Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Kekalahan


__ADS_3

Siang ini Keenan kembali datang ke studio untuk latihan terakhir karena malam nanti mereka akan menampilkan hasil latihan mereka selama ini. Ternyata Jordan hari ini datang khusus untuk memberi dukungan pada Keenan yang sudah bersedia menggantikannya sementara.


Mereka sudah ramai dan makin ramai saat Keenan datang. Keenan perlahan mendekati mereka dan mulai menyapa Jordan.


"Nih Jordan vocalis kita. Nih, Keenan yang gantiin sementara. Mendadak jadi dancer dia nih dalam waktu seminggu." ujar Rangga.


"Hai, Keenan. Kita baru sempat ketemu, maaf ya! Aku baru bisa kesini, kakiku baru enak dipake kemana-mana." ujar Jordan seraya mengulurkan tangan.


"Iya, nggak apa-apa. Cepatlah sehat, harusnya ini moment kamu, Jordan." keluh Keenan merasa prihatin melihat kodisi Jordan seraya menjabat tangan Jordan.


"Kamu hebat Keenan, kemarin Rangga unggah latihan kalian di youtube dan kamu lancar banget ngedance dan nyanyi nya. Suara kamu juga bagus banget hehe..." ujar Jordan.


"Kamu bisa aja, semua berkat dukungan dari kalian jadi aku latihan dengan semangat, tinggal nervous nya aja hehe.." ujar Keenan.


"Nggak usah gugup, dibawa enjoy aja! Kita dance untuk menghibur jadi pastiin hati kita juga harus terhibur." ujar Jordan.


"Benar Keenan kata Jordan, yaudah kita mulai lagi latihan. Semangat nanti malam kita performance genk!" ajak Putri.


"Siap, girl!" sahut Rangga bersemangat.


Setelah mereka berkumpul. Rangga kembali menyetel irama musik, iramanya saja karena liriknya akan dinyanyikan oleh Rangga selebihnya Keenan yang mendominasi karena ia menggantikan Jordan yang didapuk sebagai vocalis utama dalam performance mereka nanti.


Kembali musik diputar dan mereka dengan lihainya ngedance dengan bersemangat. Jordan tak kalah mengabadikan kebolehan mereka sebagai kenangan.


"Semangat Keenan!" ucap Jordan sehingga Keenan makin semangat dengan senyumannya kini.


Satu jam latihan cukup melelahkan, sehingga mereka menyudahi karena malam ini prepare untuk tampil di pentas. Keenan pun pulang menaiki bus dan berjalan kaki hingga ke rumah atap. Namun, tak jauh dari rumah Zoya terparkir mobil Aiden. Keenan pun perlahan menaiki rumah atap dimana terdengar canda tawa dari Aiden dan Zoya. Rasanya ia tak ingin naik, namun ia cuek sajalah.


Aiden dan Zoya terlihat tengah membuat bangku kecil untuk Zoya. Keenan datang memecah tawa mereka.


"Aiden!" sapa Keenan.


"Eh, Keenan. Kamu pulang juga. Sini gabung yuk! Nanti malam kamu mau tampil ya di tv, selamat ya!" ucap Aiden.


"Udah selamat aja, Aiden. Tampil aja belum. Tumben kamu main, nggak biasanya?" tanya Keenan.


"Iya, aku tadi sengaja main untuk membuat kursi. Kami baru aja memulainya, kamu mau bergabung?" tanya Aiden.


"Em.." Namun Zoya memberi isyarat supaya Keenan masuk ke rumah supaya tidak mengganggu mereka. Keenan menjulurkan lidah, ia tak peduli. Keenan masuk sejenak untuk mandi dan menyusul mereka yang tengah bermesraan.


Posisi mereka sudah berubah kini dari yang awalnya sibuk masing-masing jadi duduk berdekatan menatap ponsel seraya tertawa-tawa. Keenan bingung, ia tak mau jadi obat nyamuk sehingga ia tetap bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Seru banget kayaknya, aku ikutan dong hehe.." seru Keenan mengusir sesuatu yang terbenam di hatinya.


"Oh, silakan Keenan!" sahut Aiden sehingga kini Zoya duduk diantara dua pria tampan disampingnya.


Aiden dan Zoya kembali melanjutkan keseruan mereka tertawa melihat film komedi yang lucu. Sesekali Keenan melirik mereka ikut masuk ke dalam keseruan mereka. Tak terasa Aiden dan Zoya saling menggenggam tangan mereka di hadapan Keenan. Tuh, kan Keenan hanya jadi obat nyamuk saja.


"Huft!!" keluh Keenan.


Coba aku yang gengam pasti kepalaku udah kena jitak, nasib kamu Keenan!"


Keenan meratapi perhatian yang tulus tanpa umpatan dari Zoya untuk Aiden. Sepertinya semudah itu mendapatkannya, sedangkan Keenan mau bersikap semanis apapun tetap saja harus mati-matian hanya untuk membuat Zoya tertawa. Namun, dengan Aiden ia bisa tertawa selepas itu. Benar-benar berbeda.


"Pak Aiden, mau sesuatu, biar aku buatkan?" tanya Zoya.


"Kita makan mie dalam cup aja, gimana Keenan?" tanya Aiden.


"Iya, aku ikut aja." jawab Keenan dengan senyuman.


"Yaudah, biar aku buatkan untuk pak Aiden, ya! Aku permisi dulu!" pamit Zoya.


Aku orang juga Zoya, sejak tadi aku cuma diminta mengiyakan aja keinginan kalian.


"Kamu udah lama Aiden disini?" tanya Keenan menyapa duluan.


