
Sepulang dari pool malam ini, Keenan pulang dengan membawa banyak makanan untuk sang istri. Sejak mengurus pool taksi, Keenan jadi lebih sering pulang malam. Sehingga Zoya juga lebih sering naik bus, yang ia sesali adalah fasilitas taksi di pool banyak namun sayang Zoya masih sering naik bus saat pulang bekerja.
"Sayang, maaf! Aku nggak jemput kamu, kayaknya aku jadi mengabaikan kamu sejak jadi Presdir di pool. Aku akan minta pengemudi taksi nanti khusus untuk menjemput kamu ya!" ucap Keenan seraya memijat bahu sang istri yang kelelahan. Ditambah perutnya yang makin membesar.
"Sesuai keinginan kamu, sayang!" Zoya menatap Keenan dan menangkup pipinya.
Keenan menelan saliva dan hendak mencium bibir sang istri. Namun Zoya menutup mulut Keenan dengan telapak tangannya. Zoya menggoyangkan jari telunjuknya pertanda ia menolak kecupan itu. Keenan menghela nafas berat.
"Bodo amat muah..muah..muah.. hahaha ..." setelah menghujani kecupan di wajah sang istri Keenan pun kabur ke toilet.
"Dih, cengengesan, dasar sableng!!" ucap Zoya sedikit memekik.
Dan Keenan menyahuti, "Sableng tapi cinta mati kan hahaha.." kelakar Keenan seraya masih cekikikan di toilet.
"Dih, kepedean, awas aku kerjain kamu haha.." ucap Zoya berdiri perlahan, sebab bumil mulai kesulitan berjalan karena kandungannya yang cukup besar meskipun usianya masih 4 bulan. Zoya mematikan air sementara Keenan masih berjibaku membersihkan rambutnya dengan shampo.
Saat Keenan hendak menyalakan shower, shower mati dan Keenan mencari air yang berada di ember namun kosong.
"Zoya!!!!"
"Kenapa sih teriak-teriak!" sahut Zoya sambil mengunyah keripik kentang camilannya seraya senyum-senyum.
"Sayang, nyalakan air please! Air di ember habis, aku harus membasuh rambutku, pedih mataku, sayang!!" pekik Keenan.
"Hum..boleh, tapi ada syaratnya!" sahut Zoya seraya masih asyik mengunyah cemilannya.
"Ya ampun kalau mau sesuatu nggak usah kayak gini juga sayang!!!" Keenan memekik sesaat dan Zoya terkekeh.
"Iya..iya..bawel amat!"
Setelah selesai membersihkan dirinya, Keenan keluar dari toilet dengan lilitan handuk. Ia melihat tampilan wajahnya di cermin dan memakai deodorant, serta kaos putih yang sudah Zoya siapkan serta celana Jogger selutut. Keenan masih murung, ia kesal karena Zoya tak ada habisnya berbuat usil.
Keenan mendatangi Zoya dan menanyakan keinginannya.
"Berhenti menjahili aku, aku kan suami kamu sekarang!" pinta Keenan merengut.
"Kamu mau apa? Biar aku carikan?" imbuh Keenan dengan wajah datar.
"Kenapa wajah kamu, bisa nggak biasa aja!!" ujar Zoya seraya menahan tawa.
__ADS_1
"Hum.." Keenan menarik kedua sudut bibirnya dengan terpaksa.
Ia menghela nafas, "Bisa nggak jangan jadiin aku mainan kamu terus, kamu nggak kasian sama suami kamu yang rupawan ini hmm??" tanya Keenan dengan penekanan seraya senyum memaksa sehingga membuat Zoya tak kuasa menahan tawanya.
"Maaf sayang, makin kesini aku makin nggak bisa jauh dari kamu, pokoknya aku lagi ngidam banget lihat kamu kesel, aku pingin kamu marah gitu sekali aja, kamu tuh nggak pernah marah sih sayang??" Zoya mulai memancing.
"Padahal dulu waktu kita adu mulut, kamu selalu aja teriak-teriak nggak jelas," Zoya mengenang awal mula pertemuan mereka.
"Enak aja, kamu tuh galak! Aku mah selalu ramah, eh kamu selalu aja ngatain aku sableng, somplak, supir aneh haha.." ujar Keenan berkelakar hingga ia tertawa.
"Tapi nyatanya kamu tergila-gila kan sama aku haha.." ucap Zoya percaya diri.
"Kamu kali yang terpesona sama aku, jealous waktu tau aku mau jadian sama Chelsea, wooo..ayo ngaku!!" Keenan tak jemu juga menggoda istrinya itu.
"Maaf ya, dihatiku saat itu cuma Aiden. Gara-gara kamu nembak aku, aku jadi berubah pikiran dan malah menerima cinta kamu, kok bisa sih??" Zoya mengernyit dengan mata memincing.
