Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Our tears (airmata kita)


__ADS_3

Sepulang dari bekerja kali ini, Keenan melangkah dengan gontai menaiki anak tangga. Jika ia melihat media, sepertinya saat ibu bertemu anaknya itu pasti dipeluknya dan sang ibu pasti menangis bahagia seraya bersyukur pada Tuhan karena ia telah menemukan kembali buah hatinya. Namun, boro-boro Keenan ingin bertanya bagaimana perasaan sang ibu saat dulu melahirkannya, yang ada bukan jawaban yang Keenan dapat namun makian atau bahkan kena rotan lagi.


Sedangkan jika ia sudah tiba di puncak tangga, pemandangan selalu menghiasi rumah atap. Zoya yang amat sangat rajin merawat bunganya. Namun, entah kenapa melihat Zoya ia teringat harus latihan dance lagi. Karena tinggal hitungan hari lagi, Ia terlalu galau memikirkan ibunya yang tak menginginkannya.


Setelah mandi, Keenan kembali latihan dance di pelataran rumah atap. Zoya diam-diam perhatian juga pada Keenan, sekarang ia melihat lengan Keenan tergores.


"Keenan, tangan kamu kenapa? Kok, akhir-akhir kamu sering terluka, sih? Kamu cari masalah sama siapa? Kamu tawuran?" tanya Zoya.


"Iya, aku tawuran, ini kena gesper tangan aku." jawab Keenan agar Zoya menghentikan pertanyaannya.


"Udah diobatin belum, coba aku lihat!" pinta Zoya cemas.


"Nggak apa-apa, Zoya!" ucap Keenan.


"Tapi, ini!" kilah Zoya sehingga Keenan tak sengaja membentaknya.


"Nggak apa-apa, Zoya! Kamu ngerti, nggak!!" bentak Keenan sehingga Zoya merubah raut wajahnya karena terkejut. Keenan sejenak menutup matanya, ia tak mau membawa Zoya dalam urusannya. Meski ia tahu maksud Zoya baik.


"Kamu ini! Aku benci sama kamu, jangan pernah bicara lagi sama aku!" Zoya yang kesal kecewa akan sikap Keenan lantas meletakkan gembor plastik/ alat penyiram tanaman dari bahan plastik. Dan menuruni anak tangga dengan tergesa.


"Maaf, Zoya! Zoya!" Keenan menutup matanya sejenak dan menghela nafas.


"Maaf Zoya, ini masalah ku, aku nggak bisa menceritakannya!" gumam Keenan lantas duduk termangu di kursi bambu.


"Ah udahlah, aku latihan dulu, aku nggak boleh mengecewakan Rangga." ujar Keenan lantas ngedance mengikuti irama musik. Namun, terlihat Rangga lari tergopoh-gopoh ke rumah atap membuat Keenan terkejut.


"Keenan, Keenan!" panggil Rangga.


"Eh tumben kamu kemari, ada apa? Aku ambil minuman dulu, ya!" ujar Keenan sedangkan Rangga duduk di kursi bale-bale. Tak lama Keenan datang dengan membawa minuman kaleng dan memberikannya pada Rangga.


"Gawat, brother!" ujar Rangga.


"Gawat kenapa, Buluk!" ucap Keenan.


"Gini oncom!, Billy udah keluar lagi dari penjara, ditebus sama saudaranya yang kaya raya, Aku dengar ini dari anak-anak grup dance kita." ujar Rangga.


"Terus kenapa, dia kan orang kaya, hukum bisa dibeli dengan mudahnya, biarlah! Kok kamu yang sibuk!" ujar Keenan kembali latihan dance.


"Eh, kamu tekun juga latihannya, Keenan! Coba nggak usah lihat youtube, aku putarin lagunya!" ujar Rangga.


"Bolehlah." ucap Keenan.

__ADS_1


"Kamu seriusan nggak takut si Billy ngejar kamu lagi, Keenan?" tanya Rangga.


"Ya kalau dia mencari aku lagi, aku tinggal hajar aja. Lagian, aku jelek gini ngapain dia nafsuu sama aku," tukas Keenan tak peduli.


"Hum, pokoknya kamu jaga diri, ya! Kita dance bareng aja, yuk!" ajak Rangga.


"Ayo lah!" sahut Keenan.


Ternyata Keenan sudah hafal tanpa melihat contoh gerakannya lagi. Mereka mulai menyanyi dan menari dengan lincahnya, sehingga dance yang tinggal dua hari lagi diharapkan dapat memuaskan dan tidak mengecewakan. Malah kalau bisa mereka bisa diapresiasi oleh para penonton.


Mendengar latihan Keenan dan Rangga, Zoya jadi kepo sehingga diam-diam Zoya mengintip latihan mereka. Keenan terlihat sangat serius melakukan gerakan dance, Zoya sangat salut akan kesetiakawanan Keenan pada Rangga.


"Aku salut sama kamu, Keenan. Padahal kamu nggak bisa ngedance tapi demi menolong Rangga, kamu benar-benar kerja keras, sampai kamu akhirnya udah selancar itu ngedancenya, semoga kalian sukses!" monolog Zoya.


Ingin rasanya ia turun, namun rasanya sangat disayangkan melihat pesona Keenan yang begitu menawan hati itu. Terlebih saat peluh keringat mulai membasahi keningnya, Keenan semakin terlihat macho saja.


Namun, setelah setengah jam menonton, Zoya terlihat sangat betah hingga lupa turun. Namun, Keenan malah menuju ke tangga sehingga Zoya berpura-pura turun.


"Zoya!" panggilan Keenan membuat Zoya terdiam karena Zoya ketahuan.


Keenan menghampirinya, "Kamu ngapain?" tanya Keenan.


