
Karena kejadian tadi membuat mood Zoya hilang untuk menonton performance Keenan secara live. Zoya sudah meminta Aiden untuk tak menjemputnya karena ia membatalkan keinginannya. Terbesit rasa bersalah karena ia teringat sempat mendaratkan tangannya di pipi Keenan tadi. Zoya menyesal telah melakukan hal itu.
Zoya tetap menonton lewat layar kaca, ia sudah stay untuk menunggu penampilan Keenan. Keenan juga diam saja, ia pergi dengan bus dan bermobil dengan mobil sewaan sehingga muat untuk 6 orang. Zoya merasa bersalah, ia berniat akan meminta maaf besok. Ia juga mengingkari janjinya, namun ia merasa tak mampu melihat wajah Keenan untuk malam ini. Ucapan Keenan tadi seolah menggambarkan kalau ia cemburu akan kedekatannya dengan Aiden.
"Keenan, maafin aku!" ucap Zoya seraya menghela nafas menantikan pertemuannya dengan Keenan esok.
"Kenapa, aku jadi makin nggak karuan gini, semoga dia sukses! Aku doain kamu dari sini, Keenan!" harap Zoya dengan guratan sesal di wajahnya.
Keenan juga sudah di b**ackstage, menanti nama teamnya dipanggil. Ia sudah melupakan kejadian tadi, ia hanya ingin fokus dengan apa yang tengah dilakukannya saat ini.
Aiden sendiri tengah merobek tiket karena Zoya membatalkannya. Entah kenapa yang awalnya Aiden begitu senang berteman dengan Keenan jadi merasa malas dengannya saat ini. Padahal Keenan tak mengatakan ataupun melakukan apa-apa namun Aiden merasa risih karena Keenan pasti akan selalu dekat dengan Zoya jika Keenan masih tinggal di rumah atap.
"Aku harus secepatnya menyatakan perasaan aku sama Zoya, sebelum Keenan melakukan itu." monolog Aiden.
Setelah itu team Keenan dipanggil ke panggung dan mulai menampilkan dance yang bagus. Syukurlah Keenan melakukannya dengan lancar. Chelsea juga membatalkan keinginannya kali ini. Setelah marah tak jelas dengan Keenan lewat pesan singkat. Chelsea membatalkan keinginannya.
Jutaan pasang mata melihat dan mereka semakin dikenal kali ini. Namun, ini kali terakhir untuk Keenan karena Keenan hanya pengganti saja. Persiapan panjang dengan peluh keringat berlalu begitu saja, setelah acara selesai Keenan pun kembali ke rumah atap untuk beristirahat.
*********
Keesokan harinya,
Zoya sengaja menunggu Keenan, namun Keenan hari ini tidaklah bekerja. Ia masih kelelahan karena semalam. Keenan masih berkutat dengan selimut dan gulingnya seraya memainkan ponselnya. Ia justru sangat merindukan sang ibu, namun serba salah posisinya saat ini. Keenan takut ditolak lagi, semua orang bahkan menolaknya tak ada yang sudi berada di dekatnya.
"Ngapain ya, aku hari ini?" tanya Keenan lalu ia memilih keluar mencari udara pagi yang segar.
.
Tak lama Zoya datang menghampirinya. Namun Keenan memberikan senyumannya. Hanya senyuman, ia berjanji tak mau menggoda Zoya lagi ataupun membuatnya kesal. Keenan bahkan diam seribu bahasa kini. Zoya duduk di samping Keenan yang tengah menikmati udara pagi di kursi bambu.
"Kamu nggak kerja, Zoya?" namun Zoya tersenyum saat Keenan menyapanya.
"Kerja, kamu kenapa masih disini? kamu kelelahan, maaf karena aku batalin untuk melihat penampilan kamu semalam." ujar Zoya.
"Nggak apa-apa, kok." sahut Keenan lantas kembali terdiam dan melihat ke arah lain.
Zoya mencengkeram kedua sisi pipi Keenan dengan jarinya dan menghadapkan wajah Keenan ke arahnya. Zoya terlihat aneh, mengapa Zoya melakukan hal demikian.
"Kenapa, Zoya?" tanya Keenan sehingga Zoya menekan dengan kuat cengkeraman itu sehingga Keenan tak bisa menoleh kemana mana lagi.
__ADS_1
"Zoya, lepasin tangan kamu!" pinta Keenan.
"Aku nggak akan lepasin sebelum kamu jujur sama aku," cecar Zoya sehingga Keenan hanya diam menunggu Zoya bicara.
"Ck, kenapa kamu jadi menakutkan begini." keluh Keenan lalu melepas tangan Zoya sehingga Zoya ganti menarik kerah t-shirt yang Keenan kenalan.
Keenan ganti berusaha melepas tangan Zoya kemudian mereka bicara dari hati ke hati.
"Aku mau tau kenapa kamu marah semalam?" tanya Zoya sehingga Keenan bingung. Ia bahkan hanya memeluk Zoya setelah itu Zoya menamparnya.
"Aku udah nggak marah, smile lihat aku senyum sekarang!" sahut Keenan sehingga Zoya tersenyum simpul. Keenan tak pernah marah lebih lama, Tuhan memberikan keluasan hati padanya untuk tidak sakit hati berlarut.
"Ya ampun, senangnya dapat senyuman pagi-pagi. Aku mau kamu melakukan ini setiap hari Zoya, selama ini aku iri saat kamu tersenyum bahkan bisa tertawa puas dengan orang lain, tapi aku selalu salah dimata kamu." ujar Keenan.
