
Sementara Keenan dan Chelsea jalan ke mall, Aiden dan Chelsea kini tengah menikmati perahu bebek di tempat wisata. Mereka menaikinya berdua sambil menikmati cemilan dan minuman kaleng. Mereka bermain dengan santai nya seraya mengitari luasnya danau yang ada di taman wisata tersebut. Sesekali Aiden menatap Zoya.
"Ini pertama kalinya, Zoya. Aku menaikinya, ternyata sangat menyenangkan." ucap Aiden seraya menekan tuas untuk mengayuh perahunya.
"Aku sering menaikinya dulu, sama Ayah, pak Aiden." ujar Zoya.
"Kamu belum pernah mengajak pria sebelumnya, Keenan. Emangnya kalian nggak ada hubungan apa-apa gitu?" tanya Aiden.
"Dia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, pak Aiden." jawab Zoya.
"Berarti aku beruntung, ya hehe.." ujar Aiden lalu tangannya perlahan merangkul Zoya dan menyandarkan Zoya di dadanya.
"Beruntung kenapa, pak?" tanya Zoya.
"Beruntung karena bisa jalan sama gadis semanis kamu, bersandar lah disini, aku suka Zoya. Apa kamu kurang nyaman?" tanya Aiden.
"Aku ngerasa nyaman, sama perhatian bapak. Aku nggak menyangka bapak orang yang ramah dan perhatian, biasanya CEO identik dengan ganas dan kejam hehe..Tapi bapak, baik dan hangat." jawaban Zoya membuat mata Aiden berbinar.
"Iya, tapi wajar sih. Karena mereka punya segalanya dan
buat aku sah aja kalau CEO itu kejam atau angkuh. Cuma, buat aku jabatan aku hanyalah titipan semata Zoya, udah sewajarnya makin tinggi jabatan kita, makin bagus juga perangai kita, seperti padi makin tinggi makin merunduk. Hum, yaudah kita makan aja, yuk! Aku, kok, lapar, ya hehe.." setelah menjelaskan sesuatu pada Zoya, Aiden mengajaknya makan siang kali ini.
"Iya, pak Aiden." sahut Zoya.
Seperti yang Aiden jelaskan tadi, itu kenapa Zoya begitu kagum pada atasannya itu. Aiden sangatlah ramah dan menawan baginya. Bahkan, ia mengikuti apa yang Zoya inginkan.
Setelah puas menikmati keindahan danau, Zoya dan Aiden makan di sebuah restoran yang mewah dengan sajian makanan yang enak. Zoya bahkan melongo melihat harganya, terlebih ia belum pernah makan di tempat sebagus itu.
"Pak, apa sebaiknya kita nggak makan di restoran biasa aja, harganya mahal-mahal banget!" tawar Zoya karena tak enak dengan Aiden.
"Kamu tenang aja, Zoya. Yang penting kamu bahagia, sekalian kita pesankan untuk orangtua kamu, ya!" ujar Aiden.
"Hum, iya pak Aiden." sahut Zoya dengan senyuman sedangkan mereka memilih menu yang sama.
Pramusaji kembali ke kitchen sedangkan langit tiba-tiba turun hujan. Zoya menikmati hujan kali ini bersama Aiden seraya menunggu pesanan tiba.
"Maaf, Zoya. Aku ke toilet dulu, ya!" ucap Aiden.
"Silakan, pak." sahut Zoya.
*******
Karena hujan yang datang tiba-tiba Chelsea membatalkan niatnya menemani Keenan latihan sore ini. Chelsea meminta Keenan mengantarnya saja ke kediamannya. Tak lama mereka tiba di rumah Chelsea.
"Makasih ya, Keenan. Maaf, aku nggak jadi menemani kamu, tapi aku akan datang menonton performance kamu nanti." ujar Chelsea seraya menggenggam jemari Keenan.
"Sama-sama sayang, em..maksud aku, Chelsea!" sahut Keenan namun setelah itu Chelsea keluar dari mobil Keenan dan tergesa ke rumah untuk menghindari hujan. Setelah keluar Chelsea kembali melambaikan tangan sedangkan Keenan akan pulang dahulu untuk bersiap latihan sore nanti.
