
Setiap harinya Billy tak pernah lelah menunggu hanya untuk menemui Keenan. Namun, kali ini ia pasti tak akan bertemu dengannya karena Keenan tak menarik penumpang. Setelah bertanya, Billy mendapatkan alamat Keenan yang tak jauh dari penyewaan taksi.
"Aku mau main ah," ucap Billy akhirnya mencari alamat Keenan setelah mendapat informasi dari teman Keenan yang sesama penyewa taksi juga.
Sementara Keenan dan Zoya saat ini tengah menikmati lontong sayur dan gorengan di warung makan dekat tempat tinggal mereka. Mereka makan sembari bercanda ketawa-ketiwi.
"Aku baru kali ini Keenan, sarapan disini, itu juga karena ada kamu, kalau nggak aku malas sendirian aja," ujar Zoya seraya menyuap lontong sayur ke mulutnya.
"Ah, payah kamu. Makanya jangan ngerem di rumah mulu." ucap Keenan.
"Emang aku ayam, ngerem?" sungut Zoya lantas Keenan menjulurkan lidah meledek Zoya.
"Keenan, menurut kamu aku cocok nggak sama pak Aiden?" tanya Zoya dimana ia malah membawa-bawa nama Aiden saat mereka tengah berduaan saja menikmati lontong sayur.
"Nggak." jawaban Keenan begitu singkat penuh arti.
"Kok gitu?" tanya Zoya menjimpit dagu Keenan dan menghadapkan ke wajahnya.
"Ya iya, kamu nggak cocok sama dia, kamu cocoknya sama aku. Eh..hehe.." jawaban Keenan membuat Zoya tersenyum lalu melepas jimpitannya itu.
"Emangnya, kamu menyimpan rasa sama aku?" tanya Zoya dengan memandang Keenan begitu dalam.
"Em..Aku.." lagi dan lagi belum selesai Keenan bicara Billy sudah menemukannya.
"Keenan!" panggil Billy kemudian duduk di dekat Keenan dimana mereka tengah berada di kursi kayu panjang saat ini.
"Kok, nih orang bisa sampai sini? Ish.." Keenan bergidik mendapati Billy berada di dekatnya.
Ini pertama kalinya Zoya melihat tampilan Billy. Billy yang mulai pada mode wanita saat ini menatap Zoya cemburu. Benar-benar merusak suasana yang mulai romantis meski hanya makan lontong sayur di pinggir jalan.
"Eh, siapa kamu?" tanya Zoya kesal.
"Ayo, Zoya kita pergi aja!" Keenan dengan tergesa mengajak Zoya untuk pergi dari sana setelah membayar.
"Dia siapa Keenan, kalau dia teman kamu sebaiknya ajak main ke rumah atap." usulan Zoya ditanggapi sumringah oleh Billy yang bagai ulat bulu.
"Iya Keenan, aku setuju." sahut Billy berlagak normal.
"Enggak Zoya, dia ini." ucapan Keenan terpotong saat Billy tiba-tiba menyambar ucapan.
"Boleh kan Zoya aku main setiap hari dirumah atap hihi.." Billy mulai sedikit mengeluarkan gerak gerik. Ia berusaha tampil cool agar Zoya tak mencurigainya.
"Setiap hari? Nggak boleh." sambar Keenan selalu merinding setiap ada di dekat Billy.
"Jangan gitulah Keenan, Ayo kita barengan aja. Sekalian pulang ini, nanti kalian bisa mengobrol!" ajak Zoya lantas mereka tengah tiba di kediaman Zoya.
Billy perhatikan dengan seksama dan dengan terpaksa Keenan membawa Billy kerumah atap karena Zoya terus mendesaknya.
__ADS_1
"Ayolah Keenan, aku mau mencuci pakaian, aku duluan, ya!" ujar Zoya lantas masuk ke rumah.
Keenan sendiri menaiki tangga diikuti Billy. Keenan tak menaruh curiga, dengan terpaksa mempersilakan Billy masuk dan memberikan minuman kaleng. Billy melihat ke sekeliling.
"Kamu jangan anarkis ya, Billy!" pinta Keenan.
"Aku anarkis kalau kambuh. Tiba-tiba aku merasa jadi wanita tiba-tiba jadi pria lagi, terus jadi anak-anak." jelas Billy.
"Sebaiknya kamu pulang, kalau kamu kambuh. Apa kamu nggak sadar melakukan apa, kamu ingat nggak pernah mengajak aku main, benar-benar menjijikkan." ujar Keenan.
Namun benar saja Billy mulai bertranformasi lagi kali ini. Keenan mulai menjauh, kerlingan matanya mengerjap mencari kesadaran yang hilang menjadi wanita lagi sedikit tarikan senyum pada Keenan yang berada di hadapannya kini.
"Honey!" panggil Billy.
"Hadeh, dia kambuh lagi. Haish, aku ikat aja nih orang sampai sadar lagi." dengan perasaan bergidik Keenan segera mengambil tali sampai akhirnya Billy memeluknya dari belakang.
Keenan mencoba tenang hingga akhirnya Keenan mengikat tubuh dan kakinya serta melakban mulut Billy.
"Maaf Billy, biarkan seperti ini. Sampai kamu sadar lagi," ujar Keenan terpaksa mengikat Billy lalu Keenan keluar dari rumah atap membiarkan Billy sendirian.
Sementara Keenan kembali masuk dan melepas Billy membawa Billy ke suatu tempat tepatnya ke sebuah taman. Keenan menahan kekesalan saat ia jadi pusat perhatian karena sikap Billy yang tak henti mendusel tangan Keenan hingga bersandar di bahunya.
