
Entah kenapa apa yang Zoya rasakan sama seperti yang Keenan rasakan saat ini. Saat kembali kerumah atap terasa lebih nyaman. Semoga dengan nyamannya perasaan Zoya saat ini, mereka jadi lebih mudah berproses untuk mendapat keturunan. Karena keturunan adalah pelengkap dari sebuah pernikahan.
Keenan mengisi perutnya dengan makan di warung padang serba sepuluh ribu. Bisa memilih lauk apapun cukup dengan harga 10 ribuan saja, meski porsinya sedikit namun lumayan berhasil untuk mengisi perut yang keroncongan. Keenan memilih lauk ayam bakar dan kuah gulai ditemani rebusan daun singkong tambah sedikit sambal hijau. Ia sangat hobi dengan masakan padang.
"Rame nggak mas hari ini?" tanya si karyawan di warung nasi padang itu.
"Oh, lumayan deh. Yang penting juga masih bisa makan nasi serba 10 ribuan haha.." sahut Keenan.
"Selamat menikmati mas, saya mau lanjut melayani pembeli lagi!" ucap karyawan itu.
"Iya, mas.." sahut Keenan kemudian mengirim pesan pada Zoya menawari nasi padang untuknya. Zoya tak mau namun ia menagih janji untuk makan malam yang tak pernah terlaksana karena banyak halangannya.
Keenan pun kembali menyantap hidangan nasi padang yang sudah membuat perutnya makin keroncongan itu dan menghabisinya. Tak lama dirinya Keenan beranjak merapikan dirinya dan menuju ke taksinya lagi.
Namun, disaat Keenan hendak masuk terlihat seseorang lari tergopoh-gopoh karena dia dikejar puluhan motor.
"Mas-mas, cepat pergi saya dikejar pasukan mas!" pinta pria itu yang bernama Herman.
"Pa-pasukan, pasukan merah putih?" tanya Keenan ikut cemas.
"Gosh, jangan ngelawak mas! Ayo mas, nanti saya kasih tau!" ujar pria itu yang kemudian segera Keenan izinkan untuk masuk.
Dan benar saja banyak sekali genk motor datang berduyun-duyun mungkin 10 motor lebih. Vero yang ketakutan segera meminta Keenan pergi.
"Ayo mas, mereka udah dekat!" ujar Vero cemas dengan keringat bercucuran. Sementara ia sudah mengambil batu kali ukuran segenggam untuk berjaga jika Keenan menolak.
"Kamu naik taksi lain aja, aku nggak mau kebawa-bawa!" ujar Keenan.
"Gosh, please mas saya akan bayar 3 kali lipat, saya orang kaya mas, saya seorang CEO, ini kartu nama saya!" dan Keenan tak peduli meski ia presiden sekalipun.
"Enggak!" sanggah Keenan sedangkan sudah tak ada waktu lagi. Sehingga terpaksa Vero memukul pelipisnya dengan batu kali yang ia temukan di dekat taksi Keenan hingga terluka sehingga Keenan hilang kesadaran.
Vero segera mengambil alih kemudi dan memindahkan posisi duduk Keenan disampingnya.
"Maaf mas, saya pinjam taksinya sebentar!" ucap Vero pada Keenan yang tak sadarkan diri.
Dengan mengebut Vero membawa taksi milik Keenan membelah jalan yang ramai. Mereka masih melakukan pengejaran, Vero berusaha berkendara dengan ngebut dan berhati-hati karena Vero tau, mobil Keenan milik perusahaan taksi. Aksi kejar-kejaran terus berlangsung sehingga, Vero makin tak karuan. Hingga akhirnya mereka bersembunyi di sebuah gudang yang aman.
Vero lolos namun taksi Keenan sudah mereka simpan plat nomornya. Tak lama Keenan kembali tersadar karena Vero menepuk wajahnya seraya memercikan air ke wajah Keenan, ia merasakan nyeri di pelipisnya dan akhirnya tersadar yang masih terbaring di kursi samping kemudi.
"Kamu udah sadar?" tanya Vero.
"Kamu, penjahat kan? Keluarlah dari taksi, auh..bisa-bisanya kamu bikin aku pingsan. Kok, kita ada disini?" tanya Keenan seraya memegang tengkuknya.
