TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
100. Bangga


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu rumah kita ini? apa kamu suka? ya emang sih nggak besar seperti rumah mama, tapi aku rasa cukup untuk kita tinggali bersama 4 orang anak kita nanti," tanya Rendy.


"Em-Empat?" tanya Mutia.


"Kenapa? kurang ya? ya udah 11 deh," ucap Rendy yang langsung mendapat plototan dari Mutia.


"Bercanda sayang. Abang ingin sekuat kamu saja," ujar Rendy.


"Rumahnya cukup nyaman. Makasih ya bang," ujar Mutia.


Saat ini Mutia dan Rendy memang baru pindah ke rumah baru mereka. Meski melewati perdebatan yang panjang dengan orang tuanya, Namun akhirnya Rendy berhasil membawa Mutia keluar dari rumah itu. Rendy juga memilih perumahan yang tidak jauh dari rumah orang tuanya, agar sewaktu-waktu mereka bisa mengunjungi mereka.


Masih Rendy ingat, saat mau pindah ke rumah baru mereka beberapa menit yang lalu. Leni menangis tersedu-sedu, karena tidak rela Rendy pindah rumah. Tapi dengan kelembutan Mutia, dia berhasil membujuk Leni yang keras kepala.


"Bang. Apa nanti Uti boleh mengikuti pengajian disekitar sini?" tanya Mutia sembari mengelap piring dan gelas yang baru mereka beli.


"Pengajian?" tanya Rendy.


"Ya bang. Uti pengen kembali mengasah hafalan yang Uti punya. Takutnya lupa kalau kelamaan." Jawab Mutia.


"Hafalan Qur'an ya? emang kamu sudah hafal berapa ayat?" tanya Rendy.


"Bukan ayat bang. Tapi berapa juz." Jawab Mutia.


"Iya itu yang abang maksud," ujar Rendy.


"Baru 26 juz." Jawab Mutia.


"Ap-Apa? 26 juz?" Rendy terkejut.


"Kenapa abang kaget begitu? nggak cuma Uti kali bang. Banyak orang hebat lainnya yang lebih pandai dari Uti. Bahkan lengkap 30 juz," ujar Mutia.


Rendy tertunduk. Tiba-Tiba wajah Rendy jadi murung. Mutia perlahan mendekat kearah suaminya, dan duduk disebelah Rendy.


"Abang kenapa?" tanya Mutia.


"Abang malu sama kamu. Kamu sehebat itu, sementara abang nggak ada seujung kukumu. Abang bangga punya istri sepertimu. Entah setelah ini kamu akan memberikan abang kejutan apalagi." Jawab Rendy.


"Jangan begitu. Bagiku abang imam terbaik. Asalkan kita bisa saling memperlakukan pasangan kita dengan baik, bagiku itu sudah lebih dari cukup," ujar Mutia.


"Pokoknya lakukan apapun yang kamu sukai. Kalau soal keagamaan, kamu tidak perlu izin lagi dari abang, abang pasti akan mendukungmu," ucap Rendy.


"Makasih ya bang," ujar Mutia sembari memeluk Rendy.


"Kamu kapan mulai mau jualan online itu?" tanya Rendy.


"Sudah jalan sejak dua minggu yang lalu." Jawab Mutia.


"Dua minggu yang lalu? lalu bagaimana prospeknya?" tanya Rendy.


"Lumayan. Sudah masuk sekitar 500 ribuan." Jawab Mutia.


"Benarkah? itu bukan lumayan sayang, tapi luar biasa. Kamu tabung buat keperluan kamu ya? jangan gunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Kalau kebutuhan dapur nanti akan abang kasih," ujar Rendy.


"Makasih bang suportnya," ucap Mutia.


"Insya Allah bulan depan abang ada rejeki buat modal kamu stok barang. Apa 20 juta cukup?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Cukup." Jawab Mutia.


"Kok cukup? cuma dapat berapa potong itu," tanya Rendy.


"Ya abang cuma ada segitu? masak Uti mau bilang kurang? kalau mau modal mantap, 100 juta baru mantap punya." Jawab Mutia.


"Gitu ya? nanti abang carikan dulu," ujar Rendy.


"Eh? nggak usaha bang. Itu kan cuma seandainya. Uti nggak mau ya kalau abang sampai utang sana sini. Nanti ngumpulin aja perlahan-lahan." Jawab Mutia.


"Sebenarnya abang punya tabungan 50 jutaan tapi uang itu sedang dipakai teman. Udah lama sih, nanti akan abang tanyakan dulu. Siapa tahu sudah ada uangnya," ujar Rendy.


"Kalau nagih yang sabar ya bang. Biasanya galak yang ditagih dari yang nagih," ujar Mutia terkekeh.


"Oh ya kita mau makan malam apa? soalnya kita belum belanja," tanya Mutia.


"Kalau begitu kita ke supermarket saja. Sekalian kita makan diluar saja malam ini." Jawab Rendy.


"Ya sudah. Kalau gitu habis magrib saja," ujar Mutia.


Sesuai yang sudah disepakati, Mutia dan Rendy akhirnya pergi ke supermarket setelah ibadah magrib. Saat sedang memilih sayur dan buah, Rendy disapa Dios yang tengah menemani aku berbelanja.


"Hey...pengantin baru lagi belanja juga?" tanya Dios.


"Baru apaan? baru 2 bulan?" ucap Rendy terkekeh.


Aku dan Mutia saling mencium pipi kiri dan kanan. Sembari belanja, kami sembari berbincang. Setelah belanja, kami memutuskan untuk makan malam bersama.


"Belum ada tanda-tanda hamil?" tanyaku pada Mutia.


"Belum mbak." Jawab Mutia.


