Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Masuk angin


__ADS_3

Keenan sempat merasa lucu dengan ucapan orang kaya baru. Memang siapa yang kaya, dia tetaplah sopir taksi yang berjuang mencapai asa. Hanya karena ancaman dari Risna, ia takkan menyerah begitu saja. Sebaliknya, ia akan tetap menjadi Keenan yang apa adanya hingga Risna menerimanya.


Keenan hanya perlu menambah jam kerjanya. Biasanya dia sudah pulang saat sore hari. Namun, ia akan menambah jam kerjanya hingga malam hari. Namun lagi dan lagi saat Keenan akan mengunjungi Zoya, Aiden tengah mengobrol dengan Zoya di teras depan rumah Zoya.


"Hai Aiden!" sapa Keenan.


"Keenan, pas ada kamu. Kamu bisa main basket?" tanya Aiden tiba-tiba.


"Bisa, tapi aku malas main sama kamu." kilah Keenan sudah menolak saja sebelum Aiden mengajaknya.


"Iyalah, kamu kan pasti kalah melawanku makanya kamu malas main sama aku." ujar Aiden.


"Haish, lihat tampilan kamu, CEO Aiden. Masa' main basket pakai jas dan sepatu," tukas Keenan.


"Oke, Zoya aku pinjam sandal jepit." pinta Aiden.


Aiden melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sendal jepit. Melepas jas abu-abunya dan tersenyum menatap Keenan.


"Ayo!" ajak Aiden lagi.


"Oke!" sahut Keenan.


Sehingga tak lama mereka tiba di lapangan basket. Sementara Zoya melihat mereka yang begitu semangat bermain. Sudah lama Aiden tak bermain basket, sehingga Aiden terlihat lebih baik karena dia mantan pemain basket dulu. Namun mereka sama hebatnya. Dan Zoya malah mendukung habis Aiden karena sangat terlihat permainan Aiden jauh lebih baik.


"Wah, pak Aiden hebat!" ucap Zoya antusias.


"Lihatlah, siapa kekasihnya. Kenapa dia dukung, Aiden!" gumam Keenan yang sempat lengah sehingga dengan sengaja Aiden melayangkan bola basket itu ke kepala Keenan.


"Auh..." Keenan meringis seraya memegangi kepalanya yang pening karena terkena senteran bola basket.


Melihat hal itu Zoya segera menghampiri Keenan. Zoya sempat kesal dengan Aiden.


"Kenapa, melempar Keenan bola, pak Aiden?


"Kamu baik-baik, aja?"


Keenan hanya mengangguk dan memijat kepalanya yang sedikit tegang. "Salah dia, kenapa bengong segala! Apa dia cemburu karena kamu lebih mendukung, aku, Maaf Keenan!" tukas Aiden.


"Udah nggak apa-apa, ini bukan apa-apa. Ayo, kita main lagi!" ajak Keenan.


Dua pria yang sama-sama mencari perhatian Zoya sangat bersemangat bermain basket. Sesekali Aiden mengedipkan sebelah matanya ke arah Zoya. Keenan mendengus kesal dan kewalahan menghadapi Aiden sehingga mereka menyudahi pertandingan dan duduk di sebuah kursi yang berada di dekat lapangan basket.


Zoya membawakan minuman untuk bosnya dan kekasihnya. Setelah meminumnya Keenan menghela nafas berat.


"Capek, Keenan?" tanya Aiden.


"Nggak. Biasa aja, kamu kayaknya capek!" jawab Keenan seraya meneguk minumannya.


"Ah, nggak." sahut Aiden "Maaf, aku tadi melempar bola basket, aku nggak sengaja!" ucap Aiden.

__ADS_1


"Tapi, kayaknya kamu sengaja. Lemparan kamu tadi tepat sasaran, apalagi kamu mantan pebasket," ujar Keenan menyunggingkan senyum.


"Hei, kamu mau bikin masalah lagi!" ucap Aiden.


"Udahlah, kalian mulai ribut lagi. Keenan, kamu makan dulu, ya!" ajak Zoya.


"Hanya dia yang diajak, aku nggak?" tanya Aiden.


Keenan memberikan senyuman, "Ajaklah Aiden, Zoya! Kepala aku agak pusing, aku akan beli nasi padang di dekat rumah! Aku duluan," ujar Keenan yang tak lagi marah pada Aiden.


"Tapi Keenan!" sanggah Zoya namun Aiden memegang tangan Zoya mencegahnya mengejar Keenan.


Keenan tengah mengecek tabungannya dari ponselnya. Ia seharusnya akan membeli sepeda lipat, namun ia serasa tidak mood dengan hal itu sekarang. Setelah membeli nasi padang Keenan berpapasan dengan Risna di depan rumah. Keenan memberikan senyuman namun tidak dengan Risna. Keenan kembali ke rumah atap dan memakan nasi padang itu.


Sedangkan Aiden makan bersama dan dijamu dengan hangat oleh Risna.


"Jangan sungkan nak Aiden, anggap aja rumah sendiri!" ucap Risna.


"Makasih, bu Risna!" ucap Aiden dan memberikan senyuman pada Zoya.


"Zoya, ajak juga Keenan makan bersama kita!" ajak Sandi.


