membuat sang istri mendesahh.
Menciumi dengan hasrat, kini Zoya berada dalam kungkungan tangan kekarnya. Membuka pakaian yang menghalangi mata, meneguk saliva berulang, keringat mulai bercucuran menghiasi tubuh. Memainkan bukit kenyal yang terpampang, sesekali memilin dan meremass. Zoya melenguhh, mendesahh, menahan nikmatnya sentuhan penuh kelembutan yang Keenan lakukan.
Ini kali pertama, Keenan benar-benar melakukan dengan nafsuu yang membuncah. Sesekali mengecup lembut bibir merona sehingga menciptakan bunyi decakan, berkali bahkan berkali-kali. Keduanya sudah telanjang bulat dan kini memasukan kepemilikannya itu ke tempatnya.
Melakukan dengan selembut mungkin menarik ulur dengan desahann yang menggelikan. Mereka saling tersenyum memandang kemudian Keenan melayangkan kecupannya lagi disela sang istri yang menahan hasrat karena terus menggigit bibir bawahnya.
Dan saat selesai, Keenan kembali menarik diri menyelimuti diri mereka yang masih belum berpakaian.
"Capek sayang?" tanya Keenan yang nampak kelelahan.
"Hum, tapi aku senang. Karena bisa menyalurkannya sama kamu." Zoya sumringah kemudian melayangkan kecupan sekilas di bibir Keenan.
Cup..
"Aku ke toilet sebentar ya sayang, lengket hehe.." pinta Keenan, namun Zoya malah memeluk erat tubuh yang keringatan itu.
"Enggak, kamu disini aja!" Zoya mencegah Keenan agar selalu disisinya.
"Aku mau pipis sayang, please!" pinta Keenan dan akhirnya Zoya memberi izin.
"Yaudah, sayang tapi!" Zoya kembali menahan tubuh Keenan.
"Besok sebelum subuh kita mandi berdua, ya!" ujar Keenan sehingga Zoya mengulum senyum.
"Ah, iya. Aku mau banget hihi.." sahutan Zoya membuat Keenan bergidik.
"Kamu nih mulai lagi deh hehe.." ujar Keenan dengan sikap Zoya yang demikian.
Keenan segera menyambar handuk dan melilitkannya di tubuh kekarnya. Beranjak memasuki toilet untuk membersihkan diri dari sisa pergumulan barusan. Zoya mindik-mindik dengan selimut tebalnya didepan pintu toilet seraya mengetuk pintu.
"Sayang udah belum pipisnya?" tanya Zoya.
Lalu Keenan keluar dengan sudah berpakaian rapi. Keenan tersenyum melihat sang istri kemudian Zoya masuk ke toilet dan memberikan selimutnya dengan tangan menyembul. Keenan menunggu sang istri yang tengah bersih-bersih kemudian Zoya kembali datang menaruh tangan kekarnya di bawah kepalanya.
Kini Zoya menidurinya dan menelusup masuk ke dada bidang sang suami. Memeluk dengan erat dan berharap bisa lekas tertidur dalam pelukannya.
"Tidurlah sayang, aku peluk ya!" ucap Keenan dengan lembutnya. Melingkari tangannya ke tubuh sang istri.
"Hum..nite sayang!" ucap Zoya pelan.
__ADS_1
"Nite, muah!" balas Keenan dengan memberi kecupan di kening sang istri. Zoya yang terlalu bahagia makin mengeratkan pelukannya sehingga tak butuh waktu lama karena merasa relaks. Ia pun terlelap dalam pelukan sang suami sehingga mereka pun tertidur hingga pagi menjelang.
*******