"Emang kamu tuh nyebelin kok, makanya aku kesal." ungkapan Zoya ditimpali dengan mengerutkan kening.
Zoya tersenyum dan mengulurkan kelingkingnya pada Keenan. Keenan tersenyum dan membalas dengan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Zoya.
"Aku janji nggak akan menghina kamu lagi, Mulai sekarang kita berteman?" tanya Zoya.
"Hum.." sahutan Keenan penuh arti apalagi ditambah dengan senyumnya yang memesona.
"Kamu beberapa kali terluka kan, yang aku lihat itu luka pecutan rotan Keenan. Kamu bukan tawuran kan, kamu dipukuli seseorang?" tanya Zoya penasaran.
Sehingga akhirnya Keenan menceritakan siapa dia sebenarnya. Dimana selama ini Zoya selalu melibatkan orang tua Keenan saat memarahinya dan mengumpatnya.
"Seperti yang kamu pikirkan selama ini, aku nggak punya orangtua lagi, Zoya. Aku hanya anak yang nggak diinginkan, luka kemarin itu karena balok kayu dan rotan." jawaban Keenan membuat Zoya menelan saliva.
"Apa, siapa yang tega memukul kamu, Keenan?" tanya Zoya sendu.
"Ibu, Zoya. Sebenarnya aku udah dipertemukan lagi dengan ibu, tapi ibu selalu mengacuhkan aku, aku bahkan dilarang memanggilnya ibu saat ada orang lain bersama kami, aku emang pantas diperlakukan seperti itu, aku cuma anak haram Zoya, aku anak yang nggak diinginkan." jelas Keenan lantas menyeka airmata yang hampir jatuh dari netranya agar tak berlinang membasahi pipinya.
"Kenapa kamu harus menahannya, menangislah jika diperlukan!"
"Udah Zoya, saat aku pertama kali ditolak, aku pikir awal pertemuan kami bisa menyenangkan bahkan untuk memeluk aja aku nggak diizinkan, Zoya. Padahal aku sangat ingin memeluknya..hiks.." Keenan menghapus bulir airmata yang memaksanya keluar dari netranya dengan kasar.
"Ibu jijik denganku, Zoya. Karena aku anak haram, Zoya ðŸ˜...." air mata Keenan jatuh berlinang.
Karena Keenan sudah menumpahkan uneg-unegnya Zoya meraih kepala Keenan dan menidurkan kepala pria tampan itu di bahunya.
__ADS_1
"Aku pinjami bahuku, menangislah! keluarkan yang tertahan di benak kamu." ujar Zoya namun Keenan memilih mendekap Zoya dengan eratnya.
"Maaf Zoya, setelah ini kamu bisa menamparku lagi sampai puas kalau kamu mau, biarin aku memeluk kamu sebentar aja." pinta Keenan dengan kepiluan.
"Sabar ya Keenan, jangan membencinya tetap doakan supaya beliau selalu sehat, semoga aja suatu hari beliau akan berubah dan mengakui kamu." ujar Zoya seraya menepuk pelan punggung Keenan sambil mengelusnya.
"Aamin, makasih. Zoya." ucap Keenan, ia masih betah memeluk Zoya.
Ia bahkan lupa terakhir kali dipeluk. Untungnya Keenan saat itu diasuh oleh keluarga yang baik sehingga Keenan juga tumbuh jadi anak yang baik. Tak terbayangkan jika ia jatuh ke tangan yang tak bertanggung jawab, mungkin Keenan makin nelangsa saat itu. Setelah puas Keenan melepaskan kembali dekapannya dan menghentikan tangisnya.
"Makanya jangan kebanyakan nonton Drakor, jadi menye-menye kan kamu haha..." kelakar Zoya.
"Hum.." sahut Keenan.
"Oh iya Keenan, apa nggak sebaiknya kamu temui ibu kamu lagi?" tanya Zoya.
"Iya, aku pasti menemuinya." sahut Keenan.
Melihat sedekat ini, makin nampak ketampanan nan paripurna di hadapan Zoya kini. Mata mereka saling beradu pandang dan bisikan datang tanpa diundang. Mereka semakin mendekatkan wajah dan hampir menautkan kecupan. Namun, Zoya segera memalingkan wajahnya sehingga momentum itu hilang begitu saja.
"Maaf Zoya, maaf..aku minta maaf!" Keenan merasa tak enak karena memancing berahi yang membuat mereka hampir berciuman.
"Iya, ini bukan salah kamu, Keenan. Sekarang tersenyumlah!" pinta Zoya terlihat gemas dengan senyuman Keenan saat ini.
"Nah gitu dong hehe.." Zoya merasa puas akan sikapnya. Untungnya mereka tak meneruskan kecupan pertama mereka tadi sehingga Keenan memeluknya lagi.
Pletak..
Auh..
"Ya ampun dijitak lagi huft.." keluh Keenan seraya meratapi kepalanya.
"Malah cari kesempatan, ya! Udah meluknya, sinetron tamat. Aku mau cari sarapan dulu, cari lontong sayur sama nasi uduk." ujar Zoya.
"Aku ikut, Zoya! Aku mau beli gorengan hehe ." tambah Keenan.
"Yaudah ayo kita beli di warung depan gang, ya!" ajak Zoya.
"Oke, sayang. Eh, Zoya hehe.." sahut Keenan dengan sumringah sehingga Zoya mengembangkan senyum manisnya itu dan mereka berlanjut membeli sarapan di komplek berdua.
__ADS_1
*********