Terjebak Cinta Taxi Driver

Terjebak Cinta Taxi Driver
Mendapat anak


__ADS_3

Setelah puas menemani sang adik berbelanja Keenan hanya mengantar Hilal hingga di depan rumahnya. Ia niatnya akan mampir namun Mia penumpangnya dulu singel mother tengah mengalami keresahan karena Alvan Danial, anak lelaki dari Mia sakit.


"Ya ampun Hilal, maafin aku, ya! Aku harus antar penumpang lagi. Darurat dek!" pinta Keenan karena Hilal ingin Keenan bersamanya.


"Mas nih, alasan aja. Tak bilangin ayah nanti, mas mau kabur!" ujar Hilal karena ia sangat memaksa dan ingin sekali menghabiskan waktu bersama kakak tirinya itu.


"Enggak, dek. Mas nggak akan alasan, mas janji. Kunci taksi kemana, ya?" Keenan kebingungan mencari kunci yang sudah Hilal bawa. Hilal segera memberikan di hadapan wajah Keenan. Saat Keenan akan mengambilnya Hilal malah menyembunyikan di balik punggungnya.


"Eits, nggak mau. Mas pasti bohong, kan!" Hilal malah meledek dan tak mengizinkan sang kakak pergi.


"Demi Allah dek, mas janji kita akan menghabiskan waktu bersama. Tolong dek, kasih kuncinya sekarang!" Keenan memelas dan berharap sang adik berhenti menghalanginya pergi.


"Hum, yaudah. Besok mas main ya kesini! Nih kuncinya," Keenan pun mengambil kunci itu seraya tersenyum dan mengacak rambut Hilal. "Makasih ya dek. Insya allah kalau mas luang, mas akan main, assallamu' alaikum!" ucap Keenan dan mempercepat langkah menuju ke taksi dan memasukinya.


"Waalaikumsalam mas, alon-alon wae, mas!" sahut Hilal merasa kecewa karena ia gagal mengajak sang kakak bersamanya.


"Ah, mas Keenan. Aku kangen tau. Yo wes lah, dewe'an meneh!" keluh Hilal seraya menghela nafas berat dan memasuki rumah megahnya itu.


Keenan pun bergegas memacu taksinya dengan kecepatan tinggi ke kediaman Mia. Yang ia pikirkan adalah Alvan yang bernasib nahas karena harus terlahir ke dunia tanpa seorang ayah. Alvan adalah anak hasil hubungan terlarang sebelum sah dalam pernikahan tak jauh beda seperti dirinya.


"Sabar ya Alvan, kamu pasti akan baik-baik aja!" harap Keenan.


Sementara Mia tengah menangis karena menunggu Keenan yang akhirnya datang. Keenan pun datang dan Mia segera membawa Alvan yang sudah berusia 6 bulan itu dalam gendongannya. Kemudian mereka memasuki taksi.


"Ratih mana Mia, hanya kamu?" tanya Keenan karena seingatnya ada Ratih sang adik.


"Dia pergi Keenan, ada urusan." Mia segera duduk di kursi belakang dan Keenan bergegas mengantarnya. Keenan melihat wajah Mia yang cemas.


"Sebenarnya Alvan kenapa, kita bawa ke dokter anak aja ya!" ajak Keenan.


"Ke puskesmas aja Keenan. Aku nggak punya biaya kalau harus kesana," keluh Mia nampak bersedih.


"Soal biaya jangan kamu pikirin, yang penting Alvan cepat ditangani, ya!" Keenan pun melipir ke atm sejenak dan mengambil tabungannya. Tak lama Keenan kembali lagi dan Mia merasa perlu untuk bertanya.


"Keenan, kamu ngapain ke atm?" tanya Mia merasa tak enak hati.


"Kita harus bawa Alvan ke dokter anak. Udah kamu tenang aja, aku akan bantu kamu bikin Alvan sehat lagi!" jawab Keenan seraya menatap sendu pada Alvan yang lemas.


"Dia kalau sakit lemas banget Keenan. Pertumbuhan dia aktif, dia anak yang mengerti ibunya." jelas Mia dengan kesedihan mengkhawatirkan keadaan Alvan yang panas tinggi.

__ADS_1


"Iya, sehat ya nak! Om jadi sedih melihat kamu," netra Keenan berkaca sehingga ia segera menyeka airmata yang hampir berlinang.


Tak lama kemudian Keenan pun tiba di depan praktek dokter anak. Mereka bergegas dan sayangnya harus antri, Keenan dan Mia kini menunggu di ruang tunggu. Keenan pun sejenak mengambil alih menggendong Alvan yang mulai rewel karena sakitnya.


"Sabar ya anak pintar, kita tunggu dokter periksa Alvan!" ucap Keenan seraya menimang bayi berusia 6 bulan itu dalam gendongannya. Mia menatap dengan senyuman, ia tak menyangka Keenan seperhatian itu pada Alvan.


Satu jam berlalu akhirnya, Keenan dan Mia masuk ke ruangan dokter memeriksakan kondisi Alvan yang ternyata terkena demam berdarah. Untung Alvan cepat ditangani sehingga Alvan tak mengalami kondisi yang parah. Alvan harus di opname, dan Mia malah menghela nafasnya.


"Apa bisa pakai kartu kesehatan, dokter. Saya nggak ada biaya!" keluh Mia.


