
Sesaat menyelesaikan makannya, Keenan melihat sepeda lipat yang sedang diskon. Keenan segera mengambil brosur yang dibagikan mengenai harga sepeda dan menyembunyikan di kantungnya. Sementara Zoya yang tengah menyelesaikan pembayaran pun keluar.
Mereka kembali menaiki bus lagi kali ini. Beberapa menit menaiki bus, Zoya malah yang kini tertidur karena kelelahan dan bersandar di lengan Keenan. Keenan tersenyum dan membelai rambut Zoya agar Zoya makin terlelap. Lalu Keenan membuka brosur tersebut dan melihat harga sepeda yang diinginkannya sedang diskon hingga 50 persen.
"Wah, lumayan nih! Besok aku coba lihat sepedanya. Ambil dari tabungan ajalah uangnya!" tukas Keenan yang sudah lama menginginkan sepeda lipat incarannya itu. Dan mumpung sedang diskon, jadinya ia berniat membelinya.
Keenan segera memasukkan lagi brosur itu ke dalam kantungnya. Tak lama mereka akan sampai Keenan membangunkan Zoya dengan mengecup keningnya. Zoya yang merasa tengah di kecup membuka matanya perlahan dan disambut senyuman oleh Keenan. Sangat berbeda saat Zoya yang membangunkannya tadi. Keenan begitu memperlakukan Zoya dengan lembut.
"Eh, maaf ya aku ketiduran, sayang. Masih jauh nggak?" tanya Zoya seraya memperhatikan jalan.
"Sebentar lagi kita turun, kalau kamu ngantuk biar aku gendong, mau?" tanya Keenan.
"Nggak, ah. Eh, yaudah ayo kita turun, udah sampai, tuh!" ajak Zoya lalu mereka bergegas turun dari bus.
"Kamu katanya mau gendong aku, emang kuat sambil bawa karung juga hehe.." ujar Zoya.
"Kuat kok, kamu kan langsing." tukas Keenan.
Zoya tersenyum saat Keenan mengatakan hal itu. Sementara Risna sudah mondar-mandir menunggu Zoya yang akhirnya datang bersama Keenan. Keenan segera meletakkan pupuk itu didepan rumah Zoya. Risna yang menyadari kehadiran mereka segera datang melihat sepasang kekasih itu.
"Kamu lama banget Zoya, Keenan! Ibu mau bicara sama kamu!" ujar Risna.
Keenan dan Zoya saling berpandangan lalu mereka duduk di hadapan Risna kini.
"Keenan, apa kamu serius untuk menikahi Zoya?" tanya Risna.
"Serius bu." jawab Keenan dengan senyuman.
"Hum bagus, kalau serius ibu mau acara kalian nanti dibuat besar-besaran. Dan kamu harus bawakan uang cukup seratus juta aja, untuk acara besok!" tukas Risna.
"Seratus juta? Ibu jangan keterlaluan deh, emang 100 juta tuh sedikit." tukas Zoya.
"Kenapa kamu ribet, Zoya. Kamu putri tunggal kami, jadi acara kamu tentulah harus istimewa." ujar Risna.
Keenan rasanya ingin pingsan mendengar ucapan Risna.
"Darimana saya dapatin uang sebanyak itu, bu. Tapi saya akan usahakan!" pinta Keenan.
"Bagus, saya beri kamu waktu 3 hari. Kalau kamu nggak sanggup silakan tinggalkan Zoya!" ujar Risna.
__ADS_1
"3 hari, ibu nih kenapa sih, jangan kayak gitu. Kenapa? Ini sama aja ibu mau misahin kita, kan!" tukas Zoya.
"Diamlah, Zoya! Masuk ke kamar sekarang!" titah Risna. Keenan mengangguk pelan meminta Zoya menuruti sang ibu. Zoya pun masuk ke kamarnya menyisakan Keenan dan Risna saat ini.
"Maaf bu Risna, tolong jangan 3 hari, tolong beri saya waktu satu bulan aja, bu!" pinta Keenan.
"Satu bulan? Ngapain, saya nggak mau tau, kalau dalam 3 hari kamu nggak bisa menunaikannya. Kamu bisa pergi dari hidup Zoya dan dari rumah atap!" ujar Risna.
"Maksudnya ibu ngusir saya?" Keenan terbelalak dengan ucapan Risna tersebut.
"Iya,"
"Terus nanti saya tinggal dimana, bu?" lirih Keenan.
"Ck, bodo amat! Udah, kamu enyah dari hadapan saya, saya malas melihat kamu!" titah Risna.
"Yaudah saya permisi, bu!" ucap Keenan lalu pergi dari rumah Zoya dan menaiki tangga menuju ke rumah atapnya.
Keenan rasanya ingin tertawa, tapi juga ingin berteriak. Risna benar-benar mempermainkan perasaannya. Jangankan 3 hari satu bulan saja belum tentu ia bisa mendapatkan seratus juta semudah itu.
Lalu Keenan melihat ponselnya dimana disana tertera pesan dari sang ayah yang merindukannya dan meminta Keenan untuk pulang besok. Keenan mengiyakan keinginan sang ayah dan merebahkan diri di kasur tipisnya.
*********
Keesokan harinya..
Keenan menemui sang ayah di rumah megahnya itu. Zoya terkejut saat Keenan tak lagi menunggunya karena mengatakan harus pergi ke kediaman orangtuanya. Zoya pun berjalan kaki hingga ke jalan raya untuk menaiki bus menuju ke perusahaan Aiden.
