
Keenan teringat sesuatu, ia sedang mengejar gadis pujaannya. Ia harus menjadi dirinya sendiri. Bukankah, terlalu mencolok jika tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya baru. Keenan menolak semua fasilitas untuknya yang akan Danu Wijaya berikan. Dengan sopan ia ingin Danu bersabar dan cukup mendoakan saja, karena Keenan ingin mandiri tanpa tiba-tiba berubah jadi ketergantungan.
Danu agak kecewa karena penolakan anak lanangnya itu. Namun, ia percayakan keinginan itu. Pewaralaba sukses itu selalu mendoakan yang terbaik untuk putra kesayangannya setelah Hilal. Danu memilih mengurus berkas untuk memasukkan Keenan dalam daftar kartu keluarganya. Sehingga ia bisa menjadi ahli waris dari kekayaan yang Danu miliki.
Dila membenahi dasi sang suami, Danu menyampaikan keluhannya pada Dila akan sikap keras kepala Keenan yang tetap berusaha hidup mandiri tanpa campur tangan mereka.
"Keenan menolak, fasilitas yang akan ayah berikan sama dia, bu. Ayah nggak tega dia tinggal di rumah atap yang bahkan ukurannya hanya seperti kamar kita." keluh Danu.
"Dia nggak mau tinggal disini, dia juga menolak fasilitas dari ayahnya. Biarkan aja, Keenan pasti punya alasan tersendiri, ayah. Sebaiknya jika mau memberikan sesuatu ayah ajak dia. Biar dia memilih sendiri, nanti." ujar Dila sehingga Danu memeluk pinggang ramping sang istri dan mengecup keningnya.
"Hum, iyalah. Ayah akan menuruti keinginan putra tampan ayah yang satu itu. Ayah harus pergi mengurus pebisnis yang akan ikut menjadi mitra lagi. Coffeshop belakangan makin ramai digandrungi semua kalangan." ujar Danu.
"Baiklah big bos hati-hati ya!" ucap Dila.
"Iya Ibu." ucap Danu lantas menggandeng tangan suaminya itu mengantarnya ke pintu gerbang seperti yang dilakukannya setiap hari pada sang suami.
Hilal juga berpamitan setelah Danu pergi, Hilal pergi dengan motor besarnya untuk kuliah.
"Bu, Hilal berangkat, ya. Assallamualaikum!" ucap Hilal serta mencium tangan Dila lalu beranjak ke motornya.
"Waallaikumsalam, hati-hati, nak!" ucap Dila kemudian kembali masuk ke kediamannya itu.
**********
Sementara Aiden merasa belakangan ini banyak hal aneh yang menimpa dirinya. Sejak menyukai Zoya, ia jadi bersikap seenaknya. Aiden menatap nanar melihat gedung pencakar langit lainnya lewat dinding kacanya itu.
"Kenapa, kamu jadi seperti ini, Aiden. Kenapa mencintai membuat kamu menyebalkan!" keluh Aiden seraya memijat pelipisnya.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan Chelsea nampak mengajak Aiden untuk meeting di cafe x.
"Pak, kita ada meeting di cafe x mengenai pembelian furniture dari perusahaan. Apa kamu udah siap, pak Aiden?" tanya Chelsea.
"Iya, siapkan berkasnya sekarang!" ujar Aiden kemudian mereka keluar bersama dari ruangan Aiden.
Sekeluarnya dari ruangan Aiden, Aiden berpapasan dengan Zoya dan mereka saling bertatapan sejenak. Chelsea membuang wajahnya dengan adegan haru biru yang cukup membuatnya jengah. Zoya kembali berlalu dari hadapan Aiden.
Kemudian melanjutkan langkahnya kembali masuk ke mobilnya bersama Chelsea. Mereka hanya terdiam sejenak, Aiden juga masih fokus menyetir.
"Kenapa terus menahan diri, bukannya kamu begitu menyukainya?" tanya Chelsea.
"..." Aiden hanya tersenyum menanggapi ucapan Chelsea.
Tak lama mereka tiba di cafe x dan memulai meeting. Aiden selalu melalui segala pekerjaannya dengan baik. Setelah meeting selama satu jam, mereka bergegas menuju ke perusahaan lagi. Namun mereka berpapasan dengan taksi Keenan yang baru menurunkan penumpang di cafe tersebut. Setelah itu Keenan hendak masuk kembali ke taksi namun Aiden mencegahnya.
"Kita harus bicara Keenan!" ucap Aiden.
__ADS_1
"Bicara apa lagi?" tanya Keenan.
"Chelsea, bawalah mobilnya ke kantor. Saya akan menaiki taksi Keenan!" titah Aiden.
"Tapi, kenapa pak Aiden?" tanya Chelsea.
"Ikuti aja perintah saya!" sanggah Aiden namun Chelsea segera menurutinya.
"Hati-hati, Chelsea!" ucap Keenan.
"Silakan Aiden!" ucap Keenan lalu membukakan Aiden pintu sehingga Aiden masuk ke dalamnya. Keenan pun berlari kecil menuju kemudi dan membawanya kini.
"Saya harus mengantar kemana, Aiden?" tanya Keenan.
"Aku mau kita ke taman untuk mengobrol!" titah Aiden.
"Baiklah." jawab Keenan lalu melajukan taksinya ke sebuah taman.
Setelah tiba, Keenan membawakan dua kaleng minuman dan mereka mengobrol di taman. Keenan selalu mengulas senyumannya itu pada Aiden. Sehingga Aiden merasa risih.
"Apa kamu selalu begini?" tanya Aiden.
