
Keenan menghela nafas saat ada yang mengganggu moment nya bersama Zoya. Rangga, benar-benar mengganggu sepasang insan yang sedang menyelami kenangan demi bisa bersama.
"Keenan, Eh, ada Zoya?" ujar Rangga.
Sehingga Zoya buru-buru melepas genggaman tangan Keenan.
"Hai, kok, dia kenal aku hehe.." Zoya juga yang tadinya sudah terbuai jadi merasa bingung sendiri.
"Iya, aku gitu lho haha.." ujar Rangga.
"Eh pe'a kenapa tiba-tiba ke sini, ada apa?" tanya Keenan.
"Kita diundang ke salah satu stasiun tv untuk jadi bintang tamu karena kemarin penampilan kita sukses, Keenan." jawab Keenan.
"Seriusan, hebat kalian, kapan itu?" tanya Zoya.
"Besok malam, live. Yaudah, aku balik dulu, kayaknya aku ganggu, nih! Jangan lupa Keenan, besok malam kita wawancara eksklusif." ujar Rangga yang tiba-tiba akan pergi.
"Eh, gitu aja? Makasih infonya, ya. Mau kemana kamu?" tanya Keenan.
"Yaudah, gitu aja, aku mau kerumah Felly, mau berduaan juga kayak kalian haha.." jawab Rangga dan berlalu pergi begitu saja.
Keenan dan Zoya saling berpandangan, Zoya berniat pergi dari hadapan Keenan. Itu kenapa, Keenan segera meraih tangan Zoya karena bahkan Zoya mengabaikannya begitu saja.
"Loh Zoya, kamu mau kemana, kamu belum menjawab perasaan aku?"
"Aku bingung, Keenan." jawab Zoya.
"Kamu jangan bingung, Zoya. Kalau memang kamu menyukai aku juga katakan "iya". Tapi kalau kamu memang menyukai Aiden, kamu bisa menolak perasaanku, aku nggak akan memaksa, kita bisa tetap berteman seperti dulu." ujar Keenan sendu dimana baginya cukup sulit menjadi yang utama di hati Zoya.
"Kenapa kamu sedetail itu, kamu beneran tulus nggak denganku?" tanya Zoya kembali menghadap pada Keenan sedangkan Keenan memegang kedua bahu Zoya.
"Tulus, Zoya. Aku bahkan selalu tulus meskipun aku terlihat bercanda, itu karena aku takut menyakiti tapi kalau memang kamu merasa perasaan kamu lebih besar pada Aiden, jangan memaksa mengatakan "iya" denganku hanya karena kasihan atau sebagainya. Kamu bisa menolak aku." jawab Keenan.
"Maaf tapi, aku butuh waktu memikirkan ini, aku benar-benar terkejut saat kalian menyatakan perasaan kalian bersamaan. Maaf, aku permisi dulu," Zoya berusaha menghindar.
"Zoya, ingatlah satu hal. Aku akan tetap menjadi teman kamu kalau kamu menolakku. Dan, aku akan dukung hubungan kamu dengan Aiden, karena yang utama adalah kebahagiaan kamu, Zoya. Kalau kamu memang bahagia bersama dia, terimalah dia. Yang penting kamu bahagia, Zoya." ujar Keenan dengan netra yang mulai berkaca.
Zoya menitihkan air mata nya sekilas mendengar pengakuan yang membuatnya makin bimbang. Keenan menyekanya dengan mengulas senyuman, betapa meneduhkannya wajah pria dihadapannya kini. Bagaimana dia akan merelakan pria sebaik dan meneduhkan Keenan menjadi milik orang lain.
"Gimana dengan Aiden, aku jadi bimbang begini, aku akui aku memang menyukai dia, tapi meskipun kita selalu adu mulut, aku nyaman berada di dekat kamu, Keenan. Aku bahkan lebih takut kehilangan kamu daripada Aiden." ujar Zoya seraya membelai pipi Keenan yang memerah karena tamparannya tadi.
"Berarti hati kamu untuk Aiden, aku ada di hati kamu tapi bukan sebagai orang yang kamu cintai." ujar Keenan menjelaskan.
"Apa yang kamu katakan, aku juga mencintai kamu, Keenan. Aku akan belajar mencintai kamu hiks.." jawaban yang begitu membahagiakan terdengar sehingga Zoya menjatuhkan dirinya dalam pelukan Keenan.
__ADS_1
"Jadi kamu menerima aku, Zoya?" tanya Keenan sumringah.
"Iya Keenan, aku menerima kamu, karena aku juga menyukai kamu, aku mengagumi kamu, aku terpesona sama kamu, puas kamu." jawaban Zoya membuat Keenan tergelak.
"Haha..iya dong, kapan lagi pacaran dengan pria sableng kayak aku haha.." Dan Keenan sudah memunculkan sifat aslinya lagi.
Zoya segera melepas dekapannya, " Lihatlah! Kamu udah mulai somplak lagi hehe.." ujar Zoya.
"Aku akan tetap jadi Keenan, menjadi diriku sendiri. Aku nyaman jadi diriku sendiri, tanpa kepalsuan, jadi aku berharap kamu bisa menerimaku apa adanya." jawaban Keenan membuatnya makin klepek-klepek pada Keenan sehingga dua kecupan mendarat mulus di pipi kanan dan kiri Keenan.
Cup..
Cup..
