Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Angan


__ADS_3

Setelah puas mencurahkan isi hatinya, Aiden mengantar Chelsea pulang kerumahnya. Kedua insan itu sedikit merasakan kelegaan hati karena kedua mantan sahabat kecil itu sudah mulai memahami satu sama lain. Aiden sesaat berlari kecil untuk membukakan Chelsea pintu.


"Makasih Aiden!" ucap Chelsea dan ia beranjak keluar dari mobil sedangkan Aiden. menutup pintunya.


"Apa perasaan kamu sedikit lega, sekarang?" tanya Aiden seraya menatap dengan tersenyum tipis.


"Em..lumayan, kamu sendiri. Apa kamu masih sedih?" tanya Chelsea karena jelas sekali Aiden meminjam bahunya untuk menangis terisak-isak tadi.


Aiden menghela nafas dan sedikit canggung, "Aku agak lega setelah termehek-mehek tadi haha.." Aiden tertawa mengingat hal itu. Ia menitihkan airmata begitu saja tanpa disadarinya. Merasa nyaman mendapat bahu untuk bersandar maka keluarlah perasaan yang selama ini ia telan sendirian.


"Tapi, kenapa kamu sesedih itu, kamu sangat kehilangan dia, bukan?" tanya Chelsea penasaran.


"Ah, hum..aku, fiuh..jangan bahas ini dulu, aku agak sensitif saat ini, aku pulang dulu, sampai ketemu besok!" ucap Aiden kemudian melambaikan tangan sekilas dan menggaruk kepalanya. Ia sedikit salah tingkah saat ini. Chelsea sangat menyadarinya, Aiden selalu gugup saat ia mulai merasai sesuatu.


"Hati-hati, Aiden!" ucap Chelsea sesaat Aiden sudah berada dalam mobilnya. Aiden hanya mengangguk dengan senyuman kemudian mengendarai mobilnya kembali.


Aiden tersenyum seraya memutar musik di mobilnya. Ia berharap bisa segera move on dari Zoya. Dan membuka hatinya untuk wanita lain.


Sementara Chelsea teringat akan isakan tangis itu, Aiden bersandar di bahunya dan menangis sesenggukan. Sepertinya baru kali ini, ia pasti begitu kehilangan. Sedangkan Chelsea di awal sudah menyadari bagaimana perasaan Keenan sebenarnya. Jadilah ia sedih namun tak sesedih sebelumnya. Chelsea kembali memandangi foto masa kecil mereka, akankah mereka memulainya lagi.


"Cinta itu seperti misteri Aiden, aku pikir saat itu kamu akan berakhir dengan Zoya. Dan aku sempat dekat dengan Keenan, kami sempat merasai, tapi takdir Tuhan lebih unggul, kita sama-sama terluka, karena mereka. Hah..apa kita bisa memulainya lagi, biarkan berjalan seperti air, suatu hari ia akan menemukan muaranya seperti yang sudah ditentukan oleh-Nya fiuh.." Chelsea pun meletakan foto itu dan beranjak mandi.


**********


Sementara itu saat ini Dila datang sendiri melihat anak lelakinya. Dila bawakan banyak cemilan untuk Zoya, Keenan terkejut dan mempersilakan Dila duduk. Melihat Keenan tengah memasak mengingatkan Dila pada Mario, ia kesal karena Dila tak ingin Keenan seperti Mario.


"Keenan, Zoya, Ibu bawain makanan untuk pengantin baru!" seru Dila.


Keenan dan Zoya segera menemui Dila yang tengah membawakan cemilan, susu program hamil untuk Zoya. Namun ia melupakan Keenan.


"Ini untuk kamu Zoya!" ucap Dila dan Zoya tersenyum.


"Makasih bu," ucap Zoya.


Dila segera menghampiri Keenan dan memukulnya, "Kenapa kamu pakai ini, kamu mengingatkan ibu sama dia, ayah kamu yang brengsek itu, cepat lepas!" ujar Dila.

__ADS_1


"Auh, aku cuma bantu Zoya, bu! Apa yang salah, auh.." Dila terus meluncurkan tepukan di lengan Keenan.


"Jangan melakukan hal yang bikin ibu teringat ayah kamu," ujar Dila.


"Sabar, bu! Ibu duduk tenang dulu!" pinta Zoya.


Mereka duduk di hadapan Dila saat ini. Dila menunjukan foto Mario dan Keenan melihatnya.


"Apa dia nggak bekerja, jangan karena Zoya saat ini sudah jadi pegawai di perusahaan, kamu jadi seenaknya malas-malasan!" ujar Dila.


"Aku kerja hari ini, bu!" sanggah Keenan.


"Terus aja jadi supir taksi, apa kamu nggak mau bahagiakan Zoya, setelah kedai kopi selesai nanti, segera urus dan tinggalkan pekerjaan kamu!" titah Dila.