"Nih, bayaran mas!" ujar Vero mengeluarkan lembaran uang kertas merah sebanyak lima lembar.
"Nggak, kamu nih penjahat 'kan?" tanya Keenan lagi.
"Yang ngejar kita tadi penjahatnya mas, mereka tuh genk motor yang mau balas dendam karena saya nggak sengaja menembak rekannya." jawab Vero.
__ADS_1
"Saya nggak bisa terima uang ini, bawalah!" ujar Keenan.
"Kamu ini keterlaluan ya, sopir taksi sombong! Ini saya letakan disini, lihat argonya berapa, saya bayar berkali lipat sesuai janji!" ujar Vero kemudian keluar dari taksi.
"Tapi mas, auh?" terlihat ada darah yang menitik di pelipisnya. Keenan sudah terbiasa, ia selalu mendapat penumpang yang beragam. Syukurlah, Vero tak berniat jahat padanya.
******
Sore ini Keenan berjalan gontai menuju ke rumah atap. Tampak Zoya tengah bersantai namun dengan hidangan yang sudah tersedia, Zoya tengah bermain dengan Michi.
"Assalamualaikum sayang!" ucap Keenan.
"Waalaikumsalam!" ucap Zoya kemudian mencium punggung tangan Keenan.
"Kamu pucat amat sayang?" tanya Zoya merasa wajah Keenan pucat pasi dengan keringat bercucuran.
"Kepala aku sayang!" Keenan menunjukan lukanya dan Zoya bergegas mengompres luka Keenan dengan air hangat.
"Siapa yang tega ngelakuin ini sayang, kamu dipukul?" tanya Zoya khawatir.
"Aku jatuh,"sahut Keenan namun mengambil posisi tidur.
"Jangan bohong, ini kelihatannya dipukul deh!" Zoya selalu mengerti.
"Aku jatuh Zoya, terantuk stir mobil karena aku nggak sengaja banting stir tadi" ujar Keenan kemudian rebahan sejenak.
"Nggak ada, udah tau pelipis luka kayak gitu. Malam ini istirahatlah!" tegas Zoya seraya mengobati luka Keenan menempelkan plester bergambar kartun dan berwarna kuning di pelipisnya itu.
Setelah Keenan terlelap Zoya berbaring di samping Keenan dan memandangi wajahnya. Ini adalah hal baru yang ia sukai, memandangi wajah lelah sang suami ketika tidur. Tetap saja tampan.
"Si ribet nggak pakai krim malam apa haha..fiuh, kasian amat kamu sayang. Terluka mulu, semoga Allah selalu melindungi kamu dari orang yang berniat jahat, padahal aku mau ngajakin kamu malam ini, hah..yaudah lah memandangi wajah gantengnya juga udah klepek-klepek aku, nite sayang muah.." dan Zoya selalu merangkai kata sebelum terlelap pada pacar halalnya itu. Tak lupa mengecup keningnya kemudian tidur dengan mengeloni tubuh kekarnya itu.
*********
Baru saja merajut cinta dengan Chelsea dalam hitungan hari, rasanya Aiden malah tak sabar untuk meminangnya. Aiden paling takut kehilangan sesuatu yang berharga untuknya. Ia tak mau kecolongan lagi, meskipun Aiden tau kalau Chelsea juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Aiden yang bersantai tengah rebahan di kasur empuknya dan saling bertukar pesan pada kekasih hati lewat ponselnya. Aiden meminta Chelsea mengirim foto akan aktivitas apa yang dilakukan. Kemudian Chelsea memfoto dirinya dan mengirimkan pada Aiden. Aiden tersenyum karena Chelsea tetaplah cantik meski tanpa polesan make up.
Cantik..
Sehingga Chelsea tersenyum,
Kamu udah siap nikah? Aiden mulai mengirim pesan.
Chelsea mengatupkan telapak tangan ke mulutnya, ini sangat cepat pikirnya.
Kamu yakin sayang, secepat ini? Chelsea mulai kelabakan.
Yakin sayang, kalau kamu siap aku akan melamar kamu minggu depan? Aiden meyakinkan sang pujaan hati agar jadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
Aku mau sayang! sahut Chelsea pasti.
