
Satu persatu pelanggan mulai berdatangan. Seperti hari kemarin, hari ini sama sibuknya.Tapi itu tidak masalah buatku, karena aku menyukai pekerjaan ini. Aku juga merasa beruntung memiliki bos sebaik bosku sekarang. Terlebih pemiliknya juga adalah seorang janda. Dia merasa jadi punya teman saat aku disini.
Awalnya dia menawarkan aku untuk tinggal di rumahnya. Tapi aku tahu diriku seperti apa. Aku agak kurang betah kalau berada di rumah orang asing, jadi aku lebih memilih di rumah kontrakkan.
Satu lagi. Meski merasa lelah bekerja, tapi udara di bandung sangat sejuk. Jadi aku tidak terlalu merasakan lelah berlebih. Nanti kalau aku sudah tahu cara merawat bunga, dan tahu tempat pembelian bunga dalam jumlah besar, aku ingin sekali membuka toko bunga sendiri.
"Mbak satu bucket bunga mawar ya?" aku mendengar ada suara seseorang menyapaku dari arah punggungku. Suara seseorang yang sangat aku kenal. Perlahan aku membalikkan tubuhku, dan tatapan mata kami jadi bertemu.
"Ca-Caren. Kamu ada di bandung?" tanya Delano.
"Ya. Kamu perjalanan bisnis di luar kota?" tanyaku, sembari meraih beberapa tangkai bunga mawar segar dari dalam box.
"Tidak. Aku liburan saja. Kamu kerja disini? kenapa, uang yang aku kasih nggak kamu bukakan saja usaha?" tanya Delano.
"Untuk sekarang aku mau fokus dulu dengan kehamilanku. Nanti setelah lahiran baru aku akan pikirkan." Jawabku sembari merangkai tangkai bunga mawar menjadi bucket yang indah,"
"Apa kamu sudah bertemu Dios?" tanya Delano.
"Sudah. Tapi saat ini dia sudah menikah dengan orang lain." Jawabku.
Delano kemudian menatap wajahku, aku tahu tatapan itu adalah tatapan rasa kasihan.
"Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu. Aku tidak suka dikasihani," aku mengerlingkan mataku kearahnya.
"Caren kembalilah padaku. Meskipun aku tidak bisa memberikan kepuasan, dan cinta. Tapi aku mau menafkahimu dan anak itu," ujar Delano.
Aku tersenyum masam kearahnya. Dan kuletakkan bucket bunga mawar dihadapannya.
"Sudah aku katakan padamu, aku tidak suka dikasihani. Jadi tolong berhenti berpikir mengajakku kembali. Suatu saat aku pasti bisa menemukan kebahagiaanku sendiri," ujarku dengan sedikit bernada tinggi.
__ADS_1
Aku Melihat Delano menghela nafasnya dan mengeluarkan uang 3 lembar berwarna merah.
"Ini terlalu banyak. Harganya cuma 150 ribu," ujarku sembari menyodorkan uang kembaliannya.
"Biarlah. Anggap itu tips karena mengajak pelanggan ngobrol. Atau anggap aku memberikan anakmu, untuk membeli susu hamil," Delano memasukkan kembali dompet kedalam tas selempang yang dia kenakan.
Aku dengan terpaksa menerima pemberiannya itu. Karena aku lihat dia memberikannua dengan tulus, tanpa ada maksud menghinaku.
"Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi saja aku. Jangan pernah menahan diri, yang akan membahayakan nyawamu dan juga anakmu," ujar Delano.
"Terima kasih," aku berucap yang langsung dianggukki olehnya.
"Aku pergi. Aku sarankan hubungi orang tuamu sesekali. Tidak ada orang tua yang sanggup membenci anakmya, meskipun anaknya membuat kesalahan yang fatal sekalipun," ujar Delano.
"Emm." Aku langsung mengangguk, dengan mata berkaca-kaca.
