
Pagi ini suasana berkabut dan berembun membawa kesejukan menerpa raga. Keenan berangkat lebih pagi, setelah subuh ia langsung mengambil taksi dan mencari penumpang. Ia tak mau rezekinya dipatok ayam. Ia mengenakan jaketnya karena tubuhnya masih kurang fit, sejujurnya ia kurang bersemangat belakangan ini karena terlalu memikirkan Zoya.
Sekarang hari terakhir yang diminta sebagai syarat dari ibu mertuanya. Namun Keenan tetap akan menjalani semuanya perlahan, karena bukan cinta jika merasa tertekan sehingga merusak badan.
Ia menggunakan maskernya karena sejak tadi ia terus terbatuk-batuk. Keenan beruntung karena penumpang cukup ramai ketika ia berangkat saat matahari belum menampakan pesonanya.
"Silakan!" ucap Keenan pada salah satu penumpang.
Tak lama Chelsea menghubunginya meminta jasanya. Keenan segera melajukan taksinya menjemput Chelsea. Chelsea memilih duduk di kursi depan di sebelah Keenan.
"Hai Keenan, kayaknya kamu lagi kurang sehat, ya?" tanya Chelsea.
"Nggak ah, cuma batuk aja, Chel" jawab Keenan.
"Tapi kayaknya parah deh, ke klinik kesehatan aja, yuk!" ajak Chelsea seraya menyentuh kening Keenan. Keenan perlahan menepisnya.
"Kasian banget, berhenti disitu Keenan!" pinta Chelsea kemudian Keenan berhenti sedangkan Chelsea membawakan air jeruk hangat dalam cup dan sepotong roti.
"Kenapa kamu repot segala, aku cuma batuk!" sanggah Keenan.
"Anggap aja ini balasan karena perhatian kamu, kemarin! Cepat sembuh, ya. Aku mau kamu sehat!" pinta Chelsea seraya memegang tangan Keenan beralih ke pundaknya.
Sementara Keenan mengantar Chelsea, ada yang cemburu setelah turun dari bus. Zoya merasa panas, karena Chelsea mengelus pundak Keenan yang terus saja batuk tanpa henti.
"Sebaiknya, kamu pulang, Keenan! Kesehatan kamu lebih penting, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Karena kamu masih berarti di hatiku." ungkapan Chelsea membuat Keenan terperangah. Lalu Chelsea membelai pipi Keenan sesaat dan meninggalkannya.
"Makasih, ya!" ucap Chelsea lalu pergi menuju ke perusahaannya. Sedangkan Zoya yang cemburu tak terkira itu, menghampiri Keenan yang akan masuk ke taksi.
"Keenan!" panggil Zoya sedangkan Keenan menoleh dengan wajahnya yang tampak pucat.
"Masuk kedalam, aku mau bicara!" Keenan merasa aneh, apa tadi Zoya melihatnya bersama Chelsea. Keenan mengangguk dan mereka bicara di dalam taksi.
"Kenapa nggak dirumah aja, sih! Lihat tuh wajah kamu pucat. Batuk tanpa henti, kamu kena TBC apa?" tanya Zoya.
"Iya, tekanan batin cinta, kamu tenang aja. Aku udah biasa, nanti juga sembuh!"
"Kamu minum air jeruk?
"Iya, dibeliin Chelsea."
Zoya bersidekap tak memandang Keenan, "Jangan bete, aku cuma ngantar dia," jelas Keenan seraya memegang pucuk kepala Zoya. Zoya tersenyum dan meletakan tangan Keenan di pipinya kemudian menciumnya.
"Semangat sayang, 3 hari udah berlalu. Ayo kita jalani apapun yang terjadi!" pinta Zoya.
"Iya, yaudah. Kamu kerja ya, ada penumpang calling." pinta Keenan.
"Semangat ya sayang!" ucap Zoya seraya melayangkan lumatann lembutnya di bibir Keenan.
"Kamu sering mencium aku sekarang, nakal ya hehe.." ucap Keenan.
"Karena aku nggak mau kehilangan kamu, Keenan. Aku sangat mencintai kamu, kita bisa kawin lari kalau ibu nggak setuju. Nggak ada yang boleh memiliki kamu, kamu cuma buatku, Keenan!" ungkap Zoya.
"Hum..capek dong kawin sambil lari. Iya, kamu nggak usah khawatir, aku baik-baik aja," ujar Keenan seraya menjimpit dagu kekasihnya itu.
"Yaudah, aku duluan! Jaga diri kamu, nanti sore aku akan masakin sesuatu karena calon menantu ibu akan datang!" ucap Zoya begitu bersemangat.
