Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Candaan gaje


__ADS_3

"Jangan gitulah bang, abang kan udah jadi abangku sekarang!" ujar Minho disusul Mario.


Kedua lelaki itu sama saja, mereka memperlakukan Keenan seenaknya. Selain Mario mengusir Keenan, Minho juga meminta satpam membawa Keenan keluar. Keenan memelas tentu.


Namun, mereka beranjak mengobrol di sebuah kursi panjang yang kosong.


"Keenan, kamu pasti punya banyak uang kan sekarang, ayah butuh uang, nak! Berikanlah sebagian uangmu pada Ayah!" ujar Mario.


"Berapa yang ayah butuhkan?" Keenan segera mengambil dompetnya namun baru saja Keenan hendak mengambil nominal uangnya, Mario sudah merebut dari tangannya.


"Segini cukup!"


Mario mengambil semua uang yang ada di dompet Keenan sebanyak tiga ratus ribu rupiah.


"Ayah, bisakah bersikap sopan sedikit?" tanya Keenan dengan sopan.


Bugh..


Auh..


Satu pukulan mendarat sempurna di hidung Keenan hingga mimisan.


"Ini ayah kamu, kamu udah jadi anak orang kaya sekarang. Hanya tiga ratus ribu, kecil bukan?"


"Ayah, kenapa memukulnya lihatlah, hidungnya berdarah?" Minho merasa kasian dengan Keenan.


"Halah, ini nggak seberapa,"


Keenan membeli tisu sejenak dan menyeka darah yang menetes dari hidungnya kemudian menyumpalnya.


"Sepertinya hidung kamu patah ya, sakit kah?" tanya Mario dengan tersenyum smirk.


"Nggak apa-apa," Keenan yang bicara demikian membuat Mario merasa terharu.


"Kamu kerja dimana sekarang?" tanya Mario.


"Di?? Emang kenapa ayah?" Keenan hendak merahasiakan dimana ia bekerja agar Mario tak datang seenaknya.


"Ayah nggak perlu tau."


"Kenapa, katakanlah cepat!" sehingga Mario hendak mengarahkan pukulannya lagi ke wajah Keenan. Sehingga Keenan mengatakannya.


"Ini kartu namaku, datanglah kalau ayah mau!"


"Bagus anak baik, gitu dong! Kan nggak aku bikin wajah tampan kamu ini, bonyok!"


"Sudah sana, pergilah!" ujar Mario sehingga mendorong tubuh Keenan yang hendak berdiri malah jadi tersungkur.


"Auh!" Keenan meringis karena dorongan yang tiba-tiba itu bukan cuma membuatnya terluka namun ditertawakan orang yang berlalu lalang disana.


"Udah Minho kita pergi sekarang!" ujar Mario pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Keenan bangkit dan jalan perlahan menuju ke sepedanya.


Setibanya di rumah, Zoya melihat hidung Keenan yang agak lebam.


"Hidung kamu kenapa lagi, nih? Berantem?"


"Jatuh tadi hehe..udah ah nggak apa-apa, nih makan dulu gado-gadonya," ajak Keenan.


Sehingga Zoya menghidangkan pesanan nya di piring saji. Keenan mengambil plester untuk menutupi hidungnya yang lebam karena malu. Melihat Keenan demikian Zoya melihatnya lagi.


"Ini beneran jatuh, kamu nggak dipukul kan?" tanya Zoya penuh selidik.

__ADS_1


"Hum..percayalah padaku wahai istriku hehe..udah makan dulu ya!"


Kemudian mereka makan bersama, setelah selesai Keenan membantu Zoya mencuci piringnya di wastafel. Namun Zoya meminta Keenan rehat saja dan Keenan menolaknya.


"Udah sayang biar aku aja!" ujar Zoya seraya meminta Keenan menyudahi pekerjaannya.


"Nanggung sayang, lagian ini kan aslinya pekerjaan aku sayang." sanggah Keenan.


