
Pagi ini Keenan sudah bekerja seperti biasa. Setelah mengantar Zoya, Keenan hendak beranjak mengendarai taksinya lagi namun tiba-tiba mobil Aiden menghalanginya. Keenan menghela nafas dan mengikuti arahan Aiden untuk melipir sejenak di cafetaria dekat perusahaan.
"Aku harus kerja Chief Aiden, kalau mau curhat, datanglah nanti sore ke rumah atap!" pinta Keenan seraya menyeruput minuman yang Aiden pesankan untuknya.
"Diamlah, aku akan bayar jasa kamu." ucap Aiden dengan senyuman.
Dua pria tampan itu tengah menikmati hot chocolate dan Aiden mendekatkan kursinya pada Keenan. Aiden memperhatikan wajah Keenan dengan seksama. Sehingga Keenan tertawa.
"Ada apa, apa kamu mau mau menciumku?" kelakar Keenan.
"Gila, ngapain aku cium kamu. Aku mau kasih undangan ini, aku merasa boring. Jadi aku butuh teman ngopi, abis itu baru ke perusahaan." jawab Aiden kemudian Keenan mengambil undangan itu dan membacanya.
"Haha..selamat ya, akhirnya kalian nikah juga." ucap Keenan.
"Hum..apa kamu udah sehat, kok udah nge grab lagi?" tanya Aiden.
"Sehat Chief, dirumah juga ngapain." jawab Keenan enteng.
"Iya kamu benar, syukurlah kamu bisa melewatinya, Keenan." ujar Aiden namun ponsel Aiden tak berhenti berdering sejak tadi.
Ia sudah banyak membatalkan penawaran kerjasama karena akan menikah. Ia tak mau membebani pikirannya dan terbagi. Aiden suka fokus pada satu hal.
"Aku ke perusahaan dulu, jangan lupa datang ya! Dan take care jangan buat Zoya sedih, jagalah diri kamu, ini ongkos taksinya. Sekarang antar aku lagi ke perusahaan!" pinta Aiden.
"Tapi ini,"
Namun Aiden menempelkan jari telunjuknya ke mulut Keenan.
"Eh shut! Cepat penumpang adalah raja!" ujar Aiden sehingga ia kembali masuk ke taksi Keenan dan Keenan kembali mengendarai taksinya.
"Aiden, kita cuma bicara aja, apa maksud kamu kasih uang sebanyak ini sama aku? Aku nggak bisa menerimanya, maaf!" tukas Keenan sehingga memberikan uang itu kembali pada Aiden.
"Jangan menolak Keenan, anggap aja ini rezeki. Tolong, jaga diri kamu dengan baik, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi." ujar Aiden.
"Oke. Kita udah sampai, ongkosnya segini, aku nggak bisa menerima uang sebanyak ini." ujar Keenan dan mengembalikan sisa uangnya.
"Baiklah, maaf aku cuma mau kasih ke kamu, nggak ada maksud lain, makasih ya! Udah mau menemani ngobrol, Keenan!" ucap Aiden kemudian ia keluar karena sudah sampai di perusahaan lagi.
Keenan beranjak lagi karena ia hendak menjemput penumpang yang menghubunginya. Namun saat melewati jalan lengang dan dan sepi, nampak seorang pria tengah dipukuli oleh 3 orang pria lain. Keenan berhenti sejenak, karena calon penumpang itu ternyata tengah dipukuli. Ia bingung minta bantuan siapa sehingga teringat menghubungi taksi online yang mana tau bisa menolongnya dari masalah ini.
Keenan melipirkan taksinya dan keluar menghampiri ketiga pria berbadan besar itu.
"Tolong saya, tolong Mas! Mereka menghajar saya, saya dipalak oleh preman ini." pinta pria mengenaskan di hadapannya.
Keenan menghela nafas, apa ia harus berkelahi lagi kali ini.
__ADS_1
"Tolong, pergilah! Saya mau mengantar penumpang saya, dia mau ke rumah sakit." ucap Keenan kemudian membantu menolong calon penumpangnya itu dan hendak membawanya ke taksinya.
"Heh..nggak ada urusan, kamu aja, kita butuh uang uang minum, berikan semua uang kamu!" ancam salah satu dari preman itu.
"Kalau mau uang, kerja. Jangan malakin orang!" sergah Keenan sehingga memicu amarah dari sang preman.
Sang penumpang sudah ketakutan, mana tak ada satu pun yang lewat. Sebenarnya ia tak niat memanggil Keenan namun karena ini kedua kalinya dia dipalak. Penumpang pria berkacamata itu sengaja menghubungi Keenan untuk menolongnya.
"Banyak bacot!!" sarkas preman sehingga melayangkan pukulan ke perut Keenan hingga Keenan tersungkur.
"Auh..!" Keenan beranjak berdiri selalu saja ia dipukul duluan.
Saat si preman 1 hendak memukulnya. Preman 2 juga ikut memukulnya sehingga Keenan membuat kening mereka menempel dengan keras dan mereka lunglai karena pusing.
"Dasar!!" ucap preman 3 lalu melayangkan pukulan lagi ke wajah Keenan sehingga Keenan menangkapnya dan memelintir tangannya ke belakang.
"Auh. lepaskan aku bodoh!" ucap si preman 3.
Preman 1 yang berniat diam-diam memukulnya namun karena sang penumpang berteriak Keenan segera melempar tubuh preman yang ia pelintir tangannya tadi dan mengenai mereka. Mereka pun jatuh bersamaan.
