Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Akhirnya


__ADS_3

Setelah menyelesaikan bulan madunya di kota B. Chelsea dan Aiden sudah kembali lagi ke kediaman Chelsea. Ternyata kedatangan mereka tengah disambut para orang tua pengantin baru.


"Selamat datang!" ucap mereka bersamaan, Nike Hilman dan Fadli serta seorang art yang diminta datang oleh Nike.


"Makasih ya, waduh..ini pakai acara penyambutan segala ma!" ucap Chelsea pada Nike. Dimana sejak menikah akhirnya Chelsea benar bisa merasakan memiliki seorang ibu.


"Kamu kan menantu kesayangan mama, menantu satu-satunya juga, tentu mama harus memperlakukan kamu dengan spesial, sayang." ucap Nike.


"Makasih ya ma," ucap Chelsea seraya mengecup pipi Nike.


"Ayo kita duduk dulu!" ajak Fadli kemudian mereka menyambung obrolan di ruang tamu. Sementara Nike memperkenalkan mbak Siti pembantu baru Chelsea. Karena Chelsea sudah jadi nyonya Aiden dan masih bekerja sebagai sekertaris, Nike ingin ada yang membantu paling tidak memasak atau mengurus hal lain guna membantu Chelsea.


"Ini Siti, panggil aja mbak Siti. Mama mau kamu ada yang bantuin, kamu kan sibuk kerja juga jadi sekertaris Aiden, jadi seenggaknya ada yang meringankan pekerjaan kamu jadi kamu bisa tetap fokus mengurus suami dan karir kamu." ucap Nike.


"Iya, kamu jangan salah paham dulu ya nak, kami sangat menyayangi kamu, makanya kami mau kamu tetap bahagia menjalani hari-hari kamu," ujar Hilman.


Aiden angkat bicara karena sebenarnya itu adalah idenya.


"Sebenarnya ini ideku sayang, aku minta mama carikan art untuk kamu, maaf ya, aku nggak bertanya dulu sama kamu." ucap Aiden


"Nggak apa-apa chief, makasih ya semua!" ucap Chelsea sehingga Hilman mengernyit


"Kamu masih memanggil Aiden, Chief?" tanya Hilman dengan senyuman.


"Eh, maksud aku. Mas Aiden, iya." sahut Chelsea tersipu.


"Nah itu baru cocok ya, pak Hilman, wajarlah masih baru masih canggung hehe.." imbuh Fadli sehingga disusul tawa Hilman dan Nike.


"Iya, nanti juga lama-lama terbiasa ya, Chel hehe.." timpal Nike dengan senyum merekah kearah Chelsea.


"Iya ma,"


"Yaudah kalian istirahat dulu, ya! Kami mau pulang dulu," ujar Hilman.


"Kok buru-buru banget ma, pa?" tanya Chelsea.


"Kami ada urusan sayang, lain kali kalian berkunjung ya, kerumah! Aiden pak Fadli kami permisi, assalamualaikum!" ucap Nike.


"Waalaikumsalam." sahut mereka.


Sementara Chelsea mengajak Mba Siti ke dapur sejenak, Aiden dan Fadli meletakan koper di kamar megah nan mewah yang sudah Fadli siapkan khusus untuk mereka.


"Gimana honeymoon kalian, semoga kalian cepat dapat momongan ya!" ujar Fadli seraya meletakan koper di kamar mereka.


"Nah ini kamar kalian ya, makasih karena kamu bersedia tinggal disini, padahal rumah kami tak sebagus rumah kamu!" ucap Fadli.


"Ayah ini bicara apa, sih? Sama aja kok, yang membedakan kita hanyalah amal kita," sahut Aiden. Itu kenapa Fadli sangat menyukai menantunya itu.


"Kamu benar nak, yaudah ayah tinggal dulu, ya! Kamu istirahat dulu!" ujar Fadli.


"Hum..makasih ayah!" ucap Aiden kemudian beranjak mandi. Sementara Chelsea menyusul Aiden ke kamar mereka. Chelsea bahagia, dulu kamar itu hanya ia tiduri seorang diri, sekarang tak menyangka sudah ada pria yang menemaninya.

