
Setelah mengunjungi mansion, Keenan kembali lagi ke rumah atap. Nampak Zoya tengah mondar-mandir bak gasing karena merasa cemas terlebih tak ada barang bawaan yang Keenan bawa. Keenan terbelalak dan mencoba bersikap biasa saja.
"Hai sayang, ngapain mondar-mandir, kamu istirahat aja nanti kamu kecapekan, ingat kamu lagi hamil muda lho!" sapa Keenan.
"Kamu darimana, kemana pergi tergesa-gesa tadi?" tanya Zoya seraya menyeringai.
"Aku dari mansion, maaf aku lupa pamitan, ayah minta aku segera datang karena ayah mau memberikan pool taksi sayang!" jelas Keenan sehingga mata Zoya terbelalak.
"P-pool taksi, aku nggak salah dengar?" tanya Zoya.
"Iya, apa aku harus bahagia atau sedih, aku bingung Zoya?" tanya Keenan seraya mengajak sang istri duduk di kursi bambu yang berada di pelataran rumah atapnya ditemani bunga-bunga yang menghiasinya.
"Sedih, kenapa kamu sedih? Tentu kamu harus bahagia Keenan, ini rezeki kamu, jadi Presdir dadakan ya haha..Aku akan dukung kamu, kalau kamu nggak mau menerimanya juga, kamu berikan aja itu sama Hilal adik kamu." ujar Zoya.
Keenan bingung haruskah ia katakan kalau sebenarnya ia bukanlah ke mansion namun ke kediaman Mia. Lalu Keenan menyandarkan tubuh Zoya dalam pelukannya.
"Sayang, kalau aku jujur apa kamu akan marah?" tanya Keenan sehingga Zoya mengernyit.
"Emang kamu bohongi aku?" tanya Zoya seraya mengelus perut six pack yang terbungkus kaos tipis. Keenan menelan saliva dan berkata tentang ketergesaannya tadi.
"Aku ketemu Mia tadi sebelum ke mansion." jawab Keenan sehingga dengan segera Zoya menarik diri dari dekapan sang suami.
"Ngapain?" tanya Zoya dengan desiran saliva yang tercekat dan rahang yang mengeras.
"Aku melihat keadaan Alvan, aku takut terjadi apa-apa sama dia," jawab Keenan.
"Hanya itu, apa dia melakukan ucapannya, dia masih melepaskan kamu, kamu nggak main dengan dia kan, ayo cepat Keenan katakan!!!" Zoya mulai memberondong pertanyaan.
"Nggak Zoya," Keenan segera memeluk tubuh mungil itu dan Zoya beranjak melepaskannya. Dan pergi dari sisi Keenan dan mengambil gembor untuk menyirami bunganya.
Keenan tersenyum kemudian beranjak memeluk tubuh Zoya dari belakang dan menciumi ceruk wanita hamil hamil itu hingga Zoya melenguh.
"Sayang jangan lakukan itu disini!" pinta Zoya dengan nafas memburu.
"Yaudah ayo kita masuk!" ajak Keenan.
"Nggak." jawab Zoya lalu melepas dekapan Keenan dan memutar tubuhnya melihat Keenan dengan tatapan elang.
Cukup lama mereka berpandangan, namun rintik hujan yang awalnya gerimis hingga deras membuat Zoya enggan berteduh. Ia menikmatinya sambil menggelitiki perut Keenan yang sudah tergeletak karena tak mampu menahan geli akan perlakuan sang istri.
"Ampun Zoya ampun, ayo kita masuk ke rumah sayang. Deras nih ujannya!" pinta Keenan karena ia begitu mengkhawatirkan istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu aja yang masuk sana, aku udah terbiasa kena ujan!" Zoya berkilah dan beranjak mendongak ke langit dengan senangnya.
Keenan pun bangkit dan ganti menggelitiki sang istri sedangkan Zoya segera mengambil gembor dan menyirami wajah Keenan.
"Zoya, jangan sayang haha.." Keenan mengatupkan kedua tangannya ke wajahnya untuk menghindari kejahilan sang istri.
Mereka bak anak-anak yang masa kecilnya kurang bahagia. Akhirnya setelah Keenan mandi dan Zoya juga selesai mandi, Keenan mulai bersin terus menerus. Pria sensitif itu benar-benar mudah terserang flu jika kena hujan. Zoya membuatkan teh hangat untuk sang suami.
"Payah banget sih, hanya sekali kena ujan langsung terserang flu." keluh wanita hamil itu.
Hacih..
Hacihh..
Keenan yang bersin dengan ingus beleleran segera Zoya seka, hingga tisu itu ia sumpal kedalam hidungnya. Keenan hanya menghela nafas merasakan sang istri yang tak ada manis-manisnya. Zoya terkekeh saat Keenan hanya pasrah menerima perlakuan Zoya.
"Zoya, aku nggak bisa nafas!!" Keenan segera menarik tisu yang menyumbat pernafasannya.