Oh syukurlah, yaudah selamat bobo sayang, jangan lupa mimpiin aku! Aiden kembali membuat Chelsea terkekeh.
Hum..nite sayang..Chelsea mengakhiri pesannya.
Sungguh, Chelsea mau. Ah, Aiden sangat sumringah. Ia loncat-loncatan diatas ranjangnya hingga saking kesenangannya kakinya tak lagi menapak di ranjang sehingga Aiden tersungkur dengan kepala mengarah ke lantai.
Duk..
"Auh, aish, kenapa aku seperti anak kecil yang baru diberi uang lebaran, sesenang itukah rasanya. Hah..yang jelas aku senang, mimpi yang indah Aiden, otw lamaran, Chelsea i'm coming hahaha..." ujar Aiden yang sangat berbunga dan merekah hatinya. Setelah itu Aiden pun melanjutkan tidur guna menyambut hari esok. Sama halnya dengan Chelsea.
*******
Matahari mulai meninggi, para pencari nafkah siap merengkuh rezeki. Keenan tetap bekerja karena lukanya sudah baikan dan sakit kepalanya pun tak terasa lagi. Zoya yang baru bersiap tak tega melihatnya tetap bersemangat.
"Keenan, kamu mau kerja?" tanya Zoya merasa heran seraya melihat luka di pelipis Keenan.
"Masih sakit nggak keningnya, semalam itu kamu ketiduran apa gimana?" tanya Zoya kuatir.
"Sakit dikit, kayaknya sih ketiduran, tapi aku mendusin kok tersadar udah tengah malam, yaudah aku makan karena lapar terus tidur lagi!" sahut Keenan.
"Coba kamu lebih waspada, jangan meleng, biar nggak jatuh lagi!" pinta Zoya.
"Iya, sayang." sahut Keenan dengan senyuman.
Namun Zoya masih tetap melarang Keenan bekerja. Keenan bersikeras karena ia merasa sudah tidak apa-apa.
"Kamu mau kemana?" tanya Zoya dengan mata melotot.
"Ya kerja sayang. Kemana lagi emangnya." sahut Keenan hendak keluar namun Zoya menarik jaketnya seperti menarik seekor kucing saja.
"No, aku udah siapin bubur dan banyak makan siang, obat juga. Kamu hari ini rehat aja! Pokoknya seharian ini kamu nggak boleh kemana-mana, titik!" ujar Zoya.
"Nggak!" sanggah Keenan lalu hendak keluar dari pintu dan Zoya malah menarik tangan Keenan sehingga Keenan hampir terjatuh di pelukan Zoya. Saat mereka bertatapan Keenan segera melumatt bibir oranye kecoklatan itu kemudian melepaskan pelukannya.
"Tunggu Keenan!" ucap Zoya lalu mendorong tubuh Keenan ke ranjang dan mengunci pintu rumah atap dari luar serta membawa kuncinya.
"Eh Zoya, kok aku dikunciin begini, aku kan mau kerja, Zoya!!!" Keenan merengek karena sang istri dengan sengaja mengurung Keenan supaya tak pergi bekerja dan beristirahat agar kondisinya pulih. Zoya segera berlari dan menuju ke tempat kerjanya dengan menumpang mobil Sandi. Keenan berusaha menggedor pintu namun sia-sia saja, Zoya sudah merencanakan hal ini sehingga semua berjalan mulus sesuai rencana.
"Zoya, aish. Suami mau kerja malah dikurung kayak ayam begini, Zoyaaaaa!!!!!" Keenan kesal namun percuma.
Sementara Zoya tengah tiba di hadapan Sandi "Keenan mana?" tanya Sandi.
"Keenan sakit ayah, dia butuh rehat, tolong jangan ada yang ganggu dia, ya!" pinta Zoya pada Sandi dan Risna sehingga mereka mengangguk.
"Iya, yaudah. Kita berangkat sekarang!" ajak Sandi dan Zoya meski merasa bersalah, ia tetap tak ingin Keenan melangkah dari rumah atap. Ia sangat mengkhawatirkan Keenan dan tak ingin Keenan terluka lagi.
*********
__ADS_1