TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
92. Undangan


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Caren, Dios. Bangun nak! ayo sarapan, ini sudah agak siang. Anak-Anak kalian belum dimandikan," ucap mama dari luar pintu.


Plappppp


Mataku terbuka sempurna, saat kudengar mama mengatakan hari sudah siang. Kulirik jam dinding di kamar kami, ajaib memang. Anak-Anakku juga ikut lelap hingga waktu menunjukkan hampir pukul setengah sembilan pagi. Mungkin anak-anakku mengerti, kedua orang tuanya hampir semalaman begadang.


Aku melirik kearah Dios yang tidur disofa, dengan posisi kaki mengangkang bebas. Akupun jadi ingin tertawa, saat melihat penyangga dadaku dia jadikan sebagai penutup mata untuk menghindari sinar lampu yang berada tepat diatas kepalanya.


Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, dan segera meraih ponselku. Karena moment ini sangat langka, aku segera mengabadikannya dengan kamera ponselku dari berbagai sudut. Karena aku kasihan melihatnya, aku tidak membangunkan Dios. Aku tahu dia sangat lelah.


Ceklek


Aku membuka pintu, dan aku cukup terkejut karena ternyata mama masih menunggu di depan pintu bersama baby sitter.


"Ya ampun ma. Mama masih nunggu?" tanyaku yang jadi nggak enak.


"Mana anak-anakmu? biar mama dan mbak sari mandikan. Kamu cepat sarapan sama Dios, kenapa bisa kamu bangun sesiang ini," mama mengomel.


"Maaf ma. Habisnya semalam kami begadang. baru subuh ini si Vano sama Ano tidurnya." Jawabku.


"Ya sudah bawa anak-anakmu keluar. Dios masih tidurkan? nggak enak kalau kami berisik, nanti dia kebangun," ujar mama.


"Ya."


aku kemudian masuk kembali kedalam untuk mengambil anakku satu persatu, dan kuserahkan pada baby sitter dan mama untuk mereka bantu mandikan. Setelah itu aku membersihkan diri dan turun kebawah untuk sarapan. Waktu menunjukkan hampir pukul 10, saat aku naik ke kamarku dan mendapati Dios masih tidur, namun dengan posisi yang berbeda.


"Sayang. Hey...bangun," aku usap-usap pipi Dios dengan lembut.


Dios hanya sedikit menggeliat, namun kemudian dia kembali tertidur.


Cup


Aku mencium bibirnya dan sedikkt **********, agar Dios segera terbangun dari tidurnya.


"Sayang. Bangunlah! sudah jam 10, nanti kamu melewatkan sarapanmu," bisikku.


"Emm...ya," Dios mulai menjawab kata-kataku, tapi malah memeluk lenganku.


"Sayang. Gituan yuk?" aku kembali berbisik.


Namun kali ini kata itu sangat ampuh, karena mata Dios langsung terbuka lebar.


"Hayukkk yank. Kamu udahan nifasnya?" tanya Dios yang langsung bangkit dari tidurnya.


"Belumlah. Baru juga hari ke 8. Kamu kalau nggak dibilang gitu mana mau bangun," ucapku sembari bangkit dari sofa.


Tap


Bruukkk

__ADS_1


Tanganku ditarik, dan aku terjatuh dipangkuan Dios.


"Awww" aku sedikit meringis kesakitan, saat aku terjatuh secara tiba-tiba dipangkuan Dios.


"Sakit ya yank lukanya? maaf ya?" ucap Dios.


"Kakak mau apa?" tanyaku yang pura-pura tidak tahu.


"Nggak. Aku cuma mau meluk aja." Jawab Dios yang tidak berani mengungkapkan isi hatinya.


Aku menghela nafas, dan meraih kedua sisi wajah Dios.


"Sabar ya kak? paling tinggal 3 minggu lagi. Setelah itu aku akan pasang IUD. Setelah itu kita baru bisa main sepuasnya,"


Aku berusaha membuat suamiku yang mesum bersemangat lagi.


"Iya." Jawab Dios singkat.


"Sekarang kakak buruan mandi, setelah itu makan ya?"


"Iya." Jawab Dios.


"Ya udah. Aku mau lihat anak-anak dulu dikamar bayi," ucapku.


"Emm." Dios mengangguk.


Aku pergi ke kamar bayi, sementara Dios pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku melihat semua anak-anakku sudah bersih dan wangi. Marta juga sudah diberikan makan dan susu. Aku mulai memberikan ASI pada anak-anakku, hingga mereka semuanya kenyang dan tertidur.


Kriekkkk


"Mereka sudah tidur?" tanya Dios.


"Sudah. Kakak sudah makan?" tanyaku.


"Sudah. Kita balik ke kamar yuk? anak-anak biar sama babysitter dulu," ujar Dios.


"Aku mompa ASI bentar ya kak," ucapku.


"Ya udah, aku tungguin." Jawab Dios.


Baru saja aku mompa dapat setengah botol, suara bel pun berbunyi.


"Tunggu sebentar ya? kakak lihat dulu siapa yang datang," ujar Dios.


"Ya. Nanti aku nyusul kak," ucapku.