Keenan tertawa terpingkal-pingkal, jelas Zoya menyukainya sejak awal. Makanya saat Keenan menyatakan perasaan, Zoya pun menerima cintanya. Namun namanya wanita, gengsi jika masa lalu bucinnya diingat. Kalau bisa malah menyangkalnya.
Zoya yang kesal segera menarik kuat-kuat telinga Keenan hingga merah.
"Kepedean banget ya, ayah kamu ini dek!" ucap Zoya.
"Auh..ampun! Sakit!!" Keenan meringis berusaha melepaskan tangan Zoya yang seenaknya menarik telinganya.
"Kapok ah, kamu ekstrem, nanti kupingku melebar!" keluh Keenan seraya manyun memegangi kupingnya yang memerah.
"Iya sini aku bikin kuping kamu lebar kayak kuping gajah haha..." Zoya hendak mengarahkan tangannya ke telinga Keenan sehingga Keenan berusaha menghindar, namun malah jadi hampir menindih Zoya dan perutnya.
"Fiuh, udah sayang, nanti unyil ke tekan! Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Keenan khawatir seraya mengelus perut sang istri. Melihat suami gantengnya itu begitu khawatir, Zoya berusaha menipunya lagi.
"Auh..aduh, perut aku, keraaaam.." Zoya berusaha mengelabuhi sang suami.
"Yang mana yang sakit, aku usap-usap ya!" ucap Keenan khawatir setengah mati.
"Auh sayang!!" Zoya merintih seraya melirik sang suami yang kelimpungan.
"Aduh gimana nih, maafin aku sayang! Maafin ayah ya nak, ayah nggak sengaja!" Keenan mendekap erat tubuh mungil sang istri dan mengelus perut sang istri tiada henti. Ia merasa ketakutan Zoya malah susah payah menahan tawanya.
"Sayang, kamu harus tanggung jawab, ini keinginan unyil loh!" Zoya yang membenamkan tubuhnya di dada bidang sang suami benar-benar cekikikan tanpa suara.
__ADS_1
"Iya, kamu mau apa. Apa yang harus aku lakuin, katakan aja sayang!" ujar Keenan seraya membelai rambut terurai sang istri.
********
Sementara Chelsea tengah sibuk menuntaskan pekerjaannya malam ini. Mata itu terus tertuju pada laptop. Seminggu berada di pulau dewata mengharuskan ia merampungkan pekerjaan yang terbengkalai.
Melihat sang istri yang terlalu fokus pada pekerjaannya. Aiden sengaja menonton acara sepak bola seraya teriak-teriak.
Gollll...
Golll....
Chelsea yang merasa agak terganggu menutup kedua telinganya.
"Mas, jangan teriak-teriak aku lagi merampungkan pekerjaan aku!" pinta Chelsea dengan lembut.
"Hah..aku nggak ganggu kamu sejak tadi dik, aku sibuk nonton bola, seperti kamu yang sibuk dengan pekerjaan kamu dan mengabaikan suami gantengmu ini, fiuh.." kelakar Aiden dengan keluhan.
Chelsea melirik jam, tak terasa sejak tadi ia berjibaku dengan pekerjaannya.
"Maaf mas, besok kan kita sudah mulai bekerja, dan besok kita ada meeting dengan investor dari kota P. Aku harus menyiapkan berkas-berkasnya," Aiden tersenyum karena Chelsea selalu profesional.
"Iya deh, tapi jangan mengabaikan aku dong, burungku udah mencicit sejak tadi minta diajak main." keluh Aiden memberi kode.
Chelsea pun celingukan mencari burung yang Chelsea pikir milik siapa.
"Nggak ada burung yang mencicit mas?" Chelsea masih kebingungan. Dia belum menyadari maksud Aiden.
Lantas Aiden memeluk tubuh ramping istrinya dan menggerayangi leher jenjang sang istri. Menangkupi kedua belah pipi dan mengemut bibir polos dihadapannya. Chelsea juga menyambut dengan sentuhan lembut menyusuri bahu sang suami seraya meremassnya.
Cukup lama mereka melakukan french kiss hingga Chelsea berada di posisi berbaring. Namun bunyi perut Aiden yang lapar benar-benar merusak suasana.
"Itu bunyi perut kamu, mas hehe.." ucap Chelsea.
"Maaf ya sayang, aku lapar hehe..makan yuk!" ajak Aiden sehingga mereka beranjak duduk di ranjang.
"Hum..kasian, yaudah kita makan sekarang! Sepertinya Mba Siti udah merampungkan masak!" ujar Chelsea dan pas juga Fadli mengetuk pintu mengajak makan malam.
Tok..tok..
__ADS_1
"Aiden, Chelsea, ayo makan nak!" ajak Fadli.
"Iya, yaudah ayo hehe.." ajak Aiden seraya merangkul Chelsea dan beranjak keluar dari kamarnya untuk makan malam.