Keenan tak ingin banyak aksi lagi, ia segera menarik tangan si penumpang dan membawanya masuk ke taksinya. Dengan secepat kilat ia kendarai lagi taksinya menjauh dari para preman itu.
"Apa kamu terluka?" tanya Keenan.
"Cuma pipi aku aja lebam karena dipukul." jawab pria berkacamata itu.
Minho mengambilnya, "Makasih Keenan!" ucap Minho kemudian menempelkan di lukanya.
"Imut sekali plester ini hehe.." ucap Minho.
"Iya imut seperti kamu, oh iya nama kamu apakah Minho? lucu juga seperti pemain drama korea haha.." ujar Keenan.
"Hum..kamu tau, ayahku juga korban pecinta drama korea makanya dia memberiku nama Minho." ujar Minho terkekeh. Keenan tergelak, kenapa macam dirinya.
"Kamu kelahiran tahun berapa, sejak kapan ayah kamu menyukai drama korea?" tanya Keenan penasaran.
"Aku kelahiran tahun 2005, usiaku sekarang 16 tahun, dan ibuku sudah meninggal, saat melahirkan aku." Dengan rinci Minho menjelaskan asal usulnya.
Keenan dan pria yang bernama Minho itu segera bersama menuju ke rumah sakit. Operasinya dilakukan hari ini, Keenan yang tidak tegaan pun akhirnya ikut menunggu bersama Minho.
Keenan melihat nama ayah Minho adalah Mario. Melihat Mario, seperti terbayang dirinya saat tua. Minho juga sedikit berkelakar jika Mario mirip dengan Keenan.
"Keenan, lihatlah foto ktp ayahku, kenapa wajahnya mirip kamu ya, aku baru ingat. Wajah kamu ini mirip sekali dengan ayahku sewaktu muda dulu." ujar Minho.
"Mario, wajahnya mirip denganku?" tanya Keenan penasaran. Bukan soal kemiripan wajah namun soal nama Mario. Karena seingatnya Dila sang ibu pernah mengatakan kalau Mario adalah ayahnya yang tak perlu Keenan ketahui. Karena Mario penyebab Dila hamil diluar nikah sehingga karena tidak mau bertanggung jawab membuat Dila frustasi dan membuang Keenan di tempat sampah.
__ADS_1
"Mungkin hanya kebetulan, dimana ruang operasinya?" tanya Keenan.
Minho pun mengarahkan Keenan ke ruang operasi dimana Mario dirawat. Setelah melunasi biayanya, syukurlah operasinya berjalan lancar sehingga Mario bisa melewati masa kritisnya.
Keenan segera meminta Dila mengirimkan foto Mario terakhir kalinya sewaktu muda dulu. Dila penasaran kenapa tiba-tiba Keenan menginginkan foto sang ayah.
"Halo bu, Aku minta foto terakhir ayah, apa ibu masih menyimpannya?" tanya Keenan
"Untuk apa nak, kamu nggak usah cari pria nggak punya hati itu, kamu tau karena dia, ibu terpaksa harus membuang kamu, hiks.." Dila malah menangis terisak.
"Maafin aku bu, jangan menangis bu! Please bu, apa ibu masih menyimpannya?" tanya Keenan penuh harap.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu, apa yang terjadi?" tanya Dila penasaran.
"Eng??"
Tak lama Minho memanggil Keenan, tiba-tiba Minho memeluk Keenan karena operasinya berjalan lancar. Sehingga Keenan memutus sambungan telepon.
Tut..tut..
"Halo, Keenan!! Keenan??" Dila mencoba menghubungi lagi namun Keenan tak mengangkatnya.
Dila jadi bertanya-tanya apakah saat ini Keenan memang bertemu dengan pemerkosanya dulu. Pria yang telah menghancurkan hidupnya, untungnya Danu tetap menerimanya, saat mereka tengah menikah.
Dila membuka laci nakas dan mengambil foto lamanya. Ternyata Dila masih menyimpan semua kenangan itu dan Danu tak pernah mempermasalahkannya. Dila mengirimkan foto itu lewat pesan aplikasi hijau. Perlahan Keenan masih berjalan memasuki ruang rawat karena Mario baru saja dipindahkan ke ruang rawat.
"Ayah!" sementara pria yang kini sudah siuman tengah menatap wajah Minho. Dan beralih menatap Keenan.
"Minho, dia siapa?" tanya Mario dengan wajah pucatnya.
"Saya Keenan, maaf saya buka pesan masuk dulu, pak Mario!" sahut Keenan dan diangguki oleh Mario.
Perlahan Keenan melihat foto yang Dila kirimkan sewaktu muda dulu. Ini pertama kalinya, Keenan melihat wajah lelaki yang katanya adalah ayahnya. Untuk memastikan, ternyata Dila mengirim foto masa pacaran dulu dengan Mario yang hendak Keenan ketahui.
"Apa anda lelaki di foto ini?" tanya Keenan seraya menunjukan foto pria bersama Dila saat itu.
"Dila??"
"Anda mengenal wanita ini, siapa wanita ini, bolehkah saya mengetahuinya?" tanya Keenan dengan perasaan tercekat.
Sementara Minho merasa bingung akan tindakan Keenan dan menatap Keenan dengan sendu. Dan Mario kembali berucap,
"Dila." dengan mata yang berembun..
********
__ADS_1
Mohon dukungannya ya manteman like, koment, hadiah, vote juga boleh..
makasih 😊...