"Bisa, bu! Untuk kartu kesehatan bisa diurus secepatnya. Alvan tetap bisa dirawat malam ini!" ujar Dokter Nabil.


"Ah, syukurlah!" Mia menghela nafasnya dan akhirnya Alvan dibawa ke ruang perawatan.


Keenan dan Mia memandangi tubuh Alvan yang dipasangi infus.


"Makasih ya Keenan, untungnya bisa pakai kartu kesehatan. Makasih karena kamu udah bantu aku!" ucap Mia merasa tenang.


"Iya, aku pergi dulu, ya! Aku mau pulang. Ini sudah agak larut, oh iya. Aku beli nasi bungkus tadi. Kamu masih menyusui kan, kamu harus banyak makan. Karena Alvan butuh itu." ujar Keenan.


"Makasih Keenan, aku nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada kamu. Gimana kabar kamu, apa kamu udah menikah?" tanya Mia.


Keenan mengangguk, "Udah baru seminggu ini." jawaban Keenan membuat Mia merasa sedikit kecewa.


"Iya, Alvan! Om pulang dulu, ya! Om akan kunjungi Alvan besok, Alvan anak pintar, cepat sehat ya, biar mama nggak sedih lagi!" ucap Keenan pada bayi berusia 6 bulan tersebut.


"Aku permisi dulu, Mia." ucap Keenan dan Mia mengangguk seraya tersenyum.


"Makasih ya Keenan." ucap Mia lagi kemudian Keenan keluar dari klinik dokter anak tersebut dan memasuki taksinya lagi.


Ia melihat ponselnya yang low bat, kemudian mempercepat laju taksinya untuk pulang. Sementara waktu sudah larut sehingga Zoya menunggunya dengan cemas.


Zoya tengah gusar menunggu sang suami yang belum datang padahal waktu sudah malam. Tak biasanya karena ia biasanya sudah kembali saat sore hari dan ponselnya tak bisa dihubungi. Tak lama Keenan pun pulang dan mengucap salam, setelah itu masuk menemui Zoya yang tengah menunggu di kamarnya.


"Sayang!" ucap Keenan kemudian Zoya menghampiri Keenan dan mengajaknya duduk di ranjang.


"Kamu darimana, kenapa ponsel kamu mati?" tanya Zoya khawatir.


"Aku mandi sebentar ya, nanti aku jelasin!" sahut Keenan kemudian melepas jaketnya dan menggantungnya.

__ADS_1


Keenan beranjak ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Setelah berpakaian Keenan pun kembali duduk di dekat Zoya dengan senyuman.


"Maaf sayang, ponselku low bat tadi. Aku nggak sempat ngecharge semalam." jelas Keenan.


Zoya menarik tubuh Keenan dan kini Keenan berada di sampingnya. Zoya menyandarkan diri di dada bidang sang suami. Keenan membelai rambut Zoya dan Zoya kembali menginterogasinya.


"Terus, kenapa kamu baru pulang?" tanya Zoya lagi.


"Aku abis ngantar penumpang aku sama bayinya, bayinya sakit demam berdarah sayang." jawab Keenan.


Zoya langsung menarik diri dan menatap Keenan, " Demam berdarah, terus gimana kondisinya sekarang?" tanya Zoya.


"Lemah banget sayang, usianya baru enam bulan. Besok kita lihat yuk!" ajak Keenan yang prihatin akan kondisi Alvan.


"Tapi dia emang penumpang kamu, atau kamu yang menghamili dia?" tanya Zoya tiba-tiba mencurigai Keenan lagi.


"Hah..b-bukan sayang. Dia hamil diluar nikah." jawab Keenan.


"Beneran?" tanya Zoya melotot tak percaya namun Keenan mengatupkan kedua tangannya.


"Demi Allah Zoya, aku nggak bohong!"


Namun tak lama Mia menghubungi Keenan. Ia malah meminta Keenan menjaga Alvan. Mia saat ini tak ada lagi di rumah sakit, Mia akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menjadi TKW disana. Keenan terkejut bukan kepalang.


"Mia," kejut Keenan.


"Siapa Mia?" tanya Zoya lagi.


"Ayo sayang kita ke Dokter anak, Mia pergi sayang. Dia ninggalin Alvan sendirian." ajak Keenan merasa gusar.


"Enggak, dia cuma penumpang kamu. Kenapa kamu sepeduli itu, aku curiga bener deh," ujar Zoya malah menuduh Keenan sudah melakukan itu.


"Dia pasti anak kamu, kan?" Zoya kembali melanjutkan pertanyaannya sehingga Keenan terbelalak.


"Bukan sayang, aku peduli sama dia. Karena aku teringat nasibku sayang. Ayo sayang, kasian Alvan sendirian!" pinta Keenan.


"Nggak, aku yakin dia anak kamu!!" Zoya kecewa padahal ia belum melihat Alvan secara langsung. Zoya salah paham.


"Makanya kamu ikut aku, sekarang! Kita tanya langsung sama dokter anak disana! Ayo sayang kasian Alvan, sayang, dia masih bayi berusia 6 bulan sayang!" pinta Keenan dengan netra yang mengembun.

__ADS_1


"Awas kalau kamu khianatin aku!" ancam Zoya kemudian Keenan dan Zoya kembali menaiki bus menuju ke tempat praktek dokter anak untuk melihat keadaan Alvan.


*******


__ADS_2