
Sore ini Keenan pulang lebih awal karena ia harus bersiap makan malam di kediaman Danu Wijaya calon ayahnya. Namun, setibanya di puncak tangga terlihat Zoya tengah melamun sambil memegang pot bunga anggrek di pangkuannya. Zoya duduk di kursi bale saat ini. Keenan perlahan menghampirinya.
Duarr!!!
Keenan sengaja mengejutkan Zoya namun ternyata Zoya sudah tau keberadaan Keenan. Keenan duduk di dekat Zoya dan teringat sesuatu. Keenan kembali masuk dan mengambil boneka dolphin itu.
"Taraa...buat kamu, Zoya!" ucap Keenan memberikan boneka dolphin sedang berwarna biru laut.
Zoya tersenyum tipis menatap Keenan yang kembali duduk di sampingnya.
"Nyolong dimana kamu?" tanya Zoya.
"Nyolong, aku beli dengan uang halal, Zoya." jawab Keenan.
"Makasih, ya!" ucap Zoya mengambil dolphin itu memeluknya serta menciuminya sehingga Keenan tersenyum.
"Soal, tadi. Kita harus perjuangin cinta kita, Zoya. Kita harus meyakinkan ibu kamu, kalau kita serius." ujar Keenan sendu.
"Gimana caranya, ibu terus mendesakku sama Aiden. Bahkan diam-diam ibu menghubungi Aiden, dia mengambil kontaknya dari ponsel aku." ujar Zoya.
Keenan menghela nafas dan mengalihkan perhatian pada boneka yang ia berikan.
"Apa kamu suka bonekanya?" tanya Keenan.
"Kenapa kamu nggak belikan sesuatu yang hidup, aku nggak suka benda mati." jawaban Zoya membuat Keenan berpikir keras.
"Kamu mau aku memberikan kamu lumba-lumba hidup?" tanya Keenan bingung.
"Ish, hewan. Kamu pikir gimana aku merawatnya kalau kamu berikan aku lumba-lumba. Apa aku harus menaruhnya di bak mandi ku?" tanya Zoya kesal.
"Jadi hewan apa, harimau, serigala, atau macan haha.." kelakar Keenan.
"Gorila." sahut Zoya singkat.
"Lupakan, aku suka. Makasih ya, eh..tunggu..ini kenapa ada lipstik di leher kamu?" tanya Zoya perhatikan lipstik yang lepas dari perhatian Keenan.
"Kamu selingkuh Keenan?" tanya Zoya geram dan tengah mengepal tangan.
Keenan dengan segera menghapusnya. Apa yang harus ia katakan, apakah ia harus jujur. Tapi Keenan merasa malu, selama ini Zoya tak pernah tau kalau Keenan dihantui oleh Billy.
"Enggak, ini. Aku malu Zoya mengatakannya." Keenan tak mampu mengatakan hal itu ia sangat malu.
"Oh, kamu malu ya? Apa Chelsea yang melakukannya. Jadi kamu malu mengakuinya?" cecar Zoya.
"Chelsea, bukan dia. Ish, Rangga. Iya, Rangga mau menghadiahkan lipstik untuk Felly jadi dia mencobanya dulu, di leherku. Gimana bagus nggak lipstiknya?" tanya Keenan mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Beneran bukan Chelsea?" tanya Zoya meyakinkan.
"Bukan Zoya. Udahlah jangan ngajak berantem melulu. Oh iya, soal ibu kamu tadi. Kenapa dia nggak setuju sama hubungan kita?" tanya Keenan.
"Aku nggak tau, tapi lain lagi dengan tanggapan Ayah." jawab Zoya.
"Ayah juga nggak suka sama hubungan kita, Zoya? Ah, nasib!" keluh Keenan.
"Aku kan belum selesai ngomong, tau." tukas Zoya.
"Oh, terus apa kata ayah kamu?" tanya Keenan penasaran.
"Zoya!!" panggil Risna yang sudah berada di rumah atap juga kini.
Keenan menelan saliva melihat Risna perlahan mendekati mereka. Keenan berusaha tersenyum sehingga setelah ini mereka mengobrol di rumah Zoya. Zoya dan Keenan terdiam di sebuah sofa didepan mereka sudah ada Sandi dan Risna yang entah akan marah atau berpetuah.
"Keenan!" panggil Risna.
Sandi segera menyenggol lengan Risna agar Risna tak menyinggung Keenan. Risna menautkan alisnya agar Sandi diam.
"Apa kamu bersedia meninggalkan Zoya?" tanya Risna.
"Enggak, bu. Aku nggak bisa ninggalin Zoya." jawab Keenan pasti.
"Menikah?" kejutan Keenan sama persis dengan respon Zoya tadi sehingga Zoya tersenyum tipis.
"Ayah ini, kenapa malah minta mereka menikah. Ibu maunya Zoya dengan Aiden, gara-gara Keenan hubungan Zoya dan Aiden kandas." ujar Risna.
