
Sebelum menemui sang ibu Keenan mampir dahulu ke toko bunga untuk membelikan sebucket bunga ukuran kecil untuk sang ibu. Ia selalu bahagia saat akan menemui orangtua satu-satunya itu. Kemudian Keenan kembali menaiki bus hingga tiba di depan perumahan dan ia melangkah perlahan menuju ke kediaman Danu Wijaya.
Satpam yang sudah mengetahui siapa Keenan memperlakukannya dengan sopan.
"Silakan den Keenan!" ucap Mang Parto sapaan satpam tersebut.
"Den Keenan hehe.." Keenan merasa aneh.
"Tuan Wijaya sudah cerita kalau Den Keenan adalah putranya yang hilang selama ini. Saya nggak nyangka den, saya baru tau kalau kalau Aden ini putra beliau. Aden sudah ditunggu didalam, mari saya antar!" ujar Mang Parto dan mengantar Keenan yang membawa sebucket bunga itu.
Benar saja Dila, Danu, dan Hilal sudah berada di ruang tamu menunggu Keenan.
"Tuan Wijaya, Nyonya Dila, ini den Keenan sudah datang." ucap Satpam.
Danu dan Hilal tersenyum menyambut Keenan terlebih Dila begitu terharu. Keenan menghampiri mereka sesaat. Tak disangka Danu menghampiri anak lanangnya itu dan segera memeluknya dengan erat dan membelai punggungnya.
Apa ini, Keenan. Apakah ini mimpi? Keenan mendapatkan pelukan dari seorang ayah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sedangkan Dila dan Hilal ikut menghampiri mereka.
"Selamat datang anakku, Keenan. Hilal, ini kakak kamu, nak!" ujar Danu dimana ia sudah menceritakan siapa Keenan sebenarnya pada putra berparas tampan yang sebentar lagi akan jadi adik tiri Keenan tersebut.
"Hai Mas Keenan, selamat datang, ya! Aku senang karena akhirnya ayah sama ibu memberikan aku teman dan juga sekaligus akan jadi mamasku, Mas Keenan." panggilan manis dari Hilal yang masih berusia 20 tahun itu berbeda 5 tahun dari Keenan.
"Peluk dong Masmu ini, Hilal!" ujar Dila.
"Mas Keenan!" ucap Hilal seraya memeluk kakak tirinya itu dengan erat.
"Hilal, adikku!" sapa Keenan.
"Enjih mas, eh maaf aku terbiasa ngomong jawa mas ngerti bahasa jawa nggak?" tanya Hilal.
"Ngerti kok hehe.." sahut Keenan.
Tak lama kemudian Dila mengajak suami dan kedua putranya itu untuk makan malam. Namun Keenan memberikan bunga yang Keenan beli tadi untuk sang ibu.
"Bunga buat ibu." ucap Keenan.
"Makasih Keenan!" ucap Dila lalu meletakkan bunga itu didalam kamarnya sejenak.
__ADS_1
Chef khusus yang bekerja di rumah Danu Wijaya sudah menyajikan berbagai menu makanan. Rumah megah nan mewah itu makin terlihat kemewahannya saat Keenan mengedarkan pandangan tak menyangka. Sang ibu bahkan hidup bergelimang harta, beruntung Dila menikah dengan pria yang baik dan sukses seperti Danu Wijaya.
Akhirnya setelah menyusuri rumah dan menikmati suasana kemegahannya. Mereka tiba di ruang makan yang tak luput dengan kemewahan, makanan tersedia. Seperti menyambut besan saja, ada daging lauk pauk, buah cemilan, kue-kue, benar-benar membuat Keenan bak di negeri dongeng.
"Mari Keenan kita nikmati makan malam istimewa ini!" sapa Danu.
"Mungkin kamu terkejut, nak! Ini semua Ayah yang siapkan khusus untuk menyambut kamu, mulai malam ini kamu bisa tinggal disini. Dan besok kamu bisa pindah dari rumah atap kamu!" ajak Dila.
Ingin rasanya Keenan menitihkan airmata karena bahagia. Ia hanya menghela nafas dan tersenyum dengan semua ini.
"Aku kayak mimpi rasanya, tuan!" ucap Keenan.
"Eh, tuan? Panggil saya ayah, kamu adalah anak saya. Jangan seperti ibu kamu," ucap Danu seraya melirik istrinya itu.
"Iya ayah, maaf ya!" ucap Dila.
"Iya mas Keenan, panggil ayah wae ojo tuan, ora enak di dungukne!" pinta Hilal dengan bahasa medoknya itu.
"Maaf, kenapa Hilal medok sendiri ya bahasanya?" tanya Keenan merasa lucu.
"Iya mas Keenan, aku terbiasa banyak teman di Semarang makanya aku bete pas tau suruh tinggal disini, eh lah dalah, aku dikasih tau kalau mas Keenan ini mamasku, ya wis aku senang to," ujar Hilal ternyata tak kalah ramahnya dari Danu Wijaya.
