Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Kebersamaan


__ADS_3

Setelah mengetahui kandungan Zoya yang ternyata kembar. Tentu keluarga diliputi kebahagiaan. Rumah atap sengaja dijadikan tempat untuk sekedar makan bersama sekaligus mendoakan kandungan Zoya yang sudah memasuki lima bulan itu.


Hanya mengundang orang terdekat, namun mereka juga tak melewatkan Aiden juga Chelsea. Setelah acara doa bersama, mereka pun makan. Chelsea dan Aiden duduk di sebuah kursi yang disediakan. Sedangkan Zoya berada diantara orang tuanya dan orang tua Keenan. Kali ini kedua ayah Keenan dan Dila turut hadir untuk mendoakan kandungan Zoya.


"Keenan, apa kamu yakin kalian akan memiliki anak kembar?" tanya Dila yang tengah duduk berdampingan bersama para keluarga.


"Insya Allah Bu, doain aja. Karena kalau benar berarti sesuai USG."


"Tokcer ya, langsung dapat tiga." sahut Risna kesenangan.


"Iya dong, doakan anak dan menantu kamu nih, jangan seenaknya lagi sama anakku!" ucap Dila menyindir.


"Oh nggak dong, menantuku kan pemilik pool taksi, itu berarti menantu ku hebat. Aku jadi makin menyayanginya dong." seru Risna seraya mengusap kepala Keenan yang duduk disebelahnya.


"Huh.." Dila memutar bola matanya malas.


Berada di tengah keluarga sang anak membuat Mario canggung. Ia dan Minho memilih melipir tak bergabung. Namun Sandi dan Danu menghampiri Mario.


"Pak Mario, kenapa disini. Ini kan acara Keenan, ayolah kita bergabung!" ajak Danu dengan ramahnya.


"Hum..saya nggak enak kalau ikut bergabung. Saya kan hanya orang luar!" ungkapan itu antusias membuat Keenan menyeru.


"Orang luar, gimana ayah. Ayah adalah ayah kandungku." ucap Keenan menghampiri Mario.


"Tapi ayah malu nak, ayah hanya pekerja serabutan, sedangkan keluarga kamu adalah keluarga terpandang." ucap Mario.


"Apa yang kamu katakan, kami sama juga seperti kamu, pak Mario. Zoya dan Keenan adalah anak kita. Dan ini adalah acara kita, nggak perlu membicarakan soal kedudukan disini!" tukas Sandi menengahi.


"Iya, benar kata pak Sandi. Kita semua adalah keluarga, jadi kita sama, harus saling mendukung satu sama lain." imbuh Danu seraya memegang bahu Mario.


"Terima kasih," ucap Mario.


"Ini adik Mas toh, Minho ya?" tanya Hilal tiba-tiba.


"Iya, kamu Hilal kan adiknya Keenan?" tanya Minho sedikit tersipu.

__ADS_1


"Iya, waduh, Apa nama panjangnya Lee Minho haha.." kelakar Hilal yang mulai senang bercanda seperti Keenan.


"Bukan, nama panjang aku, Minho Bagaskara." jawab Minho.


"Oh, tak kira Lee Minho hehe..Yuk gabung sama aku, Minho!" ajak Hilal seraya merangkulnya. Minho hanya tersenyum.


Sementara Zoya tengah bergabung dengan Aiden dan Chelsea. Chelsea tiada henti memegang perut Zoya, ia merasa gemas karena perut Zoya terlihat begitu besar.


"Lucu banget sih kembar tiga, pantes perut kamu besar banget ya," ucap Chelsea.


"Alhamdulillah, aku juga nggak nyangka Chelsea. Semoga kalian juga cepat menyusul ya?" harap Zoya.


"Chelsea juga udah isi Zoya, usianya baru lima minggu." ucap Aiden dengan berbisik.


"Serius? Syukurlah, semoga persalinan kamu lancar hingga persalinan ya." ucap Zoya ganti mengusap perut Chelsea.


"Aamiin."


"Sepertinya Keenan banyak menemukan kejutan dalam hidupnya ya, Zoya. Syukurlah Tuhan mempertemukan dia dengan orang tua kandungnya." ucap Aiden seraya memandang Keenan yang tengah bercengkerama dengan keluarganya.


"Semua karena dede-dede bayi karunia Tuhan ini Zoya, itulah kenapa, kita selalu menyebut mereka malaikat kecil. Mereka bagai malaikat yang bisa memberikan kedamaian dalam hati setiap insan. Kehadiran mereka membuat keluarga bisa bersatu." ucap Chelsea seraya tak hentinya mengelus perut Zoya.


"Dek, kamu juga punya nih. Nanti cemburu loh yang didalam perut!" seru Aiden.