__ADS_1
Namun saat berjalan beberapa meter terlihat sang ibu tengah mendapat kesulitan karena sepertinya ada masalah dengan mesin mobilnya. Keenan segera melipir untuk menolong sang ibu. Keenan menerobos hujan dan menghampiri sang ibu.
"Ada apa, nyonya? Kenapa mobilnya?" tanya Keenan membuat Dila terkejut.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Dila ketus.
"Saya cuma mau bantu nyonya, biar saya lihat keadaan mobilnya!" jawab Keenan dengan ramahnya meskipun badannya sudah basah terguyur hujan.
"Nggak usah, emang kamu bisa apa?" tanya Dila.
Sedangkan sang sopir mempersilakan Keenan membantunya. Meskipun Keenan hanya sopir, dia juga sengaja mempelajari seluk beluk tentang mesin karena jika taksinya ngadat ia bisa memperbaikinya secara mandiri.
"Eh, ngapain kamu kesini, pergi sana!" Dila malah mengusir putranya itu.
"Aku akan pergi setelah memperbaiki mobil nyonya." sahutan Keenan akhirnya di iya kan oleh Dila.
"Nyonya sebaiknya nyonya memayungi mas ini, hujan semakin deras!" pinta sopir Dila.
"Buat apa, yaudah. Saya mau ke mobil lagi, kalau pemuda ini udah selesai berikan dia uang dan cepat jalankan mobilnya!" titah Dila kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya itu.
Meskipun hujan semakin deras saja syukurlah mobil sudah bisa berjalan lagi. Betapa Keenan sangat merindukan sang ibu. Setelah selesai sopir Dila kembali masuk sedangkan Keenan menghampiri Dila untuk melihat malaikat tak bersayapnya itu.
"Alhamdulillah, mobilnya udah bisa nyonya, hati-hati dijalan, nyonya!" ucap Keenan lantas Dila memberikan sejumlah uang pada Keenan.
"Makasih, ini untuk membayar jasa kamu." ucap Dila seraya menyodorkan sejumlah uang untuk Keenan.
"Ck, kamu ini. Sebentar ya, pak!" ujar Dila ia membuka payung lantas keluar dari mobil melihat keadaan Keenan yang sudah basah kuyup. Dila menarik tangan Keenan dan membawanya ke bawah pohon.
"Cepat terima uang ini, anggap aja saya bayar jasa montir, pun kalau saya ke bengkel saya juga pasti akan mengeluarkan uang, saya nggak suka hutang budi." ujar Dila dimana ia terus memaksa Keenan menerimanya.
"Tapi, bu Auh..sakit bu!" belum Keenan selesai bicara Dila sudah memberikan cubitan pedasnya di perut Keenan. Sedangkan Keenan meringis.
"Ibu masuklah ke mobil, hujan semakin deras nanti ibu sakit, sakit bu!" Keenan meringis menahan tangan sang ibu yang menyakitinya lagi.
"Aku nggak akan melepaskan kamu sebelum kamu menerimanya, anak sombong!" ucap Dila sehingga Keenan menerimanya.
"Yaudah, aku terima." Keenan pun mengambilnya.
"Awas kalau kamu kembalikan lagi, kamu akan tau akibatnya. Makasih, karena kamu udah bantu saya! Sekarang pergilah!" titah Dila.
"Em..boleh aku mencium tangan ibu?" tanya Keenan dimana ia sudah sangat menggigil kedinginan karena hujan yang makin deras mengguyur tubuhnya kini.
"Nggak perlu, pergilah sana!" jawab Dila lantas kembali lagi masuk ke mobilnya dan jalan begitu saja.
Saat di mobil Dila merasa Keenan memang anak yang baik. Kalau tadi Keenan tak menolongnya pasti Dila akan merasa kerepotan, namun lagi ia malah menyakiti putranya itu.