"Kenapa?" Keenan bingung dengan pertanyaan Aiden.
"Tersenyum, apa kamu nggak sadar aku juga menyukai Zoya. Aku rival kamu, Keenan!" ujar Aiden dengan meneguk minuman kalengnya.
Aiden menghela nafas dan tak menjawab pertanyaan Keenan.
"Aku sadar mencintai seseorang membuat kita kelihatan bodoh haha..apa kamu yakin sama Zoya, bu Risna nggak menyukai kamu, Keenan." ujar Aiden.
"Jelas dia nggak menyukai aku, aku cuma sopir taksi. Aku miskin dan menyedihkan, berbeda dengan kamu. Tapi, aku nggak akan biarin kamu merebut apa yang udah aku miliki." sanggah Keenan menatap Aiden dengan lekat.
"Kamu yang merebutnya, Keenan!" ucap Aiden santai.
"Kita buktikan aja siapa yang bisa meruntuhkan hati Zoya dan ibunya, aku atau kamu!" tantang Aiden sehingga Keenan meremas minuman kaleng yang sudah tandas.
Tak lama sebuah mobil datang menjemput Ceo muda tersebut. Keenan tak lagi memandang Aiden, sedangkan Aiden perlahan masuk ke mobil mewahnya dan berlalu pergi meninggalkan Keenan.
Keenan menahan amarah yang terpatri dalam jiwanya. Lalu ia kembali melajukan taksinya untuk mencari penumpang.
"Sebaiknya tetap jadi Keenan yang miskin dan bodoh aja, aku mau tau akan sehina apa aku hanya karena aku cuma sopir taksi, aku akan pulang nanti saat aku udah berhasil membuat ibu Zoya luluh, huft sabarlah Keenan!" monolog Keenan terus menguatkan hatinya itu.
Sore ini Keenan pulang dengan hati yang berbunga. Ia membawakan sesuatu untuk Zoya. Sekotak pizza untuk Zoya nikmati bersama keluarganya. Pas sekali mereka selalu bertemu di jalan.
"Suprise..buat kamu sayangku!" ucap Keenan.
__ADS_1
"Pizza, makasih ya! kita makan sama-sama ya nanti!" ajak Zoya.
"Hum.."
Setelah itu mereka jalan beriringan menuju kerumah. Zoya menatap Keenan, akhir-akhir ini Keenan sering membeli sesuatu. Zoya benar-benar kuatir kalau Keenan itu punya kerjaan sambilan sebagai pencopet.
"Kenapa, kamu sering membelikan sesuatu akhir-akhir ini, apa kamu mencopet, Keenan?" tanya Zoya membuat Keenan terbelalak.
"Mencopet, astaga! Apa aku punya tampang tukang copet atau maling. Kenapa tiap aku bawakan sesuatu kamu selalu menuduh aku?" keluh Keenan.
"Kamu selalu krisis uang Keenan, sebaiknya kalau kamu punya uang. Simpanlah untuk diri kamu sendiri." ujar Zoya.
Keenan tersenyum mendengar penuturan Zoya. Sepertinya Keenan terlihat begitu blangsak untuk Zoya.
"Aku meskipun begini nggak mikirin Zoya, kalau ada ya dinikmati kalau nggak ada ya, diratapi haha.." ujar Kerja malah tertawa.
"Harusnya kamu bagian kedua Keenan, diratapi haha..itu yang menggambarkan diri kamu sekarang." sanggah Zoya.
"Haish, oh iya, kamu beneran kan mau menikah sama aku, Zoya?" tanya Keenan.
"Nggak mau." jawab Zoya.
"Kenapa?" tanya Keenan kesal.
"Karena kamu harus bisa meyakinkan ibu, Keenan. Aku capek semalaman aku menangis karena mikirin hubungan kita, tau!" ujar Zoya seraya menekan hidung Keenan.
Keenan segera melepas dengan hidungnya yang memerah dan mencari nafas.
"Hah..hah.."
"Haha..makasih ya pizzanya sayang. Carilah uang yang banyak supaya kita bisa buat pesta pernikahan yang megah..aku tau semua wanita di seluruh dunia, selalu menantikan pernikahan impian mereka. Jadi, hanya karena mereka minta pernikahan mereka dirayakan, jangan menyebut mereka matre, karena cuma pria payahlah yang mengatakan hal itu." ujar Zoya.
"Jadi kamu beneran mau nikah sama aku?" tanya Keenan sumringah.
"Hum..asal selama kamu berhubungan sama aku jangan selingkuh dan jangan buat masalah, oke!"' ujar Zoya.
"Kalau aku selingkuh gimana?" tanya Keenan meledek.
"End forever!" tegas Zoya sehingga tak terasa mereka tengah tiba di kediaman mereka.
"Aku masuk dulu, ya! Kamu mandilah abis itu temani aku beli pupuk, tapi jangan ketiduran lagi, oke!" ajak Zoya kali ini.
"Oke, siap." sahut Keenan bersemangat.
Tak sengaja Risna mendengar percakapan mereka soal sesuatu yang bisa membuat Zoya meninggalkan Keenan. Yakni, melihat Keenan berselingkuh. Maka hubungan mereka akan kandas. Maka munculah ide Risna, berharap mereka akan segera berpisah dan saling membenci satu sama lain. Risna bersikap demikian karena ia benar-benar tak respect lagi dengan Keenan sejak mereka menjalin cinta.
__ADS_1
Kemudian Risna segera beranjak ke dapur lagi untuk memasak makan malam. Disusul Zoya yang tak lama masuk ke rumahnya.