Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Sudah resiko


__ADS_3

Setiap pekerjaan memiliki resiko, Keenan tak mengharap banyak hal. Ia hanya berharap bisa melewatinya tanpa harus menjadikan nyawa sebagai taruhannya.


Keenan menghela nafas saat mereka mengepung taksinya. Mereka membawa senjata berupa kayu yang sangat sakit jika mengenai tubuh. Ia keluar perlahan, ia harus tau ada masalah apa sebenarnya. Kenapa ia harus mengalami nasib sial seperti demikian.


"Keluar juga kamu, ya!" ujar salah seorang dari mereka sepertinya pentolan dari genk motor itu.


"Maaf, saya nggak mengerti. Kenapa kalian mengincar taksi saya, apa saya buat masalah?" tanya Keenan berusaha mengontrol rasa takut yang menjalar dalam tubuhnya.


"Mana, pimpinan pengecut itu, dia harus tanggung jawab. Karena dia, teman kami terbaring lemah di rumah sakit!" dan ternyata benar yang Vero katakan kalau ialah penyebab salah satu anggota mereka terkapar di rumah sakit.


"Saya nggak tau, saya cuma mengantar dia. Kalau kalian memang mau dia bertanggung jawab, kalian bisa meminta secara baik-baik, main keroyokan seperti ini. Nggak akan menyelesaikan masalah," ujar Keenan.


"Banyak omong, kamu! Katakan aja dimana dia sekarang, atau kami paksa kamu untuk mengaku!!" pekik salah satu dari mereka.


"Aku nggak tau, aku cuma, Argh!!" Dewa melayangkan sebilah kayu sehingga berhasil membuat pelipisnya terluka lagi.


"Aish!" Keenan melihat bercak darah di jarinya setelah ia memeriksa pelipisnya.


"Ini baru awal, kalau kamu nggak memberitahu kami, kami akan menghabisi kamu!!" ujar Dewa yang terus saja menyerocos sejak tadi.


"Buanglah senjata kalian, udah main keroyokan, pakai senjata juga. Kalau berani hadapilah aku dengan tangan kosong!" ujar Keenan malah menantang.


"Nantangin dia, jatuhkan senjata kalian, kita habisi dia dengan tangan kosong! Sekali lagi aku bertanya, dimana si pimpinan perusahaan jahat itu berada saat ini?" tanya Dewa menekankan.


"Hah..aku nggak tau, cari tau aja sendiri! Kalian kalau berani menyakitiku lagi, aku akan pastikan kalian meringkuk di penjara!" ancam Keenan.


"Banyak bicara kamu, kasih dia pelajaran!!" titah Dewa.


Keenan sebenarnya tak jago amat berkelahi namun setidaknya ia sempat mempelajari bagaimana cara mempertahankan diri karena sering sekali di kasari oleh teman sekolahnya dulu, sehingga ia belajar sendiri untuk mempertahankan diri saat mereka hendak menghajar Keenan. Beberapa dari mereka tumbang, sehingga memicu amarah yang lainnya. Sehingga mereka mengeroyok Keenan dan menghujani pukulan ke tubuh Keenan dengan kayu yang mereka pegang ke tubuhnya hingga babak belur.


Setelah Keenan kirimkan dimana ia berada, Vero dan polisi bergegas datang menolong Keenan. Vero hendak menyelesaikan huru-hara ini lewat polisi. Semoga bisa ditempuh jalan damai.


"Sekali lagi kami tanya dimana, si sialan Vero, cepat katakan!!" dua orang mencekal kedua tangan Keenan yang sudah lemas itu.


Wajah sudah babak belur, Vero benar-benar terlalu lama meredam situasi yang memanas. Akan dirinya yang belum tiba.


"Aku nggak tau," jawaban Keenan disela nafasnya yang tersengal dengan tubuh mulai melemah.


"Cepat katakan atau.."


"Berhenti, kami polisi!!" tiba-tiba polisi datang dan membuat mereka kalang kabut. Dua anak buah Dewa menjatuhkan tubuh Keenan sehingga terkapar, dengan segera Vero melihat kondisi pria tak bersalah namun kena getahnya itu.


"Keenan, kamu nggak apa-apa?" tanya Vero menggoyangkan tubuh Keenan yang mulai hilang kesadaran.

__ADS_1


"Keenan bangun Keenan!" Vero berusaha membangunkan Keenan yang sudah hilang kesadaran itu.


"Tolong, panggilkan ambulance!!" pekik Vero yang merasa khawatir akan kondisi Keenan.


Polisi segera mengurus segalanya menghadirkan ambulance di tempat kejadian perkara. Sehingga Keenan segera dilarikan ke rumah sakit. Resiko yang harus dihadapi seorang taksi driver, Keenan kembali berurusan lagi dengan penumpang yang bermasalah setelah Billy.


Setelah masuk ke ruang perawatan, mereka segera mengurus kondisi Keenan yang kini sudah sadarkan diri. Vero merasa bersalah, namun semua sudah terjadi masih untung Keenan tertolong.


"Aku mau hubungi Zoya, istriku Vero." Keenan hendak mengirim pesan pada Zoya kalau ia berada di rumah sakit saat ini.


Perasaan Zoya campur aduk, ia sudah tidak fokus lagi. Ia meminta izin pada sang atasan untuk melihat kondisi Keenan. Sehingga berita ini terdengar hingga ke telinga Aiden. Zoya segera mencari taksi yang mengarahkannya ke rumah sakit yang dimaksud.


