Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Hadapi dengan senyuman


__ADS_3

"Kamu lupa sama aku, sayang?" tanya Zoya seraya mengelus pipi Keenan.


Keenan merasa sedikit bingung dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dimana ia dirawat. Zoya masih memperhatikan tingkah sang suami. Selang oksigen yang mengganggu ia lepaskan dan terlihat tangan kirinya terpasang infus.


"Auh.." ia merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian punggungnya.


"Aku kenapa?" tanya Keenan.


"Kamu tadi tertembak sayang, syukurlah operasinya berjalan lancar." jelas Zoya seraya menggenggam erat jemari tangan Keenan.


Keenan berusaha mengingat kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu. Ia menerawang kepingan kejadian yang menyatu terekam di memorinya. Ia bahkan merasa sedikit bingung sesaat ia mengingat semuanya.


Keenan terdiam dan kembali memandangi wajah sang istri dengan seksama. Tangannya terulur hendak meraih pipi yang masih dipenuhi jejak air mata. Keenan menyekanya perlahan dengan ibu jarinya. Sontak Zoya langsung menggenggam jemari sang suami dan mengecupi jemarinya.


"Sa-yang.." Keenan tersenyum dengan bulir bening yang tiba-tiba menetes dari pelupuk mata. Zoya segera menyekanya.


"Iya sayang, syukurlah kamu udah sadar." ucap Zoya sehingga menghujani kecupan memenuhi wajah Keenan.


Keenan agak meringis menahan sakit bekas operasi. Zoya berusaha mengartikan kegundahan yang Keenan rasakan.


"Sakit kah?" tanya Zoya. Keenan tak bisa banyak bicara seperti tercekat, tubuhnya merapuh dan Keenan hanya mengangguk perlahan.


Namun pria periang itu menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum. Zoya pun menimpali senyuman itu. Keenan merentangkan kedua tangannya, sepertinya si kebal itu sudah tak mengalami kejadian yang buruk. Zoya segera memeluknya dan melihat luka yang tertutup kasa dan perban.


"Wajah kamu serius amat sayang, kamu pikir aku akan mati semudah itu hehe.." Keenan bahkan sudah bisa tersenyum meski bicaranya masih sedikit terbata.


"Harusnya daripada kamu menjadikan tubuh kamu tameng baiknya kita lari sayang, terus kamu tadi kok sempat nggak mengenali aku, hum?" tanya Zoya heran.


"Surprise hahaha..aku prank kamu tadi!" ucap Keenan seraya menjulurkan lidah meledek Zoya.


"Ish, kalau kamu nggak sakit udah aku bejek-bejek tau." ungkap Zoya lantas menggigit lengan sang suami.

__ADS_1


"Auh, sakit sayang!!! Jangan dianiaya dong. Aku hampir mati loh barusan," keluh Keenan seraya melihat tangan yang habis digigit sang istri.


Dan tanpa pikir panjang Zoya segera berhambur mendekap tubuh yang masih terbaring di brankar. Kenan juga mengelus rambut yang kini terbaring di dada bidangnya.


"Tadi aku ketemu malaikat maut sayang, dia memberi penawaran, dan aku diizinkan untuk tetap bernafas demi tetap berada di samping kamu." ujar Keenan begitu polos memberitahu apa yang barusan dialami saat berjuang menghadapi hidup mati di ruang operasi tadi saat pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di punggungnya.


"Ngarang aja kamu sayang, jangan bikin aku sedih, jangan bicarain soal kematian, nggak ada yang akan mati, aku maunya biar aku dulu yang mati karena aku nggak mau hidup sendiri tanpa kamu disisi aku!" Zoya bicara dengan linangan airmata.


"Udah ah jangan ngomongin mati, jadi seram dengarnya hehe.. Fiuh, baru aja keluar dari rumah sakit. Udah masuk lagi aja ditembak pula, nggak beda jauh sayang sakitnya dari nembak cewek terus ditolak tapi itu sakit tak berdarah. Nah kalau ini udah sakit berdarah-darah pula hehe.." ujar Keenan malah berkelakar.


"Maksudnya? Udah sih ketawa melulu, otak kamu jadi gesrek kayaknya setelah tertembak." ujar Zoya bingung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keenan sedikit terkekeh meski rasa nyeri masih menghiasi tubuh namun ia berusaha menahannya.


