
Pagi ini Zoya dan Keenan bersamaan berjalan ke tempat penyewaan taksi. Keenan berusaha untuk menautkan jemarinya di tangan Zoya. Namun, Zoya selalu menolaknya.
"Kenapa, Zoya? Aku mau gandeng tangan kamu?" tanya Keenan.
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri." jawab Zoya.
"Aku tau kamu bisa jalan sendiri, lihat kaki kamu napak nggak melayang hehe.." kelakar Keenan.
"Iyalah, kalau melayang aku hantu, dong. Gimana, sih?" tukas Zoya.
"Haish, mau gandeng tangan aja susah banget, sih!" keluh Keenan.
"Nggak usah ngeluh, cepatlah ambil taksi!" titah Zoya dimana ia memang tak pernah berubah sedikitpun mereka tetap jadi diri mereka sendiri saat ini.
Keenan segera mengambil taksi dan Zoya masuk ke dalamnya. Lalu, Keenan melajukan taksinya itu dengan kecepatan sedang. Zoya merenung, ia terus saja terbayang soal kejadian semalam, ia merasa tak enak dengan Aiden karena sikapnya. Rasanya ia tak mau menunjukkan wajahnya itu.
"Zoya, kenapa murung?" tanya Keenan seraya fokus menyetir.
"Aku kepikiran dengan tindakan kamu semalam, aku baru aja mendapat pekerjaan, bagaimana kalau aku dipecat!" jawab Zoya.
"Tindakan aku yang mana, aku kan membela kamu semalam, aku bahkan kena pukul. Jadi aku yang salah semalam?" tanya Keenan.
"Iya tentu aja, kamu yang salah. Harusnya kamu nggak perlu membela aku segala, aku jadi nggak enak dengan Aiden." keluh Zoya.
"Kamu ini terlalu cinta sama dia, Zoya. Makanya kamu selalu membenarkan dia. Aku nggak suka dia membentak kamu semalam, nyatanya dia nggak terima. Baiklah, aku yang salah. Semua kesalahanku, maafin aku!" ujar Keenan dimana Zoya malah tak enak hati dengan Aiden.
Masih ada perasaan yang tersimpan untuk Aiden saat ini. Meskipun ia memilih Keenan. Zoya hanya terdiam saat Keenan meminta pendapatnya. Keenan juga melanjutkan menyetir mobil hingga tiba di perusahaan.
Zoya masih terdiam dan keluar begitu saja tanpa mengucap apapun pada Keenan. Sedangkan Keenan merasa tercekat karena sekeluarnya dari taksi Zoya tak lagi menatapnya bahkan berpamitan.
"Apa-apaan ini, Zoya. Sekali aja berusahalah bersikap manis, ah.. jangan banyak berharap Keenan, terima aja nasibmu, masih bisa bersamanya pun udah bersyukur." monolog Keenan lalu melajukan kembali taksinya meninggalkan perusahaan Aiden.
Zoya melangkah masuk ke perusahaan menuju ke pantry. Ia kembali mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kaca-kaca yang ada perusahaan. Mitha sudah ambil bagian membuatkan minuman untuk para karyawan karena Zoya memintanya agar ia tak sering bertemu Aiden lagi.
Zoya tengah menyemprot kaca dan membasuhnya dengan lap. Namun tak disangka Aiden tengah berada di belakangnya saat ini.
"Zoya, kamu disini. Ayo, ikut ke ruangan saya!" pinta Aiden.
"Iya, pak Aiden." sahut Zoya sementara Zoya mengikuti Aiden dari belakang.
Tak lama mereka tiba di ruangan Aiden, Aiden memberikan senyumannya dan meminta Zoya duduk di kursi sebrang mejanya kini.
"Silakan duduk, Zoya!" ucap Aiden dengan senyuman.
__ADS_1
Zoya pun duduk dengan mengulas senyum meskipun itu terpaksa.
"Ada apa, pak Aiden memanggil saya?" tanya Zoya perlahan memandang wajah lelaki yang pernah dikaguminya itu.
"Aku mau minta maaf soal semalam, aku udah bersikap kasar sama kamu, aku seperti itu karena aku kecewa Zoya. Aku berharap akan memiliki kamu malam itu, tapi aku harus menelan kekecewaan karena kamu udah bersama Keenan." jawab Aiden serta merta meraih tangan Zoya dan menggenggamnya.
"Jangan pernah berubah Zoya, kita bisa tetap seperti dulu. Aku akan selalu dekat dengan kamu sampai aku perlahan yakin kalau kamu bukan untukku." jawaban Aiden membuat Zoya merasakan sesuatu seperti tertancap dalam palung hatinya.
Kenapa baru sekarang, setelah ia memantapkan hati untuk Keenan. Kenapa dulu saat Zoya begitu menggebu mengaguminya, Aiden tak segera beranjak dan jalan di tempat. Tapi bukannya cinta seperti itu, tidak bisa begitu saja terlontar. Banyak makna yang mendasari segalanya, keyakinan untuk bersama, perjuangan untuk setia hanya pada satu hati dan pengorbanan yang disertai tangis dan tawa.
"Lakukanlah apa yang pak Aiden suka, selama itu membuat anda merasa nyaman!" tutur Zoya dan ditimpali oleh senyuman dari Aiden lalu kembali melepas genggaman tangan Zoya.
"Kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu, Zoya. Semangat ya, kerjanya!" ucap Aiden
"Makasih pak Aiden, saya permisi dulu!" ucap Zoya kemudian undur diri dari hadapan Aiden.