"Alhamdulillah, emang kamu kuliah dimana, Hilal?" tanya Keenan dengan senyuman.
"Di universitas P dekat sini kok. Lah, Mas Keenan iki gawe opo toh sak iki?" tanya Hilal.
"Aku nge grab. Udah 5 tahun ini, Hilal." jawab Keenan.
"Grab to, maaf aku ngomongnya kok campuran begini, aku masih menyesuaikan soalnya, mas." ucap Hilal.
"Nggak apa-apa," sahut Keenan.
"Sudah toh jangan diajak ngobrol terus mas mu ini, kalian makan dulu, ya! abis itu ajak mas mu ini ke kamarnya di lantai atas sebelah kamarmu ya, Hilal!" ajak Dila.
"Beres bu hehe.." sahut Hilal.
"Makasih ya, ibu, ayah, tapi maaf aku nggak bisa tinggal disini!" ucap Keenan sehingga Danu merasa kecewa.
__ADS_1
"Kenapa nak, apa ucapan kami ada yang menyinggung kamu, atau kenapa? Kenapa kamu nggak mau tinggal disini bersama ibu kamu?" tanya Danu.
"Aku udah nyaman tinggal mengontrak rumah atap tempat tinggal aku selama ini ayah, aku juga udah terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Jadi, aku nggak bisa tinggal disini," ucap Keenan.
"Kok malah nggak jadi tinggal disini, ini rumah besar banget mas, sepi nggak ada penghuni, mas juga bisa kerja jadi bos di salah satu cabang kedai franchise milik ayah, piye kok malah ndak mau tinggal disini, ah kecewa aku nek ngene iki?" keluh Hilal merengut.
"Yaudah biarlah Keenan menentukan mau tinggal dimana, kita kasih fasilitas aja di kontrakannya, springbed, tv, dan apapun yang kamu butuhkan, kamu tinggal katakan aja Keenan, nanti ayah kirim semua ke rumah sewa kamu!" ucap Keenan serasa ingin pingsan karena seperti dapat rezeki nomplok saja.
Ia bahkan diminta mengelola salah satu kedai kopi milik Danu Wijaya.
"Sampun, aku mau makan dulu, ya! Mari mas Keenan dinikmati!" ajak Hilal.
"Makasih dek" sahut Keenan sehingga Hilal tersenyum karena Keenan memanggilnya adik.
"Sama-sama, mas. Sampeyan ki ganteng yo mirip ibu," ucap Hilal.
"Iya kalau kamu mirip ayah, ya!" seru Danu.
"Mas Keenan ini ganteng nek aku tuh imut manis hehe...beda tipis lah hehe.." ucap Hilal.
"Bisa aja kamu, Hilal haha.." ucap Keenan sehingga kehangatan terjadi di kediaman Danu Wijaya malam itu.
Setelah berdoa mereka menikmati hidangan malam ini. Canda tawa begitu terasa terlebih Keenan juga pria yang sedikit konyol sehingga ucapannya mengundang tawa bagi kedua orangtua dan adiknya kini.
*********
Sementara Zoya tengah gusar menunggu sang kekasih. Meskipun Keenan bercerita ibunya sudah berubah namun karena Keenan sempat bercerita sikap Dila sebelumnya Zoya jadi khawatir takut Dila menyakiti Keenan lagi.
"Keenan kok belum pulang ya, dia nggak disakitin lagi kan sama ibunya. Semoga ibunya udah berubah, Keenan kan orangnya kocak, semoga dia bisa mencairkan suasana. Tapi, aku tetap kepikiran karena dia nggak balas pesanku sejak tadi." Zoya mondar-mandir di kamarnya. Sesekali tidur sesekali terbangun karena ia terus memikirkan Keenan.
Zoya meraih boneka dolphin pemberian Keenan dan memeluknya lalu mengajaknya bicara.
"Kino, aku kasih nama kamu Kino, ya! Keenan dan Kino hehe..Ah, payah coba Keenan kasih aku kucing gitu, pasti enak ngajak bicaranya. Eh, tapi kan kucing mahal ya harganya. Huft, bobo cantik kita malam ini, Kino hehe.." ucap Zoya kemudian berdoa dan terlelap dalam tidurnya karena kelelahan menunggu Keenan yang tak kembali sejak tadi.
Sementara Keenan pun akhirnya pulang. Ia memandangi pintu rumah Zoya sebelum akhirnya beranjak naik kerumah atap membuka pintu menyalakan lampu mengganti pakaiannya. Keenan menggelar kasur tipisnya.
Pada akhirnya akan lebih nyaman berada di hunian hasil keringat sendiri, Keenan juga menolak tinggal di rumah mewah milik orangtuanya. Karena ia sudah bucin dengan Zoya, tak mau berjauhan dari kekasih hatinya itu. Dengan terus berada di rumah atap Keenan akan bisa selalu mengawasi dan menjaga Zoya tanpa was-was dari perhatian Aiden yang bisa saja mengambil kesempatan untuk mengejar Zoya lagi.
__ADS_1