"Ibu sering memimpikan ayah brengsek kamu akhir-akhir ini, jadi ibu teringat kamu, bawaannya kesal." ujar Dila lagi.


"Pukul aja aku, sebagai ganti pelampiasan ayah Mario, yang penting ibu tenang!" Dila segera menoyor kepala Keenan.


"Kalau ibu mau, ibu akan gantung kamu di pohon. Yaudah Zoya ini untuk kamu, ingat! Jangan biarkan anak bodoh ini malas-malasan, dia harus tau diri. Lelaki bertugas mencari nafkah, kalau dia malas-malasan kamu bisa memberinya pelajaran!" ujar Dila membuat Keenan merasa sangat bocah, kedua orangtua yang memperlakukan kekanakan padahal usianya sudah 25 tahun.


"Ibu pulang dulu, awas Keenan kalau kamu tidak jadi kepala rumah tangga yang baik, laporin ke ibu, oke. Zoya!" titah Dila.


Zoya hanya mengangguk seraya tertawa melihat suaminya dimarahi habis-habisan. Saat Dila pergi, Keenan terduduk dan melihat barang bawaan Zoya.


"Aku nggak malas-malasan, aku petarung jalanan, hidupku di jalan. Aku nggak bisa hanya duduk diam meracik kopi di kedai, aish.." keluh Keenan.


"Sabar sayang, tapi kenapa dengan ayah kamu, ayah Mario?" tanya Zoya penasaran.


"Entah, katanya dia tukang masak di restoran luar negeri dulu, ibu nggak suka aku terlalu sibuk di dapur, ibu mau aku melakukan hal yang dilakukan lelaki."


"Lelaki juga boleh masak kan, hah..apapun itu, apa tadi sakit?" tanya Zoya.


"Biarlah aku senang kalau dia yang memukulku Zoya, bahkan jika dia melakukan itu setiap hari aku akan menerimanya, ini lebih baik daripada nggak pernah dipukul seorang ibu karena hidup sebatang kara." jawab Keenan dengan senyuman dan melayangkan kecupannya di pipi Zoya.


"Iya, yaudah. Kita siapkan makan malam ya!" ajak Zoya seraya memeluk Keenan.

__ADS_1


"Iya, ayolah!" ajak Keenan.


********


Aiden saat ini tengah tiba di kamarnya, ia melonggarkan dasi nya dan melepasnya menggantungnya kemudian. Ia ke toilet melepas pakaiannya dan menghidupkan shower, mengguyur pucuk kepala mengaliri tubuhnya, rasanya begitu segar. Aiden mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek. Ia beralih ke halaman belakang rumahnya, mendrible, melambungkan basket ke ring di lapangan basket pribadi miliknya.


"Sepertinya aku butuh asisten pribadi, aku butuh seorang pria yang juga bisa jadi temanku. Aku benci sendirian, Aish...aku benar-benar merana, dasar menyebalkan. Aku nggak mau menyukai wanita lagi, ehh..maksudku, aku mau sendiri dulu, iya, aku harus kuat!" Kemudian Aiden memasukan bola basket itu ke ring berkali-kali.


Ceo muda itu merasa kepenatan berangsur hilang. Kemudian, ia merebahkan diri seraya menatap langit biru. Dan kembali membuang bola basket itu dan beranjak ke kamarnya.


*******


Malam ini, Zoya tengah mempelajari cara cepat hamil lewat laptop. Ia sangat ingin cepat menimang anak, buah cintanya dengan Keenan. Sementara Keenan cekikikan sejak tadi menonton drama korea favoritnya.


"Sayang!" panggil Zoya yang hanya disahuti deheman oleh Keenan.


"Hum.."


"Kamu maunya, kita cepat punya anak atau gimana?" tanya Zoya. Keenan antusias menatap Zoya dan mendekati Zoya.


"Kamu udah kebelet sayang, kita bahkan belum ada satu minggu menikah?" tanya Keenan lantas menidurkan kepalanya di paha Zoya.


"Makanya aku nanya sama kamu?" tanya Zoya lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Keenan yang bersandar di pahanya saat ini.


"Terserah aja, kalau Tuhan kasih cepat alhamdulillah. Kalau em..aku maunya secepatnya, sih." sahut Keenan kemudian Zoya menarik tubuhnya lagi.


"Oke, secepatnya, siap hihi.." sahutan Zoya disenyumi oleh Keenan. Keenan juga berharap bisa segera diberi momongan dan sambil menunggu. Ia akan berusaha membahagiakan Zoya di awal pernikahan mereka tersebut.


"Kamu senang banget kayaknya hehe.."


"Aku ngarep bukan sekedar senang, Keenan hehe..


"Iyalah, aamiin ya!" Lalu Zoya mencium kening Keenan dan membelai rambutnya yang kini masih menidurkan kepalanya di pahanya itu.


********

__ADS_1


__ADS_2