
Keesokan harinya, Hilal mengantar Zoya dan Keenan kembali ke rumah atap. Cukup sehari saja di mansion, Keenan terus merengek minta kembali ke rumah atap. Mereka menaiki tangga dan Keenan hendak sarapan.
"Sayang mau lontong sayur nggak? Biar aku beliin?" tanya Keenan yang sudah tampak segar bugar.
"Boleh deh, aku juga mau beresin rumah, mencuci dan menyirami bungaku." sahut Zoya kemudian mulai beranjak berbenah. Zoya memajang foto pernikahan mereka dan menata kembali rumah kenangan itu. Rumah sejuta cinta yang tumbuh dan bersemi. Membawa kisah yang manis penuh kesan.
Zoya terus saja terbayang dan mengingat secara pasti, momentum pertemuannya dengan Keenan. Tak lama seraya menyapu Keenan datang membawa kantong plastik berisikan dua porsi lontong sayur dan beberapa gorengan.
"Sarapan dulu, sayang!" pinta Keenan dan mereka duduk meleseh di ubin. Kemudian menikmati sarapan berupa lontong sayur bakwan dan tahu isi. Begitu sederhana tapi lontong sayur adalah menu sarapan yang mudah dicari karena sudah menjadi menu sarapan yang menjamur.
"Kamu udah nggak apa-apa sayang?" tanya Zoya merasa Keenan sepertinya baik-baik saja.
"Aku emang dihajar habis-habisan kemarin Zoya, tapi saat dihajar aku terus melafalkan zikir, karena saat itu aku pikir hanya Tuhan yang bisa menolong aku. Aku nih nggak jago berkelahi tapi dikeroyok banyak orang setidaknya nggak bikin aku mati. Karena perlindungan Tuhan," ulas Keenan.
"Kamu ternyata religius juga ya, sayang." ucap Zoya tak menyangka.
"Religius sih nggak, tapi aku percaya Tuhan akan selalu menolong hambanya yang berserah diri padanya. Hehe..ngomong apa sih aku ini, yuk sarapan dulu!" ajak Keenan.
"Iya," jawab Zoya dan ganti menikmati lontong sayur yang sudah Keenan belikan tadi.
Tak lama kemudian Risna dan Sandi datang melihat keadaan Keenan. Mereka baru tau kejadian itu setelah Keenan keluar dari rumah sakit. Kedua orangtua Zoya itu berhambur dan melihat keadaan Keenan.
"Gimana kondisi kamu, Keenan?" tanya Risna nampak khawatir.
"Baik bu, lumayan daripada kemarin." jawab Keenan dengan senyuman.
"Lagian kamu sih, masih aja jadi supir taksi. Punya orang tua berada bukannya bersyukur malah bersikap nggak peduli masih aja susah-susah cari uang, harusnya kamu pikirin dong kebahagiaan Zoya. Kamu ini egois Keenan, kamu malah mengajak Zoya ke rumah atap lagi!" Keenan malah dirutuki habis-habisan oleh Risna. Karena Keenan tak sesuai dengan ekspektasinya lagi. Keenan hanya terdiam mendengar ocehan Risna.
"Bu, Keenan itu sedang sakit, kenapa ibu malah bikin tambah sakit dengan ucapan ibu." sambung Sandi tak ingin Risna menyinggung perasaan menantunya itu.
"Maaf bu!" Keenan mematung mendengar ucapan Risna. Hanya kata maaf yang terlontar.
Sepertinya Risna sudah mulai gerah karena harapannya adalah Zoya bisa bersanding dengan pria yang memiliki segalanya. Jadi dirinya bisa kecipratan pula, tapi benar-benar tidak menguntungkan.
"Mungkin karena Keenan itu bukan anak kandung pak Danu ya Zoya, makanya pak Danu malas memberikan hal yang lebih sama dia." ucapan Risna benar-benar sudah keterlaluan dan membuat Zoya merasa panas.
__ADS_1
"Cukup bu, aku yang minta tinggal disini lagi bukan Keenan. Aku minta ibu jagalah ucapan ibu!" pinta Zoya sendu.
"Kamu kok jadi melawan ibu Zoya karena dia, pasti kamu kan yang pengaruhi dia, supaya melawan ibu, Keenan!" ujar Risna.
"Ng-nggak bu." Keenan merasa sesak mendapati perubahan Risna yang tiba-tiba itu.
"Bu, udahlah. Ibu mulai lagi 'kan bicara kasar sama Keenan. Mereka udah nikah bu, biar aja mereka tentukan dimana mereka tinggal. Ibu kenapa jadi berubah lagi kayak gini!" imbuh Sandi sementara Keenan hanya diam saja tak bicara sepatah katapun.
"Kenapa kamu diam aja Keenan, benar kan ucapan ibu. Kamu membenarkan makanya kamu diam, dasar payah!!" ucap Risna.
"Udahlah ibu malas disini, malas lihat dia!" ujar Risna seraya menatap sinis pada Keenan dan pergi dari hadapan Keenan.
