
Sembari menunggu Zoya pulang. Keenan yang tengah dirumah tengah memberi makan kucing barunya di kamarnya. Ia duduk dan memainkan gitarnya seraya bernyanyi lagu Korea kesukaannya.
"Pus..pus..Michi, aku hari ini sengaja nggak jemput Zoya. Karena aku mau kasih dia kejutan hehe.." ujar Keenan seraya memetik gitarnya untuk bernyanyi dengan memakai kaos warna pink pastel dan celana kolor hitam, sangat manis.
Sedangkan Zoya yang baru pulang kesal karena Keenan tak menjemputnya. Padahal Zoya sudah hubungi berkali-kali namun Keenan tak menjawabnya. Zoya yang baru datang serta mengucap salam merengut kesal. Ia duduk di samping Keenan dan mencium punggung tangannya.
"Kenapa mukanya ditekuk begitu?" tanya Keenan sedikit tersenyum tipis.
"Kenapa kamu nggak jemput aku, kamu kan udah pulang?" tanya Zoya kesal lalu masuk ke toilet dan mandi.
Keenan pun mengeluarkan kucing itu dan diletakannya di depan toilet. Zoya cukup lama mandi hingga tak sengaja saat keluar Zoya menginjak buntut Michi hingga Michi memekik.
Meow...
"Eh, Meow. Kucing siapa ini bagus banget?" tanya Zoya dengan segera menggendong Michi, kucing belang itu.
"Kucing untuk kamu sayang." sahut Keenan.
Namun Zoya mulai lagi, ia curiga Keenan mencurinya dari rumah seseorang. Zoya menaruh kucing itu lagi.
"Kamu nyolong dimana, kamu tau 'kan kucing Persia ini mahal?" tanya Zoya seraya duduk di ranjang di samping Keenan.
"Dikasih Zoya sama pelanggan. Aku nggak mencuri Zoya," jawab Keenan merasa bergetar karena Zoya mencecarnya.
"Jangan bohong sayang, mana ada yang kasih kucing secara cuma-cuma seperti ini?" tanya Zoya kekeuh.
"Aish, seumur hidup, aku nggak pernah nyolong, jangan nuduh aku nyolong mulu, kenapa!" pinta Keenan kemudian memainkan gitarnya lagi.
"Yaudah, kalau gitu aku percaya." sahut Zoya namun masih menatap Keenan dengan nyalang.
"Apa lagi, perlu bukti, hah.." tanya Keenan sehingga Zoya tersenyum dan menciumnya bibirnya sekilas sehingga terpancarlah senyuman dari bibir kemerahannya itu.
"Siapa namanya, udah dikasih?" tanya Zoya.
"Michi, masih nama yang Dewa berikan." jawab Keenan seraya mengelus bulu Michi.
"Lucu juga, yaudah. Kamu udah makan belum?" tanya Zoya seraya menatap Michi namun Keenan menjawabnya.
"Belum sayang, aku nunggu kamu." sahut Keenan dengan menatap Zoya.
__ADS_1
"Aku nggak nanya kamu, aku nanya Michi. Mana makanannya?" tanya Zoya membuat Keenan memelas.
Keenan meringis lalu memberikan makanan Michi di sebuah mangkuk. Zoya segera menyambar mangkuknya dan memberikannya pada Michi. Michi makan dengan lahap, lalu Zoya mencium Keenan lagi.
"Ah, aku dicium terus hehe.." ucap Keenan namun Zoya malah menciumnya lagi.
"Ada apa sayang hehe.." wajah Keenan memerah karena tersipu. Benar-benar manis, dan memang makin manis.
"Makasih ya, kamu tau aja. Aku emang udah lama kepingin kucing dan kamu mengabulkannya saat ini muach..muach..muach.." Keenan tiada henti diciumi oleh Zoya hingga Zoya kini menindihnya yang jatuh terlentang di ranjang.
Deru nafas itu terdengar bergemuruh membuat Keenan menelan saliva. Kini Keenan ganti mengangkat kepalanya dan memeluk tengkuk Zoya kemudian melumatt bibir sang istri dengan lembut. Keenan dan Zoya saling tersenyum dan Zoya menempelkan hidungnya ke hidung Keenan kemudian Keenan melumatt bibir itu kembali. Dan si Michi hanya terdiam sambil memperhatikan majikan barunya bercumbu di hadapannya.
Jika Michi bisa bicara mungkin dia akan protes karena kucing jantan itu hanya bisa melihat. Karena ia tak punya pasangan untuk diajaknya saingan.
"Sayang, Michi kok melihat kita kayak gitu, ya hehe.." tanya Zoya yang menyudahi cumbuan bersama Keenan.
"Kayaknya dia pingin juga, tuh! Tapi nggak bisa haha.." sahut Keenan.
"Emang iya, apa? Jangan sok tau kamu hehe.." ucap Zoya seraya meraup wajah Keenan.
"Aish, aku emang sok tau. Aku kan penipu, sayang hehe.." ujar Keenan.
