
Kenapa, disaat itu Aiden terlambat menyadari perasaan Zoya padanya. Sehingga sekarang saat Aiden berharap padanya. Zoya sudah tak sendiri lagi. Aiden menghela nafas seraya memandangi laptop yang berisi tentang pekerjaannya. Akhir-akhir ini ia merasa galau tak berkesudahan.
"Kenapa kamu mendadak jadi orang kaya, Keenan. Sekarang, apa yang harus aku lakukan. Mereka akan menikah?" Aiden menutup laptopnya dan menuju ke dapur untuk memasak pancake. Setelah siap, Aiden membawanya kembali ke kamarnya dan menikmati dengan susu hangat.
"Fiuh, kenapa sih, aku nggak menyimpan perasaan apapun sama Chelsea. Aku baru merasakan jatuh cinta lagi, malah sama Zoya. Haish.." keluh Aiden merutuki dirinya.
"Ish, Keenan itu, kenapa dia harus kasih harapan palsu ke Chelsea. Chelsea juga kenapa ikhlas begitu aja, apa dia nggak mau mendapatkan cintanya?" Aiden terus bermonolog kemudian merebahkan diri di ranjang empuknya untuk tidur malam ini.
**********
Keesokan harinya...
Aiden meminta Zoya ke ruangannya, Zoya agak takut-takut karena Aiden sempat akan mencumbunya kemarin. Zoya masih berdiri di hadapan Aiden.
"Duduk, Zoya!" pinta Aiden.
"Iya, pak." Chelsea duduk di hadapan Aiden.
Aiden memberikan surat kontrak kerja dan menyodorkannya pada Zoya. Zoya menatap Aiden dan mulai bertanya.
"Surat kontrak apa ini, pak?" tanya Zoya.
"Apa kamu bisa mengoperasikan komputer?" tanya Aiden.
"Bisa, pak." sahut Zoya yakin karena memang ia bisa dan belum mendapat kesempatan untuk bisa bekerja menjadi pegawai.
"Saya mau kamu mengisi kekosongan dalam divisi kepengurusan sumber daya manusia. Apa kamu bersedia menempatinya, sebagai staf?" tanya Aiden.
"Maaf, kenapa tiba-tiba bapak menaikan jabatan saya?" tanya Zoya sedikit terharu akan keinginan Aiden.
Aiden menghela nafas berat dan mengedarkan pandangan berusaha mengontrol perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.
"Ini penawaran, kamu bisa menolaknya. Maaf, soal kemarin. Aku selalu terbawa perasaan Zoya, aku mau kamu jadi wanita yang punya mimpi. Setidaknya meskipun aku nggak bisa bahagiakan kamu secara pribadi. Aku tetap mau kamu meraih mimpi kamu, aku lihat di lamaran kerja kamu kemarin. Kalau kamu ingin jadi karyawan dalam sebuah perusahaan. Inilah saatnya, kamu bisa menjalani impian kamu," jelas Aiden.
"Kenapa begitu tiba-tiba, pak?" tanya Zoya.
"Nggak. Aku udah memutuskan mulai besok kamu akan bekerja di bawah naungan Zacky, kepala staf divisi sdm. Semangat ya, sekarang kamu boleh pulang! Dan besok kamu langsung bisa menempati lingkungan yang baru, Zoya!" ucap Aiden.
"Makasih pak Aiden, saya permisi!" ucap Zoya namun Aiden meraih tangan Zoya dan menggenggamnya.
"Sebelum pulang, mari kita mengobrol sebentar di restoran x dekat sini!" ajak Aiden lalu kembali melepas genggamannya.
Zoya melihat Aiden berubah drastis, seperti menemui Aiden yang dulu. Aiden yang penuh keramahan serta wibawa. Setelah itu, Aiden dan Zoya menghampiri Chelsea dan berpesan sesuatu.
"Chelsea, tolong! cancel sementara beberapa pertemuan dengan klien. Saya ada perlu dengan Zoya!" pinta Aiden.
"Oh, baik, pak." Chelsea tak banyak bertanya namun merasa aneh karena Aiden seperti berubah lagi seperti dulu. Mereka pergi dari hadapan Chelsea dan mengobrol di sebuah taman, aneh. Bukannya tadi Aiden mengajaknya ke restoran.
Mereka duduk di sebuah kursi ditemani minuman kaleng.
"Kamu makin cantik Zoya sejak berpacaran dengan Keenan. Dia pasti selalu membahagiakan kamu, bukan?" tanya Aiden kemudian meneguk minumannya.
"Hum.."
"Belakangan ini bapak?!" Belum Zoya menyelesaikan ucapannya. Aiden sudah menyambar.
"Aiden, jika sedang berdua. Panggil nama aja!" pinta Aiden dengan senyuman.
"Iya, Aiden. Maaf! belakangan ini kamu sering main ke rumah, sejak kamu bilang kalau kamu menyukai aku. Apa kamu bisa menguranginya?
