
Jam 9 malam ini akan ada wawancara eksklusif, sebenarnya ini adalah tugas Jordan, jadi Keenan tak bisa lagi mengikuti wawancara itu. Namun, Jordan akan sangat senang jika Keenan juga bisa datang karena penampilan Keenan tak lepas dari perhatian.
"Aku siap-siap dulu, sayang. Aku mau menghadiri acara live untuk jam 9 nanti, aku udah minta Jordan aja. Aku nggak mau terlibat dalam dance itu lagi, tapi katanya cuma kali ini aja, kok." ujar Keenan seraya bersiap dengan memakai kaos tangan panjang berwarna putih dan jaket kulit warna coklat. Kemudian celana dasar warna hitam.
"Aku pergi dulu, Zoya!" pamit Keenan dan berniat meluncurkan kecupannya di pipi Zoya namun Zoya menghalangi mulut Keenan yang sudah mencucu dengan telapak tangannya.
"Kenapa Zoya, aku cuma mau cium pipi?" tanya Keenan. Namun, tak lama Rangga menjemputnya dan menghampiri Keenan.
"Keenan, Ayo! Eh, kalian lagi berduaan ya hehe..." ujar Rangga.
"Iya, sebentar ya! Sayang, aku pergi dulu, ya!" pamit Keenan pada Zoya.
"Iya, hati-hati, ya!" ucap Zoya dengan senyuman melihat sang kekasih pergi.
Zoya sendiri menutup kembali rumah atap dan menuju ke kamarnya untuk mantengin sang kekasih wawancara. Zoya terbayang saat Keenan akan meluncurkan kecupan itu ke pipinya. Tak lama kemudian, Risna sang ibu datang ke kamar Zoya membuyarkan lamunan sang putri.
"Zoya!" panggil Risna.
"Iya, Keenan! ops.." sahut Zoya antusias menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Keenan, kamu sedang mikirin dia, ya?" tanya Risna lalu duduk di samping Zoya.
"Enggak bu, ngapain aku mikirin dia. Aku, nih lagi nungguin dia bu, kan dia mau wawancara malam ini." jawab Zoya dengan senyuman.
"Wawancara dimana?" tanya Risna.
"Di tv lah, bu. Sebentar lagi tayang, kok." jawab Zoya.
Namun, Risna terdiam sesaat karena ia ingin mengetahui hubungan Zoya dengan Aiden. Mengapa Aiden sampai main ke rumah dan beberapa kali menjemput Zoya. Risna berharap putrinya itu bisa menjalin cinta dengan Aiden.
"Zoya, apa kamu dan Aiden dekat? Apa dia menyukai kamu, ibu setuju kalau kalian jadi sepasang kekasih." betapa to the point Risna mengatakan itu. Bahkan Risna sudah merestui hubungannya yang kandas dengan Aiden. Namun ia juga tak bisa mengatakan akan hubungannya dengan Keenan karena Zoya takut Risna tak menyetujuinya.
"Kalau bukan Aiden, apa ibu nggak setuju?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Zoya, Aiden itu pria terbaik. Dia tampan, terpelajar dan karirnya gemilang. Kamu akan bahagia jika bersama dia," jawab Risna.
"Bu, pria yang sukses seperti Aiden itu banyak. Tapi, bukan mereka yang Zoya mau, Zoya nyaman dengan seseorang. Yang pasti bukan Aiden." ujar Zoya sehingga Risna membulatkan matanya.
"Jadi siapa yang kamu, mau? Keenan. Ibu nggak setuju kamu sama dia." Bak disambar petir saat Risna mengatakan hal itu. Risna memang sedikit matrealistis ia mau Zoya mendapatkan pendamping yang beruang. Jadi sudah pasti meskipun Risna baik dengan Keenan bukan berarti Risna menyetujui sang putri dengannya.
"Ke-kenapa bu, dia orang yang baik. Aku nyaman bersama dia." jawaban Zoya yang terlontar itu membuat Risna curiga.
"Nyaman, kamu udah pacaran dengan dia?" tanya Risna menekankan sehingga Zoya menelan saliva.
"I..iya, aku udah pacaran dengan dia, bu." jawaban Zoya tentu membuat Risna marah karena Risna sangat berharap kalau Zoya bisa bersama Aiden.
"Sejak kapan, kamu harus mengakhiri hubungan kamu dengan dia!" titah Risna.
"Tapi aku sayang sama Keenan, bu. Aku yang menjalaninya bukan ibu, kenapa ibu yang sewot. Keenan juga sayang sama aku, bu. Dia pria yang baik, bu." keluh Zoya dimana matanya mulai berkaca karena sang ibu tak setuju akan hubungannya.
"Pokoknya ibu nggak setuju, kalau kamu nggak mau bicara. Biar ibu yang memperingatkannya besok." ujar Risna yang bersikukuh dengan titahnya itu lalu keluar dari kamar Zoya.
"Jangan bu!" sanggah Zoya kecewa akan sikap sang ibu.
