Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Maukah denganku?


__ADS_3

Karena hari ini Keenan tak bekerja, dia jadi bingung harus melakukan apa. Jika menggoda Zoya tak mungkin karena ia bekerja hari ini. Ia rebahan di kursi bale seraya menatap langit biru dihiasi awan putih. Hari ini terang benderang, Keenan menatap ponselnya merasa bingung akan kemana.


Blubuk..blubuk..


Satu pesan masuk meminta jasanya namun ia menolaknya. Tak lama bunyi blubuk..blubuk..itu terus menghiasi layar ponselnya. Andai dia bekerja tadi dia pasti takkan sebingung ini. Keenan mengedarkan pandangan melihat jemuran Zoya tadi. Ia melihat bra yang talinya pernah putus karenanya sudah terjahit lagi. Keenan terkekeh jika mengingat kejadian itu.


"Haduh, dia udah menjahitnya lagi. Padahal kalau dia minta aku yang menjahitnya, aku bersedia, kok." monolog Keenan sesekali menghela nafas berat.


"Kemarin kamu doakan aku ditolak sama Chelsea, Zoya. Kalau gitu aku juga akan berdoa pada Tuhan supaya Aiden nggak jadi menyatakan cinta ke kamu, dan kamu akhirnya jadi milikku. Ah..ngarep banget kamu, jelas perbedaan kamu dan Aiden sangat jauh, udah pasti Zoya memilihnya, lah.." gumam Keenan terus saja berujar sendiri.


********


Setibanya di perusahaan, ada yang cukup mengejutkan karena dengan percaya dirinya Aiden menggandeng tangan Zoya memasuki perusahaan besar nan megah miliknya. Zoya merasa canggung dan malu karena bawahan Aiden menatapnya.


"Pak Aiden, Maaf tapi, ini terlalu mencolok, apa bapak bisa menghentikan sikap bapak?" tanya Zoya namun Aiden tak menggubrisnya.


CEO muda itu dengan bangganya seperti memperlihatkan kalau Zoya telah menjadi miliknya. Hingga mereka tiba hadapan Chelsea yang bahkan tak percaya melihat sikap Aiden tersebut.


"Apa aku nggak salah lihat, Aiden kenapa, dia benar-benar sudah kepincut dengan Zoya, huft!" gumam Chelsea pelan dengan tarikan nafasnya tak menyangka.


"Tapi terserahlah, malah bagus jadi 'kan nggak ada yang akan ganggu hubunganku dengan Keenan." imbuh Chelsea lagi tersenyum simpul sambil menyimak pekerjaannya lagi.


Zoya yang tak mengerti akan sikap Aiden merasa perlu untuk bertanya perihal sikapnya barusan. Sementara mereka duduk berhadapan di sofa yang berada di ruangan Aiden.


"Aneh?" ucapan itu terlontar begitu saja sehingga Aiden menyipitkan matanya.


"Apa yang aneh, Zoya?" tanya Aiden.


"Sikap pak Aiden barusan, kenapa tiba-tiba jadi bersikap seolah memiliki aku?" tanya Zoya dengan perasaannya yang tercekat.


"Apa aku salah, kalau aku menginginkan kamu?" tanya Aiden.


"Eh, menginginkan aku?" Zoya membulatkan matanya sejenak lalu menelan Saliva sesaat.


"Hum..aku menyukai kamu, Zoya? Aku mau kamu jadi milikku." ungkapan itu bagai sembilu disaat perasaannya sudah terbagi pada seseorang yang juga selalu ada untuknya saat ini.


"Ah," Zoya tak mampu berkata rasanya benar-benar mengejutkan.


"Kalau kamu masih ragu untuk menjawab, aku beri kamu waktu untuk berpikir, atau kamu udah memiliki perasaan pada yang lain, em..pada Keenan?" Aiden sangatlah to the point.

__ADS_1


"Iya, berikan aku waktu pak Aiden. Tapi, bukannya orangtua pak Aiden menyukai Chelsea?" tanya Zoya.


"Iya, tapi aku menyukai kamu, Zoya. Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Aku mau hidup bersama kamu, kamu yang tentukan, aku harap kamu bisa mempertimbangkan ini. Jadilah milikku, selamanya Zoya!" pinta Aiden seraya meraih jemari tangan kanan Zoya dan mengecupnya.


Zoya perlahan melepaskan tangan Aiden. Ia memberikan senyumannya dan menjawabnya.


"Berikan aku waktu, pak Aiden. Aku butuh waktu untuk memikirkan ini." pinta Zoya.


Aiden hening sejenak,


"Oke, aku tunggu jawabannya nanti sore. Kamu harus putuskan, Zoya! Sekarang, silakan kembali bekerja! Semangat kerjanya, sayang!" ujar Aiden memberikan senyum penuh ketulusan pada pujaan hatinya dan menambahkan kata sayang diakhirnya sehingga dibalas hal yang sama.


Zoya perlahan pergi dari ruangan Aiden dan berjalan perlahan menuju pantry.


Melihat gelagat Zoya, Chelsea jadi ingin tahu apa yang membuat Zoya nampak gusar itu. Chelsea perlahan melangkah ke pantry menyusul Zoya yang tengah membuat kopi. Zoya hanya seorang diri saat ini sehingga Chelsea bisa leluasa mengobrol dengan Zoya.