Zoya hendak melayangkan kecupan ke bibir Keenan sehingga Keenan menyambutnya. Setelah itu, Zoya memegang jemari tangan Keenan.
"Ingat Keenan, kalau kamu berani menemui Mia diam-diam seperti tadi, aku akan pastikan kamu nggak bisa melihat wajahku lagi!" ancaman itu membuat Keenan tercekat.
Deg
Deg
Deg
"Salah sendiri kenapa nggak pamit, kamu tau kan kalau aku tau, aku akan menahan kamu tadi, makanya kamu beralasan mau membeli sesuatu. Jangan main api, Keenan!" ujar Zoya seraya menangkup kedua pipi Keenan.
"Maaf!" ucap Keenan.
"Auh!!" Zoya segera mencabut bulu kaki Keenan karena kesal.
"Kenapa tiba-tiba nyabut bulu kaki, sakit mak lampir!!" sergah Keenan.
"Hahah..sukurin mank enak, makanya jangan selingkuh, marimar!!" ujar Zoya seraya menjulurkan lidah.
"Kamu ini minta dicium ya, sini berikan muka kamu!" ucap Keenan sehingga ia mengejar Zoya namun terpeleset karena Zoya menyelengkat kaki sang suami.
Bugh..
__ADS_1
Si badan kekar itu jatuh terjengkang dengan badan yang sudah tak karuan rasanya. Zoya sendiri terkekeh menyaksikan sang suami yang sedang mengalami encok itu.
"Bully aja terus suami kamu ini sesuka hati!" Keenan merengek karena merasakan sakitnya terjengkang tadi. Sedangkan Zoya sangat menikmati rengekan sang suami yang sulit berjalan itu.
"Oke, aku akan bully kamu sesuka hati." ujar Zoya seraya menahan tawa.
Zoya berusaha menahan tawa melihat suami tampan dengan badan kekarnya itu sangat mengalah manakala Zoya tengah hamil. Tapi ia belum puas hati, melihat Keenan memelas dan mengerjainya adalah hal menyenangkan baginya sehingga Zoya harap Keenan akan banyak bersabar, karena ini ujian.
*******
Sementara malam ini Aiden tengah melihat cottage di sekitaran kota B lewat laptopnya. Ia menggerakkan touch pad dan mencari rekomendasi yang nyaman agar mereka bisa honeymoon dengan nyaman. Rencananya setelah menikahi sang istri Aiden akan memboyong sang istri untuk honeymoon ke pulau yang sering disebut dewata itu.
Semakin dekat akan hari bahagia membuat Aiden begitu bersemangat. Aiden harap apa yang ia berikan akan berkesan di hati calon istrinya.
Aiden menjimpit dagunya dan sumringah melihat tempat yang memanjakan mata itu.
"Refresh sejenak, meninggalkan kota ini deh, semoga bisa lebih tenang. Untung papa ngerti." Aiden sudah menyerahkan segala urusan pada Hilman, sang ayah.
Aiden hendak menyambar jaketnya dan menuju ke mobil mewahnya. Katanya cincin yang dipesan sudah selesai mereka buat. Cincin berhiaskan Swarovski ungu itu akan melingkar di jari manis Chelsea.
Setelah mengambil cincinnya. Aiden hendak memutar musik untuk menemani perjalanannya. Namun karena ada mobil yang datang, Aiden yang terkejut segera membanting stir sehingga Aiden hilang kendali dan membuat mobilnya berputar tak tentu arah. Hingga akhirnya berakhir menabrak pohon besar dan membuatnya terantuk stir.
Apa yang terjadi, semua orang melihat keadaan Aiden. Asap mengepul dan mereka berusaha menolong korban yang pingsan tak sadarkan diri.
Sementara Chelsea tengah selesai merapikan rumahnya yang nantinya akan ditinggali oleh Aiden. Namun ponselnya berdering. Chelsea segera mengangkatnya.
"Iya Ma." sahut Chelsea dengan netra yang mengembun dan menjatuhkan bulir air mata.
"Aiden kecelakaan??"
Chelsea menjatuhkan ponselnya dan beringsut ke dinding. Sang ayah masuk melihat putrinya yang terlihat shock.
"Kenapa nak?" tanya Fadli.
"Aiden kecelakaan ayah. Temani Chelsea ke rumah sakit sekarang ya!" pinta Chelsea dan diangguki oleh sang ayah.
"Kamu yang sabar ya!" Chelsea meremang, ia tak bisa berpikir pikirannya menerawang. Berharap Aiden bisa melewatinya. Fadli terus menguatkan hati Chelsea dengan menggenggam jemari putrinya.
"Aku takut terjadi sesuatu sama Aiden, ayah!"
Chelsea menyeka air matanya yang terus berderai dari pelupuk mata. Kenapa harus sekarang, disaat mereka akan selangkah lagi menuju bahtera pernikahan. Chelsea harap Aiden akan baik-baik saja.
__ADS_1
********