__ADS_1


Pria yang akan ia lihat setiap kali ia membuka mata menyambut pagi yang menyingsing. Terdengar Aiden tengah mandi sementara Chelsea merapikan kamar, sebenarnya Mba Siti sudah merapikan namun Chelsea menata beberapa hal lain.


Chelsea tengah menyandarkan diri di ranjang empuknya setelah menyiapkan pakaian untuk sang suami, sementara Aiden pun keluar dari toilet dengan lilitan handuk. Kemudian menghampiri Chelsea yang membantunya memakai pakaian.


"Makasih ya, dik!" ucap Aiden seraya mengecup pipi Chelsea.


"Sama-sama mas, makan siang udah siap, kamu mau makan sekarang?" tanya Chelsea.


"Hum..nanti aja sayang, aku mau selonjor kaki dulu sambil peluk kamu di ranjang!" ajak Aiden seraya merangkul Chelsea ke ranjang.


"Yaudah, sesuai keinginan mas aja hehe.." sahut Chelsea dengan lembutnya.


Aiden menyandarkan Chelsea dalam pelukannya dan mengecup kening istrinya itu.


"Gimana perasaan kamu selama seminggu ini jadi istri aku?" tanya Aiden hendak mengetahui sesuatu takut-takut ada yang keliru dari sikap Aiden padanya.


"Bahagia Mas, aku senang banget!" ucap Chelsea.


"Syukurlah, aku masih capek sayang, aku tidur sebentar aja ya!" ujar Aiden seraya merebahkan diri masih dengan mendekap Chelsea.


"Istirahat mas, aku mau mandi juga ya!" Chelsea pun menuju ke toilet beranjak mandi serta membiarkan Aiden beristirahat. Aiden yang merasa segar setelah mandi, jadi mudah terlelap.


***********


Malam semakin larut, Keenan baru saja menyelesaikan nonton drama korea favoritnya. Seperti biasa Zoya yang kandungannya makin besar jadi mudah terlelap. Zoya sudah tidur dengan posisi tubuh miring ke kiri menghadap dirinya.


Wanita hamil memang disarankan tidur posisi berbaring ke arah kiri agar pasokan oksigen pada janin tercukupi.


Keenan mengelus seraya membacakan surat-surat pendek untuk ketenangan janin yang tumbuh di rahim sang istri.


"Sehat-sehat ya, calon anak papa, semoga kelahiran dede nanti dilancarkan sama Allah. Sekarang papa sama mama mau tidur dulu, assallamuallaikum kesayangan papa!" ucap Keenan seraya mengecup perut buncit sang istri.


Keenan terbaring lagi dan tiba-tiba ia teringat kembali akan awal mula pertemuannya dengan Zoya. Wanita yang kini sudah jadi istrinya itu. Perkelahiannya adu mulutnya hingga akhirnya mereka mengikat tali cinta.


Kilas balik demi kilas balik ia putar dalam memorinya. Sesekali ia menyimpulkan senyuman sesekali menatap sang istri yang terlelap disampingnya.


"Nggak terasa sayang, waktu begitu cepat berlalu dan sebentar lagi kita akan dikaruniai anak. Semoga, cinta kita abadi hingga tua ya, muah.." gumam Keenan seraya melayangkan kecupan demi kecupan di pipi sang istri.


********


Pagi ini, Dila meminta Keenan menjemputnya di mansion karena Dila hendak melihat-lihat pool taksi miliknya. Setelah siap, Dila memasuki taksi dan mereka beranjak menuju ke pool taksi.


"Rapi banget anak ibu yang ganteng ini, gitu dong. Sebagai pimpinan berusahalah bersikap rapi dan sopan, agar menjadi teladan bagi bawahan kamu!" ujar Dila seraya merapikan rambut Keenan.


Keenan mengangguk, "Makasih ya bu, doain aku terus supaya aku bisa jadi manusia yang lebih baik kedepannya!" pinta Keenan.


"Ibu selalu doain kamu, sayang." ucap Dila dengan terus mengulas senyuman dari wajah yang sudah menua namun masih sedap dipandang mata.


Keenan kembali melajukan taksinya namun betapa terkejutnya Keenan melihat Mario dihajar oleh sekelompok pemuda.


"Bu, itu bukannya ayah?" tanya Keenan.