Sementara Aiden menghela nafas panjang karena ia harus tetap kuat sebagai seorang CEO dimana sebenarnya ia tengah patah hati saat ini. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggunya di depan mata.
********
Seharian ini Keenan tak henti mendapatkan penumpang. Tak menyangka tabungannya di bank saat ini sudah mencapai puluhan. Ia baru saja menabungnya dan tak pernah mengganggunya, niatnya uang itu akan digunakan untuk melamar gadis yang dicintainya kelak.
Penghasilan Keenan sebagai sopir taksi online selama 5 tahun terakhir tersimpan rapi. Semua tak lepas dari perjuangannya yang tak kenal lelah meskipun hidup sebatangkara. Keenan beralih ke steam untuk mencuci taksinya.
"Aku kangen banget bu, andai aja aku bisa memberikan uang hasil kerjaku sama ibu, atau aku beliin ibu sesuatu, ibu sukanya apa, ya? Ah, aku belikan aja ibu kalung emas. Semoga ibu menyukainya," harap Keenan lalu ia dengan sumringah menuju ke toko mas dan membelikan kalung emas seberat 2 gram untuk sang ibu.
Keenan tersenyum saat sudah mendapatkannya. Lalu ia kembali melajukan taksinya ke kediaman Dila. Tak peduli Dila akan menyakitinya, rindunya sudah tak tertahankan. Karena sifat penyayang nya itu terlebih saat Tuhan telah kembali mentakdirkan pertemuan mereka.
Keenan sudah tiba di kediaman Dila kini. Keenan sengaja datang saat suami dan anak Dila tak ada dirumah. Agar Dila tidak malu dan mereka bisa mengobrol.
"Eh, mas lagi. Mau cari Nyonya Dila ya?" tanya Satpam.
"Iya, beliau ada nggak?" tanya Keenan.
"Ada didalam, mari saya antar." ajak Satpam pada Keenan.
Keenan tak kapok meskipun Dila sudah melarang untuk menemuinya. Ia sangat rindu karena ingin bertemu dan memberikan kalung untuknya. Keenan masih menunggu Dila, sementara art di rumah tersebut mempersilakannya duduk.
"Silakan duduk nak Keenan, nanti nyonya akan menemui." ujar art dan Keenan duduk di sebuah sofa menunggu kedatangan sang ibu dengan perasaan bahagia.
"Keenan?" Sapa Dila sedangkan Keenan berdiri menyambut sang ibu.
"Nyonya!" sapa Keenan.
__ADS_1
"Duduklah!" ucap Dila lantas Keenan duduk di lantai kali ini.
"Eh ngapain duduk di lantai. Duduk di sofa aja, sini duduklah di samping saya!" titah Dila.
Keenan senang bukan kepalang mendengar titah sang ibu. Ia perlahan mendekat dan duduk tersipu di samping Dila. Dila menatap anak yang pernah dilahirkannya itu. Ia perhatikan dengan seksama. Perubahannya terjadi karena Keenan sempat masuk tv waktu itu. Nanti malam juga ia dan teamnya akan diundang untuk wawancara di stasiun tv.
"Aku melihat penampilan kamu waktu itu, apa nanti malam kamu akan wawancara eksklusif ?" tanya Dila.
"Iya bu," sahut Keenan perlahan duduk di samping sang ibu menatapnya dengan sendu memperhatikan setiap detail wajah sang anak.
"Oh iya, aku kesini mau memberikan ibu ini." Keenan mengeluarkan sebuah kalung yang tersimpan dalam kotak perhiasan warna merah berbentuk hati.
"Apa ini?" tanya Dila terharu.
"Ah iya, ibu nggak marah kan, aku manggil dengan sebutan ibu?" tanya Keenan.
"Nggak, mulai sekarang kamu bisa memanggil sebutan itu pada ibu." jawaban Dila membuat netra Keenan berkaca.
Keenan tiba-tiba saja merentangkan tangannya untuk memeluk sang ibu karena begitu bahagia. Namun ia mengurungkan niatnya takutnya Dila tak berkenan.
"Kenapa, Keenan?" tanya Dila.
"Aku mau peluk ibu, aku kangen bu! Aku benar-benar mau memeluk ibu," jawab Keenan dengan harapan seluas lautan.
Dila tersenyum dan kini malah dialah yang memeluk buah hatinya yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan dan baik hatinya.
"Peluklah anakku!" sahutan itu membuat bulir bening mengalir tiada henti dari netra yang sudah dipenuhi air mata
"Ibu!" lirih Keenan lalu tak menunggu lama segera ia peluk malaikat tak bersayapnya itu.
"Jangan menangis Keenan, kamu anak lelaki. Kamu harus kuat!" ucap Dila seraya membelai punggung putranya itu.
"Iya Keenan, ibu udah menceritakan soal status kamu pada suami ibu, Danu Wijaya. Dan, beliau meminta ibu tetap menerima kamu, jadi ibu memikirkan ini dan ibu merasa menyesal sehingga ibu nggak akan meninggalkan kamu lagi, nak!" ujar Dila menjelaskan.
"Iya bu, beliau sangat baik. Tapi, dimana sebenarnya ayahku, bu?" tanya Keenan.
"Dia, sebaiknya kamu nggak perlu tau dia, Keenan." jawaban sang ibu membuat Keenan muram.
"Kenapa bu, apa ayah masih hidup?" tanya Keenan sumringah karena ternyata Tuhan maha baik menunjukkan kalau ia masihlah memiliki orangtua yang lengkap.
*********
Mohon dukungannya guys 😉....
__ADS_1