"Ah mas ini," Chelsea tersenyum dan melepas tangannya dari perut Zoya.


"Biarlah pak Aiden. Ini kan pertama kalinya bagi kami, pasti kami sumringah!" seru Zoya memberi pengertian pada Aiden.


"Hum..iya, karena kalian adalah para calon ibu. Pasti kalian sangat menantikan kehadiran mereka ya." ujar Aiden. Selalu mengerti dan mau berbaur tentang apapun.


"Benar sekali!" sahut Chelsea dan Zoya bersamaan sehingga tawa pecah dari obrolan mereka.


Sedangkan Risna kini bergabung dengan Zoya dan Aiden. Ia ikut bergabung dalam obrolan, Keenan sendiri tengah mengobrol dengan Mario. Dila dan Danu sengaja memberi ruang pada ayah dan anak itu untuk saling berbagi cerita. Mereka mengobrol seraya melipir ke sisi dinding rumah atap seraya melihat keadaan di bawah sana.


"Maafin ayah, Keenan. Ayah merasa baru benar-benar bisa mengobrol intim dengan kamu hari ini." ucap Mario.

__ADS_1


"Ayah bisa mengobrol setiap saat denganku kalau mau, ayah bisa datang ke rumah atap atau nanti aku yang mendatangi rumah ayah." ujar Keenan.


Tangan Mario terangkat mengusap rambut putranya. Keenan melayangkan senyuman karena sentuhan lembut itu begitu menenangkannya. Sentuhan yang sudah lama ia harapkan dan rindukan. Terlebih itu dari sang ayah, pria yang telah membuatnya bisa terlahir ke dunia.


"Pasti hidup kamu kesulitan saat itu, maafkan kami ya yang seenaknya membuang kamu!" ucap Mario seraya meneguk saliva seolah ada yang tercekat.


"Kalau kata almarhum Bu Ani yang merawatku dulu, kita harus selalu bersyukur sesulit apapun keadaan kita, ayah. Karena jika kita bersyukur, maka Allah akan menambahnya, kalau waktu itu aku terlalu meratapi nasibku, mungkin aku hanya akan jadi manusia tiada guna, karena Tuhan bahkan benci dengan hambanya yang hanya mengeluh dan nggak mau berusaha. Aku hanya berusaha ikhlas dan tetap ceria menjalani kehidupan ku dan nggak disangka Allah mengabulkan doaku, mereka mempertemukan kita lagi,"


"Aku mungkin naif, aku bahkan berpikir saat kalian nggak menerimaku, aku ingin mengumpulkan banyak uang agar aku bisa membeli waktu kalian untukku. Aku akan berusaha sekeras mungkin meski kalian nggak menginginkan aku, karena aku nggak peduli meski kalian menyakiti aku, aku akan tetap stay untuk kalian. Karena kalian adalah impian aku selama ini, kalian adalah sosok yang selalu aku sebut dalam doaku," Keenan segera memeluk erat tubuh sang ayah dan menangis sesenggukan di bahu sang ayah.


"Hei, janganlah menangis bodoh! Kamu sebentar lagi punya anak!" seru Mario seraya mengelus punggung dan rambut sang putra.


"Biarlah, aku selama ini selalu menangis sendirian di sudut kamarku. Sekarang, aku bisa menangis dalam pelukan ayah! Ini lebih berharga dari apapun," ungkapan itu serta merta membuat Mario menitihkan airmatanya.


"Dasar anak nakal, kenapa kamu harus membuatku ikutan menangis?" ucap Mario.


Keenan melepas dekapannya dan menghapus jejak air mata Mario yang membasahi pipi.


"Karena ayah juga merasakan apa yang aku rasakan." ucap Keenan.


"Kamu ini sok tau." ujar Mario seraya menoyor kepala Keenan.


"Aduh haha..apa ayah kesal sekarang? Aku janji akan membuat ayah kesal setiap hari mulai sekarang haha.." Keenan yang awalnya sesegukan sudah bisa mencairkan suasana haru dengan terkekeh lagi.


"Dasar payah haha.." ucap Mario dengan senyuman dan kembali melingkari tangannya di lengan Keenan.


"Ayolah ayah kita bergabung, kita hampiri Zoya dan calon cucu ayah!" ajak Keenan dan Mario mengangguk.


"Baiklah nak!" sahut Mario dengan sumringah.


********


Hai semua, yang sudah mampir makasih dukungannya jangan lupa like, komentar, dan bunga, kopi juga boleh kok, makasih semua 😍🥰


Sambil nunggu up, mampir juga ke karya kece temanku ya, ceritanya menarik dan nggak kalah seru loh..

__ADS_1



__ADS_2