"Bisa, demi kamu. Soal yang pernah aku katakan, aku masih menyukai kamu, jadi jika kamu kecewa sama Keenan. Tinggalkan dia dan jalanilah bersama aku!" ujar Aiden lalu menatap dengan lekat wajah wanita yang disukainya itu. Lalu menggenggam tangan Zoya dan menyandarkan Zoya dalam pelukannya.
__ADS_1
Namun, saat tengah mengantar penumpang. Keenan melihatnya, melihat Zoya tengah bersama Aiden sekilas lalu kembali melajukan taksinya dengan hati yang terluka.
Kenapa Zoya begitu mesra sama Aiden..fiuh...
Setelah mengantar penumpang, Keenan berniat ingin melihat Zoya lagi. Namun mereka sudah tak ada di taman. Kemudian, Keenan kembali melajukan mobilnya untuk mencari penumpang lagi.
******
Sore ini, Keenan melihat Zoya tengah merapikan bunga-bunganya. Lalu Keenan duduk di samping Zoya dengan memberikan senyuman. Zoya juga membalasnya.
"Hai sayang, aku tadi lihat kamu sama Aiden di taman. Apa Aiden merayu kamu lagi?" tanya Keenan dengan lembut.
"Nggak." jawab Zoya singkat.
"Kamu jangan bohong sayang, aku tadi!" namun belum selesai Keenan bicara Zoya sudah memutusnya.
"Apa, kamu mau nuduh. Kamu mau buat alasan, supaya kamu bisa ninggalin aku dan jalan dengan Chelsea." cecar Zoya tiba-tiba.
"Kok, bawa-bawa Chelsea, Zoya. Ini nggak ada hubungannya sama dia. Aku cuma nanya kenapa kamu jadi kesal?" tanya Keenan agak kesal.
"Ish, kamu nyolot sih, Keenan?" tanya Zoya.
"A-aku nggak nyolot, aku cuma nanya tapi jawaban kamu terlalu berlebihan, Zoya." jawab Keenan dengan lembutnya.
"Udah deh, aku malas bicara sama kamu, aku mau istirahat. Capek!" ujar Zoya dan pergi begitu saja dari hadapan Keenan.
"Ish, dia itu!" keluh Keenan kemudian masuk kembali ke rumah atap. Keenan meremas jemarinya, ia takut Zoya akan pergi darinya.
"Zoya kenapa, ya?" Keenan jadi merasa serba salah saat ini.
Sementara Zoya teringat akan ucapan Aiden tadi. Zoya harap harinya menyenangkan. Berada di tempat yang baru. Ia jadi kembali fokus pada impiannya seperti yang Aiden katakan. Ia harus bersemangat lagi kali ini.
*******
"Kamu kelihatan beda, sekarang kenapa nggak pakai seragam ob lagi, sayang?" tanya Keenan.
"Aku udah dipindah ke bagian staf divisi sayang." jawab Zoya seraya menatap Keenan.
"Beneran, kamu naik jabatan? Selamat sayang!" ucap Keenan.
"Semuanya karena Aiden, dia udah jadi Aiden yang dulu, aku suka." ujar Zoya seraya tersenyum simpul melihat ke depan.
"Kamu naik jabatan, sayang. Selamat ya!" ucap Keenan seraya membelai rambut Zoya namun Zoya menepisnya.
"Jangan sentuh, nanti rambutku berantakan, ck..kamu ngerusak suasana hati aku, Keenan..Ish, aku harus terlihat rapi, tau!" keluh Zoya misuh-misuh.
"Maaf, sini aku rapikan, sayang!" namun saat Keenan akan melakukannya Zoya menepis tangannya lagi.
"Nggak perlu! Udah cepetan deh jalanin mobilnya, kamu tuh sengaja mau bikin aku telat, apa gimana??" cecar Zoya malah marah-marah tak jelas pada Keenan.
"Iya, aku ngebut sekarang! Kenapa kamu marahin aku terus dari kemarin?" keluh Keenan namun Zoya membuang wajahnya melihat ke sisi jendela yang berada di sebelahnya.
Setelah sampai, Zoya keluar begitu saja padahal Keenan baru akan berucap. Zoya mengabaikannya lagi. Namun Keenan tetap tersenyum kemudian kembali melajukan taksinya.
"Ck, Zoya kenapa, sih. Udahlah, cari penumpang lagi, bismillah!" keluh Keenan namun kembali bersemangat demi membeli sepeda yang diinginkannya.
Setelah itu, Aiden mengajak Zoya ke divisi barunya saat ini. Aiden melihat Zoya begitu sumringah dan bekerja dengan baik. Kepribadian skeptis yang melekat dalam jiwanya sebenarnya mulai terpendam karena perhatian Keenan selama ini. Namun saat Aiden mulai menarik Zoya dalam lingkup mimpinya, Zoya jadi berubah drastis dan akan fokus mengejar karirnya.