"Iya..iya...yaudah, hati-hati, ya. Selamat bekerja, sayang!" ucap Keenan.
"Hum..kamu juga sayang!"
__ADS_1
Terasa lucu mendengar kelakar kawin lari, Zoya bahkan sudah makin menyukainya saat ini. Berapa kali ia meluncurkan kecupan itu, ia hanya berusaha membuktikan kalau cinta Keenan akan terbalas. Dan Zoya akan tetap berada di sisinya.
Saat Zoya pergi, Keenan kembali mengendarai taksinya lagi. Ia sedang berpikir tentang ucapan Zoya mengenai tekanan batin cinta. Apa hal inikah yang sedang Keenan alami. Ia merasa sangat bingung, cinta membuatnya merasa rumit. Awalnya ia hanyalah pria nyeleneh yang santai. Sekarang bahkan, ia banyak menghabiskan waktu mengalami yang namanya sakit hati, kecewa dan begitulah.
"Kenapa cinta begitu rumit, selama ini aku jomblo..why? Keenan..why?" Keenan pusing memikirkannya sehingga ia kembali fokus mencari penumpang saja.
Sementara itu,
Ternyata Risna memberitahukan pada Aiden soal syarat yang diberikan pada Keenan. Zoya terkejut, karena ia benar-benar memahami Risna saat ini.
Zoya menghidangkan kopi di meja Aiden saat ini. Tak disangka Aiden tiba-tiba mengajak Zoya ke tempat yang tak tertangkap cctv. Zoya awalnya tak tahu, di ruangan itu ada satu ruangan lain.
"Kita ngapain kesini, pak Aiden?" tanya Zoya.
"Soal keinginan ibu kamu, aku bisa memenuhinya, Zoya. Menikahlah dengan aku!"
"Eh, apa? Menikah? Keinginan apa, maksudnya?"
"Buat aku wajar, biaya pernikahan saat ini memang mahal kalau mau dipestakan. Kamu nggak usah ragu, biar aku yang melamar kamu, lupain Keenan! Ibu kamu nggak menyukai dia, dia hanya akan sakit hati nantinya." jelas Aiden.
"Maaf pak Aiden, saya harus!" namun Aiden menyandarkan tubuh Zoya di dinding. Aiden perlahan memejamkan matanya dan hendak melayangkan kecupan sehingga Zoya refleks menamparnya pelan.
Plak...
Aiden memegang pipinya yang memerah. Aiden mengusap wajahnya kasar, ia bahkan sudah tak bisa lagi mengontrol perasaan yang sempat menggantung karena cinta tak terbalaskan.
"Haish, apa yang aku lakuin, Aku cinta sama kamu, Zoya. Kenapa kamu mencampakkan aku, mencinta benar-benar membuat seorang CEO bahkan terlihat bodoh! Keluarlah, dari ruanganku, sekarang!" ujar Aiden yang kesal memiliki perasaannya itu.
"Maaf, aku nggak bermaksud menampar anda, pak! Aku hanya nggak suka cara anda!" Zoya jadi salah tingkah akan sikapnya.
"Nggak apa-apa, lupakan aja! Aku, ish!!!" Aiden segera pergi dari hadapan Zoya dan Zoya juga bergegas keluar dari ruangan Aiden.
*********
CEO tampan itu, merebahkan diri di ranjang empuknya dan hendak menemui Keenan. Keenan menyetujuinya dan mereka kembali bertemu di sebuah restoran.
"Maaf, Keenan. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, soal Zoya." ucap Aiden.
"Bicaralah!" Keenan tersenyum.
"Wajah kamu pucat, apa kamu sakit?" tanya Aiden.
"Iya, aku agak nggak enak badan. Zoya udah menceritakan lewat pesan soal keinginan ibunya. Apa dia meminta hal yang sama ke kamu?"
"Enggak, tapi bu Risna lebih setuju kalau aku yang bersama Zoya, mungkin itu alasan aja supaya kamu pergi dari Zoya!"
"Sebaiknya kamu tinggalin Zoya, Keenan! Menyerah lah, jangan buang-buang waktu, melakukan hal yang sia-sia!" pinta Aiden membuat Keenan menelan saliva.
"Kenapa, kamu nggak usah ikut campur, Aiden! Carilah wanita lain, jangan terus-terusan ganggu aku sama Zoya!"
"Terserah kamulah, bersiap aja kecewa!" Aiden memperingatkan kemudian pergi meninggalkan Keenan.
Disaat yang sama, Danu wijaya baru menyelesaikan meeting dari restoran dan mendapati Keenan yang melangkah gontai. Danu segera menghampiri Keenan dan membawanya menuju ke taksinya.
