
Aiden baru saja pulang dari perusahaannya. Dan ia terhenti karena bus yang menaiki Keenan serta Zoya akan turun. Aiden berada tepat di belakang bus tersebut. Aiden tak melewatkan mereka dan karena penasaran, Aiden memperhatikan Keenan dan Zoya yang memasuki klinik dokter anak.
"Zoya sama Keenan," Aiden memutar mobil sport nya itu dan berhenti di pelataran parkir.
Sementara Keenan dan Zoya menghampiri Alvan yang masih dalam perawatan ditemani dokter Nabil. Alvan masih tertidur pulas dan akhirnya Zoya melihat tubuh bayi mungil itu terbaring lemah dengan infus dengan oksigen yang terpasang.
Yang awalnya Zoya marah pada Keenan kini jadi mengiba. Terlebih Keenan dengan matanya yang masih sembab. Dokter Nabil memberikan sepucuk surat yang berisikan kalau Mia meminta maaf dan berharap Keenan mau merawat Alvan. Keenan memberikan pada Zoya dan Zoya pun tak menyangka.
Keenan berusaha terus menghubungi Mia. Namun semua akan sia-sia karena Mia sudah membuang nomornya.
"Masih nggak diangkat, sayang?" tanya Zoya seraya menggenggam tangan Keenan.
"Kenapa dia setega itu, kenapa bayi sekecil ini harus mengalami nasib malang, ya Allah. Ini bikin aku emosional," Keenan merasa sesak namun Zoya segera memeluknya.
"Sabar sayang!"
Dokter Nabil meminta Keenan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib perihal kasus penelantaran anak. Supaya polisi bisa mencari keberadaan Mia. Namun Zoya tak ingin berita tak sedap ini merebak kemana-mana. Zoya mendekati Alvan dan memandanginya.
"Untuk sementara biarlah kita rawat dia Keenan, tapi kalau nanti ibunya mau mengambil dia. Aku nggak akan pernah memberikan dia lagi!" ujaran Zoya membuat Keenan tak menyangka. Keenan merasa tak setuju akan keinginan Zoya untuk merawat Alvan yang bukan darah dagingnya.
"Tapi dia bukan, jangan ambil keputusan Zoya. Aku emang kasihan sama Alvan, tapi nggak sekali pun terbesit untuk merawatnya. Karena Mia yang lebih berhak, dia ibu kandungnya. Sebaiknya kita pikirin gimana caranya Mia segera kembali." sanggah Keenan menolak untuk merawat Alvan.
"Gimana kalau dia nggak kembali, sayang. Masa' kita titip di panti asuhan, kamu tega membiarkan anak sekecil dia hidup tanpa kasih sayang orangtua?" tanya Zoya yang balik peduli pada Alvan.
"Hah..ya tapi, sebaiknya kita tunggu sampai Alvan benar-benar sehat. Setelah itu, kita bahas ini lagi!" ujar Keenan dan menatap bayi 6 bulan itu dengan sendu seraya membelai kepalanya.
Sementara Aiden mendengar ucapan Zoya dan Keenan. Aiden tak menyangka tentang keinginan Zoya, Keenan terkejut saat Aiden menampakan dirinya.
"Kamu benar Zoya!" ucap Aiden.
"Eh, Aiden. Kenapa tiba-tiba bisa disini?" tanya Keenan.
"Oh, aku nggak sengaja melihat kalian tadi. Aku kebetulan lewat, Maaf aku nyamber kayak kilat." ucap Aiden.
"Bukannya kamu mengikuti sejak tadi, atau sengaja?" Keenan malah memantik lagi. Aiden menghela nafas panjang.
"Aku nggak sengaja melihat kalian, lagian kalau Zoya punya niat mulia kenapa kamu halangi, jangan-jangan kamulah ayah dari anak ini!" tuduh Aiden dengan menyunggingkan senyum.
