
"Hati-Hati ya kak?" Aku dan Dios melambaikan tangan, saat melihat Vika mulai memasuki bandara.
Aku dan Dios saling berpandangan sembari tersenyum. Karena kami merasa bahagia, sebab bisa membantu orang yang kami anggap dekat.
Setelah kami mengantar Vika, kami memutuskan untuk singgah di kedai ice cream sesuai intruksiku. Sementara menunggu Ice cream disajikan, kami berbincang banyak hal.
"Kasihan kak Vika ya?" ucapku.
"Ya mau diapakan lagi. Itu hasil perbuatannya sendiri. Dari dulu aku sudah sering mengingatkan dia, agar berhenti melakukan se*s bebas alias melakukan dengan berganti-ganti pasangan. Tapi dia tetap saja melakukan hal itu. Dan sekarang dia menerima akibatnya. Akibat dari memikirkan kesenangan. sesaat," ujar Dios.
"Emang selain se*s bebas, apa saja sih cara penulan HIV pak guru?" aku meledek Dios, yang kemudian menarik hidungku karena gemas.
"Kamu ini senang sekali mengerjaiku. Tapi tidak masalah. Ini bisa menjadi bahan pengingat buat kita."
"Jadi HIV itu penularannya bisa melalui se*s bebas atau berganti-ganti pasangan. Penggunaan obat-obatan terlarang, khususnya yang menggunakan jarum suntik. Misal jarum suntik yang dipakai penderita, dipakai lagi buat yang belum terkena HIV. Jadi otomatis dia terkena juga,"
"Terus?" aku tersenyum sembari menopangkan dagu. Lagi-Lagi Dios menarik hidungku.
"Bisa juga lewat transfusi darah. Tapi sekarang sudah diterapkan pemeriksaan secara ketat. Pendonor harus melakukan uji klinis dulu, baru bisa mendonorkan darahnya,"
"Terus?"
"Bayi baru lahir juga bisa terkontaminasi virus HiV saat proses persalinan. Yang paling beresiko persalinan normal,"
"Kok kamu pintar sekali sih yank?" tanyaku.
"Gara-Gara Delano dan orasi seseorang, aku jadi mendadak bukak mbah geogle." Jawab Dios sembari terkekeh.
"Ini yang orasi malah nggak bukak sama sakali," aku jadi ikut terkekeh.
Seorang pelayan datang membawa nampan yang berisi dua gelas besar ice cream dengan all Varian. Karena aku ingin mencicipi semua all varian dari kedai ice cream itu.
"Makanlah sepuasmu. Bulan depan kamu akan lahiran. Tidak boleh sembarangan makan lagi," ujar Dios.
"Emang kenapa? emang sudah lahiran ada pantangan apa?" tanyaku yang malah tidak tahu sama sekali.
"Kata orang saat menyusui nggak boleh makan sambal, nanti anak kita diare. Sementara kamu orangnya penggila pedas" Jawab Dios.
"Bukannya itu mitos ya kak? aku pernah lihat di tv katanya itu cuma mitos. Soalnya cabai kan ngandung vitamin C," ucapku sembari menyuapkan ice cream kedalam mulutku.
"Eh? gitu ya? masuk akal juga sih. Mungkin maksudnya jangan berlebihan kali ya?" ucap Dios namun hanya kubalas dengan kedikkan bahu.
"Kak Rendy sudah lama nggak muncul. Dia kemana?" tanyaku yang hampir 2 bulan tidak melihat Rendy
Terakhir ketemu pria itu saat aku dan Dios tengah membeli susu hamil di supermarket. Saat itu Rendy tengah mencari kebutuhannya, sepulang dari bekerja.
"Lagi bucin dia." Jawab Dios.
__ADS_1
"Kak Rendy sudah punya pacar?" tanyaku penasaran.
"Ya. Dia sedang mengencani seorang Polwan saat ini." Jawab Dios.
"Keren euy si Rendy. Pantasan nggak muncul, mainannya pistol sekarang," aku terkekeh.
"Legalah itu emaknya. Daripada emaknya ngamuk gegara ngecengin janda?" sindir Dios.
"Janda selalu didepan kak," timpalku yang dijawab kekehan oleh Dios.
****
Satu bulan kemudian....
"Kak. Maafin aku kalau ada salah-salah kata dan perbuatan ya?" mataku berkaca-kaca sembari mencium tangan Dios.
Tidak berbeda denganku, air mata Dios bahkan jauh lebih deras dariku. Dios menangis seperti anak kecil, saat akan mengantarku ke meja operasi.
"Kamu harus kembali dengan selamat ya sayang. Ingat ada aku dan Marta yang selalu menunggu dan mendo'akanmu. Ada mama papa juga," ujar Dios disela isak tangisnya.
Aku mengangguk cepat namun tak bisa lagi berkata-kata. Dios kemudian menyeka air mataku, dan kemudian mencium keningku. Aku dan diapun berpisah didepan pintu ruang operasi dengan saling berat melepaskan tangan.
Jujur saja. Meski ini bukan persalinan yang pertama, tapi aku masih saja ketakutan. Karena ini persalinan operasi, yang menurutku pribadi malah lebih seram dari persalinan normal. Aku memejamkan mataku, saat dokter mulai menyuntikan obat anastesi di urat nadiku. Perlahan tapi pasti, kesadaranku mulai menurun.