Beberapa pasang mata merasa geli, Keenan sendiri berusaha menahan rasa malu yang berkecamuk sambil menunggu Rayan membawa Billy. Namun Billy mulai memeluknya lagi dan meluncurkan kecupan lagi. Sehingga seorang ibu yang jengah menatap mereka mengguyur seember air pada mereka.
Byurr...
Sementara orang-orang berkerumun menghampiri mereka.
"Kalian ini sesama lelaki, ngapain berbuat asusila disini?" tegur sang ibu yang menyiramnya tadi.
"Ibu ini, kenapa menyiram kami, kasian lope-lope aku jadi basah kuyup!" ujar Billy malah menantang.
"Jangan Billy! Maaf bu, dia ini berkepribadian ganda sedang kambuh, saya menunggu kakaknya menjemput. Kami nggak melakukan tuduhan itu." ujar Keenan.
Ah dasar pasangan sejenis..arak aja keliling kampung..
Kita hajar aja mereka..mereka ini meresahkan..
Suara sumbang berseliweran memenuhi keadaan yang mulai runyam. Sementara tubuh sudah tak bisa diajak kompromi karena basah kuyup.
"Jangan sakiti kami, ini nggak seperti yang kalian pikirkan!" pinta Keenan.
Namun, mereka malah menghujani pukulan dan tendangan. Keenan sengaja melindungi Billy agar tubuhnya saja yang menjadi tameng menahan amarah warga saat itu. Pas juga Billy tersadar lagi merasa tak mengerti dengan keadaannya sekarang. Hingga akhirnya Rayan datang menyudahi semuanya.
"Hentikan semua, tolong! Hentikan dia adik saya, dia memiliki kepribadian ganda. Tolong hentikan!" pinta Rayan sehingga keanarkisan warga terhenti.
Billy yang tersadar merasa sedih melihat wajah Keenan yang babak belur karena wajahnya tak lepas dari amukan warga. Sementara Billy baik-baik saja tak terluka sedikit pun karena Keenan melindunginya tadi.
__ADS_1
"Maaf, tapi lain kali jangan seenaknya sendiri, lingkungan ini tidak menerima hal seperti ini." pekik salah seorang warga.
"Seharusnya kalian jangan main hakim sendiri. Lihat, ada yang terluka disini karena ulah kalian!" pinta Rayan.
"Maaf, ya sudah kita bubar sekarang! Ayo!!" ujar seorang warga sehingga mereka pergi.
"Ayo Keenan, kamu harus diobati!" ajak Rayan.
"Aku nggak apa-apa Rayan, sebaiknya bawa Billy pergi, kasian bajunya basah kuyup aku tinggal di dekat sini aku bisa mengatasinya!" pinta Keenan.
"Maafin aku, Keenan!" ucap Billy merasa menyesal.
"Nggak apa-apa Billy, cepat sembuh ya!" ucap Keenan.
"Yaudah, sekali lagi terima kasih Keenan. Kamu cepatlah berganti pakaian supaya kamu nggak demam, kami permisi, ayo Billy!" ajak Rayan membawa Billy.
Keenan segera melangkah pelan seraya meringis kesakitan karena wajahnya penuh luka memar di sudut bibirnya dan pelipisnya terdapat goresan kecil sehingga menitik darah. Namun, ia tak masalah yang penting Billy sudah aman bersama Rayan.
Tak lama Keenan tiba di puncak tangga dan berpapasan dengan Zoya yang baru menyelesaikan menjemur pakaian. Prihatin melihat keadaan Keenan dan membawanya ke kursi bale, Zoya bergegas mengambil kotak obat untuk meringankan luka yang Keenan alami.
"Apa yang terjadi, kenapa sampai seperti ini?" tanya Zoya.
Keenan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Zoya. Ia bicara hal lain tentang apa yang dialaminya.
"Aku abis berkelahi, biasalah namanya juga pria," jawab Keenan.
Namun Zoya menarik telinga Keenan dengan seenaknya.
"Auh, kenapa Zoya?" tanya Keenan merasa bingung.
"Kamu bisa nggak, nggak usah sok jagoan! Kemarin kamu tawuran sekarang berkelahi lagi, aku nggak mau kamu kenapa-napa, Keenan!" jawaban Zoya menyiratkan perhatian yang sangat dalam.
"Kamu kuatir sama aku, ya?" tanya Keenan dengan senyuman manisnya membuat dunia Zoya teralihkan sesaat memandang paras Keenan tersebut.
"Yaudah, setelah aku mengobati kamu cepatlah ganti pakaian ya! Biar kamu nggak demam," ujar Zoya.
Jantungnya berdegup tak beraturan, apa yang sebenarnya Zoya rasakan. Lalu Keenan mengibaskan tangan ke arah Zoya karena tiba-tiba Zoya terdiam menatapnya.
"Hello, Zoya! Kenapa kamu bengong? Kamu terpesona sama aku, ya hahah.." ucap Keenan.
Karena ingin mencairkan suasana yang membuat Zoya kikuk, Zoya tak sengaja menekan luka Keenan sehingga Keenan memekik.
"Auh, pelan-pelan Zoya, perih tau!" pinta Keenan.
"Maaf, udah deh! Kamu tangani sendiri, aku mau kebawah, aku duluan!" ujar Zoya lantas jalan tergesa menuruni tangga. Keenan tersenyum akan tingkah Zoya, ia semakin menyukai gadis skeptis tersebut.
Berharap lain kali ia bisa menyatakan perasaannya dan membuat Zoya menjadi miliknya.
__ADS_1