"Jangan asal bicara kamu!" Keenan menahan amarah dan keluar dari ruangan. Kemudian Aiden menghampirinya sedangkan Zoya tak beranjak ia masih memandangi wajah polos Alvan yang masih tertidur.
"Aish, terserah kalian lah, aku akan tetap merawat anak ini. Tinggal katakan aja sama keempat orangtuaku nanti. Sehat ya nak!" ucap Zoya kemudian mencium kening bayi tampan dan membelai kepalanya yang berambut tipis.
__ADS_1
Keenan dan Aiden duduk di koridor yang agak jauh dari ruangan rawat Alvan saat ini.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan merawatnya Keenan." ujar Aiden.
"Jangan sok kamu, kamu berharap jika posisi ku sekarang adalah kamu 'kan? Membayangkan semudah itu, bukan?" tanya Keenan.
"Aish, aku udah menguping semuanya. Jadi, kalau Zoya menerima kenapa kamu keberatan, sambil kalian menunggu Tuhan memberikan kalian anak, kalian bisa rawat anak itu." jawab Aiden.
"Kalau aku bisa memilih seperti apa rencana Tuhan, bukankah aku mau hidup dengan orangtua yang lengkap. Hidup berkecukupan dengan curahan kasih sayang. Mungkin ini jalan Tuhan, dia bayi yang nggak berdosa, dia juga butuh kasih sayang. Aku yakin kamu mengerti!" imbuh Aiden lagi.
"Tenanglah, kedatanganku kesini bukan untuk mengompori atau bahkan menjadi pemisah kalian. Aku datang sebagai teman, sahabat, aku akan mendukung hubungan kamu. Jadi bahagiakan wanita yang aku cintai, dengan begitu aku akan menghargainya!" Aiden memberi wejangan pada Keenan yang kini sudah dirangkulnya kembali.
Jadilah Keenan memeluk Aiden dengan eratnya, Mata kedua Keenan kembali berkaca sedangkan Aiden membelai punggung Keenan untuk menguatkannya.
"Terima kasih atas kemurahan hati kamu, Aiden." ucap Keenan.
"Karena kamulah Keenan, aku sadar. Aku mengerti apa yang seharusnya aku lakuin, aku akan membantu kamu mengurus masalah ini, tenanglah!" Keenan memeluk Aiden semakin erat.
"Makasih CEO Aiden." ucap Keenan yang masih belum melepas pelukannya itu. Sementara Zoya yang awalnya khawatir mereka akan berkelahi malah menyimpulkan senyumannya karena sepertinya kedua insan yang sempat bersitegang itu sudah berbaikan kembali. Zoya tak ingin mengganggu mereka dan memilih menemani Alvan lagi.
Sementara saat ini Chelsea tengah menyelesaikan pekerjaan di laptopnya. Ia tersenyum akan apa yang terjadi, ia menemukan semangat baru saat pria yang pernah diinginkannya kembali dekat lagi dengannya. Chelsea memandangi foto Aiden di laptopnya, berharap mereka bisa kembali dekat bahkan sangat dekat.
"Aiden, makasih ya karena kamu mulai membuka hati. Aku bahagia, sangat bahagia." ucap Chelsea dan mesem-mesem melihat foto mereka yang tercetak manis saat sekolah menengah atas.
"Udahlah pelukannya haha..Oh iya, menurut kamu kalau aku sama Chelsea, apa kamu setuju?" tanya Aiden seraya menyandarkan tubuhnya kedinding.
"Setuju aja, dia cantik dan kamu tampan, kalau kamu ngerasa udah memantapkan hati sama dia. Cepatlah nikahi dia, sebelum dia diambil orang!" ucap Keenan terdengar mencibir namun Aiden hanya tersenyum tipis dan tak lagi memandang Keenan.
"Resek kamu!" ucap Aiden.
Keenan memancarkan senyumannya, ia segera beranjak karena akan melihat keadaan Alvan.
"Kamu mau kemana?" tanya Aiden.