Delano kemudian pergi dengan mobil berwarna hitam. Setelah Delano menghilang dari pandangan mataku, barulah tangisku pecah. Disinggung masalah orang tua, tentu saja aku sangat sensitif. Aku berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan, meskipun aku sangat merindukan orang tuaku. Bukan aku tidak mencoba, tapi berulang kali aku menghubungi mereka, tapi panggilan dariku selalu tertolak.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, saat aku kembali ke kontrakkan tempat aku tinggal. Rasa lelah dan penat bergelayut pada punggung, pinggang, dan pegelangan kakiku. Rencananya besok aku minta diliburkan, karena aku ingin sekali melihat perkembangan anakku, dan juga jenis kelaminnya.
Setelah aku masuk ke dalam rumah, aku tidak mandi lagi, dan hanya membersihkan muka tangan dan kakiku. Karena hamil, aku takut mengajak anakku mandi malam-malam. Setelah selesai, akupun langsung pergi tidur karena tubuhku sangat lelah.
*****
Keesokkan harinya....
Sesuai niat awalku, aku tidak pergi bekerja hari ini. Aku hanya membereskan rumah, memasak dan juga berencana akan pergi memeriksakan kehamilanku pada sebuah klinik dokter praktek. Didekat rumahku memang ada praktek dokter kandungan yang lumayan terkenal.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, saat aku keluar rumah setelah hampir seperempat hari aku menghabiskan waktu untuk tidur. Saat aku terbangun, aku bergegas mandi dan pergi menuju prakter dokter kandungan yang memang buka pada jam 4 sore.
__ADS_1
Nasib baik berpihak padaku, karena aku mendapat nomor antrian ke 3. Jadi aku tidak perlu menunggu lama-lama, untuk mengantri.
"Silahkan berbaring ya bu. Agak angkat sedikit bajunya," ujar seorang perawat yang menjadi asisten dokter kandungan yang ku ketahui namanya dr. Kamil.
Aku menarik bajuku keatas memperlihatkan perutku yang sudah menonjol. Aku sengaja memilih tempat praktek ini, karena aku dengar mereka punya alat USG 4 dimensi.
Suster itu kemudian menumpahkan sedikit Gel sefikit dibawah pusatku. Dan dokter Kamil kemudian mulai tangannya berselancar disebuah alat, yang bermediakan perutku.
"Bayinya sehat bu. Ketubannya juga cukup. Plasentanya juga normal," ujar dr. Kamil.
"Apa jenis kelaminnya sudah kelihatan dok?" tanyaku antusias.
"Ya. Jenis kelamin anak ibu laki-laki." Jawab dr. Kamil.
Tanpa dr. Kamil tahu, mataku sudah berkaca-kaca karena bahagia. Suster kembali mengelap sisa Gel diperutku, dan membantuku duduk. Aku kemudian duduk dihadapan dokter Kamil, karena ingin mendengar nasehat darinya
"Banyak makan sayur dan buah ya bu. Jangan lupa tambahkan susu. Ini resep vitaminnya nanti silahkan tebus ya bu," ujar dokter Kamil.
"Iya dok makasih." Jawabku dengan senang hati.
Setelah mengambil resep vitamin dari dr. Kamil, akupun bergegas pergi menuju apotik yang tidak jauh dari rumah. Setelahnya aku langsung menuju pulang.
Sementara itu di tempat berbeda. Dios yang tiba di Bandung langsung mencari penginapan di dekat Cibaduyut. Tidak ingin membuang waktu, Dios segera mendatangi tiap toko bunga yang ada didekat situ. Namun Dios harus menelan kekecewaan, karena dia sama sekali tidak melihat Caren.
"Apa Sebenarnya Vika membohongiku?" kalau iya, tega sekali dia," batin Dios.
Dios tampak lesu. Padahal kejadian yang sebenarnya adalah, pria itu sudah mendatangi tempat kerja Caren. Namun karena Caren minta libur, dia mengira bahwa Caren tidak ada di tempat itu dan melakukan pencarian di toko bunga yang lainnya.
"Apa aku harus kembali pulang ke Surabaya dan membatalkan niat ingin membuka bisnis disini? tapi aku harus memberi alasan apa pada Sekar? aku tidak mungkin memberi alasan tidak ada tempat yang cocok bukan? itukan nggak mungkin," batin Dios.
__ADS_1
Dios memutuskan buat istirahat di rumah kontrakkan yang sebenarnya tidak jauh dari rumah kontrakkan Caren.