TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
94. Uget-Uget


__ADS_3

"Sayang. Aku ke galery dulu ya? ada klien baru lagi soalnya," ujar Dios.


"Aku ikut," ucapku yang membuat Dios menghentikan gerakkan tangannya yang ingin mengancingkan baju kemejanya.


"Ikut? tumben kamu mau ikut? kalau kamu ikut, anak-anak gimana?" tanya Dios sembari melanjutkan gerakkannya yang terhenti.


"Bawa semua." Jawabku dengan bibir mengerucut.


"Bawa semua gimana? buntut kita sekarang nggak cuma satu loh yank, ada 3. Gimana cara ngurusnya kamu?" tanya Dios.


"Kenapa aku nggak boleh ikut? pasti kamu mau ketemu uget-uget itu kan?" tanyaku.


"Uget-Uget? uget-uget apa sih?" Dios balik bertanya.


"Noh...si Resti. Kamu rapi dan wangi banget hari ini? pasti mau ketemu dia kan?" tuduhku lagi.


"Apa sih yank? aku juga biasanya gini. Emang kamu pernah lihat aku berdandan kucel? awal kita ketemu dulu aku juga selalu rapi dan wangi. Kalau nggak gitu mana mau kamu sama aku. Iya kan?"


Aku terdiam. Apa yang dikatakan Dios memang benar adanya. Dari dulu Dios emang selalu tampan, rapi, dan wangi. Tapi karena aku sering trauma, jadi pikiranku bercabang terus. Ditambah badanku sekarang yang gendut sehabis melahirkan, membuat rasa percaya diriku jadi berkurang.


"Pokoknya aku mau ikut. Marta juga minum susu, Jadi dia bisa ditinggal. Bawa saja Ano sama Vano," aku merengek, agar Dios mau membawaku turut serta.


"Sayang. Kamu dirumah saja ya? nanti kamu kecapek'an. Aku pulangnya agak telat hari ini. Iya kalau dapat klien yang nggak rewel, kalau dapat yang rewel pulangnya pasti lama," bujuk Dios.


"Bilang saja kalau kamu malu bawa aku karena aku gendut kan? aku sudah nggak cantik lagi dimata kamu kan?"


"Kok ngomongnya jadi ngelantur?" tanya Dios.


"Taukk...ahh...kamu mah tambah tua tambah nyebelin,"


Aku beranjak pergi menuju kamar mandi.


"Eh? kok bawa-bawa umur yank? umurku nggak salah loh," teriakkan Dios masih bisa aku dengar dari dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, aku melihat ada satu tas bayi tergeletak dilantai. Aku pikir Dios sudah berangkat ke Galery. Ternyata dia tengah menggendong salah satu putra kami sembari bersholawat nabi.


"Kamu belum berangkat? katanya ada klien?" tanyaku sembari melepas handuk dari atas kepalaku.


"Nanti kalau aku pergi ada yang ngamuk. Katamu mau ikut? daripada habis nifas nggak dikasih jatah, mending aku bawa saja." Jawab Dios.


"Kenapa mesti bingung nyari tempat buat jepitin si anu, noh...jepitin dipintu," ucapku asal.


"Weleh...yank. Bayanginnya aja aku ngilu. Jadi keinget pernah kejepit resleting," ujar Dios sembari terkekeh.


"Kok bisa?" aku penasaran karena aku belum pernah dengar cerita itu dari Dios.

__ADS_1


"Secara keponakkan suamimu ini kan gedong." Jawab Dios sembari terkekeh. Dan akupun langsung melempar wajahnya dengan handuk.


"Jadi mau ikut nggak nih?" tanya Dios.


"Jadi dong. Kalau niat ngajak jangan ditanya lagi." Jawabku.


Akupun bergegas berpakaian. Karena membawa dua bayi, kamipun membawa box bayi agar anak-anakku bisa nyaman. Oh ya...selama menikah, ini kali pertama aku datang ke Galery. Selama ini aku tidak pernah tertarik kesana, meskipun Dios berulang kali mengajakku.


Setelah kami sampai disana, semua karyawan suamiku melihat kearahku. Mungkin mereka heran, karena aku sama sekali tidak serasi dengan suamiku saat ini. Suamiku yang memiliki tubuh proposional, sementara aku seperti gajah bengkak. Tapi aku tidak perduli, disini akulah pemenang hati suamiku.


Aku langsung dibawa ke ruang pribadi Dios. Disana cukup nyaman, dan ruangannya sangat besar.


"Sayang. Aku nemuin klien dulu ya? kamu jaga anak-anak sambil nonton tv aja dulu. Kamu mau dipesankan makanan, minuman dan camilan apa?" tanya Dios.


"Nanti saja. Kalau aku mau, aku bakal cari kamu." Jawabku.


"Oke. Tunggu ya!"


Cup


Dios mengecup keningku, dan kemudian keluar dari ruangan. Sesuai saran Dios, aku membuka saluran televisi untuk sekedar nonton kartun yang sangat aku gemari, dengan pemeran utama dua bocah berkepala plontos. Benar kata Dios, paling nggak enak nonton tv nggak ada camilan. Yang tersedia diruangan itu hanya air mineral yang berada didalam kulkas mini.


Aku memutuskan untuk mencari Dios, dan menitipkan anakku pada salah satu pegawai suamiku.


