
Tak peduli meski janji menggores hati yang terpenting orang tersayang tak terluka sedikitpun. Hal inilah yang sedang Keenan lakukan, memastikan orang tercinta tak mengalami kemalangan. Tubuh yang terbaring di brankar dengan wajah pucat pasi dibawa oleh kerabat ke ruang operasi.
Semua keluarga menantikan kabar baik bukanlah kabar buruk. Berharap Tuhan masih memberi kesempatan pada Keenan untuk bernafas lagi hingga menua bersama cintanya. Semua keluarga menunggu dengan cemas, sementara Aiden yang mendengar berita itu juga ikut melihat keadaan Keenan bersama Chelsea.
"Sayang, Keenan masuk rumah sakit lagi, dia tertembak si Vero CEO brengsek itu." ujar Aiden ikut lemas mengetahui Keenan kembali kena sasarannya.
"Kasian banget si Keenan, yaudah kita kesana sekarang ya!" Chelsea dan Aiden bergegas melihat keadaan Keenan di rumah sakit.
Chelsea merasa sedih akan kondisi Keenan belakangan ini. Mereka tengah bermobil menuju ke rumah sakit.
"Kayaknya belakangan ini Keenan sering kena masalah sejak kenal Vero ya, sayang." ulas Chelsea.
"Iya sayang, bukannya Keenan anak miliarder ya, kenapa dia masih jadi supir taksi sih?" tanya Aiden merasa heran.
"Mungkin dia terbiasa hidup sederhana sayang, jadi dia merasa nggak nyaman tinggal di mansion pak Danu, lagi pula sepertinya dia memang terbiasa mandiri jadi tetap apa adanya." ulas Chelsea dan diangguki oleh Aiden yang kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Chelsea meremass jemarinya, masih tersimpan sedikit rasa yang ada untuk pria yang pernah disukainya itu. Berharap Keenan tak mengalami hal yang tak diinginkan.
********
Operasi dilakukan semua orang menunggu dengan rasa cemas. Sementara Zoya memilih untuk bermunajat pada Tuhan di mushala yang berada di rumah sakit. Ia tak bisa menunggu di depan ruang operasi. Ia memilih lebih dekat dengan Tuhan disaat genting seperti ini.
Ia duduk bersimpuh terus melafalkan doa, demi kesembuhan suami tercinta. Seperti yang pernah Keenan katakan, saat tak ada daya upaya manusia yang mampu menolong. Hanya Tuhanlah yang mampu membuat segalanya berubah, meskipun kemungkinan itu terasa tipis.
Chelsea dan Aiden juga tengah sampai di ruang tunggu. Tak boleh terlalu banyak orang yang menunggu. Chelsea meminta izin pada Aiden untuk menyusul Zoya ke mushala.
"Sayang, aku lihat Zoya ke mushala, ya!" pinta Chelsea.
"Iya sayang." sahut Aiden disusul anggukannya.
Tampak Chelsea melangkah ke mushala dan benar saja Zoya masih berada disana seraya menengadahkan kedua tangan pada Allah swt. Chelsea pun perlahan masuk dan ikut sholat setelah itu menatap Zoya yang sedari tadi menatapnya.
"Chelsea!" sapa Zoya dengan mata yang sembab usai Chelsea menyelesaikan shalatnya.
"Zoya, kamu yang sabar ya!" ucap Chelsea seraya mengelus pundak Zoya.
__ADS_1
"Kamu sama pak Aiden?" tanya Zoya seraya celingukan melihat Aiden yang tak nampak keberadaannya.
"Iya, setelah mendengar kabar itu, kami bergegas datang kesini...Aiden ada di ruang tunggu pasien." Chelsea seperti begitu terpukul mengingat pria yang sedang terbaring lemah di ruang operasi itu pernah membuat hatinya begitu berbunga.
Zoya menggenggam erat jemari Chelsea. Kedua wanita itu saling menumpahkan airmata mereka. Lalu Zoya segera menjatuhkan diri dalam pelukan Chelsea. Untuk saat ini dia memang butuh tubuh untuk mendapat dekapannya.
"Makasih Chelsea, dukungan kamu. Maaf aku mengecewakan kamu, nggak bisa menjaga Keenan dengan baik." ucap Zoya sementara Chelsea membelai punggung sahabatnya itu.
"Keenan pasti bisa melewatinya kan, dia itu pria yang baik dan kuat. Dia pasti bisa melewatinya, Zoya!" harap Chelsea penuh keyakinan.
"Aamiin." timpal Zoya sehingga makin mengeratkan pelukannya.
Melihat keakraban dua wanita yang pernah ia cintai. Aiden memilih membiarkan mereka saling menumpahkan curahan hatinya. Aiden beranjak menuju ke ruang operasi untuk melihat keadaan Keenan saat ini.
*******
Kedatangan Aiden menjadi perhatian para orang tua dan juga Hilal yang berada di depan ruang operasi. Terutama Risna dan Sandi yang sudah mengenal siapa itu Aiden.
"Siapa dia pak Sandi?" tanya Danu melihat sosok asing yang baru kali ini dilihatnya.