"Aku sayang kamu, Keenan." ucap Zoya.
"Aku juga Zoya, makasih udah menerimaku." ujar Keenan lantas memeluk Zoya dan mengangkat tubuh Zoya dan membawanya berputar.
"Keenan, nanti aku jatuh!" pinta Zoya.
"Tenang sayang, aku nggak akan menghempaskan kamu, aku terlalu bahagia. I love you Zoya ku." ujar Keenan sehingga Keenan berteriak kesenangan.
"Love you too, Keenan." jawab Zoya lantas membawa Zoya dalam pelukannya.
"Hum, kebahagiaan aku dobel karena kamu juga udah jadi milikku sekarang." ujar Keenan.
Namun, terdengar suara derap langkah seseorang menaiki tangga, sedangkan Keenan masih melingkari tangannya di pinggang Zoya.
"Zoya!" panggil Sandi.
"Ah, itu Ayah!" kejut Zoya lantas mendorong tubuh Keenan begitu saja ke lantai.
"Auh!" Keenan meringis karena Zoya yang mendorongnya hingga ia jatuh terduduk.
Sementara Sandi datang dan melihat keadaan Keenan. Keenan mengerti mungkin Zoya malu,
"Keenan, kamu kenapa?" tanya Sandi menghampirinya.
"Oh, aku sedang duduk di pelataran pak Sandi, sambil berolahraga hehe.." jawaban kikuk Keenan seraya melihat Zoya dengan mata menyipit. Zoya sendiri mengatupkan kedua tangan karena belum siap jika sang ayah tau akan hubungannya.
"Oh, nikmatilah! Ayah turun dulu, ayah hanya mau mengambil dirigen ini untuk susu. Kamu mau susu, Keenan?" tanya Sandi.
"Ah, boleh pak Sandi." jawab Keenan.
"Yaudah, Zoya. Kamu ini, jangan mendorong Keenan seperti itu hehe.."
__ADS_1
Dan ternyata Sandi tau akan sikap putrinya pada Keenan.
"Eng..enggak ayah." sahut Zoya lalu Sandi menggeleng dan kembali menuruni anak tangga.
"Huft," keluh Keenan lalu kembali bangkit sehingga Zoya merasa tak enak dengan Keenan.
"Kenapa kamu mendorong aku, Zoya. Kamu malu?" tanya Keenan sedikit kesal.
"Maaf Keenan, apa tadi sakit?" tanya Zoya.
"Enggak kok hehe..nggak apa-apa hehe..jangan dorong aku lagi, ya hehe..." pinta Keenan dengan tawa yang menekankan.
"Hehe..iya sayang." jawab Zoya seraya menyentuh pipi kanan Keenan sehingga Keenan tersenyum dengan manisnya lalu memeluk wanitanya lagi. Zoya juga perlahan melingkari tangannya di punggung Keenan dimana Keenan sedikit lebih tinggi darinya. Sangat nyaman berada di pelukan pria berdada bidang itu.
Lalu masih dalam memeluk Zoya, Keenan mengecup kening Zoya dan meneruskan dekapannya yang tak ingin Keenan lepaskan.
"Ingat Zoya, kamu udah jadi milikku, saat Aiden menyatakan perasaan nanti. Jangan terima dia, jangan tiba-tiba putusin aku, ya!" pinta Keenan sendu sangat takut kehilangan Zoya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Zoya.
"Karena tadi kamu bilang kamu menyukai Aiden dan kamu akan belajar mencintai aku, tentu aku masih was-was Zoya!" pinta Keenan lagi.
"Hum..iya Keenan. Aku nggak janji ya!" ungkapan Zoya membuat Keenan sedih.
"Nggak janji maksudnya, kamu akan menerima dia dan mutusin aku?" tanya Keenan.
"Hum.." jawab Zoya sengaja ingin melihat ekspresi pria menawan hati di hadapannya itu sementara Zoya menyembunyikan senyumannya yang melihat Keenan muram.
"Jangan Zoya, nanti aku patah hati dong, kamu nih! cuma kasihan sama aku, kan? Makanya kamu terima cintaku?" tanya Keenan makin tak karuan perasaannya.
Lalu Zoya meraih wajah Keenan dan dihadapkannya ke wajahnya kini.
"Aku mandi dulu, ya! Kamu mandilah, nanti aku bawakan makan malam!" ujar Zoya berniat pergi dari hadapan Keenan namun Keenan tak melepaskan tangan Zoya.
"Zoya, jangan tinggalin aku, ya!" pinta Keenan sendu sehingga Zoya malah jadi ikut sedih padahal Zoya hanya ingin mengetesnya saja. Keenan makin memperlihatkan kalau ia sangatlah tulus mencintai Zoya. Ingin rasanya ia memeluk lagi lelaki di hadapannya ini.
"Hum..jangan asal bicara, aku mau masak dulu, sekalian masakin untuk kamu, kesayanganku hehe.." ucap Zoya lalu meninggalkan kecupannya.
"Masak yang enak sayang!" ucap Keenan dimana Zoya tengah menuruni anak tangga kini.
"Iya sayang." sahut Zoya dengan senyumannya.
Keenan tersenyum kegirangan karena akhirnya ia bisa memiliki Zoya. Ia masuk ke rumah atap sejenak mengambil gitarnya dan menyanyi dibawah langit senja sore ini sambil menunggu magrib tiba.
*********
__ADS_1