Sebenarnya sakit banget sayang, aku nggak tega lihat kamu sedih terus. Seenggaknya senyuman kamu bikin imun aku naik lagi,


Keenan menyembunyikan rasa sakitnya demi melihat senyuman di wajah Zoya yang sejak tadi muram karena begitu mengkhawatirkan keadaan Keenan. Namun Zoya tau, instingnya begitu kuat, ia sangat mengerti Keenan seperti berusaha ceria demi menghapus kegusaran yang istrinya rasakan.


"Aku panggilkan ibu Dila ya sayang, oh iya. Pak Aiden sama Chelsea juga ada kok mereka langsung kesini saat mendengar kamu kena musibah!" jelas Zoya sehingga Keenan tersenyum.


"Tapi kamu 'kan?" Keenan langsung memutus ucapan Keenan.


"Aku udah nggak apa-apa, beneran, aku mau menemui mereka yang udah perhatian sama aku!" pinta Keenan.


Zoya pun menuruti apa kata suaminya itu. Zoya mengambil kursi roda yang berada di dekat nakas. Keenan dengan perlahan menempati kursi itu dan memangku botol infus yang masih terpasang. Masih begitu nyeri namun si badung itu tak peduli, ia lebih peduli akan perhatian yang keluarganya berikan.


Ceklek


Dila terkejut karena sang putra sudah terlihat sangat sehat dengan wajah pucat pasi.


"Eh, ngapain ini Keenan? Apa kamu sudah bisa duduk? Kamu baru operasi anak nakal?" tanya Dila merasa kesal.


"Bu, jangan katakan aku anak nakal di depan yang lain. Aku pria dewasa berusia 25 tahun lho!" ucap Keenan.

__ADS_1


Aiden dan Chelsea tersenyum memandang. Dihampirinya Keenan dan Chelsea juga nampak mendekati dengan mata yang berkaca-kaca melihat Keenan yang terlihat sudah lebih baik.


"Maaf bu, Keenan memaksanya, dia ingin mengucapkan terima kasih karena doa dan dukungan kalian. Keenan bisa melewati semuanya!" ujar Zoya dan diangguki oleh Keenan.


Keenan mengatupkan kedua tangannya dan mengarahkan pada mereka.


"Makasih karena doa dan dukungan kalian. Aku masih bisa bertahan hingga sekarang!" ucap Keenan sedangkan Danu antusias memeluk putranya itu.


"Jagalah diri kamu nak! Kenapa jadi sering terluka seperti ini, kalau kamu terluka lagi ayah akan memaksa kamu berhenti jadi supir taksi online!" ancam Danu dengan kesedihan yang teramat dalam.


Aiden memandangi ketulusan yang begitu besar dari seorang Danu Wijaya. Pikirnya betapa beruntungnya Keenan.


"Dengarlah ucapan ayah kamu Keenan, beliau ayah yang sangat baik! Kalau kamu kenapa-kenapa beliau juga akan sangat terluka pastinya!" ulas Aiden dan diangguki oleh Keenan.


Namun setelah Danu selesai mendekap sang putra ada yang berlutut dan mendekat lalu membelai rambut Keenan dengan mata berkaca-kaca. Keenan memberikan senyumannya dan antusias Risna memeluk menantunya itu.


"Maafin ibu Keenan, terima kasih karena kamu sudah menepati janji kamu. Menjaga Zoya dengan baik!" Dan airmata itu berlinang tumpah ruah membasahi pipi wanita paruh baya yang kini jadi ibu mertuanya itu. Serta merta memeluknya dengan erat dan membelai punggung sang menantu.


"Iya bu, karena janji adalah hutang. Aku akan jagain Zoya karena Allah bu dan demi ibu!" ujar Keenan.


Namun Keenan benar-benar tak bisa berlagak sok kuat lagi karena ia merasakan nyeri yang teramat sangat di punggungnya itu. Keenan menatap Zoya dan berbisik.


"Sayang, aku mau kembali ke brankar!" pinta Keenan.


"Zoya, biar ibu sama ibu Risna yang menjaga Keenan. Kamu makan dulu ya!" pinta Risna.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Keenan! Kamu cepat sembuh ya!" ucap Chelsea.


"Makasih Aiden, Chelsea!" ucap Keenan dan direspon anggukan oleh keduanya.


Dila mendorong kursi roda Keenan dan disusul Risna yang mengekori dari belakang. Entah apa yang hendak mereka bicarakan. Namun Keenan selalu bersyukur di setiap kali Tuhan memberikan cobaan maka Tuhan juga menyertakan hikmah dibalik musibah yang menimpanya.

__ADS_1


******


__ADS_2