
Pagi ini, Keenan sudah merapikan dirinya, ia mandi dan berpakaian kasual. Ia masih setia dan akan terus menjadi sopir taksi online. Karena ia sudah merintis profesinya itu sejak usianya beranjak 20 tahun. Kurang lebih lima tahun sudah ia menggeluti dunianya.
Segalanya sudah ia alami, hingga saat ia memutuskan untuk menetap lebih dekat dengan penyewaan taksi. Ia menemukan cintanya yang saat ini berlabuh menjadi istrinya. Itulah karena ia begitu mencintai profesinya, ia tak ingin beranjak karena sudah jatuh cinta dengan profesinya sebagai sopir taksi online.
Keenan meraih jaket kulitnya dan memakai kacamata hitam. Ia merapikan rambutnya dan menyemprot parfum. Ini adalah hari perayaan kelima tahun ia berkecimpung menjadi pengemudi taksi.
"Wuih, gantengnya kesayangan aku ini, kamu mau narik taksi, lho! Bukan mau fashion show sayang." ujar Zoya seraya melihat tampilan Keenan yang terlalu wah itu.
"Dari awal aku memang kayak gini, Zoya. Ini tanggal dimana aku pertama kali terjun ke dunia pertaksian. Agak lebay, tapi yuhu..aku nggak peduli. Aku bahagia dengan pencapaianku, ayo kita berangkat sayang!" ajak Keenan seraya merangkul tengkuk Zoya untuk memasuki taksi yang sudah terparkir di depan rumahnya.
Taksi online, mobil sedan berwarna biru itu adalah teman setia Keenan. Yang membawa Keenan mencari sesuap nasi. Suka duka sudah dilaluinya bersama mobil taksinya itu.
Keenan mengendarai dengan santai, sesekali ia melihat tampilan wajahnya di spion yang berada di atas kepalanya.
"Ngaca mulu sih dari tadi?" tanya Zoya merasa gusar karena Keenan terlihat begitu menawan kali ini.
"Hehe..maaf! Aku mau bersemangat hari ini, aku bangga menjalani profesiku, Zoya. Banyak hal yang udah aku alami selama jadi supir taksi, dan aku menyukainya." jelas Keenan seraya memutar musik tentunya musik Korea favoritnya.
"Dandanan kamu meresahkan, awas kalau mengaku jomblo ke penumpang wanita, ya!" ancam Zoya merasa getir.
"Hehe..merayu aja boleh nggak," sanggah Keenan.
"Enak aja," ujar Zoya seraya mengambil kacamata hitam yang Keenan kenakan dan menaruhnya di dalam tas.
"Biar nggak makin ganteng," ujar Zoya dan Keenan hanya menghela nafas akan perlakuan Zoya.
"Ganteng darimana, sih. Jelek begini?" Keenan bertanya seraya menyimpulkan senyumannya. Membuat Zoya menghela nafas meleleh lumer teringat kisah mereka saat masih sering bertengkar dahulu.
"Ada perayaan nggak, traktir aku dong!" pinta Zoya.
"Nggak ada, aku cuma mau bersemangat aja. Tapi kita keluar nanti malam pacaran sambil makan sate mau nggak?" tanya Keenan menawarkan.
"Bolehlah, yaudah. Aku juga udah sampai, nih! Aku duluan, sayang!" pamit Zoya kemudian keluar dari taksi. Pas juga Keenan baru saja mendapat penumpang hari ini. Ia kembali melajukan taksinya untuk menjemput penumpang.
Selama lima tahun dijalaninya dengan santai, tak banyak yang Keenan dapatkan. Namun ia bersyukur karena tahun ini Keenan mendapat banyak kejutan cinta. Seperti ia akhirnya bisa menemui sang ibu yang tak sengaja menumpang taksinya sehingga mereka dipertemukan.
Ia juga mengakhiri tahun yang hampir berakhir ini dengan menikahi Zoya. Wanita yang biasa perang mulut dengannya. Namun akhirnya, Tuhan menunjukan kalau ternyata Zoya adalah jodohnya. Terdengar lucu, namun demikianlah nasib, tak akan ada yang tau. Rencana adalah milik kita, namun Tuhanlah yang menentukan akan jadi seperti apa rencana itu.
Keenan menghentikan taksinya dan mengunjungi panti asuhan untuk memberikan beberapa rezekinya. Itu bentuk rasa syukurnya karena pencapaian yang bagi sebagian orang biasa saja namun baginya begitu berkesan.
__ADS_1
Tak lama Hilal sang adik tiri menghubungi dan meminta Keenan untuk menemaninya belanja pakaian. Keenan pun menyanggupinya, mereka tengah bermobil bersama saat ini.
"Kangen aku sama Mas Keenan, kita main seharian yuk! Aku lagi libur kuliah nih!" pinta Hilal.
"Aku harus kerja dek, cari uang." sahut Keenan seraya memandang ke depan.
"Ah mas ini, padahal aku udah suruh ayah kurung mas loh waktu itu. Mas nih jarang main kerumah lagi, sekarang." keluh Hilal seraya menatap Keenan dengan kesal.
"Oh, jadi soal aku dikurung tuh ide kamu, jahat kamu sama aku," keluh Keenan.
"Yah abisnya, aku sepi mas. Coba mas dan mba Zoya itu nginep seminggu atau sebulan dirumah, kita bisa main PS bareng mas, pokoknya aku mau kita lebih dekat mas. Biar kita bisa saling mengenal lebih dalam." ujar Hilal.