Lalu Zoya membawa Michi kedalam pangkuannya. Namun Keenan kini memeluk Zoya dari belakang seraya membelai Michi yang sangat imut dan lucu itu. Menciumi tengkuk Zoya hingga si empunya meneguk saliva dan si Michi kembali cemberut karena bahkan Keenan masih meneruskan cumbuannya itu. Apa kucing bisa merasakannya, tak tahulah. Aku hanya menghalu aja.
"Yaudah, kita nonton tv aja ya!" ajak Zoya.
"Hum.." sahut Keenan.
Mereka sengaja menaruh tv dan membuat kamar mandi didalam kamar pribadi agar mereka bisa menghabiskan waktu didalam kamar. Karena Keenan terbiasa tinggal di rumah petak sehingga buatnya rumah yang terlihat sederhana itu terlihat cukup besar bagi Keenan.
"Oh, iya gimana kabar, Aiden sama Chelsea?" tanya Keenan memastikan.
"Mereka baik, aku hanya ketemu Aiden tadi. Kalau Chelsea, aku nggak tau." jawab Zoya kemudian beranjak dari pangkuan Keenan seraya menggendong Michi.
"Aiden tadi menghubungi aku, entah mau apa. Aku malas ketemu dia." ujar Keenan seraya menunjukan bukti panggilan pada Zoya.
"Balas aja kamu sibuk, kalau kamu nggak mau menemui dia. Yaudah, aku masak dulu, ya! Kamu mau makan apa hari ini?" tanya Zoya.
"Apa aja sayang yang penting kamu yang masakin hehe.." jawab Keenan.
__ADS_1
"Yaudah, ayo Michi temani aku masak, ya!" Dan Zoya mengajak serta Michi ke dapur untuk menemaninya memasak. Keenan kembali memetik gitarnya dan menyanyikan lagu dengan suara merdunya.
"Sayang, jangan gitaran aja, bantuin aku masak!" pekik Zoya dari dapur.
"Iya sayang," sahut Keenan segera mendatangi Zoya karena kalau tidak Zoya bisa memarahinya. Semacam suami takut istri, ya Keenan.
Sementara itu Aiden tengah mengajak Chelsea kali ini. Mereka mendatangi tempat karaoke, Chelsea awalnya canggung karena ia baru merasakan lagi kedekatan mereka. Mereka tengah berada di ruang karaoke saat ini.
"Kamu mengajak aku karaokean, Aiden hehe.." ujar Chelsea.
"Iya, kamu bisa memilih lagu rock, atau metal, pokoknya lagu yang bisa membuat hati kamu lebih nyaman!" ujar Aiden.
Chelsea menyimpulkan senyuman manisnya, ia pun memilih lagu yang membuat perasaannya lebih tenang. Setelah itu mereka menyanyi bersama. Aiden pun membelai rambut Chelsea dan Chelsea kini tersenyum serta membalas tangan Aiden dengan menggenggamnya. Aiden sempat kikuk, ia merasa diliputi perasaan canggung yang tiba-tiba menerpa jiwanya.
Selama ini, Chelsea yang hanya merasai. Namun Aiden menyandarkan Chelsea dalam pelukannya.
"Maaf pak Aiden!" Chelsea berusaha menarik diri.
"Bisakah?"
Sejenak Aiden terdiam, ia menghela nafasnya. CEO tampan itu sudah lama mengalami kesendirian. Saat ia mencinta, ternyata cintanya kandas begitu saja dengan Zoya saat Zoya memilih Keenan.
Sangat sulit baginya kembali mengutarakan perasaan. Perasaan untuk menjalin asmara lagi dengan seorang wanita. Manakala ia pernah mengalami luka yang teramat sangat.
"Chelsea, kapan kamu akan melupakan Keenan dan membuka hati pada pria lain?" tanya Aiden dengan menelan saliva berkali-kali.
"Melupakan Keenan? Kenapa aku harus melupakan dia, Aiden?" tanya Chelsea dengan perasaan seperti ada yang tercekat. Campur aduk antara ragu, bahagia dan tak menyangka.
"Karena, aku juga sedang belajar melupakan wanita yang selama ini aku pikir bisa membahagiakan aku, tapi kita mengalami nasib yang sama. Kita menyedihkan bukan? hiks..hiks.." Aiden malah terisak di pundak Chelsea.
CEO yang sok kuat itu akhirnya tumbang dalam pelukan Chelsea. Mengeluarkan semua yang ia rasakan. Betapa cinta telah membuatnya terluka.
"Kamu menangis, Aiden?" tanya Chelsea yang membelai punggung Aiden. Isakan itu semakin terdengar.
"Aku hanya emosional, bukan menangis hiks..hiks.." sanggah Aiden dan rasanya Chelsea malah ingin tertawa tapi ia menahannya dan tak tega.
"Cup..cup.. CEO bisa menangis juga, ya.." ujar Chelsea namun Aiden masih meneruskan isak tangisnya.
Mereka saling berpelukan ditengah iringan musik lagu melow yang mereka pilih kali ini. Aiden belum ingin melepas pelukannya itu. Sudah lama ia butuh memeluk seseorang saat kehilangan yang teramat sangat. Chelsea malah ikut terharu dibuatnya.
__ADS_1
*********