TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
99. Gol


__ADS_3

Tang


Ting


Tang


Ting


Suara denting garpu dan sendok yang menyentuh piring makan memecah keheningan. Malam ini adalah pertama kali Mutia makan malam bersama mertuanya. Tanpa banyak bicara Mutia makan meskipun masih menggunakan cadar. Rendy sudah memperingatkan Mutia agar melepaskan cadar saat makan, tapi Mutia bersikeras ingin tetap memakainya karena tidak ingin dilihat oleh ayah mertuanya.


"Jadi apa rencanamu setelah menjadi istri Rendy?" tanya Leni yang mulai membuka suara.


Rendy sudah mulai memiliki firasat tidak enak, saat mendengar ibunya membuka suara. Dia sangat takut ibunya itu akan bertengkar dengan Mutia.


"Uti sudah bicara dengan bang Rendy akan kuliah, tapi abang tidak setuju. Abang pengen Uti fokus mengurus bang Rendy saja." Jawab.


"Terus kalau Rendy bilang gitu, kamu nurut aja? kamu itu masih sangat muda. Masih bisa menghasilkan uang meskipun cuma dari rumah," ujar Leni.


"Ma...mama kok...."


"Bang...." Mutia menggelengkan kepalanya. Rendy hanya bisa menahan sesak didadanya. Dia sangat malu terhadap Mutia.


"Mama benar. Uti masih sangat muda. Uti juga berterima kasih, karena mama sudah mengingatkan Uti tentang gunanya istri meskipun berada didalam rumah. Nanti Uti coba kumpulin modal, dan coba belajar bisnis dari rumah." Jawab Mutia.


"Ya tapi balik lagi harus dapat izin suami juga. Sekali lagi makasih ya ma, sudah mengingatkan Uti," sambung Mutia.


"Emm." Jawab Leni sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


Mutia menoleh kearah Rendy sembari tersenyum. Rendy mengenggam tangan Mutia dengan erat.


"I love you," Rendy mengatakannya dengan isyarat bibirnya. Sementara Mutia jadi tersipu malu.


Setelah selesai makan malam, Rendy dan Mutiapun sholat berjama'ah. Dan setelah itu Rendy dengan tidak sabar langsung mencumbu istrinya setelah Mutia merapikan mukenahnya.


"Ba-Bang...emmpptthh"


Mutia merasa semua aliran darahnya turun naik, dengan semua anak rambut meremang. Terlebih saat ini Rendy sedang asyik menikmati puncak dadanya yang berwarna merah jambu.


"Jangan menahan suaramu sayang. Keluarkan saja," ucap Rendy lirih.


"U-uti malu bang," ucap Mutia.


Rendy bisa mengerti, karena ini pengalaman pertama bagi Mutia. Terlebih usianya baru 18 tahun, ini masih hal tabu baginya.


"Kalau kamu bersuara, abang sangat senang. Dan itu pahala membuat suamimu senang," ujar Rendy dengan segala rayuan mautnya.


Rendy kembali membenamkan wajahnya diarea kesukaannya. Membuat Mutia mau tak mau bersuara juga.


"Emmpptthh ahh...bang...ah..."


Tubuh Mutia semakin bergelinjang. Namun saat Rendy ingin bermain didaerah terlarang milik Mutia dengan lidahnya, Mutia menolak keras akan hal itu. Rendy kemudian memposisikan diri diantara kedua kaki Mutia. Dan perlahan mengoyak pertahanan Mutia yang pertama.


"Kamu begitu sempit sayang," bisik Rendy.

__ADS_1


Mutia tidak menanggapi ucapan Rendy, karena saat ini dia tengah berjuang menahan rasa sakit dibawah sana. Semakin lama, Rendy semakin menekan miliknya, hingga Mutia menjerit kesakitan saat Rendy berhasil membobol gawang pertahanannya yang terakhir. Mutia bahkan menangis. Rendy kembali mencium bibir Mutia, agar istrinya itu terbuai dan menghentikan tangisannya.


"Maafkan abang ya? kamu ikhlaskan melayani abang?" tanya Rendy, setelah melihat Mutia sedikit tenang.


"Iya bang." Jawab Mutia.


"Abang lanjut ya? biar anak kita segera jadi," ucap Rendy sembari mengedipkan mata.


Rendy perlahan mulai memompa milik Mutia. Rasa sakit yang Mutia rasakan berlangsung hilang dan digantikan dengan rasa nikmat yang tidak bisa dia lukiskan. Jika tadi Mutia mengeluh kesakitan, saat ini suara itu digantikan dengan erangan-erangan kecil yang membuat Rendy semakin terbakar ga*rah.


"Bang a-aku...ahh...."


Mutia tidak bisa lagi menahan erangan panjangnya, saat gelombang kenikmatan itu tiba-tiba menghantam dirinya. Rendy tersenyum saat melihat nafas Mutia yang tersenggal. Mutia yang ditatap seperti itu, jadi malu dan menyembunyikan wajahnya didada Rendy.


"Kenapa hem?" Rendy iseng bertanya.


"Abang jangan melihatku seperti itu, Uti malu." Jawab Mutia.


"Abang masih belum selesai, kamu puaskan abanag dulu ya?"


"Emm."Mutia mengangguk.


Rendy kembali membuat ranjangnya berderit, dan kembali membuat suara Mutia melengking-lengking didbawah kungkungannya. Dan setelah goyangan maut yang kesekian kalinya, Rendy dan Mutia berhasil menuju puncak bersama.


"Ah...ini sungguh surga dunia," ucap Rendy disela nafasnya yang tersenggal.