Zoya yang tengah galau karena hubungannya itu melamun saat membayangkan hubungannya dengan Keenan. Ia mengepel lantai tiga dengan kesedihan yang tak bisa dijelaskan. Namun tak lama Keenan mengirimkan pesan padanya, pesan yang membuatnya mood booster.
"Keenan!" ucap Zoya sumringah.
Selamat bekerja sayang, kamu jangan sedih ya! Seperti janji kita, apapun yang terjadi kita harus tetap sama-sama, Kamu tenang aja, meskipun berat aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu, karena kamu cuma untuk aku, sayang!
"Haha..jadi imam yang baik, ternyata dia tulus banget. Beruntung aku nggak melepasnya, semoga Tuhan selalu bersama kita, sayang! Aku kangen sama kamu, ah..aku harus fokus kerja dulu, semangat!!" Zoya menyemangati diri sendiri.
Keenan saat ini tengah berada di kamar mewahnya. Setelah sarapan tadi, ia diminta sang ayah tetap berada di kamarnya. Kemudian Dila masuk ke dalam, membawakan semangkuk lontong sayur dan gorengan. Sesuai permintaan Keenan.
"Sayang, sarapan dulu, nak! lontong sayur," ujar Dila lalu membawanya ke kamar.
__ADS_1
"Bu, kenapa aku harus sarapan di kamar, aku sebelum kesini udah sarapan nasi uduk tadi. Aku mau menarik penumpang lagi." tukas Keenan.
"Tapi kata ayah kamu, kamu harus tetap disini, tinggal aja disini, Keenan! Sudah, makan dulu request kamu, nih! lontong sayur pedas plus gorengan." ujar Dila.
Padahal Keenan hanya iseng tadi, namun Keenan pindah dari ranjang empuknya dan beralih duduk di sofa yang berada di kamarnya. Dila duduk di dekatnya dan menyuapi Keenan.
"Aku bisa makan sendiri, bu!" kilah Keenan.
"Biarin ibu yang suapi kamu, bukannya ibu baru kali ini melakukannya!" ujar Dila sehingga Keenan mengangguk.
"Keenan, katanya kamu mau bawa kekasih kamu kemarin, Apa kalian serius, untuk menuju ke jenjang yang lebih serius?" tanya Dila penasaran.
"Iya, tapi aku harus membawakan uang sebesar seratus juta kalau mau bersama dia, ibunya yang minta. Aku maklum sih karena Zoya anak semata wayang mereka." jawab Keenan.
"Besar juga, ya! Tapi, kalau 100 juta nggak seberapa Keenan!" sambung Danu Wijaya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Iya, bagi ayah nggak seberapa, tapi buat aku, itu kedengaran seperti hinaan." ujar Keenan.
"Hinaan? haha.. apa mereka kaya sehingga meminta uang sebanyak itu? Tapi, ayah rasa itu hanya alasan supaya kamu nggak bisa bersama, Zoya. Kapan kamu mau menikah, kalau kamu sudah ngebet, Kita akan sewa gedung untuk melakukan prosesi pernikahan kalian!" ujar Danu.
"Tapi ayah!" sanggah Keenan.
"Kalau kamu menolak, kamu nggak akan ayah izinkan kembali ke rumah atap kamu lagi, tinggal aja disini! Ayah nggak suka dibantah! Ayah udah memasukan nama kamu dalam kartu keluarga, kamu udah resmi jadi anak kami, jadi kamu harus menuruti apa kata, Ayah! Mengerti?" ucapan Danu membuat Keenan terkejut.
"Bu, ayah mau mengurus kedai kopi dulu, dan Keenan ayah sedang membangun kedai kopi untuk kamu kelola bersama istri kamu, nanti. Bu, jagain dia, ya! Dia nggak boleh kemana-mana hari ini, ayah nggak mau dia mengabaikan rumahnya lagi!" titah Danu kemudian Dila mengantar sang suami untuk bekerja.
"Nggak boleh kemana-mana, aku bahkan nggak minta ayah melakukan itu," Namun terpancar senyuman dari wajah cute nya itu.
Keenan kembali memakan sarapannya, Danu sudah terlanjur sayang pada anak lelakinya itu. Danu berkata demikian karena tak ingin Keenan kesusahan lagi. Danu akan melakukan apapun agar Keenan tak keluar lagi dari rumahnya sendiri.
"Pokoknya jangan biarin Keenan kembali lagi ke rumah atapnya, bu!" pesan Danu sebelum masuk ke mobilnya.
"Jangan terlalu keras, Ayah! Nanti Keenan merasa di kekang!" pinta Dila.
"Ayah nggak mengekang dia, tapi dia anak ayah sekarang! Ayah mau, baik itu Hilal maupun Keenan mendapat hak yang sama. Ayah nggak mau, Keenan itu sedih, Ayah bisa melihat kalau dia menanggung beban itu. Guratan di wajahnya, bikin ayah makin beruntung memilikinya, bu! Jaga Keenan bu. Kalau perlu kunciin aja dia di kamar, Ayah pergi dulu, assalamualaikum!" ucap Danu dan Dila mencium tangannya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, sayang!" ucap Dila hingga sang sopir membawa Danu pergi dengan mobil mewahnya.
Dila tersenyum dengan antusiasme dari Danu, betapa sayangnya Danu pada Keenan. Kemudian Dila kembali masuk ke rumahnya itu untuk menemani Keenan lagi.
__ADS_1
***********