
"Sudah kamu pak semua barang-barang kita?" tanya Delano.
"Ya." Jawabku.
"Kamu ada dimana sekarang?" tanyaku
"Sebentar lagi jalan. Aku datang langsung sama mobil pengangkut barang." Jawab Delano.
Aku melirik jam dinding rumahku. Waktu menujukkan pukul 7 pagi.
"Oke aku tunggu,"
Akupun bergegas menutup panggilan telpon dan segera pergi mengetuk rumah Dios.
Kriekkk
"Sayang. Ada apa? kangen ya?" tanya Dios.
Aku lihat pria itu sudah berpakaian rapi, karena sebentar lagi dia akan berangkat kerja. Aku kemudian mendorong tubuh Dios masuk kedalam rumahnya, dan segera menutup pintu.
Aku segera menyerbu bibir pria itu, dan me**mat bibirnya cukup keras dan bernafsu.
"Sayang. Bukankah suamimu akan pulang pagi ini? aku juga mau pergi bekerja. Bosku minta diantarkan buat pergi ke luar kota selama 3 hari. Kamu baik-baik di rumah ya?" ucap Dios sembari mengusap puncak kepalaku.
Ah...pria ini sama sekali tidak tahu, bahwa akulah yang akan meninggalkan dia untuk selamanya. Aku kemudian berhambur kepelukkannya sembari terisak. Entah mengapa aku merasakan sesak di dadaku saat ini.
"Sayang. Aku cuma pergi 3 hari kok. Setelah itu kita bisa bertemu lagi, kenapa kamu jadi cengeng begini. Hem?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, sebagai gantinya aku semakin mengeratkan pelukkanku di tubuhnya. Dios meraih wajahku, dan kami kembali saling berpagut mesra.
"Aku menginginkanmu," ucapku lirih.
"Tapi sayang, aku akan terlambat kalau kita melakukannya. Kamu tahu sendiri, durasiku saat bermain tidak bisa sebentar. Paling cepat 30 menit." Jawab Dios.
__ADS_1
Yah...aku tahu itu. Aku hanya ingin mengungkapkan keinginanku saja. Aku juga tidak mungkin melakukan itu saat ini, karena Delano akan segera datang sebentar lagi.
"Aku janji. Saat aku pulang nanti, kita bisa bermain sepuasnya. Lagipula uang kali ini sudah aku niatkan buat beliin kalung yang kamu mau. Ya meski bukan berlian, minimal logam mulia masih aku sanggup beli untukmu," sambung Dios.
Greppppp
Aku kembali memeluk Dios. Air mataku kembali merebak. Sungguh aku baru menyadari, kalau aku sudah jatuh cinta lagi dengan pria ini.
"Aku pergi dulu ya sayang. Jaga diri baik-baik," ujar Dios setelah mencium keningku.
Aku mengangguk sembari Dios membantuku menyeka air mataku. Dios mengunci pintu rumahnya, dan membunyikan klakson saat akan pergi. Masih ku bingkai senyum tampannya saat akan pergi meninggalkanku. Aku terisak, setelah Dios menghilang dari pandangan mataku.
Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kantong hody yang aku kenakan. Sebuah surat yang aku siapkan tadi malam. Sejujurnya semalaman aku tidak bisa tidur, hanya demi merangkai kata yang pantas saat aku meninggalkannya nanti.
Aku selipkan surat itu dibawah pintu rumahnya, tidak berapa lama kemudian Delano datang bersama 3 buah mobil pick up untuk mengangkut barang-barang kami. Setelah semua barang berada diatas mobil, kamipun berangkat menuju rumah baru kami, setelah sebelumnya rumah kami aku pasang tulisan rumah dijual dengan mencantumkan nomor ponsel Delano. Disepanjang jalan aku hanya diam, entah mengapa wajah Dios terasa menari-nari di pelupuk mataku. Senyum terakhirnya terasa begitu dekat di mataku.
Aku memejamkan mataku, aku benar-benar merasakan kantuk yang luar biasa. Mungkin karena aku memang belum tidur semalaman.
"Sayang. Hey, bangun! kita sudah sampai," ujar Delano dengan suara lembutnya.