"Hum..jadi sekarang kamu mau kemana, aku temani. Abis itu aku mau cari penumpang lagi!" ujar Keenan.
"Kita shopping mas, ke mall, mas mau ndak?" tanya Hilal.
"Aku harus kerja dek, mas antar kamu aja, abis itu kamu!" namun Hilal membekap mulut Keenan sehingga Keenan melepasnya.
"Kenapa bekap mulut aku?" Keenan merasa kesal.
"Ayolah mas, nih ayah video call, aku adukan ke ayah nanti!" rengek Hilal macam anak kecil saja.
"Yaudah, iya. Kamu mainnya aduan, ya!" dan akhirnya Keenan mengikuti rengekan sang adik tiri.
"Kenapa mas sepertinya takut banget toh sama ayah?" tanya Hilal penasaran.
"Fiuh, bukan takut dek. Tapi pasrah," jawaban Keenan cukup membuat Hilal merasa bingung.
"Pasrah piye to mas?" Hilal penasaran.
"Yah pasrah, karena mas udah lama nggak punya orang tua. Jadi setelah Allah memberikan mas ayah sama ibu, mas berusaha menurut aja dek, mas bahagia meskipun mereka marah atau pukul mas, mas rela. Yang penting mas nggak kehilangan mereka lagi." jawaban Keenan membuat Hilal tersenyum tipis dan memegang pundak sang kakak.
"Fiuh, aku bahagia karena dipertemukan sama mas Keenan. Mas nih begitu mandiri dan apa adanya hehe..ganteng lagi hehe.." ucap Hilal sehingga Keenan merangkul sang adik.
"Kamu juga ganteng my brother, yaudah kita cus ke mall sekarang, ya!" ujar Keenan kemudian melepaskan rangkulannya itu.
"Siap mas ku haha.." sahut Hilal bersemangat. Keenan menanggapinya dengan tawa seraya mengacak rambut sang adik sehingga Hilal tertawa.
********
__ADS_1
Zoya tengah menyelesaikan laporannya dan hendak memberinya pada Aiden. Ini kali pertama ia kembali dipertemukan dengan Aiden lagi. Namun terlihat ia tengah tertawa dengan Chelsea. Zoya tersenyum dan Aiden menghela nafas sejenak,
"Siang pak Aiden, ini laporan hasil penjualan furniture. Kepala divisi meminta saya menyerahkan, dia sedang mengurus laporan yang lain!" ucap Zoya.
CEO tampan itu menelan saliva dan menghela nafas berat. Chelsea yang berada di antara mereka hendak berpamitan.
"Aku permisi dulu, pak Aiden. Zoya!" ucap Chelsea namun masih memberi senyuman tanpa arti ketika berpapasan dengan Zoya. Suasana berubah canggung seketika.
"Silakan duduk, Zoya!" pinta Aiden sedangkan Zoya pun duduk di hadapan meja Aiden.
Aiden bersikap dingin dan tak menatap Zoya barang sedikit pun.
"Mana laporannya?" tanya Aiden. Kemudian Zoya menyerahkan laporannya dan Aiden membuka file serta membacanya sejenak. Lalu menandatanganinya, Aiden pun kembali memberikannya pada Zoya.
"Ini," Aiden pun menyerahkan file itu pada Zoya. Sehingga Zoya hendak pergi dari hadapan Aiden.
"Makasih pak, saya permisi dulu!" Zoya hendak pergi dari hadapan Aiden namun Aiden memanggilnya.
"Tunggu Zoya!" panggil Aiden.
Aiden mengeluarkan sebuah kotak warna berbentuk hati berisi kalung. Harusnya kalung itu akan dihadiahkan pada Zoya saat Aiden menyatakan perasaan. Namun berhubung Zoya sudah bersama Keenan. Aiden hanya menyimpan saja.
"Untuk kamu, Zoya. Aku mau berikan ke yang lain, tapi emas putih ini udah tercetak nama kamu. Sebaiknya kamu simpan sebagai kenangan." ujar Aiden.
"Tapi pak," Zoya berusaha menolaknya dengan hatinya yang sedih.
"Ini perintah Zoya, terimalah! Anggap ini hadiah pernikahan kamu yang baru sempat aku berikan hari ini." ujaran Aiden membuat Zoya tersenyum getir.
"Ayolah, terima. Kamu tenang aja, aku akan move on dari kamu, aku akan mendukung hubungan kamu sama Keenan. Karena kalian adalah temanku," dan Zoya pun mengangguk seraya tersenyum menerima kalung yang harusnya hadiah pernyataan cinta.
"Terima kasih, pak Aiden." ucap Zoya nampak berkaca-kaca.
"Kamu bisa kembali bekerja!" titah Aiden kemudian Zoya menundukkan sedikit kepalanya.
"Makasih pak! Saya permisi, dulu!" ucap Zoya kemudian pergi dari hadapan Aiden.
Lagi Aiden menahan emosi yang bergejolak. Namun ia merasa rak sekaram saat itu. Ia merasa akan tetap menjalin persaudaraan pada Zoya dan Keenan saja.
"Bahagia ya, Zoya! Aku juga akan mencari kebahagiaanku sendiri!" harap Aiden dengan senyuman dan kembali ke mejanya untuk bekerja.
__ADS_1