TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
31. Kecewa


__ADS_3

Aku bergegas pergi ke rumah Dios. Aku pergi dengan menaikki taksi online. Entah mengapa Aku sama sekali tidak merasa sedih akan berpisah dari Delano. Mungkin aku sadar, mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan agar aku dan Dios bisa bersatu.


Aku senyum-senyum sendiri saat diperjalanan menuju rumah Dios. Aku seolah tidak sabar ingin bertemu pria yang masih sangat aku cintainya itu.


Saat taksi onlineku tiba di halaman rumah Dios, aku bergegas turun setelah membayar ongkos. Aku melihat ada perubahan besar selama 3 bulan tidak pernah melihat rumah Dios. Rumah Dios saat ini terlihat lebih bersih, dan banyak pot-pot tanaman yang di letakkan di teras rumah, dengan berbagai jenis tanaman bunga.


"Sepertinya selama aku tinggalkan kehidupannya jadi jauh lebih baik," aku tersenyum saat melihat perubahan itu.


Tok


Tok


Tok


Aku mengetuk pintu rumah Dios berkali-kali. Setelah menunggu beberapa saat, keluarlah seorang wanita cantik dengan pakaian sedikit sexy.


Jantungku berdegup dengan kencang, saat ada wanita lain di rumah Dios.


"Cari siapa ya mbak?" pertanyaan wanita itu membuatku bingung menjawabnya. Aku takut apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi dan bisa menimbulkan kesalahpahaman.


"Ka-Kamu siapanya kak...."


"Aku istrinya. Kami memang pengantin baru. Wajar saja kalau kamu tidak mengenalku. Ada keperluan apa ya mbak?" tanya wanita itu.


"Tidak. Aku hanya pengen silahturahmi saja, dulu aku tinggal disebelah ini. Tapi aku dan suamiku pindah. Selamat ya atas pernikahan kalian," aku mengulurkan tanganku, dan dijabat dengan lembut oleh wanita itu.


"Terima kasih. Sekarang aku juga tengah mengadung anak kami," ujar wanita itu.


Aku benar-benar kecewa dan terluka saat mendengar ucapan wanita itu. Entah kenapa aku ada perasaan itu. Padahal itu bukanlah salah Dios, karena itu sudah kuperjelas di dalam surat, agar dia melupakanku dan mencari penggantiku. Tapi kenapa aku malah merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.


Aku spontan meraba perutku, aku merasa sakit hati karena Dios begitu cepat menikahi wanita lain. Namun disaat aku terhanyut dengan perasaanku sendiri, tiba-tiba seorang pria keluar dari rumah itu.


"Sayang. Siapa yang datang?" tanya pria itu yang membuatku jadi mengerutkan dahi.


"Tetangga lama. Dulu katanya dia pernah tinggal disebelah." Jawab wanita itu.

__ADS_1


"Di-Dia suamimu?" tanyaku untuk memastikan.


"Ya." Jawab wanita itu.


"Kemana penghuni rumah ini sebelumnya?" tanyaku dengan perasaan campur aduk.


"Oh...rumah ini kami beli dari pak Dios. Beliau sudah pindah, mau merantau katanya." Jawab Wanita itu.


Hatiku senang karena ternyata Dios tidak menikah dengan wanita lain. Tapi aku juga sedih, karena aku tidak tahu keberadaan Dios saat ini. Akupun melangkah pergi dari situ, dengan perasaan campur aduk. Saat aku pulang kerumah, aku melihat Delano sudah berada di rumah.


Aku tidak menggubris keberadaannya. Aku segera menurunkan koper dari atas lemari, dan bergegas memasukkan seluruh pakaianku kedalamnya.


Tap


Delano menahan tanganku saat akan memasukkan pakaianku tanpa sisa.


"Mau apa lagi?" tanyaku ketus.


"Aku mohon pertimbangkan kembali niatmu ingin bercerai. Pikirkan juga kamu saat ini sedang mengandung," ujar Delano.


"Delano. Kamu tidak bisa mengukur, betapa aku sangat membencimu sat ini. Aku membencimu hingga ke ubun-ubunku. Bisa-Bisanya kamu berpura-pura mencintaiku, mengambil sesuatu yang berharga dariku, dan malah main gila dengan batangan. Kamu sungguh menjijikkan!"