"Oh...ada disana bu. Beliau sedang menerima tamu." Jawabnya sembari menunjuk kearah yang dia maksud.


Aku berjalan kearah yang dituju, namun aku mengerutkan dahi saat melihat Dios duduk bersama dengan seorang wanita dalam satu sofa yang sama. Dan kalau melihat dari potongan rambut wanita itu, tentu saja aku mengenalnya. Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, beruntung mereka saat ini sedang membelakangiku.


"Kakak sengaja menjebakku, agar Rendy memutuskan hubungan kami?" tanya Resti.


"Tentu saja itu atas perintah dari Rendy. Kamu terima nasib saja. Setiap perbuatan pasti ada ganjarannya." Jawab Dios.


"Karena kakak sengaja, artinya kakak harus tanggung jawab buat nikahin aku. Orang tuaku malu kak, kalau pernikahan ini sampai batal,"


Dios malah tertawa mendengar ucapan Resti yang nggak masuk akal.


"Kalaupun aku ingin menikah lagi, tentu saja wanitanya nggak harus kamu," perkataan Dios emang benar adanya. Tapi kenapa aku merasa tersirat bahwa Dios ingin menikahi wanita lain. Dan aku tidak suka itu.


"Kenapa? apa kurangku? aku cantik, sexy, karierku juga bagus. Apa bagusnya jika dibandingkan istri kakak yang gendut itu? apa kakak nggak malu punya istri seperti dia?" tanya Resti.


Jawaban ini yang sangat aku tunggu-tunggu. Meski Dios suamiku, tapi masih saja jantungku berdebar-debar karenanya.


"Pertanyaanmu itu sangat tidak cocok kamu tanyakan denganku. Apa kamu tahu? aku ini sudah 3 kali menikah. Aku sudah pernah menikahi wanita cantik dan sexy. Aku juga pernah menikahi wanita parubaya. Dan yang terakhir aku menikahi wanita super cantik dan super sexy menurut pribadiku sendiri,"


"Tapi dia gendut," timpal Resti.

__ADS_1


"Nggak apa. Dulu dia tubuhnya seperti super model. Dia begitu juga karena melahirkan anak-anakku. Lagian kamu nggak tahu bagaimana rasanya meniduri wanita gendut. Aku tidak membutuhkan kasur lagi saat akan bercinta dengannya,"


Sumpah. Rasanya aku ingin tertawa ngakak saat mendengar jawaban dari Dios. Disaat seperti ini, radar mesumnya masih saja bekerja.


"Tapi aku tidak keberatan kalau menjadi istri yang ke 4 kak," ujar Resti memaksa.


"Tapi aku keberatan. Lagipula kamu bukan tipeku," ucap Dios.


"Kakak mau aku bagaimana? aku akan merubahnya," tanya Resti.


"Tidak perlu. Semua yang aku inginkan ada dalam diri istriku. Aku sudah tua, aku hanya ingin fokus mencari nafkah dan membesarkan anak-anakku bersamanya."


Jawaban Dios membuatku jadi terharu. Aku perlahan mendekat kearahnya, dan mengalungkan kedua tanganku ke lehernya dari arah belakang.


"Aku mencintaimu sayang," bisikku ditelinganya.


Aku bisa merasakan, kalau tubuh Dios sedikit menegang. Mungkin dia mengira dan takut aku bakalan marah padanya, karena dia tengah mengobrol dengan Resti. Beruntung aku datang agak awal, dan bisa mendengar percakapan mereka. Kalau seandainya aku mendengar sedikit terlambat, mungkin saja aku bisa salah paham.


"Sa-Sayang," ujar Dios terbata.


"Seharusnya kamu sudah sangat jelas mendengar ucapan suamiku. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, sebelum orang gendut ini mengulek cabe dibelakang dan mengoleskannya pada kema**anmu yang sudah gatal itu,"


Aku bisa melihat wajah kesalnya padaku. Gadis itupun beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


"Ap-Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Dios.


"Ya. Apalagi saat kamu bilang ingin nikah lagi meskipun nggak sama dia. Apa itu benar?" aku berpura-pura marah.


"E-Enggak yank. Mana mungkin aku mau nikah lagi," ucap Dios.


"Barangkali kamu mau nyukupin 4 kali," sindirku.


"Nggak mau." Jawab Dios.


"Kamu kenapa keluar? kamu mau makan apa? nyemil apa? minum apa?" tanya Dios yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Pengen salad yang banyak. Sama es jeruk nipis." Jawabku.


"Kok salad? nggak makan nasi yank? aku belikan ayam goreng ya?" tanya Dios.


"Nggak ah. Aku mau diet. Nanti kamu ngelirik cewek lain kalau aku sudah seperti gajah." Jawabku.


"Diet apaan. Nggak ada diet-dietan. Kamu itu lagi menyusui, nanti anak kita kekurangan gizinya. Aku nggak perduli meski tubuh kamu beratnya satu ton, atau 10 ton. Pokoknya aku melarang keras kamu buat diet," ucap Dios.


Aku mengerucutkan bibirku, Dios kemudian memelukku dan mencium keningku. Dia seolah tidak perduli, meski semua karyawan tengah menatap kearah kami.

__ADS_1


__ADS_2