Aku memalingkan wajahku kearah luar pintu jendela mobil. Aku melihat sebuah rumah mewah berada sedikit dipinggir kota. Aku melihat banyak pepohonan rindang disekitar rumah baru kami. Aku menyukainya, rumah itu terlihat sejuk dan jauh dari kebisingan.
"Bagaimana. Kamu suka tidak? maaf ya, aku tidak mendapatkan rumah ditengah kota seperti yang kamu inginkan. Tapi rumah ini adalah rumah impianku. Kamu ingat kan? kalau aku sangat menginginkan rumah yang banyak pohon dan jauh dari bisingnya kota?"
"Ya. Aku juga menyukainya. Makasih ya sayang," ujarku sembari tersenyum kearah Delano.
"Peluk dong," ucap Delano.
Aku berhambur dalam pelukkannya. Namun ada yang aneh dalam pelukkanku kali ini. Aku sama sekali tidak merasakan kehangatan, kenyamanan, seperti saat aku memeluk Dios tadi pagi. Astaga...ayolah Caren. Kamu harus melupakan pria itu, jika kamu tidak mau terbenam dalam lumpur hina selamanya.
Aku melerai pelukkanku pada Delano, dan aku tatap mata suamiku dengan dalam. Aku berharap cintaku untuknya masih sama seperti dulu.
"Aku harap kamu tidak lagi pergi-pergi seperti waktu itu. Apalagi pergi sampai berminggu-minggu," ujarku.
__ADS_1
"Ya aku janji. Tapi kalau lembur semalaman di kantor masih boleh kan?" tanya Delano.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku juga tidak ingin terlalu mengekang suamiku, padahal dia tulus mencari nafkah untukku dan untuk masa depan kami.
Yang mengantar barang-barang kami mulai membantu mengangkat barang-barang kami untuk dimasukkan kedalam rumah. Rumah itu memang sangat besar dan cukup mewah. Terus terang aku juga jadi bangga dengan pencapaian yang Delano raih dalam kariernya.
Setelah selesai membereskan barang-barang, kamipun beristirahat di kamar kami. Delano sudah mempersiapkan semuanya hingga tempat tidur yang dia belipun berukuran king size.
"Teruskan besok lagi sayang. Santailah sedikit, nanti kamu kecapek'an," ujar Delano.
"Iya."
Aku menyudahi aksiku yang menyusun pakaianku di lemari, dan ikut berbaring di sampingnya.
"Mandi yuk yank?" tanyaku.
"Duluan saja." Jawab Delano.
"Aku pengen mandi berdua sama kamu,"
"Ih...apaan sih yank? malu tauk,"
"Kok malu sih? kan kita suami istri." Jawabku.
"Ya aneh saja. Kalau nggak lagi gituan, rasanya aneh saja,"
"Kalau gitu kita gituan di kamar mandi yuk?"
"Fantasimu saat gituan aneh gitu yank? apa tempat tidur ini kurang besar dan nyaman buat kamu?" tanya Delano
Aku terdiam. Lagi-Lagi aku teringat dengan Dios. Saat bersama pria itu, kami bisa bercinta dimanapun. Diranjang, kamar mandi,meja makan, di dapur, ruang tamu, hanya dalam mobil saja yang belum kami lakukan.
Aku menghela nafas panjang, saat kembali mengingat pria itu dalam benakku. Entah apa yang akan terjadi saat pria itu tahu, bahwa aku meninggalkannya pas lagi sayang-sayangnya.
__ADS_1
"Hey...kok jadi ngelamun? kamu pengen?" pertanyaan Delano terdengar konyol ditelingaku.
Tidak seperti Dios yang selalu menyerbuku dengan ga*rah yang membara. Ah...lagi-lagi aku membandingkan dia dengan suamiku. Entah sampai kapan aku bisa lepas dari bayang-bayang pria itu. Saat ini saja, rasa rinduku sudah menyeruak. Dan aku yakin dia akan kebingungan saat menghubungiku nanti. Karena aku sudah memblokir nomornya, dan aku mengatur ponselku agar nomor tak dikenal tidak bisa masuk, saat menelponku.