"Oh, dia CEO Aiden. Bos Zoya di perusahaan Aiden Putra Company." ujar Sandi memperkenalkan Aiden sedangkan Aiden sedikit menundukkan kepala dan ditanggapi dengan senyuman oleh Danu dan Dila.
"Saya baru pertama melihat anda, Tuan Danu Wijaya. Saya nggak menyangka anda adalah ayah dari Keenan." ucap Aiden.
"Iya, saya juga nggak menyangka putra saya memiliki teman yang sangat peduli padanya. Padahal jabatan kalian jelas berbeda. Terima kasih atas perhatian nak Aiden." ucap Danu.
Aiden pun mengangguk lantas menanyakan keadaan Keenan saat ini.
"Gimana keadaan Keenan saat ini, saya harap dia bisa melewati masa kritisnya," ucap Aiden tampak guratan kesedihan menghiasi wajahnya.
"Belum ada kepastian, sudah hampir satu jam operasi. Belum ada dokter yang keluar untuk memberi kepastian. Saya minta doanya juga nak Aiden, supaya Keenan bisa melewati masa kritisnya. Fiuh.." Danu menjelaskan dengan perasaan tercekat yang menghiasi relung hatinya.
Kamu harus kuat Keenan, kamu adalah pria yang tepat untuk membersamai Zoya. Aku udah menitipkan Zoya pada kamu, untuk kamu jaga dan kamu cintai. Kuatlah Keenan, jangan menyerah, kamu pasti bisa melewatinya...
Harapan Aiden dihatinya. Sedangkan sesaat Aiden memandang Risna yang terlihat begitu sedih dan terpukul. Aiden tak banyak berkata lagi, ia juga ikut mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Keenan.
__ADS_1
Hilal sendiri terus meremass jemarinya, ia tak mau kakak yang amat disayanginya itu meregang nyawa.
"Mas Keenan, jangan tinggalin aku ya mas!" harap Hilal yang sesekali menitihkan air mata karena merasa sedih tak terkira.
"Sabar ya!" sosok tangan terulur menguatkan. Aiden kini merangkul pundak Hilal dan duduk disampingnya.
"Makasih pak Aiden!" ucap Hilal seraya mengangguk.
********
Zoya dan Chelsea melangkah bersama menuju ke ruang tunggu operasi. Ikut melihat keadaan Keenan saat ini, entah bagaimana karena sudah sejam tanpa kabar. Mereka berbaur tak banyak berkata berharap yang kuasa akan memberi kuasanya.
Operasi besar dilakukan, pengangkatan peluru sudah berhasil dilakukan, untungnya tak ada serpihan yang mengganggu organ dalam lainnya. Peluru itu masih bersarang di tempatnya. Tinggal melakukan recovery pada luka bekas tembakan. Dan Keenan masih belum sadarkan diri pengaruh bius total yang tenaga medis berikan.
Salah seorang dokter keluar dan para keluarga berhambur bertanya akan keadaan Keenan.
"Gimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya Dila.
"Syukurlah, Allah maha baik. Keenan sudah melewati masa kritisnya," jawaban itu antusias membuat gemuruh kelegaan seluruh keluarga tak terkecuali Zoya. Bulir bening sukses jatuh karena bahagia sang suami tercinta berjuang untuk tetap hidup.
Makasih sayang, aku tau kamu kuat. Seperti yang kamu katakan, Allah beserta dengan hamba yang percaya akan pertolongannya. Alhamdulillah..
Chelsea juga antusias memeluk Aiden, Aiden tau Chelsea juga mengharapkan kebahagiaan untuk Keenan meski kini Keenan tak bersamanya lagi. Aiden membelai punggung calon istrinya itu untuk menguatkan hatinya.
"Alhamdulillah," ucap Dila.
"Untuk sementara, dia belum bisa dijenguk terlalu banyak orang. Sebaiknya cukup dua orang atau bergantian saja yang menunggu demi kesembuhan pasien, dan satu lagi, karena pasien yang tertembak biasanya akan mengalami trauma psikis, alangkah baiknya hindari tempat yang membuat dirinya mengalami anxiety disorder atau gangguan kecemasan. Terutama kamu, sebagai istrinya hindarilah tempat yang memicu pasien mengalami trauma demi cepatnya pemulihan!" pesan Dokter pada Zoya.
"Terima kasih dokter!" ucap Zoya dengan air mata yang terus berlinang karena merasa bahagia.
Akhirnya semua keluarga bisa bernapas lega karena Keenan sudah melewati masa kritisnya. Setelah itu Keenan dipindahkan ke ruang perawatan. Zoya melihat Keenan yang masih belum sadarkan diri. Dilihatnya luka bekas operasinya itu. Zoya duduk di samping brankar dan memegang jemari sang suami.
Mata mengerjap saat bius hilang. Dilihatnya sosok wanita dihadapannya yang terus memandangi dengan mata berkaca-kaca. Dan yang mengejutkan Keenan berucap.
"Ka-mu si-apa?" tanya Keenan.
__ADS_1
"Eh!!" Zoya terkejut.
*********