"Ayah dia udah beli nasi padang tadi. Nggak usah ngajakin dia, ah!" kilah Risna sehingga Aiden tersenyum tipis.


"Padahal aku biasa masakin dia," keluh Zoya pelan.


Hujan turun membasahi kediaman Zoya kali ini. Aiden kembali pulang menuju ke mobilnya namun memberikan satu kecupan di kening Zoya.


"Aku sayang kamu, Zoya. Aku duluan!" ucap Aiden kemudian membuka pintu mobilnya dan beranjak pergi.


"Pak Aiden!" Zoya terdiam sejenak dan Zoya segera membuyarkan lamunan beranjak melihat Keenan di rumah atap.


Zoya perlahan membuka pintu dan melihat Keenan yang tertidur dengan menutup seluruh tubuhnya. Hanya terlihat kepalanya saja, Zoya yang biasanya pemalu jadi lebih berani kali ini.


"Sayang, kamu tidur? Mau makan lagi nggak?


Zoya perlahan membuka selimut Keenan dan membelai rambut Keenan merasakan badannya yang dingin, menggigil, disertai batuk-batuk.


"Kamu nggak tidur, sayang?" tanya Zoya lalu mengelus-elus kening Keenan.


"Mual sayang." jawab Keenan.


"Abis dari rumah kamu sendiri, kok. Mual? Apa kamu nggak makan?" tanya Zoya.


"Aku nggak selera makan. Zoya, gimana kalau dalam waktu 3 hari aku nggak bisa dapat uang yang diminta ibu kamu, Hoek..Hoek..maaf sayang aku..." Keenan beranjak ke toilet lagi.


Zoya merasakan Keenan yang masuk angin. Zoya segera mencari balsam dan uang koin. Ia harus mengerok punggung Keenan. Sekeluarnya dari toilet Keenan duduk di samping Zoya. Ia nampak lemas dan berkeringat dingin.


"Buka baju kamu!" titah Zoya.

__ADS_1


"Kok, kamu jadi agresif sayang. Kamu mau ngapain?" tanya Keenan bingung.


"Mau perkosa kamu!!" ujar Zoya.


"Hah?"


Melihat Keenan yang terkejut, Zoya memancarkan senyumannya dan menarik hidung Keenan.


"Mau kerokin kamu, sayang. Cepatlah, buka bajunya sekarang!" titah Zoya.


"Celana juga buka nggak hehe.." kelakar Keenan.


"Bukalah!" ucap Zoya sedikit kesal.


"Beneran?" tanya Keenan antusias.


Zoya segera menarik telinga Keenan. "Yeh, semangat banget disuruh buka celana!"


"Bercanda sayang!" ucap Keenan.


Zoya sengaja mengetes Keenan. Apakah dia benar-benar berani melakukan hal itu. Setelah diajak mengobrol soal itu. Keenan jadi terlihat berseri padahal jelas wajahnya terlihat begitu pucat.


"Udah ah, bercanda aja! Menghadap ke sana, biar aku kerokin! Ini obat paling manjur saat dilanda masuk angin, nanti aku buatin bubur ya, perut kamu harus diisi. Sama aku buatin air jahe buat meredakan batuk kamu." ucap Zoya seraya mengeroki punggung Keenan. Tubuh yang awalnya besar itu kini jadi agak kurus.


"Nggak sayang, aku mual banget. Jadi, kamu nggak usah buatin macam-macam!" pinta Keenan.


"Yaudah kalau gitu, kamu kurusan sayang, banyak pikiran, ya?" tanya Zoya sambil tangannya itu membuat garis merah di punggung Keenan. Garis yang bahkan agak menghitam.


"Nggak, aku mau diet." jawab Keenan.


"Gaya banget diet segala. Oh, iya sayang. Kenapa kamu suka sama aku?" tanya Zoya.


Keenan tersenyum, "Kenapa, ya? Nggak tau sayang, mungkin karena kamu ngeselin haha.." jawaban Keenan membuat Zoya mengerok punggung Keenan makin kencang.


"Auh, sakit. Udah-udah, ini punggung bukan asahan." ucap Keenan.


"Karena aku cantik, kek!" harap Zoya dengan senyuman.


"Iya, karena kamu cantik dan lucu haha.." ucap Keenan disusul tawanya. Zoya sendiri hanya menanggapi dengan senyuman.


Setelah selesai mengerik Keenan, Zoya merebahkan diri disamping Keenan dengan berselimut. Zoya mengelus-elus pipi Keenan dan terus memandangi wajahnya. Saat melihatnya begitu dekat, wajah itu begitu meneduhkan. Keenan terlihat lebih baik setelah Zoya merawatnya tadi.


"Makasih ya sayang!" ucap Keenan seraya terus memandangi wajah Zoya yang tertidur di pelukannya. Zoya hanya mengangguk dan mereka kembali mendekatkan wajah mereka untuk berkecupan.


Namun Zoya segera beranjak, "Aku kebawah dulu, Keenan! Kamu istirahat, ya!" ucap Zoya lalu segera pergi dari hadapan Keenan. Keenan tersenyum lalu kembali menutup wajahnya dengan selimut karena kegirangan.


Ia pun kembali membuka selimutnya mengambil gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu. Seperti bertenaga lagi setelah mendapat perhatian dari sang kekasih.


************

__ADS_1


__ADS_2