"Nggak juga nggak lama aku datang sekitar 15 menit kemudian kamu datang." jawab Aiden.


Mereka kembali hening...


"Oh iya, Keenan. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu?"


Keenan mengangguk, "Silakan Aiden!" ucap Keenan dengan senyuman.


"Aku awalnya nggak pernah mikirin untuk memiliki pendamping. Tapi, sejak kenal Zoya, aku ngerasa nyaman berada di dekat dia, aku tipe orang yang nggak mandang cantik, kaya, buat aku itu nomor sekian, Keenan. Tapi saat bersama Zoya, aku menemukan kenyamanan, aku menyukai Zoya, Keenan. Maaf! Apa kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku?" Aiden benar-benar to the point pada Keenan.


Kenapa rasanya begitu sakit saat Aiden mengatakan hal itu. Apa Keenan juga menyukai Zoya, kenapa sebelumnya ia tak merasakannya. Seperti ada perasaan tak rela yang bersemayam di hatinya. Ia merasa tercekat ingin bicara namun ia seperti tak percaya akan pengakuan itu.


"Aku.." jawaban Keenan terhenti saat Zoya datang membawa 3 mie dalam cup yang masih hangat dan 3 botol kecil air mineral.


"Mie nya udah siap, pak Aiden." ucap Zoya dan memberikan mie pertamanya pada Aiden barulah pada Keenan.


Lalu Zoya duduk di dekat Aiden dan menikmati mienya bersama dia bahkan sangat fokus menghadap Aiden dan duduk membelakangi Keenan. Keenan tetap berusaha bersikap biasa saja namun tidak dengan hatinya. Ia menyuap mie seperti biasa sesekali melirik kemesraan yang pasangan itu torehkan. Aiden seperti sengaja melakukan itu.

__ADS_1


"Maaf Zoya, Aiden, aku duluan! Aku mau prepare untuk nanti malam. Aku permisi," ujar Keenan.


Zoya merasa ada yang aneh dengan Keenan sejak tadi. Keenan lebih banyak diam, tidak seperti biasanya yang bersikap seperti anak kecil. Atau mungkin Keenan canggung karena ada Aiden.


"Iya." sahut Aiden singkat.


Aiden tau sekarang jawabannya. Tanpa Keenan harus memberi jawaban padanya. Tapi Aiden takkan mundur, ia sudah terlanjur menaruh hati pada Zoya si gadis skeptis itu. Tak lama Keenan mendengar Aiden juga berpamitan. Zoya mengantar Aiden hingga ke mobilnya.


Lalu Zoya melihat ke arah rumah atap, sementara Keenan masih terpaku mengingat-ingat ucapan Aiden yang sangat mengejutkan tadi. Kedatangannya ke rumah atap untuk pertama kalinya bukan tanpa alasan. Karena kali ini, perasaan Aiden sudah semakin dalam.


Namun terdengar ketukan pintu dan ternyata Zoya yang kembali datang menghampiri Keenan.


"Masuklah, nggak dikunci!" ucap Keenan.


Zoya perlahan masuk dan duduk di dekat Keenan. Keenan memberikan senyumannya.


"Ada apa, Zoya? Aiden udah pergi?" tanya Keenan dengan lembutnya. Iya, Keenan tak seperti biasanya yang selalu bersikap kekanakan. Kali ini ia sedikit bersikap dingin.


"Hum, kenapa wajah kamu ditekuk sejak tadi. Apa karena aku sama Aiden asyik sendiri, tadi. Maaf ya!" ucap Zoya menyadari kalau ia tadi bersikap agak cuek pada Keenan.


Keenan tersenyum saja, "Maaf untuk apa Zoya, bukannya itu wajar. Kamu kan..." Keenan tak lagi melanjutkan ucapannya.


"Maaf Zoya, tapi aku mau istirahat sebentar, buat persiapan nanti malam. Kamu istirahatlah, hati-hati nanti saat jalan dengan Aiden!" pesan Keenan.


"Kamu ini, makasih ya! Yaudah, aku keluar dulu!" ucap Zoya namun tiba-tiba Keenan berdiri meraih tangan Zoya dan menjatuhkan Zoya dalam pelukannya.


Zoya antusias terkejut, karena Keenan begitu erat memeluknya. Andai saja ia bisa mengatakannya, namun ia tak bisa, Keenan tak mampu melakukan itu. Karena seperti ada yang tertahan di dadanya dan Zoya dengan segera melepaskan dekapan Keenan tersebut.


Plak!!!


Balasan yang selalu Keenan dapatkan, benar-benar tak pernah bersikap manis. Keenan memegangi pipinya sekilas dimana Zoya mendaratkan tangannya tadi.


"Bersikaplah lebih sopan!" ucap Zoya dan hendak pergi dari hadapan Keenan. Namun Keenan berseru lagi.


"Gimana kalau Aiden yang memeluk kamu?"


Pertanyaan itu membuat Zoya menghentikan langkahnya dan menatap dengan mata membola pada Keenan.


"Gimana kalau dia yang memeluk kamu, apa kamu akan menyambutnya, kamu nggak mungkin menampar dia, seperti yang kamu lakuin ke aku, barusan, 'kan?" tanya Keenan pilu.


Namun, Zoya pergi begitu saja tanpa menghiraukan Keenan. Keenan terduduk lesu karena balasan yang diterimanya tadi. Namun, ia tak ingin berlama-lama termenung, ia harus melanjutkan hidupnya dengan melakukan hal selanjutnya. Seperti yang Jordan katakan, hatinya harus bahagia karena Keenan akan menghibur jutaan pasang mata yang akan menonton performance nya nanti.

__ADS_1


__ADS_2