"Tapi Zoya sayang sama Keenan, bu." tukas Zoya.
"Itu benar, Gara-gara Keenan hubungan kami kandas bu Risna." sambung Aiden yang tiba-tiba datang kerumah.
"Eh, nak Aiden. Mari silakan masuk!" ajak Risna dengan ramahnya.
"Ish, ibu nih jahat banget sih sama Keenan."
Zoya bergumam dalam hati sementara Keenan masih terdiam menerima sikap Risna. Aiden datang mencium tangan Risna dan Sandi. Sandi yang sikapnya tenang juga tak mau marah-marah begitu saja demi menghargai perasaan semua anak muda yang terlibat cinta segitiga itu.
"Eh ada Keenan disini." sapa Aiden. Keenan tetap membalas dengan senyuman. Keenan meremas jemarinya.
Risna melihat Zoya yang sejak tadi memeluk boneka dolphin dari Keenan.
"Boneka apa itu, Zoya?" tanya Risna.
"Ini dari Keenan, bu. Lucu 'kan bu?" Zoya tetap bersikap biasa sehingga Aiden jadi canggung. Aiden merasa sudah bertamu di waktu yang kurang tepat.
__ADS_1
"Sepertinya sedang ada pembahasan penting. Sebaiknya saya permisi dulu!" ucap Aiden namun Risna mencegahnya.
"Jangan nak Aiden, nggak ada yang penting, kok. Duduklah! biar ibu buatkan minum!" ujar Risna kemudian tak jadi beranjak dari tempatnya.
Mendengar ujaran Risna tadi membuat Keenan tercekat. Keenan memilih pergi dari suasana yang membuatnya terluka kini.
"Maaf pak Sandi, Aiden, Zoya. Aku permisi dulu, aku mau mandi dulu. Karena aku baru pulang tadi." ujar Keenan.
"Iya, Keenan." sahut Sandi.
Sementara Aiden tak menghiraukannya dan Zoya juga terdiam. Tak lama Keenan masih terdiam dibalik dinding melihat Risna yang sangatlah memperlakukan Aiden bak anaknya sendiri. Keenan berdecak kesal, lalu menaiki anak tangga. Keenan melepas pakaiannya dan masuk ke dalam toilet untuk menyegarkan tubuhnya yang kelelahan setelah bekerja.
Ia juga harus bersiap menghadiri jamuan makan malam dari sang ibu. Setelah segar Keenan melilitkan handuknya dan memilih pakaian terbaiknya. Kembali merapikan dirinya. Namun saat keluar Keenan mendapati Aiden tengah duduk di sebuah kursi bersama Aiden. Keenan menghampiri mereka.
"Aiden, kenapa tiba-tiba kamu muncul, jangan sering-sering mendekati Zoya! Kamu nggak berhak atas dia lagi!" Keenan memperingatkan.
Namun yang Zoya perhatikan Keenan terlihat begitu rapi wangi dan tampan. Hendak kemanakah si sableng kesayangannya itu.
"Kamu mau kemana, Keenan?" tanya Zoya.
"Aku mau menemui ibu, Zoya." jawab Keenan. Namun tiba-tiba Aiden menyambar ucapan.
"Terserah aku dong, Keenan. Kenapa kamu begitu posesif haa! pergilah sekarang!" tukas Aiden ramah.
Keenan segera meraih kerah pakaian Aiden dan Zoya segera mencegah mereka berkelahi lagi.
"Kalian pergilah! Anda juga pak Aiden sebaiknya anda pergi dahulu!" pinta Zoya.
Aiden segera melepaskan cengkeraman tangan Keenan di pakaiannya.
"Sebaiknya lelaki yang hobinya mencengkeram pakaian seseorang seperti dia. Pikir-pikir lagi untuk dijadikan pasangan. Ekhm..aku duluan, Zoya..Keenan!" pamit Aiden dari hadapan Keenan dan Zoya.
"Kenapa jadi makin rumit seperti ini!" keluh Keenan seraya mengepal tangannya dan memukulnya ke dinding.
"Sabar Keenan, jangan seperti ini." ucap Zoya sehingga Keenan segera memeluk Zoya.
Aroma khas tubuh Keenan menyeruak membuat Zoya terlena akan pelukannya itu. Setelah itu Keenan melepas pelukannya dan membelai pipi Zoya.
"Aku pergi dulu, ya, sayang!" ucap Keenan.
"Hum..hati-hati ya! Salam buat Ibu kamu!" ucap Zoya menorehkan senyumannya.
"Iya sayang." sahut Keenan lalu beranjak menuruni tangga dan Zoya tersenyum berharap sang kekasih segera menemukan kebahagiaan yang telah lama didambanya yakni mendapat kasih sayang dari orangtuanya.
"Semoga ini awal dari kebahagiaan kamu, Keenan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu!" harap Zoya lalu mengambil gembor dan kembali menyiram bunganya yang semakin banyak saja.
__ADS_1