
"Mama kok disini?" tanya Rendy.
"Kalau nggak disini mama nggak bakalan tahu, kalau anak mama sedang mabok janda." Jawab Leni.
"Husttt ma...jangan keras-keras. Malu di dengar tetangga ma," ucap Rendy setengah berbisik.
"Biarin aja. Biar semua orang tahu, kalau wanita ini terus godain kamu. Kamu harus tahu diri dikit dong," Leni sedikit menekan dadaku.
Aku bisa melihat wanita parubaya itu matanya berapi-api karena diliputi rasa amarah yang besar. Sementara itu aku hanya bisa tertunduk, aku malu karena tetangga disekitar kontrakkanku jadi keluar semua saat mendengar suara tante Leni yang menggelegar.
"Ma. Sudahlah, mama apaan sih? aku kesini cuma bantuin Caren. Kasihan dia memgurus segala sesuatu sendirian," ujar Rendy yang berusaha membelaku.
"Apa kewajibanmu membantunya? apa kamu itu bapaknya? kakaknya? atau suaminya? mama ingin kamu cari wanita yang sepadan, bukan wanita murahan!" hardik tante Leni.
Aku sudah mendengar bisik-bisik dari mulut tetanggaku yang suka berghibah. Aku hanya bisa menahan isak tangisku agar tidak pecah. Kendati demikian, air mataku sudah meluncur bebas dipipiku.
"Ayo pulang! kalau kamu masih mau menemui dia lagi, jangan salahkan mama akan membuat dia viral dimedia sosial sebagai janda gatal," sambung Leni.
"Pulanglah kak. Aku nggak apa kok," aku mendorong Rendy keluar rumahku.
"Ren. Maafin mamaku ya?" Aku tidak menjawab ucapan Rendy. Aku langsung menutup pintu rumahku dan tubuhku merosot kelantai.
"Maaf-Maaf apa. Nggak ada yang perlu dimaafkan. Mama kecewa sama kamu Rendy. Mama menyuruhmu cari jodoh, karena mama sudah pengen gendong cucu. Tapi bukan berarti anak dari pria lain juga yang kamu jadikan anak tirimu."
"Kamu ingat ya! sampai matipun mama nggak rela kalau kamu nikah sama janda gatal itu," sambung Leni.
Aku masih bisa mendengar sayup-sayup ocehan tante Leni yang menghinaku habis-habisan. Sungguh aku merasakan sesak didadaku, aku tidak menyangka status janda menjadi olokan orang-orang berpikiran sempit.
Aku mendekati Marta putra semata wayangku. Aku peluk dia, aku ciumi dia. Andai saja Dios tidak menghilang tiba-tiba, tentu aku tidak akan mengalami hal seperti ini lagi. Mungkin Marta bisa merasakan kesedihanku, putraku yang tidak rewel, mendadak menangis tiba-tiba. Aku bergegas memberikan asiku padanya, sembari mengatakan pada putraku bahwa aku baik-baik saja. Dan Ajaibnya, Marta langsung diam dan tertidur.
Sejak hari itu aku tidak lagi bertemu dengan Rendy. Tidak hanya tidak bertemu saja, Rendy maupun aku tidak saling berkomunikasi lagi lewat ponsel. Jujur saja aku sangat merasa kehilangan. Aku juga merindukannya, yang akupun tidak tahu jenis rindu macam apa itu.
Selain itu jujur saja aku memang merasa kerepotan. Saat ada Rendy, aku merasa sedikit terbantu saat aku minta diantarkan kemanapun, termasuk saat pergi ke puskesmas untuk memberikan suktikan Vaksin pada Marta.
Aku tidak tahu bagaimana keadaan Rendy saat ini. Mungkin dia baik-baik saja, karena akulah yang sering merepotkannya. Mungkin dia malah merasa lega, karena tidak lagi direpotkan olehku.
*****
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Dios.
"Aku sudah hampir 1 bulan tidak bertemu dan komunikasi dengan dia." Jawab Rendy.
__ADS_1
"Kenapa? kalian bertengkar?" tanya Dios.
"Bukan. Hari itu mama datang ke kontrakkannya, memarahinya dan menghinanya. Setelah itu mama melarangku menemuinya ataupun berkomunikasi dengannya. Kalau aku sampai membantah, dia akan mempermalukannya,"
"Kasihan sekali nasib janda itu. Lagian kamu kayak bukan anak cowok. Patuh amat, padahal kamu itu sudah jatuh cinta pada si janda itu,_
"Ma-Mana mungkin. Aku hanya menganggapnya sebagai adik." Jawab Rendy.