"Ah, aku. Tadinya aku mau ke atas tapi nggak jadi, aku turun dulu, ya!" ujar Zoya.


"Males." jawaban Zoya begitu singkat sehingga uluran tangan Keenan diabaikan begitu saja.


Zoya memutar tubuhnya dan turun langsung menuju rumahnya.


"Ck, ah terserah kamulah, Zoya! Ngambek mulu kerjanya, kesel mulu sama aku bawaannya, sih!" gerutu Keenan lalu kembali ke minimarket untuk membeli cemilan guna menjadi teman nongki dengan Rangga.


**********


Menghirup udara segar lagi, itulah yang Billy rasakan lagi kali ini. Seharusnya ia mendekam di penjara, namun sang kakak sudah menebusnya. Mereka kali ini berbincang di sebuah restoran.


"Setelah ini, kita bisa berobat, Billy! Aku tau kamu berkepribadian ganda, tapi baiknya kamu seringlah dirumah aja, jangan buat masalah lagi." pinta Rayan.


"Ah, kamu ini Rayan. Urus aja urusan kamu sendiri. Mau aku suka pria atau wanita, itu bukan urusan kamu!" kilah Billy.


"Oke, tapi kalau kamu masuk sel lagi karena ulah kamu, aku nggak akan menebus kamu lagi." ancam Rayan.


"Tenang aja, kali ini aku akan lebih berhati-hati." sanggah Billy seraya menyunggingkan senyum membayangi Keenan.

__ADS_1


Sementara itu, Keenan malah membagi kisahnya itu pada Rangga. Ia merasa nyaman jika bisa mencurahkan hatinya pada teman yang sudah tak lagi payah itu. Awalnya Rangga menanyakan tentang tangan Keenan yang terlihat terluka di beberapa sisi.


"Ini, tangan kamu, kamu abis main kuda lumping, com?" tanya Rangga.


"Ah, ini. Dipukulin sama ibu, Rangga." jawab Keenan.


"Ibu, ibu siapa? bukannya kamu, yatim piatu?" tanya Rangga seraya menenggak minuman kaleng.


"Kita ketemu lagi, dan ibu nggak terima kalau aku masih hidup. Hah..jelaslah, aku nih cuma anak haram, tadi aku kembalikan uang dia. Aku nggak bisa menerimanya karena gantinya dia minta aku menjauhi dia, aku nggak bisalah, Rangga. Aku menantikan pertemuan ini puluhan tahun, tapi dia menolak aku mentah-mentah. Dua kali ketemu cuma dikasih hadiah pukulan aja hehe.." jawab Keenan namun ia terlihat lebih tegar kali ini.


"Kasian banget kamu, Keenan. Kalau aja ibu kamu tau, kamu adalah anak yang baik. Terus apa rencana kamu?" tanya Rangga.


"Nggak ada, ketemu juga malah cuma jadi samsak aja. Semoga lain kali Allah membuka pintu hati ibu buat menerima aku, aku udah nggak mau berharap banyak untuk bersama lagi sama dia, aku cuma mau diakui aja," tukas Keenan seraya mengatupkan kedua tangannya di wajahnya.


"Kamu jangan nangis, Keenan!" pinta Rangga.


"Aku nggak nangis cuma kelilipan, Rangga. Makasih udah dengerin curhatku, Eh! Dimakan nih cemilan, jauh nih aku belinya haha.." ujar Keenan kembali mengembangkan tawanya lagi.


"Dimana, di Amerika, kah?" tanya Rangga.


"Di Amerina haha.." sahut Keenan.


"Ah, dasar oncom!" ucap Rangga seraya menoyor kepala Keenan.


Sementara Keenan dan Rangga kembali melanjutkan latihan bersama setelah merampungkan makan cemilan di pelataran rumah atap kali ini.


Karena hari sudah semakin sore, Rangga pun pulang ke kontrakannya. Sedangkan Keenan mengambil gitarnya sembari menunggu magrib, ia duduk di kursi bale-bale dan memetik gitarnya. Kembali ia lantunkan lagu our tears. Lagu yang sangat mengena di hatinya kali ini. Tak lama Chelsea mengirimkan pesan padanya.


Chelsea meminta Keenan menemaninya besok, Chelsea harus berbelanja pakaian.


"Chelsea ini, kenapa dia minta temenin aku, nih orang ngajak belanja apa ngajak ngedate hehe..besok ya, hum..bolehlah! Daripada aku bete di rumah." monolog Keenan.


Kemudian ia kembali melanjutkan memetik gitar dan bernyanyi. Sementara Chelsea senang karena besok Keenan mau menemaninya. Andai saja Aiden yang melakukan itu, entah apakah Chelsea hanya menjadikan pelarian karena Aiden mulai tak peduli lagi padanya.


"Ah, lumayan lah. Daripada aku boring, buat pelarian aja hehe.." ungkap Chelsea dimana yang ia rasakan berbeda dengan yang Keenan rasakan.


"Syukurlah aku udah lancar ngedance nya, semoga kamu nggak malu-maluin, Keenan. Karena acara akan disiarkan live di tv!" Keenan harap-harap cemas akan penampilannya dua hari lagi.


"Chelsea, pasti senang bisa jadi kekasihnya hehe..Ah, jangan mimpi kamu Keenan haha.." monolog Keenan seraya mengacak-acak rambutnya lalu masuk kembali ke rumahnya karena hari sudah mulai gelap dan nyamuk mulai berseliweran memangsa darahnya.


Chelsea tau Keenan pria yang baik, jadi Chelsea tidak malu mengajaknya bepergian meski Keenan hanyalah sopir taksi.

__ADS_1


*********


__ADS_2