"Ah anak itu, tapi dia memang anak yang baik. Ah, kenapa aku menyakiti dia tadi, bukannya dia hanya butuh kasih sayangku aja, dia selalu terlihat bahagia saat menemui aku, bahkan nggak terlihat kebencian meskipun aku selalu bersikap nggak baik sama dia. Tapi, dia adalah anak haram, karena Mario aku hamil dan dia pergi begitu aja, Ah masa bodoh! Pokoknya aku nggak mau dia hadir di tengah keluargaku, udah sepantasnya dia dapat hal itu, seharusnya dia kan nggak pantas hidup." monolog Dila pelan sehingga sang sopir seperti melihat majikannya itu komat-kamit.
__ADS_1
Sementara Keenan segera melajukan taksinya ke tempat penyewaan taksi usai melakukan hal itu ia berjalan begitu saja di tengah hujan. Dan Zoya melihat Keenan yang berjalan sendirian.
Setelah Aiden pergi, Zoya nampak mengambil payung dan tergesa menghampiri Keenan yang malah sengaja terkena hujan padahal besok kan Keenan harus tampil. Keenan terkejut saat tiba-tiba Zoya memayungi tubuhnya yang basah kuyup.
"Zoya!" ucap Keenan dengan senyuman.
"Ayo kita pulang! Udah tau ujan, kenapa jalannya kayak keong, besok kan kamu harus tampil, jagalah kesehatan kamu!" pinta Zoya seraya berjalan sambil memayungi Keenan.
Keenan berjalan dengan langkah gontai sehingga Zoya mengalungkan tangannya di lengan Keenan.
"Badan kamu dingin banget wajah kamu juga pucat, ayo cepat! Aku buatin air hangat ya! kamu mandi aja, biar kamu nggak sakit." ujar Zoya.
"Makasih Zoya, aku baik-baik aja, kok!" ujar Keenan dengan senyuman.
"Yaudah ayo, hati-hati jalannya!" ajak Zoya seraya menolong Keenan jalan perlahan.
Tak lama mereka tiba di rumah atap, Keenan bergegas ke toilet untuk mandi agar badannya kembali segar. Sedangkan Zoya membuatkan jahe hangat dan memberikan makan malam untuk Keenan. Setelah berpakaian dari toilet, Keenan pun keluar dan melihat perhatian Zoya yang begitu besar tersebut.
"Ini ada jahe hangat dan makan malam untuk kamu, aku masak banyak tadi. Kamu istirahatlah setelah ini, aku udah nggak sabar mau menonton performance kamu besok malam, kamu harus sehat, Keenan!" pinta Zoya.
"Makasih ya, Zoya!" ucap Keenan.
"Iya, Oh iya, apa tadi kamu diterima, kamu jadi menyatakan perasaan?" tanya Zoya.
"Nggak jadi, Zoya. Aku takut ditolak hehe.." jawab Keenan dengan senyuman lantas Keenan duduk di samping Zoya. Mendengar jawaban Keenan entah kenapa ada kelegaan hati yang Zoya rasakan.
"Hum, udah pasti kamu ditolak, jadi sebaiknya kamu nggak perlu menyatakan perasaan kamu lagi sama dia." ujar Zoya.
"Ah, kamu Zoya, aku dukung kamu sama Aiden, kenapa doa kamu jelek banget sama aku!" keluh Keenan.
"Kamu ini nyadar dong Keenan, kamu itu nggak pantas buat Chelsea!" ujar Zoya makin tak Keenan mengerti ucapannya.
"Hum, jadi aku pantasnya sama siapa, sama kamu hehe..." ungkapan Keenan tersebut membuat Zoya berdebar lantas menatap pria menawan hati di hadapannya itu.
"Jangan ge er!" ujar Zoya lantas menarik telinga Keenan.
"Ampun Zoya, emang aku salah bicara, ya?" Keenan merasa bingung.
"Iya, kamu kepedean, aku gelitiki aja mendingan haha.." ujar Zoya lantas menggelitiki Keenan yang sangat kegelian.
"Jangan Zoy, geli aku!!" pinta Keenan hingga tanpa sengaja Zoya malah terebah di atas dada bidang Keenan sehingga mereka saling bertatapan. Dan membuat jantung berdebaran.
Namun, tak sengaja ada yang membuka pintu rumah atap Keenan sehingga mengejutkan mereka.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan?" tanya seseorang membuat Keenan dan Zoya terperanjat lantas menatapnya.
***********
__ADS_1