__ADS_1


"Ayah, jangan ngawur kamu, nak! Ayah kan udah di kantornya saat ini!" kilah Dila seraya memperhatikan seseorang yang Keenan maksud.


"Ayah Mario bu, aku mau menolongnya, bu!" Keenan membuka sabuk pengaman dan bergegas keluar dari taksinya.


"Keenan, jangan!!" Namun Keenan sudah menghampiri mereka.


"Berhenti!"


"Siapa kamu?" tanya salah seorang dari keempat pria tersebut.


"Siapa aku itu nggak penting, sekarang. Lepaskan ayah saya!!"


"Lepasin, kamu tau, dia berhutang sama kami 10 juta. Udah sebulan dia kabur-kaburan, sudah pengangguran belagu, cih!" ungkap salah seorang pria dengan mendecih.


"10 juta!!" Keenan terbelalak seraya menelan saliva.


Begitu pun dengan Dila yang menyusul putranya itu.


"Udah nak, biarlah dia menanggung akibat dari perbuatannya, ayo kita pergi!" ajak Dila seraya menarik tangan Keenan.


"Bu, pinjami dulu ayah, uang 10 juta, aku janji akan melunasinya, kasian ayah bu!" pinta Keenan.


"Keenan, ngapain kamu peduli sama ayah nggak berguna, seperti dia. Karena dia kita terpisah nak, karena dia!" Dila menghentikan ucapannya karena Keenan terus memohon.


"Please bu, aku janji akan mengganti dengan mencicil!"


Dila menyetujuinya dan akhirnya hutang Mario lunas. Keenan dan kedua orang tua kandungnya kini berada didalam taksi. Keenan mengobati luka memar di wajah Mario. Sementara Dila tak pelak memandang mantan kekasih yang tega merenggut kesuciannya itu.


"Auh, pelan-pelan bodoh!" ucap Mario sehingga membuat Dila geram.


"Maaf ayah!" ucap Keenan sehingga ia mengobati Mario dengan lembut.


"Dila, gimana kabar kamu. Maaf aku jadi merepotkan kamu, tapi ini bukan keinginan aku ya, tapi keinginan anak pembawa sial ini, aku nggak mau kamu menyalahkan aku, nantinya!" ujar Mario malah sarkas pada Keenan.


Keenan sepertinya bersikap biasa saja, ia sudah kebal dengan hinaan. Ia tetap fokus membalut luka sang ayah dengan plester di bagian pipi dan keningnya yang terluka.


"Kamulah pembawa sial itu, jangan pernah menghina anakku! Bahkan, dosamu harusnya nggak termaafkan, kamu yang menodai aku, saat aku melahirkan Keenan, kamu meminta aku membuangnya, sekarang kamu malah merutuki dia, seolah kamu manusia paling baik di dunia, harusnya kita malu Mario, anak yang nggak kita harapkan malah membawa kebahagiaan untuk kami, jadi jagalah bicaramu!!" ujar Dila dengan netra yang mengembun.


"Jangan bicara begitu, bu! Lupakan aja masa lalu, dengan cara apapun aku terlahir, aku tetap bersyukur karena kalian masih ada saat ini!" pinta Keenan seraya menggenggam jemari sang ayah dan mengecupnya.


Suasana haru menyeruak didalam taksi, tiba-tiba Mario memeluk putra yang selalu diketusinya itu. Ia sudah lama menahannya meski dihatinya ia merasa menyesal, tapi terkadang sikapnya selalu bertolak belakang.


"Maafin ayah nak!" Tiba-tiba pria paruh baya itu memeluk tubuh kekar yang habis mengobati lukanya. Dila tersenyum haru sesekali bulir airmata lolos begitu saja dari pelupuk mata.


"Aku juga minta maaf ayah, andai kita lebih cepat bertemu, aku pasti bisa merawat ayah! Jangan tinggalin aku lagi ya, jadilah ayahku mulai saat ini!"


"Iya, ayah adalah ayah kamu. Lakukan sesukamu, ayah akan mendukungnya!" ulas Mario sehingga Keenan melepas pelukan dan memberikan tisu agar Mario menghapus airmatanya.


"Makasih ayah, yaudah kita lanjut berbincang di pool ya!" ajak Keenan sehingga ia lajukan lagi taksinya menuju ke pool taksi agar mereka bisa mengobrol.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2