"Semprul," ucap Rendy sembari memukul pundak Dios.


"Lagian santai saja. Kami masih menikmati masa-masa indah berpacaran setelah menikah" sambung Rendy.


"Kamu itu yang kudu ngebut, udah tua jadi harus cepat nambah lagi," ujar Rendy.


"Kak Rendy jangan pengaruhi dia. Dia mah hayu aja. Aku mah emoh, anak-anak masih bocil banget," aku menyahuti ucapan Rendy yang membuatku merinding.


"Lagian aku sudah aman sekarang. Udah pakai IUD. Untuk 5 tahun kedepan masih aman," sambungku.


"Aku do'akan semoga kebobolan," ujar Rendy.


"Amiin." Dios dan Mutia kompak mengaminkan.


Sementara aku mengetuk dahiku dan sesekali mengetuk meja sebagai tanda penolakkan.


"Sudah hampir jam 9. Mana malam jum'at lagi," ujar Rendy.


"Emang kenapa kalau malam jum'at? takut hantu?" tanya Dios yang belum nyambung


"Malam ini aku yang jadi hantunya. Kan sunah rosul bro," ucap Rendy.


"Lagu loh sunah rosul. Bilang aja doyan," ujar Dios yang dijawab kekehan oleh Rendy.


Akhirnya kami dan Rendy berpisah di meja makan. Mereka pulang lebih dulu, dan kami pulang setelah mereka.

__ADS_1


"Senang melihat kak Rendy dan Mutia sepertinya sangat harmonis," ucapku.


"Kita juga seperti itu yank. Tapi kadang kala bumbu pertengkaran juga penting, agar semakin merekatkan hubungan. Tapi jangan tiap jam, tiap menit juga ya," ujar Dios.


"Kakak tuh yang sering buat aku darah tinggi," ucapku sembari terkekeh, sementara Dios hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


*****


"Ini temanku baru mencicil 30 juta. Abang serahkan semuanya buat kamu. Terserah kamu mau kamu apakan uang ini. Mau kamu belikan barang juga tidak masalah," ucap Rendy sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat berisi uang 30 juta.


"Apa abang sungguh percaya padaku, uang sebanyak ini untukku kelolah?" tanya Mutia.


"Tentu saja. Kamu jangan pikirkan untung ruginya. Yang penting kamu sudah berusaha." Jawab Rendy.


"Makasih bang. Kalau gitu mulai besok Uti akan belanja," ujar Mutia sembari memeluk Rendy.


"Moga sukses ya usaha kamu," ujar Rendy yang memberi dukungan untuk istrinya itu.


Keesokkan harinya Mutia mulai membelanjakan uang itu baik secara online maupun mencari konveksi yang ada di kota Yogya. Mutia tidak membelanjakan uang itu seluruhnya. Karena dia ingin test pasar terlebih dahulu. Setelah semua barang yang dia pesan datang, barulah Mutia mulai menjual barangnya secara live. Beruntung dia cukup aktif dimedia sosial. Teman-Temannya juga tersebar dibanyak tempat. Jadi Mutia tidak terlalu sulit untuk mencari pelanggan tetap.


Saat sedang asyik live, Rendy datang dan lewat dibelakang Mutia. Mutia tertawa renyah, saat teman-temannya mengatakan suaminya pria yang gagah. Rendy memantau kegiatan Mutia secara diam-diam, Rendy sangat kagum cara istrinya bersosialisasi dengan penonton yang sedang menonton jualannya. Dan untuk penjualan hari pertama, Mutia berhasil menjual seluruh barang dagangannya.


"Ada berapa barang yang kejual yank?" tanya Rendy yang tidak tahu menahu. Karena dia melihat ada banyak tumpukkan barang ditengah rumahnya.


Barang-Barang yang Mutia jual jelas saja banyak peminatnya. Karena teman-temannya dipesantren dulu, rata-rata menjadi pembelinya. Bahkan orang-orang diluar teman-temannya banyak yang tidak kebagian.


"Habis bang." Jawab Mutia.


"Emang ada berapa barang yang kamu jual?" tanya Rendy.


"210 pcs." Jawab Mutia dengan santai.


"Ap-Apa?" Rendy terkejut.


"Sayang. Bukankah itu curang?"


"Curang kenapa bang? halal kok," ucal Mutia.


"Kalau begini caranya, besaran pendapatan kamu dari abang." Jawab Rendy yang dijawab kekehan oleh Mutia.


"Disyukuri saja bang," ujar Mutia.


"Aku lebih bersyukur punya istri pintar sepertimu. Apa yang bisa abang bantu?" tanya Rendy.


"Sebelum Uti bilang, salim dulu, cium Uti dulu," ujar Uti setelah dirinya melepaskan pengeras suara untuk dirinya siaran langsung.


Rendy menuruti perkataan istrinya. Mereka bahkan berciuman sejenak, untuk melepas rindu karena seharian tidak bertemu.


"Capek hem?" tanya Rendy.


"Lumayan kering tenggorokkan. Tapi hasilnya memuaskan." Jawab Mutia.


"Apa yang bisa abang bantu?" tanya Rendy.


"Abang mending mandi, terus makan dulu. Uti sudah masakin buat abang. Nanti malam baru bantuin Uti ngepak barang yang akan dikirim ke pembeli." Jawab Mutia.


"Makasih istri sholehaku," ujar Rendy sembari mencium puncak kepala Mutia.

__ADS_1


Mutia akhirnya meninggalkan kegiatannya dan membiarkan jualannya terbengkalai terlebih dahulu. Baginya Rendy adalah prioritas utama. Dia ingin melayani suaminya terlebih dahulu, baik itu urusan dapur, kasur ataupun sumur.


__ADS_2