"Seriusan, kamu nggak bohong soal hidung kamu tuh?" tanya Zoya khawatir pada suaminya itu kemudian melingkari tangan di perut sang suami.


"Nggak," Keenan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun menghadap Zoya dan Zoya meminta Keenan memainkan gitar di kursi bale pelataran rumah atap.


"Sayang gitaran di pelataran rumah atap yuk!" pinta Zoya seraya masih memeluk Keenan dengan manja.


"Iya, aku ambil gitarnya ya!"


Setelah itu, Keenan menyanyi dan terus menyanyi tanpa henti karena Zoya memintanya. Keenan melakukan itu dengan suka rela demi istrinya.


"Nyanyi apa lagi, ayo Afgan siap!" ujar Keenan.


"Aih, Afgan! Terserah kamu aja sayang!" pinta Zoya yang kemudian mereka kembali masuk ke rumah atap.


Zoya pun tidur di samping Keenan yang masih lagi setia menyanyikan lagu demi keinginan ibu hamil di dekatnya. Hingga akhirnya Zoya tertidur di ranjang. Keenan pun membenahi posisi tidur sang istri dan menyelimutinya.


********


Pagi ini, Keenan mengecek para pekerja yang satu persatu sudah menjalankan taksi online miliknya. Ia juga berniat menyusul Zoya nanti ke peternakan sapi milik Sandi.


"Keenan!" tiba-tiba Danu menyapa.


"Eh ayah, kapan datang?" tanya Keenan dan menggeser kursi agar Danu bisa duduk.


"Baru aja, ayah kangen sama kamu, jadi sebelum ke kantor, ayah mau lihat keadaan kamu di pool." ujar Danu dengan senyuman.


"Hah..kamu nih, iya. Itu salah satunya, kamu ganteng. Gimana, kamu bisa mengurus pool? Apa kamu merasa kesulitan, butuh asisten? Sekertaris atau seseorang yang bisa bantu kerjaan kamu?" tanya Danu memberondong pertanyaan.


"Enggak ayah, kayaknya aku sanggup untuk saat ini. Ayah, boleh aku tau, usaha ayah, selain menjadi pewaralaba, ayah sangat sukses. Jujur aku merasa insecure bisa menjadi anak ayah." Keenan pun bertanya dengan hal yang begitu dalam.


"Ayah punya usaha lain Keenan, ayah punya usaha bitcoin." ujar Danu.


"Bitcoin, bukannya usaha penghasil uang, ayah. Kalau nggak salah. Benar nggak?"


"Iya, penghasil uang. Ayah udah lama menjalaninya, awalnya nggak diterima nak, sambil usaha, ayah juga memperbesar usaha franchise ayah, dan pool ini adalah hasil dari usaha ayah selama ini, tapi seiring waktu banyak juga yang menjalani usaha itu hingga akhirnya diterima masyarakat dan malah memudahkan," jawaban Danu Wijaya sungguh membuat Keenan menganga tak menyangka.


"Ayah ini benar-benar miliarder ya hehe.." ungkap Keenan tak menyangka.


"Awalnya juga ayah bukan siapa-siapa nak, tapi kalau kita mau usaha pasti bisa, yaudah. Ayah mau mengurus franchise ayah dulu, kata ibu kamu seringlah main kerumah. Ibu kamu kangen memasakkan sesuatu untuk kamu." ujar Danu yang beranjak dari kursinya untuk pergi lagi mengurus bisnisnya.


"Iya ayah, hati-hati!" ucap Keenan seraya mencium tangan Danu.


"Ayah baru sadar, kenapa hidung kamu, nih?" tanya Danu seraya menangkup wajah Keenan memperhatikan hidung putranya itu.


"Oh ini, terantuk stir ayah." jawab Keenan.


"Kapan? Hati-hati dong, udah diobati?" tanya Danu.


"Hum..udah kok." jawab Keenan dengan senyuman.


"Yaudah, ayah pergi, assalamualaikum!" ucap Danu memasuki mobil mercedes ben miliknya dengan sopir pribadinya.