Tak lama acara Keenan berlangsung. Zoya sangat senang melihat pria yang disayanginya bisa sejauh ini. Zoya selalu berharap kebahagiaan untuk lelakinya itu. Ia memeluk bantal dan menyaksikan acara Keenan dengan sukacita.
*********
Sementara itu..
Dila dan Danu wijaya sang suami tengah menyaksikannya juga. Danu sangat berharap bisa bertemu dengan anak tirinya itu. Ia sudah menerima Keenan jika Keenan berkenan memanggilnya Ayah, Danu sangatlah senang. Danu berprofesi sebagai pewaralaba sebuah kopi franchise. Dimana usahanya sudah tersebar di lima cabang di ibukota. Tak diragukan Dila menjadi nyonya yang kaya raya saat ini.
"Bu, sebaiknya ajak anak lanang ibu itu menemui ayah, ayah sangat ingin bertemu dengannya!" pinta Danu.
"Ayah serius?" tanya Dila.
"Iya, Ayah lihat dari cctv waktu itu. Ibu memukul dia, jangan lakukan itu lagi, bu. Kasian dia bu, dia itu seorang anak yang rindu pada ibunya yang mencampakkannya. Ayah akan anggap dia seperti anak Ayah jadi kalau ibu menyakitinya, Ayah akan memarahi ibu." ujaran Danu begitu menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Gimana sama Hilal, anak lelaki kita. Kita harus beritahu juga sama dia. Semoga dia bisa menerima Keenan sebagai kakaknya." Harap Dila.
"Hum..lebih cepat mempertemukan mereka lebih baik, besok suruh Keenan kesini. Kalau nggak suruh dia sekalian tinggal sama kita!" pinta Danu.
"Kenapa Ayah ini begitu bersemangat?" tanya Dila dengan senyuman.
"Karena Ayah tau bu, gimana menderitanya hidup tanpa adanya orang tua ditengah kita. Ayah juga yatim piatu, bu. Beruntung Ayah dirawat dengan baik sama om Ammar dan tante Via saat itu, sehingga Ayah tetap dapat kasih sayang. Dan bisa survive hingga saat ini." jawab Danu seraya menggenggam erat jemari sang istri.
Setelah itu Dila menyandarkan diri di pelukan Danu. Mengapa ia malah jadi merindukan putra yang selama ini dicampakkannya itu. Ingin rasanya Dila memeluk Keenan saat ini juga. Tak lama Dila mengirimkan pesan pada Keenan agar Keenan mengunjunginya besok karena Danu ingin bertemu dengannya.
"Ibu udah mengirim pesan sama Keenan, besok anak lanang ayah itu akan datang menemui ayahnya." ujar Dila dengan sumringah.
"Ayah senang ternyata ayah punya dua anak lelaki sekarang, besok kita akan menemui dia, bu. Ayah udah nggak sabar mau menemui anak lelaki ayah besok." ujar Danu yang bahkan begitu antusias menantikan pertemuannya dengan Keenan.
"Iya ayah." sahut Dila.
Merasa senasib dengan Keenan membuat Danu wijaya antusias. Danu juga awalnya hanyalah orang tak berpunya, namun karena kerja kerasnya sehingga ia bisa membangun kerajaan bisnis yang menunjang kehidupannya dan keluarganya saat ini.
Rumah bak istana yang dibangun karena doa dari sang istri. Dimana Danu sangat menghormati istrinya. Selalu memuliakan sang istri dan mencintai Hilal, anak lelaki satu-satunya. Semoga Keenan juga mendapat hal yang sama darinya nanti. Karena sebentar lagi, Danu akan mempunyai dua orang putra.
***********
Sementara itu,
Chelsea sejenak terbangun dan merasakan kompres yang terpasang di keningnya. Ia mengedarkan pandangan dan melihat jahe hangat di dekatnya lalu meminumnya.
"Keenan, makasih ya! perhatian kamu, aku jadi makin sedih karena nggak bisa memiliki kamu," keluh Chelsea kemudian ia memandangi foto Keenan di ponselnya.
Ia mengirim pesan pada Keenan dan mengucapkan terima kasih karena perhatiannya. Keenan yang sudah selesai dengan acaranya tadi membacanya seraya melangkahkan kaki ke rumah atap. Keenan hanya menanggapi hal itu dengan senyuman. Zoya juga mendengar langkahnya itu dan berharap besok bukan akhir dari segalanya.
Keenan membuka pintu dan mengganti pakaiannya. Keenan tadi sempat membelikan Zoya boneka dolphin berukuran sedang berharap Zoya bisa seperti dolphin yang setia sampai mati pada satu pasangannya saja. Meskipun boneka itu pasaran namun bukan soal pasarannya tapi makna yang terkandung di dalamnya.
"Semoga aja kamu suka, Zoya!" harap Keenan.
__ADS_1
Keenan merebahkan diri di kasur tipisnya dan beristirahat menantikan hari esok untuk memberikan boneka dolphinnya itu pada Zoya, kekasih hatinya.
***********