Nafasku naik turun saat mengatakannya. Ingin rasanya Delano kucekik sampai mati.


"Kamu jijik padaku? lalu apa kamu lupa, kamu juga sudah berselingkuh di belakangku?" tanya Delano.


"Itu karena kamu memberikan kesempatan pada pria lain, untuk masuk diantara kita. Apa kamu pernah merasakan kesepian? apa kamu ada disaat aku butuh kamu? kamu nggak pernah ada Delano, dia yang selalu ada buatku termasuk memenuhi hasratku yang tidak bisa kamu penuhi."


"Itu bukan alasan, agar kamu bisa berselingkuh. Itu karena kamu juga murahan!"


Plakkkkk


Tanganku sudah sangat gatal untuk memberikan tamparan keras di wajah Delano.


"Tidak ada lagi yang tersisa diantara kira Delano. Karena sejujurnya hatiku juga sudah di miliki dia. Mari kita sudahi hubungan palsu ini. Karena kita sejak awal memang tidak cocok. Kamu tidak akan pernah bisa memenuhi apa yang aku butuhkan dalam rumah tangga."

__ADS_1


"Kamu memanjakan aku dengan materi, padahal bukan itu yang aku butuhkan. Sementara dia memang tidak bisa memenuhi itu semua, tapi dia bisa membuatku di hargai sebagai seorang istri. Dia membuatku nyaman."


"Hari ini aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Besok aku akan mendaftarkan gugatan cerai kepengadilan. Kamu tunggu saja,"


Aku menutup koperku, aku tidak jadi mengahbiskan seluruh barangku. Dan segera menyeret koper itu.


"Siapa pria itu?" tanya Dios dari belakang punggungku.


"Siapa pria yang berhasil merebut hatimu itu?" tanyanya kembali.


"Dios Almigo. Mantan suami Vika. Alias tetangga samping rumah kita." Jawabku dengan lantang.


Delano tertegun mendengar ucapanku. Mata pria itu sejenak seperti menerawang sesuatu.


Flashback On


Dios yang menjadi supir pribadi selalu disiplin menggunakan masker, karena saat ini tengah terjadi pandemi yang mengerikan. Bos Dios sudah mewanti-wanti dirinya, apapun yang dia lihat, cukup hanya jadi konsumsi pribadinya saja. Rahasia sang bos tidak boleh bocor pada siapapun.


Seperti saat ini Dios tengah mengantar Bosnya untuk menemui yang katanya adalah kekasih hatinya. Namun saat yang masuk seorang pria yang dia kenal, tentu saja dia sangat terkejut. Yah...pria itu adalah Delano. Tetangga samping rumahnya.


Saat masuk mobil Delano langsung berciuman dengan sang bos, yang membuat Dios ingin muntah saat menyaksikannya dari kaca depan. Saat itu Delano dan Bosnya memang ingin pergi ke luar negeri. Bukan untuk melakukan perjalanan bisnis, tapi karena ingin liburan berdua. Dios saat itu hanya ditugaskan untuk mengantar ke bandara.


Tap


Dios memegang pundak Delano, saat mereka mampir ke pom bensin dan mampir ke toilet. Dios kemudian membuka maskernya dan Delano sangat terkejut, saat melihat keberadaan Dios.


"Jadi kamu seorang gay? kamu membohongi Caren?" tanya Dios.


"Bukankah ini bukan urusanmu? lebih baik kamu urus istrimu yang juga selingkuh dibelakangmu itu. Dia selalu main gila dengan rekan bisnis kekasihku."


"Kamu dan Vika sama-sama menjijikkan!"


"Menjijikkan atau bukan, yang pasti aku bisa memenuhi kebutuhan istriku. Emang kamu bisa? kalau bisa istrimu tidak mungkin berpaling darimu," ujar Delano.


"Jadi aku sarankan tutup mulutmu itu, dan urusi urusan rumah tangga kita masing-masing," sambung Delano.

__ADS_1


Delano kemudian pergi dari situ. Awalnya Delano berpikir Dios akan membongkar semuanya pada Caren, tapi ternyata Dios ingin semuanya terbongkar sedikit lebih lama.


__ADS_2