"Zoya, bisa kita bicara sebentar?" tanya Chelsea.


Mereka duduk berhadapan di kursi berbatas meja kali ini. Chelsea mengulas senyum dan mengatakan sesuatu.


"Aneh, baru kali ini Aiden bersikap posesif pada wanita. Apa kalian sudah menjalin asmara?" tanya Chelsea.


"Aku mendukung kalian, Kamu cocok kok berdampingan dengan Aiden, lagian kamu nggak menyukai Keenan, kan?" tanya Chelsea.


Zoya memijat pelipisnya lalu menatap dingin pada Chelsea.


"Maaf, tapi aku harus membersihkan ruangan!" sanggah Zoya lantas menghindari Chelsea.


"Putuskan lah Zoya, jangan menempatkan dua pria dalam satu hati. Pastikan kamu nggak menyesal akan keputusan kamu!" seloroh Chelsea membuat Zoya makin tak karuan. Namun ia tak menoleh, Zoya kembali melangkah untuk meneruskan pekerjaannya.


*******


Sore ini Zoya pulang dengan hati yang bimbang. Aiden bahkan berjanji akan menemuinya malam nanti. Perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya, bukankah selama ini hal inilah yang ia tunggu dan harapkan. Kenapa malah jadi galau seperti ini.


Zoya mempercepat langkahnya dan membersihkan dirinya. Kemudian ia mengangkat pakaiannya di rumah atap. Tak lama Keenan keluar menyapa Zoya.


"Hai Zoya, hari ini aku nggak bekerja dan aku merasa kesepian." sapaan Keenan ditanggapi dingin oleh Zoya.


"Aku nggak nanya!" ujar Zoya kemudian pergi berlalu dari hadapan Keenan.

__ADS_1


"Tunggu, Zoya!" pinta Keenan seraya meraih tangan Zoya. Zoya terhenti dan menatap tangan Keenan yang menggenggamnya.


"Aku..aku sayang sama kamu, Zoya. Aku..aku mau kamu jadi milikku, Zoya!" ungkapan itu membuat Zoya mematung sesaat.


Lalu Keenan meraih tangan Zoya dan menggenggamnya dengan erat. Zoya menelan Saliva saat pria yang selalu membuat hatinya berbunga itu menyatakan perasaannya pada Zoya.


Bagaimana ini, kenapa hari ini dua pria terdekatnya menyatakan perasaan bersamaan.


"Kamu bicara apa Keenan, bukannya kamu menyukai, Chelsea. Dengan bangganya kamu bilang, kalau kamu akan menyatakan perasaan. Sekarang, kenapa tiba-tiba kamu bilang cinta sama aku?" tanya Zoya.


"Ini bukan tiba-tiba, Zoya. Perasaan ini udah ada sejak pertemuan pertama kita, melihat sikap kamu. Tapi, nyatanya kamu nggak pernah ramah sedikit pun sama aku, sepertinya sikapku selalu aja memancing amarah kamu, aku terus memantapkan hati menyimpan perasaan aku, tapi nyatanya aku terlalu lama membiarkannya, karena.."


Plak...


Dengan sigap Zoya kembali mendaratkan tangannya di wajah Keenan yang masih memar.


"Bahkan sekarang aku salah lagi. Aku terus melakukan kesalahan, sehingga kamu menamparku!" gerutu Keenan dengan tatapan sendu.


"Kenapa harus sekarang, Aiden juga mengatakannya tadi, dia memintaku untuk bersamanya, kemudian sekarang kamu!" keluh Zoya sehingga ia terduduk di kursi.


Keenan menghela nafas mengusir kegundahan yang menerpa hatinya saat wanitanya juga dikagumi oleh pria yang jauh diatasnya. Memiliki segalanya, bukan seperti dirinya yang hanya orang tak berpunya.


Keenan duduk di dekatnya menyeka air mata yang keluar dari pelupuk mata yang membasahi pipi.


"Maaf jadi membuat kamu di posisi yang sulit Zoya!" ucap Keenan.


"Kamu baru menyadari Keenan, kalau kamu selalu menempatkan aku di posisi yang sulit?" tanya Zoya lagi.


"Jadi itu benar? Kamu katakan aja kesalahan aku, setelah itu tamparlah aku lagi, kalau kamu belum puas pukul aku juga, agar aku tau betapa aku udah salah menilai kamu, bukannya kamu selama ini selalu mengacuhkan aku, Zoya. Meskipun kamu baik tapi, ucapan kamu selalu menyudutkan hati." ungkap Keenan mengeluarkan uneg-uneg nya selama ini.


"Karena kamu pantas diperlakukan seperti itu, bodoh!" ucap Zoya.


Keenan tersenyum karena bahkan Zoya terus memberikan umpatan demi umpatan. Keluhan demi keluhan, jika berada di posisinya pasti akan terasa sulit. Keenan paham situasinya. Keenan meraih tangan Zoya dan menggenggamnya.


"Jadi, apakah kamu mau menerima si somplak, si sableng, si bodoh dan si mesum seperti aku?" tanya Keenan sehingga Zoya mengukir senyum tipisnya.


"Aku?" belum Zoya selesai bicara dari arah lain ada yang memanggilnya.


"Keenan!" sehingga Zoya dan Keenan saling bertukar pandang sesaat.

__ADS_1


*********


__ADS_2