"Waalaikumsalam." sahut Keenan.

__ADS_1


Keenan teringat harus pergi ke peternakan siang ini karena Zoya sudah menghubungi terus sejak tadi. Keenan pun beranjak mengambil taksi dan menuju ke peternakan.


Setibanya disana, Zoya terlihat tengah merengut. Hingga akhirnya suaminya yang sejak tadi ditunggunya datang.


"Kok lama?" tanya Zoya dengan nada meninggi.


"Maaf aku ngurusin pegawai ku dulu. Udah ah, jangan ngambek. Nanti mukanya makin jelek deh haha.." ucap Keenan sehingga Zoya menjulurkan lidahnya.


"Aish, ngeselin!"


Mereka beranjak menemui Sandi di kandang sapi. Sandi melihat Keenan yang tetap datang malah merasa tak enak.


"Maaf ya Keenan, kamu memerah sebentar aja, Zoya tuh kalau ada maunya begitu!" ujar Sandi kemudian ia berbisik pelan pada menantunya.


"Iya ayah, nggak apa-apa." sahut Keenan dan Zoya gegas menarik tangan Keenan dan memintanya segera memerah susu.


Zoya cekikikan seraya mendokumentasikan gambar Keenan dalam bentuk video lewat ponselnya. Sementara Sandi beranjak meninggalkan mereka memantau para pekerja nya.


"Sayang, cobalah memerah juga, dipencet aja srut..srut..hahah.." ujar Keenan mempraktekan dengan berkelakar.


"Dih, pasti kamu cukup pengalaman soal remas meremass, kan hah.." cibir Zoya.


"Tentu aja, meremass ituh!" sahut Keenan seraya matanya menunjuk ke arah buah dada Zoya.


"Jadi kamu samakan punyaku ini seperti punya sapi?" kesal Zoya.


"Iyaa, kenapa? Kamu mau marah, haa??" Keenan sengaja menggoda Zoya, ia penasaran akan apa yang akan Zoya lakukan padanya.


"Ayo mangap!" ujar Zoya yang mengarahkan putingg sapi itu ke mulut sang suami.


.


"Dasar istri jahat!" rengek Keenan.


Keenan pun hanya pasrah saat Zoya menyemprotkan susu dari putiing sapi mengarah ke mulutnya. Keenan tertawa puas saat susu itu mengarah ke wajah Keenan membasahi wajah dan tubuhnya.


"Ya Allah!" keluh Keenan manakala wajahnya sudah dipenuhi dengan susu sapi dan membasahi pakaiannya.


"Udah sayang, ini gimana sih arahin ke mulut aku dong jangan ke hidung sama mataku aish.." Keenan bersabar dan menikmati saja bullyan itu demi sang istri.


"Mangap kamu tuh!!" pekik Zoya dengan tawanya.


"Dari tadi aku mangap, tapi kamu ngarahin ke hidung dan mataku, mak lampir!!" Keenan yang kesal mengatakan Zoya mak lampir.


"Bodo amat!" Keenan hanya menggeleng namun Zoya menghadapkan kepala Keenan ke arah semprotan itu hingga Zoya tak henti cekikikan karena Keenan sudah tak karuan wajahnya.


Keenan pun mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu membersihkan tubuh basahnya dengan handuk di depan toilet. Ia masih bercelana saja sehingga perut roti sobeknya itu begitu menggoda karyawan wanita disana. Dan menyapa Keenan dengan ramahnya yang tentu saja membuat Zoya cemburu.


Zoya berdecak dan menghampirinya lalu mencubit perutnya itu.


"Auh..auh.. kenapa sayang?" tanya Keenan tak mengerti.


"Cepatlah berpakaian, nggak usah pamer body kamu ke karyawan wanita disini!" sahut Zoya kesal.


"Iya, aku pakai bajuku." Keenan pun menurut.


********


Mohon dukungannya ya, jangan lupa mampir juga ke novel temanku karya kak Lhynaharis ya 😍


makasih 😍

__ADS_1



__ADS_2