Dios kemudian keluar dari kamar dan segera turun untuk melihat siapa yang datang. Dios tersenyum senang, saat tahu yang datang adalah Rendy dan kekasihnya.


"Eh Ren. Apa kabar kamu? udah lama nggak kelihatan," ujar Dios sembari mendekat kearah Rendy dan kekasihnya.


"Biasa. Lagi mempersiapkan acara pernikahanku," ucap Rendy sembari melemparkan sebuah undangan bersampul kuning ke atas meja.


"Oh ya kenalkan calon istriku. Bripka Resti," ujar Rendy.


"Hallo Brika Resti. Salam kenal ya," ucap Dios tanpa mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Sayang. Ini Dios Almigo, orang yang akan mengurus pernikahan kita nanti. Dia ini yang punya usaha WO nya," ucap Rendy.


"Senang bertemu dengan anda tuan Dios," ujar Resti.


Aku menuruni anak tangga, saat kudengar gelak tawa dari Rendy dan Dios.


"Nah...itu istriku," ujar Dios saat aku baru selesai menuruni anak tangga.


Aku juga melihat pelayan baru akan nengantarkan 4 gelas jus buah, dan meletakkannya di atas meja. Aku kemudian menjatuhkan bokongku pada salah satu sofa.


"Hai kak Ren. Bawa calon nih," sapaku.


"Aku kesini bawa contoh undangan yang diberikan Dios tempo hari. Sepertinya kami memilih warna kuning itu. Oh ya, kenalkan ini calon istriku. Bripka Resti," ujar Rendy.


"Hai...kak Resti. Moga rencana pernikahan kalian lancar ya?"


"Amiin." Jawab Resti.


Kami berbincang-bincang banyak hal. Tentang pernikahan Rendy yang akan diadakan 3 bulan lagi. Rendy ingin pernikahan ini lebih mewah daripada rencana awalnya bersama mantan pacarnya Melisa. Namun selama kami berbincang, entah mengapa aku selalu menangkap basah Resti selalu mencuri-curi pandang pada suamiku.


Aku kemudian melihat postur tubuhku. Aku akui, berat tubuhku saat ini tidak ideal. Sangat berbeda dengan postur tubuh polwan didepanku ini. Melihat dirinya, rasa percaya diriku mendadak hilang seketika. Apa saat ini dia berpikir, kalau Dios tidak pantas untukku? tapi aku begini juga karena melahirkan anak suamiku.


"Kalian sudah berapa lama pacaran?" tanyaku yang penasaran.


"5 bulan. Aku kapok pacaran lama-lama. Ternyata lama cuma nungguin jodoh orang. Mending sebentar tapi langsung klop." Jawaban Rendy membuatku manggut-manggut.


"Oh ya. Kami tadi beliin si kembar ini nih," ujar Rendy sembari menyodorkan sebuah kotak besar, yang akupun tidak tahu isinya.


"Makasih kak Maaf sudah merepotkan," ucapku.


"Tidak masalah. Do'akan saja semoga kami punya anak kembar seperti kalian," ujar Rendy.


"Emangnya kalian punya keturunan kembar ya? tanya Resti.


"Nggak ada. Aku dan istriku sama-sama anak tunggal."Jawab Dios.


Lagi-Lagi aku tidak suka cara Resti menatap Dios. Tapi aku coba menepis prasangka itu. Sampai kecurigaan itu akhirnya terbukti, saat kami mengajak Rendy dan Resti makan siang bersama. Saat sedang makan Dios tiba-tiba menghentikan kunyahannya, karena merasa ada sebuah sentuhan tidak biasa di kakinya.


Namun Dios menerusakan makan itu, sembari sesekali berbincang dengan Rendy. Dios masih mengira kalau sentuhan itu tidak sengaja. Namun saat sentuhan itu kembali terulang untuk kedua kalinya, Dios jadi merasa tidak enak hati pada Rendy. Setelah pasangan itu pulang, Dios segera memberitahuku segalanya. Mendengar itu tentu saja aku mencak-mencak.


"Aku sudah merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu. Dia selalu mencuri-curi pandang padamu saat bicara," ucapku.


"Masak sih yank?" tanya Dios.


"Iya. Aku sempat risih awalnya. Tapi aku mencoba untuk tetap berbaik sangka. Aku pikir dia cuma kagum saja sama kamu,"


"Jadi kita harus bagaimana yank? apa kita harus memberitahu perihal calon istrinya? aku kasihan pada Rendy, kenapa dia selalu tidak beruntung," ucap Dios.


"Aku juga jadi bingung. Tapi kalau kita tidak memberitahunya, dia pasti akan terjebak pada orang seperti itu," ujarku.


"Kalau begitu kita harus bicara berdua, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Biar nanti malam dia kesini lagi setelah mengantar Resti pulang," Ucap Dios.


"Ide bagus." Jawabku.


Setelah kami perkirakan Rendy sudah mengantar Resti, kami membuat panggilan untuk Rendy agar pria itu mai kembali ke rumah kami. Awalnya Rendy menolak, tapi saat Dios mengatakan itu hal yang penting, Rendy setuju dan langsung putar balik ke rumah kami.

__ADS_1


__ADS_2