Sementara itu, Dios mondar mandir diluar ruang operasi. Setelah menunggu hampir 30 menit, suara tangis bayi akhirnya terdengar. Dios sampai berlutut di depan pintu operasi karena saking terharunya. Tubuh pria itu bahkan bergetar karena terisak.
Dios kemudian bangkit dan memeluk papa.
"Aku sangat bahagia pa. Akhirnya aku bisa merasakan merawat Caren, mau dari hamil hingga dia melahirkan. Aku juga merasakan moment mendebarkan seperti ini, dan merawat anak-anak dari bayi," ucap Dios.
Papa menepuk-nepuk punggung Dios. Mama tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. Selama ini Dios memang tidak pernah menganggap mereka sebagai seorang mertua, tapi melainkan seperti orang tua kandung. Mama bisa mengerti, mungkin karena Dios kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Tidak berapa lama kemudian seorang suster membawa kedua bayi yang sangat besar dan montok keluar dari ruang operasi.
"Selamat ya pak. Ibu Caren sudah melahirkan dua orang bayi laki-laki," ujar Suster.
"Ah...anakku. Lihatlah dia ma, bukankah mereka sangat besar?" tanya Dios.
"Ya pak. Dedek bayinya lumayan berat. Ada yang berat 3800 gram dan ada yang 3600 gram." Jawab Suster.
"Tidak heran. Caren selama hamil tua makannya gila-gilaan," ucap mama.
"Saya akan membawa adik bayinya ke ruang inkubator pak. Biar suhu tubuhnya hangat. Kalau bapak ingin mengadzankan, silahkan ikuti saya," ujar Suster.
"Ma. Dios ikut suster dulu ya?"
"Ya. Cepatlah kembali, Caren pasti membutuhkanmu," ujar Mama.
__ADS_1
"Ya ma." Jawab Dios.
Dios segera mengikuti suster itu karena ingin mengadzankan putra-putranya. Tentu saja saat dia melakukan itu ada air mata haru, yang jatuh dari pelupuk matanya. Setelah selesai, Dios segera kembali ke depan ruang operasi.
"Belum selesai ma?" tanya Dios.
"Belum. Mungkin lagi dijahit." Jawab Mama.
Setelah menunggu hampir 30 menit. Ruang operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dan memberi ucapan selamat pada Dios.
"Apa istri saya belum bisa di jenguk dok?" tanya Dios.
"Sebenarnya bisa. Tapi sekarang lagi dibersihkan. Saya rasa biar enak nanti pas pindah ke ruang perawatan saja ya pak?" ucap Dios.
"Baik dok." Jawab Dios yang mengerti arah ucapan dokter.
Dios yang tidak sabar kembali mondar mandir di depan ruang operasi. Mama dan papa hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Dios itu. Sesaat kemudian aku dibawa keluar dari ruang operasi dan di dorong menggunakan brankar.
"Sayang," kulihat Dios senyum semringah saat melihatku.
Dia kemudian mencium disetiap inci wajahku dan terakhir mengecup bibirku. Para suster hanya bisa tersipu malu saat melihat adegan itu. Sementara papa dan mama hanya bisa menepuk dahi mereka atas kelakuan menantunya itu.
"Ehemmm...Dios...." Suara papa menyadarkan Dios, bahwa kini dia sudah menjadi tontonan orang-orang.
Dios hanya menggaruk-garuk kepalanya karena tersipu malu. Dios kemudian membantu suster mendorong brankarku.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah memberikan keturunan yang banyak untukku," ujar Dios sembari menggenggam erat tanganku ketika kami sudah sampai di ruang perawatan.
"Mereka katanya laki-laki semua ya kak?" tanyaku penasaran.
Selama ini kami memang tidak menanyakan jenis kelamin mereka, karena kami ingin menjadi kejutan.
"Iya sayang." Jawab Dios.
"Apa kakak nggak masalah, anak kita laki-laki semua?" tanyaku.
"Kenapa dengan laki-laki? kenapa pula kalau perempuan semua?" tanya Dios.
"Aku memang sering mendengar yang terjadi di masyarakat awam, banyak pria menyalahkan wanita karena melahirkan anak laki-laki semua atau anak perempuan semua. Padahal pembawa sifat keturunan kan laki-laki. Kenapa harus menyalahkan wanita? bagiku anak laki-laki atau anak perempuan sama saja. Semuanya anugrah dari Tuhan, yang patut disyukuri. Lagi pula kalau pengen anak perempuankan bisa buat lagi," sambung Dios.
Perkataan Dios yang terakhir membuat mataku melotot. Sementara Dios malah tertawa keras.
"Kalian sudah menyiapkan nama anak kalian?" tanya papa.
"Sudah pa." Jawab Dios, yang aku pun tidak tahu siapa nama anak-anakku itu. Karena memang aku sudah menyerahkan semuanya sama dia.
"Delano Dinata Almigo dan Devano Dinata Almigo." Jawab Dios.
__ADS_1
Aku cukup terkejut, karena Dios memberikan nama Delano pada salah satu putraku. Ternyata Dios berharap Delano putra kami bisa mencontoh kebaikkan hati Delano almarhum. Sifat dan tutur katanya yang lembut, juga sangat penyayang. Dios juga berharap, nama itu bisa membuat orang tua almarhum Delano bisa mengobati rasa rindu dan duka atas kehilangan putra mereka.