"Aku mau lihat keadaan Alvan, sebaiknya kamu pulang aja, Aiden. Aku nggak mau kamu cemburu melihat kemesraan aku sama Zoya!" ucap Keenan sehingga Aiden menarik tengkuk Keenan mengalungi tangannya itu dan tak melepasnya.
"Kamu terus meledek aku, bukan?" Aiden yang kesal masih belum melepaskan Keenan.
"Eh, Maaf Aiden! Lepasin, kenapa kamu malah seperti anak-anak sekarang!" pinta Keenan.
"Aku lagi mengucapkan salam pertemanan, inilah caraku menyambut kamu!" ujar Aiden.
__ADS_1
"Aku nggak butuh, kamu ngeselin, Aiden!" ucap Keenan namun akhirnya Keenan tertawa juga. Setelah itu barulah Aiden melepasnya.
"Yaudah, aku pulang sekarang!" ucap Aiden yang hendak pulang padahal Keenan hanya main-main tadi.
"Kamu malah beneran mau pulang. Aku bercanda tadi!" Keenan jadi tak enak hati.
"Santai aja Keenan, aku emang mau pulang. Salam aja buat Zoya, pikirkan omongan aku baik-baik! Aku permisi dulu!" pamit Aiden dan Keenan pun mengangguk.
"Makasih CEO," ucap Keenan lantas Aiden beranjak meninggalkan Keenan hingga Aiden masuk ke mobilnya dan pergi.
Tak lama kemudian Keenan pun beranjak menemui Zoya yang tengah membelai rambut Alvan.
"Mana pak Aiden?" Zoya pura-pura bertanya.
"Dia udah pulang," jawab Keenan kemudian mendekati Alvan seraya memandanginya.
"Sayang, beliin Alvan susu bayi, kata Dokter Nabil dia harus minum susu per dua jam sekali. Kasian kalau dia lapar, besok baru kita kasih bubur untuk mp asi nya. Panasnya udah turun dan Alvan mulai membaik, kalau besok kondisinya stabil, dia udah boleh pulang." ujar Zoya dengan sumringah.
Keenan duduk memandangi Zoya yang tak luput memandangi Alvan.
"Kenapa kamu jadi bersemangat, tadi nuduh aku sampai aku ngenes?" tanya Keenan lalu duduk di sebuah kursi.
"Karena aku salah paham tadi, sekarang 'kan aku udah tau kebenarannya. Kamu beliin susu dulu, ini hampir tengah malam, takutnya minimarket tutup!" titah Zoya dan memberikan sejumlah uang.
"Susu bayi kan?" tanya Keenan memastikan.
"Susu kuda liar," sahut Zoya malah bicara ngawur.
"Itu mah susu aku hehe.."
"Shut, udah nanti Alvan bangun, awas kalau salah beli!" ujar Zoya sehingga Keenan menghela nafas dan Zoya menunjukan susu yang Zoya minta lewat internet.
"Kirim ke wa aku aja!" pinta Keenan dan secepat kilat Zoya mengirimnya.
"Udah, cepat ya! Hati-hati sayang!" ucap Zoya dengan senyuman penuh arti. Keenan sekilas memandang naluri seorang ibu yang terpancar dari raut wajah Zoya. Ia sedikit mengintip dan melihat Zoya membelai dan mencium kening serta pipi Alvan dengan penuh kasih sayang. Dan yang membuat Keenan terkejut, Zoya sempat mengutarakan sesuatu.
"Mama akan merawat kamu, sayang. Mulai sekarang, aku akan jadi mama kamu dan nggak ada yang boleh misahin kita, ya!" harap Zoya membuat Keenan tak menyangka kemudian Keenan melanjutkan langkahnya lagi untuk membeli susu.
"Zoya benar-benar mau merawat Alvan, Fiuh.."
Keenan menghela nafas berat dan fokus mencari susu bayi yang Zoya inginkan di minimarket terdekat.
__ADS_1
********