Mutia tidak merespon ucapan Rendy, karena nafasnya belum tenang saat ini.


Cup


"Rasanya ini seperti mimpi bagiku. Rasanya baru seminggu yang lalu aku mengeluh jomblo. Tapi sekarang tidur sudah ada yang menemani. Makasih ya sayang," ujar Rendy.


"Uti juga berterima kasih. Karena bertemu abang, Uti jadi sudah bertemu tujuan hidup. Emm bang,"


"Hemm?"


"Soal ucapan mama tadi, Uti jadi kepikiran deh," ucap Mutia.


"Kamu nggak usah dengerin omongan mama. Abang kan sudah bilang, kalau mama itu orangnya...."


"Bang. Ucapan mama ada benarnya kok. Sebenarnya Uti juga sudah kepikiran sejak lama soal ini. Uti pengen buka online shop yang bisa dikerjakan lewat rumah," ujar Uti.


"Online shop? kamu mau jual apa?" tanya Rendy.


"Busana muslim dan hijab. Jadi selain dapat duit, Uti juga pengen mengajak kaum-kaum hawa yang belum berhijab, agar belajar sedikit-sedikit mengenai hijab. Jadi kita kan dapat pahala juga bang." Jawab Mutia.


"Abang akan mendukung apapun kegiatan positif yang kamu lakukan," ujar Rendy.


"Makasih ya bang?"


"Emm. Nanti kamu mulai saja cari suplayer yang kamu mau. Biar nanti abang yang pikirkan modalnya," ucap Rendy.


"Abang tidak perlu terlalu memikirkan, kalau memang abang belum punya uangnya. Untuk sementara Uti bisa pakai sistem dropship saja," ucap Mutia.

__ADS_1


"Dropship? apa itu?" tanya Rendy karena dirinya tidak pernah belanja online.


"Dropship itu. Jadi kita menjual barang milik toko, namun saat pengiriman barang, nama pengirimnya atas nama kita, bukan atas nama toko." Jawab Mutia.


"Istri pintar. Tapi secepatnya abang cari modal, biar kamu bisa stok barang dirumah juga," ucap Rendy.


"Iya sih. Sekarang yang lagi digandrungi belanja online melihat siaran langsung. Jadi kalau ada stok barang dirumah, kita bisa jual secara live. Sekarang yang belanja online sudah semakin pintar, karena maraknya penipuan online," ujar Mutia.


"Hah...abang nggak pernah belanja online sih, jadi nggak ngerti juga cara pesannya. Pokoknya atur sama kamu saja. Abang cuma nyiapin modal saja. Tapi jangan pula kamu melakukan ini karena terpaksa dengerin omongan mama loh," ucap Rendy.


"Nggak bang. Uti bukan tipe orang yang mudah perasa. Lagipula kalau menurut Uti mama baik kok. Cuma cara penyampaiannya saja yang salah,"


Mendengar perkataan Mutia, tentu saja Rendy jadi terkekeh.


"Kenapa abang tertawa?" tanya Mutia.


"Kamu terlalu polos sayang. Apa kamu tahu? dari semua wanita dijagad raya ini, cuma kamu yag bilang mama baik. Selain itu semua pada komplain, termasuk mbak Mia. Tetangga juga gitu." Jawab Rendy.


"Ya kita harus maklumi saja bang. Apalagi kalau watak beliau emang begitu. Masak iya kita harus meladeninya 3x sehari kayak minum obat?" ucap Mutia.


Cup


"Makasih sayangku, bidadari surgaku. Emm masih capek nggak?" tanya Rendy setelah mencium puncak kepala Mutia.


"Nggak. Kenapa? abang mau tidur?" tanya Mutia. Tanpa Mutia sadari, ucapannya adalah perangkap untuk dirinya sendiri. Rendy yang mendengar jawaban Mutia, langsung kembali mengungkung tubuh istrinya itu.


"Pengen lagi," bisik Rendy yang kemudian diangguki oleh mutia.


Rendy kembali mencumbu istri kecilnya itu. Kali ini tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Mereka sudah mulai paham apa yang mereka inginkan. Dan pertempuran itu tidak berakhir hanya sekali dua kali saja, Rendy berhenti setelah dirinya benar-benar merasa puas.


Cup


Mutia mengecup pipi Rendy, agar pria itu terbangun. Karena adzan subuh sudah berkumandang.


"Iya sayang sebentar lagi," rengek Rendy sembari membawa tangan Mutia kedalam dadanya.


"Waktu subuh sudah hampir habis bang, abang belum mau mandi wajibnya," ucap Mutia.


Mutia menarik kedua tangan Rendy, agar pria itu duduk. Mutia sempat melegos, saat selimut yang Rendy kenakan melorot dan memperlihatkan kejantanan Rendy yang ikut terbangun.


"Cium dulu, baru mau bangun," rengek Rendy dengan manja.


Cup


Mutia mencium pipi kiri Rendy, namun pria itu langsung protes.


"Disini belum. Disini, disini, disini juga belum," ujar Rendy sembari menunjukkan pipi kanan, dahi, dagu dan bibirnya.


Mutia terkekeh mendengar ucapan Rendy. Namun akhirnya dia menuruti juga permintaan Rendy itu.


"Uti mencintai abang," ujar Mutia setelah mencium bibir Rendy.


"Oh...so sweet...abang juga mencintaimu sayangku," ujar Rendy sembari menarik hidung mancung milik Mutia.

__ADS_1


Mereka kembali berciuman sejenak, sebelum akhirnya Rendy masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari najis dan kotoran asmara.


__ADS_2