Setelah itu, Aiden dan Zoya makan siang bersama di kantin perusahaan. Zoya merasa senang sedangkan Chelsea merasa heran. Sembari melihat mereka dari meja lain.
"Chel, pak Aiden sama Zoya ada affair apa gimana, mereka ternyata dekat, ya?" tanya Santi kawan Chelsea makan siang kini.
__ADS_1
"Nggak tau, itu urusan mereka. Yaudah, makan dulu, yuk!" ajak Chelsea.
Zoya masih dalam tahap pelatihan karena ia baru memulainya. Namun, ia cepat mengerti karena ia mencintai pekerjaannya. Mereka sempat pulang bersama menuju ke parkiran.
"Ayo Zoya, aku antar!" ujar Aiden menawarkan.
"Makasih, pak! Saya bisa pulang sendiri," sahut Zoya namun Aiden menarik tangan Zoya dan membawanya ke dalam mobilnya. Kemudian berlari kecil menuju kemudi dan menjalankannya kembali.
"Saya hanya mau mengajak pulang bersama," Aiden berujar dengan senyuman dan kembali fokus berkendara.
"Kamu berubah, Aiden?" tanya Zoya.
"Aku mau jadi diriku sendiri, Zoya. Cuma itu, sambil perlahan mewujudkan mimpi kamu." jawab Aiden seraya tersenyum.
"Makasih, ya." ucap Zoya.
Aiden sendiri, hanya mengangguk kembali bersikap biasa aja. Itu membuatnya kembali berkharisma, Aiden mulai memahami sikapnya selama ini hanya membuat Zoya jengah padanya saat ia jadi orang lain. Jadi akan lebih baik jika jadi diri sendiri saja.
Sementara Chelsea melihat mereka, ia jadi kepikiran dengan Keenan. Ia berharap kedekatan mereka hanya sebatas teman saja. Karena Chelsea tau, kalau Keenan sangat menyukai Zoya.
"Ah, Zoya. Udah dia naik jabatan, sekarang jadi dekat lagi sama Aiden, semoga kamu ingat ada pria yang begitu menyayangi kamu, Zoya." monolog Chelsea kemudian menaiki taksi menuju pulang.
*********
Keenan baru saja membeli sepeda yang diinginkannya. Ia kembali datang ke gym, pusat kebugaran bersama Jerry. Ia tengah menikmati semua fasilitas disana Hingga peluh keringat membasahi pelipisnya. Perlahan ototnya mulai terlihat lagi. Ia akan merubah penampilan demi tetap bisa bersama Zoya.
"Kamu semangat, Keenan?" tanya Jeri.
"Iya, Jer. Udah lama nggak nge gym. Makasih udah mau menemani hehe.." ucap Keenan.
"Santai mas bro," sahut Jeri.
"Haha..oke..oke.."
Setelah puas nge-gym, Keenan beranjak pulang mengembalikan taksi dan memakai sepeda yang diinginkannya. Keenan juga membawakan Zoya tahu jeletot pedas. Zoya sangat suka makanan pedas. Keenan membawa sepedanya ke rumah atap dan disusul Zoya yang hendak mengangkat jemuran.
"Zoya, kebetulan. Aku beliin kamu tahu jeletot pedas. Makan bareng, yuk!" ajak Keenan.
"Wah, enak nih. Aku angkat jemuran dulu, ya." ucap Zoya.
Kemudian mereka menikmati tahu jeletot pedas itu bersama.
"Maaf, soal sebelumnya!" ucap Keenan seraya menikmati tahu pedasnya.
"Maaf kenapa?" tanya Zoya masih dengan menikmati tahu pedas nya dan minum air putih karena kepedasan.
"Pedas banget, Keenan. Ini enak," Zoya mengedarkan pandangan dan melihat sepeda dengan kursi bonceng di belakangnya.
"Ini sepeda siapa, Keenan?" tanya Zoya.
"Sepeda aku, lagi diskon, aku melihat saat kita beli pupuk kemarin." jawab Keenan.
"Hum..bagus." ucap Zoya.
"Kamu mau mencobanya?" tanya Keenan.
"Nggak, aku lagi malas. Aku bawa semua tahunya, ya. Aku mau melipat pakaian. Bye, sayang!" ucap Zoya dan pergi begitu saja dari hadapan Keenan.
Akhir-akhir ini Keenan sering membawakan cemilan untuk Zoya. Keenan tak bisa memberi hal mewah, karena terkadang penghasilan menjadi sopir taksi tak melulu besar. Hanya jika sedang berlebih, ia tak segan membawakan makanan untuk Zoya, wanita yang sangat disayanginya saat ini, she is my sunshine baginya. Kemudian Keenan kembali masuk ke rumah untuk membersihkan dirinya.
*********
__ADS_1
makasih yang sudah mampir mohon dukungan ya...