"Maaf ya Keenan, biar ayah yang bicara sama ibu, kalian istirahatlah!" ujar Sandi sementara Keenan hanya mengangguk. Keenan memejamkan mata sesaat menetralkan perasaan yang berkecamuk. Sandi beranjak menyusul Risna dan Zoya segera menghampiri sang suami.
"Maafin ibu ya sayang!" ucap Zoya.
"Iya, sayang. Nggak apa-apa kok, benar yang ibu kamu katakan." ujar Keenan seraya memainkan sendok di piring nya karena ia sudah tak selera makan.
Sementara Risna tengah kesal karena ia selalu membayangkan memiliki menantu yang berada. Namun sayangnya tak kesampaian. Sandi mendatangi sang istri dan menasehatinya.
"Salah obat apa sih ayah, ibu cuma kesal sama menantu kita yang sok itu, dia kan sekarang udah jadi anak orang kaya, tapi masih aja bersusah payah jadi Keenan yang dulu, harusnya dia minta jabatan atau uang yang banyak untuk membuka usaha kek atau restoran, ck dia itu menyebalkan ayah." jelas Risna.
"Justru bagus dong bu, dia nggak mengharapkan uang dari orangtuanya itu. Berarti Keenan lelaki apa adanya dan suka kesederhanaan." tukas Sandi.
"Kita udah terlalu lama hidup dalam kesederhanaan ayah, harusnya Zoya itu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih daripada kita. Kenapa sekarang dia harus menerima Keenan yang nggak ada niat sama sekali buat membahagiakan Zoya," keluh Risna.
"Ibu ini bicara apa, Zoya sendiri yang bersikeras tinggal disini. Keenan itu sayang sama Zoya makanya dia ikutin apa yang menjadi kebahagiaan Zoya, ibu udah salah paham sama dia." sanggah Sandi terus membela Keenan hingga saat ini.
"Ayah ini belain dia terus dari dulu, udah ah, malas bahas dia, ibu mau masak aja!" tukas Risna kemudian menuju ke dapur untuk memasak makan siang.
********
Sementara setelah selesai sarapan, Keenan membantu Zoya mengepel lantai. Sebenarnya tubuhnya masih ringkih tapi dia memaksakan diri saja. Ia tak mau dikatakan menantu pemalas karena Risna sudah senewen lagi padanya.
"Sayang kamu istirahat aja, kata dokter kamu harus banyak istirahat!" ujar Zoya karena Keenan nampak masih pucat.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku kerja dulu ya, Zoya!" ujar Keenan.
"Kerja gimana sayang, kamu kan masih sakit. Udah kamu istirahat aja, kamu nggak usah mikirin omongan ibu, ya!" pinta Zoya merasa tak enak hati.
"Aku udah nggak apa-apa sayang, aku pergi assalamualaikum!" ucap Keenan namun karena ia jalan tergesa Keenan sempat terantuk dan terjatuh dari tangga hingga dasar tangga.
"Auh!" Sandi dan Zoya keluar melihat Keenan yang terjatuh.
"Ya ampun nak Keenan, kamu jatuh dari tangga?" Sandi segera menolong menantunya itu.
"Nggak pak," sanggah Keenan sedangkan Zoya segera membawa Keenan ke rumah atap lagi. Sandi juga melihat keadaan Keenan.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Sandi.
"Nggak sengaja ayah." jawab Keenan.
"Udah Zoya, suruh Keenan beristirahat. Kamu kan baru pulih Keenan. Ayah tinggal dulu ya!" ujar Sandi.
Keenan merebahkan diri di ranjang seraya menahan perih karena sikunya terluka akibat jatuh dari tangga. Ia kesal karena selalu diremehkan tiada henti. Ia seorang lelaki, biar bagaimana pun memiliki harga diri, ia tak mau harga dirinya diinjak-injak oleh siapa pun. Zoya memberikan Betadine dan meniupnya sesekali.
"Kamu kenapa sih, baper sama omongan ibu?" tanya Zoya kesal.
Keenan hanya diam,
"Maafin aku, ini semua berawal dari keinginan aku untuk kesini. Malah kamu yang kena getahnya." Zoya menambahkan.
Keenan masih diam membisu.
"Kenapa kamu diam aja sayang, ada apa?" tanya Zoya merasa heran.
"Aku nggak apa-apa, aku mau mandi dulu!" Keenan merasa sangat tak bergairah. Ia seperti kehilangan semangatnya karena sikap Risna. Ia menyambar handuk dan beranjak ke kamar mandi.
Keenan mengguyur tubuhnya dan menghela nafas panjang. Usai mandi Keenan berpakaian dan menuju ke ranjangnya mencari keberadaan Zoya yang tak ada lagi. Terlihat foto pernikahan mereka terpajang di dinding. Keenan tersenyum dan mengecek uang tabungannya di bank lewat ponselnya.
"Kenapa sih jatuh segala kamu, Nan?? Ah ya udahlah, besok semangat kerja!" Keenan menyemangati dirinya sendiri lalu beranjak menyiram bunga di pelataran rumah atap.
__ADS_1
*********