Sementara Vero tetap menemani Keenan dan meminta maaf atas tindakannya menyeretnya dalam masalahnya.


"Gimana kondisi kamu, Keenan?" tanya Vero yang kini duduk di samping brankar.


"Aku babak belur karena kamu," jawaban Keenan membuat Vero merasa sangat bersalah.


"Maafin aku, aku akan mengurus semua biaya perawatan hingga kamu sembuh!" ujar Vero.


"Satu lagi Vero, mereka cuma mau kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu, kesepakatan damai sebaiknya dilakukan. Jangan pikirin aku, kasian korban salah sasaran yang masih terbaring dirumah sakit." ujar Keenan mengingatkan CEO muda itu.


"Iya, semua ini karena aku. Fiuh, aku akan segera mengurus semua, kamu nggak usah mikirin ini lagi. Kening kamu terluka lagi?" tanya Vero melihat kening Keenan yang terbalut massa melingkari kepalanya.


"Mereka bilang pasien itu dirawat dirumah sakit ini juga, Vero. Kalau mereka beri kesaksian bukannya kamu juga akan terseret, pikirkan baik-baik," Keenan menambahkan karena teman pasien juga memberitahu dimana teman mereka dirawat saat ini.


"Hah, iya kamu benar, jangan bikin aku makin ngerasa bersalah Keenan, bahkan kamu masih bisa tertawa disaat seperti ini?" tanya Vero makin merasa bersalah.


"Aku nggak bisa melakukan hal lain, aku suka tertawa karena itu obat yang selalu menemani aku, aku mau awet muda, Vero hehe.." ujar Keenan.


"Kamu orang yang baik Keenan. Aku juga akan minta maaf sama istri kamu nanti, aku akan menemui pasien itu disini, kamu aku tinggal dulu, ya!" ujar Vero sedangkan Keenan mengangguk.


Vero pun mendatangi korban salah tembak itu. Terlihat ia sudah lebih baik, ia tengah membaca majalah seorang diri. Vero perlahan memasuki ruangan itu berharap pria itu tak terkejut.


********


Sementara sudah ada yang perasaannya tak terbendung. Sedih, marah, dan khawatir bercampur jadi satu. Setelah tiba di rumah sakit, Zoya segera menanyakan Keenan di ruang pendaftaran pasien.


"Maaf suster, pasien yang bernama Keenan Al-Farabi, saat ini dirawat dimana?"


"Sebentar ya,..oh di ruang melati no 3!" jawab suster.


"Makasih suster!" ucap Zoya kemudian mempercepat derap langkahnya untuk menemui suami yang amat dicintainya itu.

__ADS_1


Keenan tengah menutup matanya karena tubuhnya juga sakit semua karena habis dipukuli tadi. Zoya pun masuk dan melihat keadaan sang suami. Keenan perlahan membuka matanya dan tampak Zoya mendekat dan duduk di samping brankar dengan mata berkaca-kaca.


"Zoya, maafin aku sayang, aku udah ingkar janji!" ucap Keenan.


Zoya menggenggam tangan yang terpasang infus, terlihat Keenan yang memar di beberapa sudut wajahnya.


"Aku udah bilang jangan terluka lagi, kenapa malah makin banyak lukanya. Siapa yang tega ngelakuin ini sih, kamu bikin masalah atau gimana?" tanya Zoya sendu nampak bulir bening jatuh membasahi pipi.


"Jangan menangis sayang, ini salah paham aja. Kan aku juga baik-baik aja," ujar Keenan.


"Baik-baik aja darimana, bagian mana lagi yang dipukuli, haruskah periksa dalam, takutnya ada yang terluka tapi didalam malah kalau nggak ketauan bisa bahaya di kemudian hari sayang!" pinta Zoya makin sedih melihat kondisi Keenan. Ia menghapus jejak air mata yang terus saja keluar dari kelopak matanya.


"Jangan nangis sayang, kamu bikin aku sedih. Aku nggak apa-apa, maafin aku!" ucap Keenan kemudian Zoya menidurkan diri di dada bidang sang suami sehingga Keenan membelai rambutnya dan mengelusnya.


Mendengar Keenan terluka sebagai sahabat Aiden dan Chelsea ikut menjenguk. Mereka sengaja mengcancel pekerjaan demi melihat keadaan Keenan. Aiden dan Chelsea nampak masuk dan melihat keadaan Keenan yang tengah disuapi Zoya.


"Zoya, Keenan," sapa Aiden yang masuk kedalam disusul Chelsea.


"Aiden, Chelsea!" sapa Zoya dan mereka duduk di sisi brangkar satunya.


"Kasian banget sih, siapa yang ngelakuin ini?" tanya Chelsea.


"Genk motor hehe.. Vero kemana ya, sejak tadi dia nggak kelihatan," ujar Keenan.


"Orang itu harus jelasin karena gara-gara dia kamu jadi begini, sayang." ujar Zoya.


"Vero, mana dia ya. Mungkin mencari korban yang nggak sengaja kena sasaran tembak." ujar Keenan.


"Tembak? Ngeri banget sih, dia tuh orang baik bukan sih?" Zoya merasa ada yang tak beres.


"Vero itu siapa Keenan?" tanya Aiden.


"Katanya dia CEO, entah dari perusahaan mana hehe.." jawab Keenan.


"CEO?" Aiden bertanya-tanya dan penasaran.


Namun tak lama orang yang sejak tadi dibicarakan datang sehingga mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Kalian datang melihat kondisi Keenan?"


********


Hai semua, jangan lupa tinggalin jejak yaa 😍...

__ADS_1


__ADS_2