"Adik gundulmu. Nggak ada orang yang membahas adikmya hampir tiap ada kesempatan. Kamu itu sudah jatuh cinta sama dia," ujar Dios.
"Masak sih?"
"Apa kamu merasakn rindu saat jauh dari dia?" tanya Dios.
"Iya." Jawab Rendy.
"Bagian tubuhnya yang mana yang membuatmu bernafsu?" tanya Dios.
"Bibir. Tapi sejak dia lahiran jadi bertambah."
"Jangan bilang kamu diam-diam memperhatikan dadanya. Mesum loe Ren," yang dibalas kekehan oleh Rendy.
"Semprul," Dios melempar Rendy dengan kulit kacang.
"Kalau kamu memang cinta, seharusnya berjuang," sambung Dios.
"Aku takut menyakitinya. Keluargaku sama sekali nggak asyik. Mereka ingin aku menikahi gadis berpendidikkan dan sepadan," ujar Rendy.
"Ya elah Ren. Baik banget jadi anak. Di embat orang baru tahu rasa loh," ujar Dios.
Rendy tiba-tiba terdiam. Pria itu jadi teringat senyum Caren, dan juga Marta yang menggemaskan.
"Apa benar ya aku sudah jatuh cinta sama Caren? tapi semua yang Dios katakan ada benarnya juga. Aku sangat merindukannya, terlebih dengan Marta," batin Rendy.
Rendy meraih ponselnya dan melihat foto Caren dan juga Marta. Dios hanya mencebikkan bibirnya saat melihat Rendy yang tengah galau.
"Kangen. Samperin kali Ren," ujar Dios.
"Aku kangen Marta," ujar Rendy.
"Siapa Marta? anak wanitamu itu?" tanya Dios.
__ADS_1
"Ya. Apa kamu mau lihat?" tanya Rendy.
"Ya. Apa dia sangat menggemaskan?" tanya Dios.
"Tentu saja. Sekarang usianya sudah dua bulan, dia pasti tambah imut. Coba lihat pipinya yang tembam, aku sering mencubitnya karena gemas,"
Rendy kemudian menunjukkan foto Marta pada Dios. Dan Entah mengapa saat Dios melihat foto anak itu, darahnya tiba-tiba berdesir. Seketika air matanya jatuh.
"Hem...baper ya?" tanya Rendy.
"Ya. Usia anakku pasti seumuran Marta. Aku ingin sekali melihatnya dan menggendongnya," ujar Dios sembari menyeka air matanya.
"Lihatlah dia. Dia sangat tampan," sambung Dios.
"Coba lihat deh. Kalau diperhatikan wajah Marta mirip sama loe," ujar Rendy.
"Jangan-Jangan Aku berjodoh dengan ibunya," timpal Dios yang sengaja ingin mengerjai Rendy.
"Ada foto ibunya nggak? loe kan nggak suka janda, jadi dia cocok sama duda sepertiku. Coba lihat fotonya, siapa tahu cocok," ucap Dios.
"Enak aja. Punya gue ini," ujar Rendy sembari menyambar ponselnya.
"Heh...baru sadar loe akhirnya," ucap Dios.
"Gue mau nemuin dia sekarang," ujar Rendy.
"Orang gila. Mau bertamu juga lihat jam kali Ren. Ini sudah jam 11 malam," ujar Dios.
"Justru karena malam, mata-mata mamaku pasti sudah pulang," ucap Rendy.
"Awas aja mesum," ujar Dios.
"Nggak apa dikit. Paling-Paling melepas kangen dengan meluk awalnya," ucap Rendy sembari terkekeh.
"Buruan dihalalin. Jangan dibuat mainan tuh janda, kasihan. Harusnya kamu utarakan dulu niat baik itu sama orang tuamu,"
"Iya. Ya sudah aku usaha dulu ya," ujar Rendy.
"Sippp...moga berhasil," Dios mengacungkan jempol.
Rendy bergegas pergi menuju kontrakkan Caren. Disepanjang perjalanan Rendy senyum-senyum sendiri. Entah mengapa perasaannya sangat senang saat akan pergi kerumah pujaan hatinya itu.
__ADS_1