"Kamu sakit, nak! Ayo, ikut ayah pulang!" ajak Danu sedikit memaksa.
"Aku nggak bisa pulang, ayah!" Mereka tengah tiba di depan taksi Keenan sekarang.
"Menurut lah Keenan! Kamu sakit, ayo! Kita ke rumah sakit memeriksa kondisi kamu!"
__ADS_1
Danu segera memasukan Keenan kedalam taksi dan ganti mengendarai taksi Keenan. Keenan nampak tertidur dengan suhu tubuh yang kembali demam. Sebagai ayah Danu sedih melihat keadaan putranya itu. Dengan segera Danu melajukan taksinya sehingga Keenan mendapat perawatan.
Danu menemui dokter yang menangani Keenan dan mengatakan kalau Keenan mengalami kelelahan yang berat. Belakangan dia memang mendapat banyak kejutan dalam hidupnya. Dila juga menyusul bersama Hilal dan melihat keadaan Keenan.
Keenan sudah tersadar dan membaik saat ini. Dila sedikit kesal karena Keenan membuat dirinya berpikir terlalu keras sehingga kondisinya menurun.
"Dasar anak nakal! Kamu harusnya katakan aja kalau mau melamar Zoya, kalau hanya 100 juta kita bisa membawanya!" ujar Dila.
"Ini masalah ku, bu! Aku udah terbiasa menghadapinya sendiri!" ucap Keenan.
"Tapi sekarang kita keluarga Keenan, masalah kamu masalah kami juga, apa kamu begitu mencintai dia. Ayo, kita temui keluarganya sekarang! Sekalian kita menginap di rumah atap Keenan. Bagaimana, ibu sama Hilal setuju?" tanya Danu.
"Iya, aku setuju aja, ayah!" sahut Hilal bersemangat.
"Tapi rumah atap kecil, bu! Kasurnya juga tipis gimana kalian tidur nanti, kalian kembalilah ke rumah setelah ini!" pinta Keenan.
"Hum..setelah melamar anak gadis, bukan?" tanya Dila dengan senyuman.
"Ibu mau membantu aku melamar Zoya?" tanya Keenan antusias.
"Ah, ya ampun, lihat Ayah! Superman ini udah sehat lagi!" kelakar Dila seraya mengacak rambut putranya itu.
"Semangat lah bu, wong mau kawin kok hehe.." seru Hilal dengan tawanya.
"Wah, anak nakal nambah lagi, nih." ucap Danu.
"Aku 'kan ketularan mas Keenan, Ayah hehe.."
"Aku jitak sini, sejak kapan aku ngajarin kamu!" ujar Keenan lalu tiba-tiba Hilal memeluk sang kakak dengan eratnya.
"Mbok yo yang kuat mas, semangat! Aku bahagia kalau mas Keenan bahagia, semoga lancar sampai pernikahan ya, biar aku bisa dapat ponakan haha.." kelakar Hilal.
"Aamiin, makasih adekku yang ganteng!" ucap Keenan seraya merangkul Hilal, ia sangat menyayangi adik tirinya itu. Ia sangat bahagia karena punya saudara laki-laki yang sopan seperti Hilal.
"Yaudah, yuk! Bersiap, kita bertamu dulu aja seperti biasa, ya! Kita lihat nanti kalau ditolak kamu jangan galau hehe.." kelakar Dila.
"Iya, bu! Aku nggak galau cuma patah hati. Tapi aku nggak mau ditolak, bu! Nanti aku ke dukun aja kalau ditolak hehe.." sahut Keenan.
"Oalah, dosa itu mas ganteng ku. Mas pasti diterima, kalau nggak aku bawa pulang aja mbak Zoyanya nanti hehe.."kelakar Hilal.
"Haha..ada-ada aja kamu dek,"
"Yaudah, kamu hati-hati jalannya. Nanti Hilal bawakan taksi Keenan, ya! Keenan sama ibu biar naik sama ayah!" ujar Danu.
"Beres, ayah."
Setelah mengurus administrasi, Hilal membawa taksi Keenan dan Keenan naik bersama kedua orangtuanya. Tak lama mereka tiba di kediaman Zoya. Zoya terkejut akan kehadiran Keenan dan keluarganya.
"Assallamuallaikum!" ucap Danu.
"Waallaikumsalam!" sahut Sandi dan nampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Pak Sandi, ini keluarga saya mau bertamu sekalian menyambangi bapak sama ibu!" ucap Keenan membuat Risna terbelalak terlebih Zoya.
Dan akhirnya Risna mengetahui siapa Keenan, pemuda yang diremehkannya itu.
"Ini orangtua kamu, Keenan?" tanya Risna begitu terkejut.
**********
__ADS_1